Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

11 Alasan Anak Suka Melakukan Bullying

Pendidikan & Anak | 946 Views

Psikologi Anak: 11 Alasan Anak Suka Melakukan Bullying

10 Desember 2017 | Penulis: Bayu Lebond

Alasan Anak Suka Melakukan Bullying. Anak-anak usia remaja yang duduk di bangku SD dan SMP sangat rentan terhadap perilaku perundungan atau bullying. Sebanyak 84% anak usia 12-17 tahun pernah mengalami perundungan dan 94% di antaranya merupakan bullying dalam bentuk verbal. Data survei: Kementerian Sosial.

Remaja ABG merupakan pelaku sekaligus korban yang paling rentan melakukan dan terkena bullying.

Baca juga:
Apa itu Bullying? Kenali Tanda dan Cara Pecegahannya.

Bullying ini awalnya mungkin hanya untuk seru-seruan. Namun, jangka panjangnya, bullying dapat memberikan dampak terhadap korban. Mulai dari gangguan psikologis, trauma, bahkan tidak mau bergaul. Dan lebih parahnya lagi ingin mengakhiri hidupnya atau melakkan tindakan Bunuh Diri.

“Perilaku bullying memang kebanyak dialami oleh remaja. Remaja merupakan satu masa di mana mereka sedang mencari jati diri. Di masa ini mereka ingin berkompetisi dan menunjukkan bahwa dirinya eksis,” kata psikolog Yasinta Indrianti.

Alasan Anak Suka Melakukan Bullying

Ada beberapa faktor dan alasan mengapa Anak Suka Melakukan Bullying, yakni:

  1. Kompetisi Yang Tidak Sehat

    Rasa ingin berkompetisi dan menunjukkan dirinya eksis merupakan hal yang wajar dialami oleh remaja. Namun Mereka cenderung untuk melakukan berbagai cara agar dapat dipandang lebih dari teman sebayanya.

    Pada kondisi ini banyak dari mereka masih belum bisa mengidentifikasi kebutuhan ataupun kondisi emosionalnya yang tepat. Sehingga mereka tidak bisa mencari solusi yang tepat. Sehingga Anak Suka Melakukan Bullying pada temannya.

  2. Komformitas Teman sebaya

    Salah satu faktor besar dari perilaku bullying pada remaja disebabkan oleh adanya pengaruh teman sebaya. Teman yang memberikan pengaruh negative. Teman yang menyebarkan ide bahwa bullying hal yang sepele dan merupakan suatu hal yang wajar untuk dilakukan.

    Remaja memiliki keinginan untuk tidak lagi tergantung pada keluarganya. Mereka mulai mencari dukungan dan rasa aman dari kelompok sebayanya. Jadi bullying terjadi karena adanya tuntutan konformitas.

    Diterima oleh teman-teman dan komunitas menjadi hal yang sangat penting dalam perkembangan sosial anak. Sehingga anak usia remaja memiliki ciri khas untuk membentuk kelompok atau gang. Dengan gangnya ini remaja ingin tampil eksis di kalangan teman sebayanya. Gang ini paling rentan dalam melakukan tindakan bullying dan Anak Suka Melakukan Bullying.

  3. Faktor pubertas dan krisis identitas

    Pubertas dan krisis identitas adalah hal yang normal terjadi di kalangan remaja. Dalam tahap mencari identitas dan juga eksistensi. Biasanya para remaja hobi membentuk geng seperti point sebelumnya.

    Namun, ada geng yang normal, ada juga geng yang suka membuat onar dan melakukan hal-hal menyimpang. Ada juga yang ingin menjadi kepala geng dengan mem-bully anggota gengnya. Hal itu dilakukan hanya demi mendapatkan kekuasaan yang ia inginkan.

  4. Pola asuh orangtua

    Pola asuh orang tua atau kondisi keluarga yang tidak komunikatif dapat menjadi pemicu tindakan bullying. Remaja mengalami masa perubahan yang tidak mudah. Perubahan dari anak-anak menjadi dewasa merupakan kondisi yang tidak nyaman bagi mereka. Karena begitu banyaknya perubahan fisik yang mereka alami.

    Jika keluarga tidak komunikatif anak tidak dapat mengungkapkan dirinya secara leluasa sehingga tidak merasa nyaman dalam keluarga. Anak akan mencari jalan di luar rumah untuk mendapatkan kenyamanan. Seperti ke teman-teman se’gang’nya.

  5. Perilaku Keluarga

    Anak akan meniru perilaku anggota keluarga yang ia lihat sehari-hari. Sehingga menjadi nilai dan perilaku yang ia anut. Jika anak dibesarkan dalam keluarga yang menoleransi kekerasan, maka ia mempelajari bahwa bullying adalah suatu perilaku yang biasa dalam membina suatu hubungan atau dalam mencapai apa yang diinginkannya.

    Sehingga kemudian ia meniru imitasi perilaku bullying tersebut. Contohnya apa bila ada keluarga yang suka saling memaki, membandingkan dan melakukan kekerasan fisik. Anakpun akan meniru perilaku itu di kehidupan sosialnya.

  6. Lingkungan

    Lingkungan menjadi faktor yang paling berperan. Jika remaja hidup dalam lingkungan yang banyak memberikan contoh negatif, seperti ketika ada seseorang yang dibully dibiarkan, ditonton, atau bahkan disoraki, dapat membuat perilaku ini menguat dan berulang.

  7. Pengaruh media

    Tak dapat dipungkiri bahwa media memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan, media juga menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Mulai dari televisi, surat kabar dan bahkan media online mengandung topik yang berkembang begitu pesat.

    Survey yang dilakukan kompas memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya. Umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).

    Tak heran, tindak kekerasan juga banyak ditemukan di media. Seperti adegan dalam sinetron atau reality show yang menunjukan adegan kekerasan, bullying, game atau melalui sosial media.

  8. Kurang perhatian

    Rendahnya perhatian orang tua kepada anak membuat anak jadi suka mencari perhatian di lingkungan sekitarnya. Ada yang memilih untuk berprestasi dan menunjukan kemampuannya demi mendapatkan perhatian. Namun, sayangnya, ada juga yang memilih untuk melakukan bullying dan membuat onar.

    Hal ini sangat penting diperhatikan orangtua agar selalu menjaga kadar perhatian kepada anak.

  9. Ingin berkuasa

    Anak yang suka melakukan tindakan bullying biasanya sedang menunjukan kekuasaan dan kekuatannya. Hal itu dilakukan demi mendapatkan pengakuan dari sekitar. Dia menginginkan anak lain untuk mengikuti dan menurutinya di bawah tekanan rasa takut.

  10. Pernah jadi korban kekerasan

    Anak yang pernah menjadi korban kekerasan biasanya memiliki keinginan untuk membalas dendam dengan anak lain. Kekerasan tersebut bisa didapatkan dari orangtua, keluarga atau orang asing.

    Kekerasan yang terjadi dari orangtua bisa jadi sebagai bentuk pendisiplinan dari orangtua terhadap anak. Akhirnya, karena tidak memiliki kekuatan untuk membalas, sang anak hanya memendam perasaan tersebut. Dan membalaskan dendamnya kepada orang lain di lingkungan sosialnya.

  11. Riwayat berkelahi

    Anak yang hidup dalam lingkungan yang menyimpang dari norma. Misalnya lingkungan yang sering berkelahi atau bermusuhan akan lebih mudah meniru perilaku lingkungan tersebut. Mereka tidak merasa bersalah saat melakukan hal yang sama. Bahkan, sang anak bisa cenderung merasa biasa saja dan tidak merasa melanggar norma.

    Hal ini dilakukan demi menunjukan kepada orang lain bahwa mereka merupakan golongan superior. Golongan yang berkuasa dan bisa mendapatkan pujian dari banyak orang.

“Korban bullying memang kadang kala adalah korban yang empuk sekali untuk menjadi tontonan, itu seringkali memperkuat perilaku bullying,” tutur Yasinta.

Mata rantai bullying yang tak akan pernah putus dan akan menyebar jika tidak ada tindakan.

Salam Bahagia.

Dihimpun dari berbagai sumber.

PSYLine.id Psikologi Online Indonesia

Bila Anda ada permasalahan dengan Alasan Anak Suka Melakukan Bullying, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:
Daftar Film Bertemakan Psikologi bagian 2 Versi PSYLine.

Tentang Penulis

Bayu Lebond

Seorang yang sok Seniman
Rocker yang sayang keluarga
Pecinta Wayang Jawa
#WhySoSerious

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan