Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Rumah Tangga Harmonis

Keluarga & Pernikahan | 869 Views

11 Langkah Wujudkan Rumah Tangga Harmonis, Bukan hanya Sekedar Mimpi.

8 April 2017 | Penulis: Wulan Arumbi

Memasuki kehidupan Rumah Tangga Harmonis tidaklah semudah menautkan dua hati saja. Seperti saat pertama mengucapkan ikrar janji suci dalam ikatan pernikahan. Berumah tangga berarti siap mengalahkan ego kita sendiri. Kita harus pandai megelola hati ketika menghadapi pasangan, anak-anak dan keluarga besar kedua belah pihak. Lalu bagaimana dengan perasaan anda?

Apakah anda yakin romantisme yang dulu ada tidak akan luntur dalam perjalanan pernikahan?

Apakah anda yakin pasangan anda memiliki rasa cinta yang tidak akan pernah terkikis?

Apakah anda yakin pasangan anda benar-benar bahagia hidup dengan anda?

Tentunya rumah tangga harmonis yang kita impikan butuh perjuangan besar, menguras tenaga dan perasaan, dan harus diperjuangkan bersama oleh suami dan istri. Harapannya adalah mencapai rumah tangga yang bahagia selamanya, dunia dan akhirat.

Resep Wujudkan Rumah Tangga Harmonis.

Berikut beberapa kebiasaan baik yang harus dipelihara agar rumah tangga anda harmonis

1.     Biasakan terbuka kepada Pasangan.

Banyak rumah tangga dan tidak menjadi Rumah Tangga Harmonis dalam perjalanannya menjadi retak. Itu lebih diakibatkan karena ketidakmampuan suami atau istri berlaku jujur kepada pasangannya.

Berterus terang dalam segala hal adalah langkah baik yang semestinya berlangsung terus menerus sepanjang pernikahan anda. Jangan sekali-kali berbohong kepada pasangan. Jika pun tidak ketahuan satu kali, maka di masa yang akan datang anda akan terbiasa untuk mengulangi kebohongan anda. Siapa pun ia pasti tidak akan suka jika dibohongi. Apalagi jika itu adalah pasangan hidup anda.

Jika Anda melakukan kesalahan, maka yang harus Anda lakukan adalah bergegas meminta maaf, berani mengakuinya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Sikap tersebut sama sekali tidak berarti menistakan status dan harga diri Anda. Hal itu justru mendorong pihak lain untuk menghormati, mempercayai, dan memaafkan Anda.

2.     Menerima Kekurangan Pasangan.

Apakah anda sudah merasa bersyukur? Sulit didefinisikan memang. Bagaimana ukuran rasa bersyukur itu. Hati kita sendiri yang bisa merasakannya. Perlu anda tahu, hati yang selalu bersyukur adalah kunci kebahagian Anda, hati yang lapang dalam menerima setiap kekurangan pasangan.

Jangan memandang kekurangan pasangan adalah hal yang menentukan kebahagiaan Anda. Sadarlah  Anda juga memiliki kekurangan. Anda harus yakin bahwa kesempurnaan adalah sebuah proses bersama pasangan Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Oleh sebab itu, jagalah hati Anda agar tetap bersyukur. Dan menjadi Rumah Tangga Harmonis.

3.     Tidak melihat kesalahan sebagai alat menjatuhkan.

Menurut tabiatnya, manusia kadang salah dan benar. Tidak masuk akal apabila kita menuntut hal yang sempurna dari pasangan. Terkadang manusia disertai lupa dan khilaf sehingga kerap mengulangi kesalahan. Pasangan kita melakukan kesalahan bisa jadi dikarenakan  ketidaktahuan, dan mengulanginya tanpa disadarinya.

Jika setiap pihak berkeinginan untuk menghukum, menghakimi, atau membalas dendam untuk setiap kesalahan yang dilakukan pasangannya. Itu berarti dia merusak fondasi keharmonisan rumah tangga. Kesalahan tidak perlu diikuti dengan tekanan, cacian, dan intimidasi.

Melakukan kesalahan adalah hal lumrah yang hanya membutuhkan pelurusan, pengarah, dan petunjuk. Dan pasti dibarengi dengan sikap penyesalan dan keinginan untuk berubah lebih baik.

Yakinlah bahwa seseorang tidak akan kehabisan cara yang sesuai untuk mengoreksi kesalahan dan penyimpangan pasangannya. Jalan terbaik dalam hal ini adalah nasihat yang tenang dan membuat pasangannya merasa bahwa hal itu adalah untuk kebaikan diri dan keluarganya

4.     Kepedulian dan kearifan.

Tatkala istri berdiri di samping suaminya, maka suami akan merasa kuat dan penuh percaya diri, begitu juga sebaliknya. Ketika istri atau suami merasakan bahwa pasangannya merasa kuat dan percaya diri, maka dia akan merasa jiwanya diliputi kedamaian dan ketenteraman. Sisi ini pada kenyataannya merupakan esensi pernikahan dan integrasi batin di antara kedua belah pihak.

Potensi kesalahan membuat suami atau istri memiliki kemampuan untuk mencelakai pasangannya, hanya saja kearifan mencegahnya melakukan hal itu. Kearifan mencegah untuk tidak lagi mempertahankan pendapatnya yang bisa memicu friksi.

Ketika dia mundur dengan motif kearifan, maka lenyaplah aroma perselisihan. Namun jika sikap mau menang sendiri dan superioritas negatif menggantikan posisi kearifan, maka kedamaian dan kemapanan kehidupan rumah tangga akan tercederai. Jika demikian, tak heran jika masalah silih berganti menghampiri.

5.     Jangan Terlalu Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain.

Sebuah ungkapan mengibaratkan rumput tetangga kelihatannya lebih hijau dibandingkan rumput sendiri. Lebih gampang melihat kelebihan orang lain dibandingkan menemukan kelebihan pasangan. Dengan mudah membanding-bandingkan ia dengan orang lain.

Apakah hal ini pernah terbesit dalam pikiran anda? Bersyukurlah kalau hanya sampai batas pikiran saja. Kalau  sering membicarakan kehebatan suami atau istri orang lain dihadapan pasangan, bisa-bisa malah melukai hatinya.

Jangan lakukan hal demikian, kecuali dimaksudkan untuk mengingatkan pasangan agar bertambah baik dan lebih baik lagi. Karena, tidak mengapa kita membandingkan diri kita dengan orang lain dalam hal kebaikan dan ketaatan.

6.     Biasakan Berbagi Cerita.

Berbagi cerita kepada pasangan lebih utama dibandingkan kepada orang lain atau menumpahkan perasaan di sosial media.  Bahkan bisa berakibat fatal jika terlalu banyak curhat di sosial media, orang lain jadi mengetahui kondisi keluarga anda.

Berbagi cerita kepada pasangan Tidak hanya membuat kita lega, bisa juga menjaga keharmonisan rumah tangga. Berbagi pengalaman atau cerita kepada pasangan akan membantu pasangan anda mengetahui apa yang anda lakukan. Hal ini dapat menjadikan hubungan cenderung lebih dekat, akrab dan  terbuka kepada pasangan.

Biasakan mendengarkan cerita pasangan saat sarapan pagi sebelum suami berangkat kerja. Begitu pula saat makan malam dan saat-saat santai di waktu weekend sembari minum kopi atau teh di beranda rumah. Jadikan hal ini sebagai kebiasaan yang baik.

7.     Pasangan  lebih penting dari Pekerjaan, Hobby atau Teman.

Bekerja memang penting untuk kelangsungan hidup sebuah rumah tangga. Namun memporsir pekerjaan dibandingkan dengan mengutamakan keluarga merupakan keputusan yang keliru.

Sosok suami di rumah sangat dibutuhkan oleh istri dan anak-anaknya.

Sibuk menghabiskan waktu weekend dengan melakukan hobby dibandingkan dengan bercengkerama dengan pasangan dan anggota keluarga lainnya juga sebuah ketidakadilan.

Gunakan kesempatan weekend untuk lebih dekat dengan pasangan. Kalaupun misalnya ingin menyalurkan hobi, tidak ada salahnya mengajak istri dan anak-anak untuk ikut serta.

Begitupula dengan istri. Tidak boleh mementingkan teman dibandingkan dengan suami.

Perempuan memang suka ngerumpi, apalagi saat berkumpul dengan teman-temannya. Namun, harus dibatasi agar bisa menghindari ghibah dan gosip. Tidak boleh pula karena teman sehingga lupa dengan aktivitas utamanya di rumah sebagai ibu rumah tangga.

8.     Memberikan Apresiasi dan Penghormatan dengan tulus.

Memberi apresiasi berarti mengakui kelebihan pasangan. Walaupun  kelihatannya remeh dan hal yang kecil, ternyata memiliki efek yang sangat besar bagi pasangan anda.

Hormati keputusan pasangan jika memang hal itu telah dirundingkan sebelumnya. Bentuk-bentuk apresiasi kepada pasangan bisa dilakukan dalam hal yang paling kecil, semisal memuji kebaikan suami atau memuji masakan istri.

9.     Menjalin silaturahmi dengan keluarga pasangan secara baik.

Ikatan pernikahan  bukan hanya mengikat diri sebagai pasangan, tapi bermakna lebih luas, yakni menyatukan dua keluarga besar. Silaturahmi bertujuan untuk memperat tali persaudaraan agar terus terjalin baik.

Cara memeliharanya tentu dengan memanfaatkan momen tertentu. Seperti terlibat di acara perkawinan anggota keluarga besar yang biasanya akan banyak berkumpul sanak-saudara dari pihak istri maupun suami. Momen keagamaan seperti Lebaran.

Lebih baik lagi apabila menyediakan waktu khusus secara rutin untuk melakukan kunjungan kepada keluarga pasangan. Semakin banyak dan mudahnya alat transportasi dan komunikasi, seharusnya menambah semangat kita untuk bersilaturahmi.

Selain menambah eratnya rasa kekeluargaan, kunjungan yang kita lakukan ke keluarga pasangan akan memunculkan rasa nyaman bagi pasangan.

10.Berusaha menyenangkan pasangannya.

Dalam kehidupan sosial secara general, jika seseorang berusaha mengedepankan dan mengutamakan orang lain dari dirinya sendiri. Itu berarti dia telah menanam benih-benih cinta dan kedekatan kepada semua orang di sekelilingnya.

Begitu juga jika kita lakukan kepada pasangan  akan semakin memperkukuh ikatan cinta kasih di antara keduanya.

Pasalnya, ketika suami melihat istri membaktikan diri untuk menyenangkan dirinya. Tentunya dia akan melakukan sesuatu yang bisa membuat senang dan gembira hati istri. Hal itu dilakukannya untuk membalas kebaikan istrinya, atau setidaknya sebagai pengakuan atas kebaikan tersebut.

11.Bijak dan tegas dalam menghadapi masalah serta selalu memegang teguh ajaran agama.

Setiap masalah yang timbul dalam kehidupan suami-istri, dilihat sebagai suatu kecemasan kolektif. Sehingga bisa memicu suami agar berusaha bekerja keras memberikan kehidupan mulia bagi istri dan anak-anaknya.

Pun demikian, istri akan berusaha menjalankan urusan rumah tangga sesuai prosedur yang disepakati bersama. Upaya yang dilakukan oleh suami dan istri tersebut merupakan solusi untuk memecahkan masalah bersama.

Suami maupun istri tidak perlu menyembunyikan problemnya, bahkan diperlukan kejujuran dan transparansi demi menumbuhkan benih-benih kepercayaan dan saling pengertian. Sehingga mudah menemukan solusi.

Bisa jadi, permasalahan memiliki dampak positif untuk meneguhkan ikatan suami-istri.

Pernikahan juga merupakan penerapan nilai-nilai agama yang bertujuan untuk mencapai nilai ibadah tertinggi. Bukan hanya berlandaskan rasa cinta antar sesama manusia semata. Oleh karena itu memegang ajaran agama dengan teguh berarti memelihara pernikahan itu sendiri sehingga tercapai tujuan yang mulia.

Semoga keluarga harmonis anda bukanlah sekedar mimpi, ya! Tapi bisa diwujudkan dengan semangat. Tentunya butuh perjuangan dan kesabaran tingkat tinggi untuk bisa saling memahami dan menyelami hati pasangan. Apapun perbedaanya samakan tujuannya yaitu rumah tangga harmonis.

Semoga artikel tentang mewujudkan Rumah Tangga Harmonis dari PsyLine.id Psikologi Online ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Salam Bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: Cemburu adalah Penyakit. Cemburu Kok, Dipelihara!

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan