Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

4 elemen yang harus dilakukan saat memaafkan

Gaya Hidup & Sosial | 1614 Views

4 Elemen yang harus dilakukan saat Memaafkan (forgiveness therapy).

17 Juni 2017 | Penulis: Riswandi Alekhine

Hampir semua orang memahami bahwa memaafkan adalah hal yang positif. Seperti halnya account Facebook, kita semua memilikinya tetapi tidak memanfaatkannya dengan bijak. Nah pada artikel ini, PsyLine.id Psikologi Online Indonesia akan membahas tentang 4 elemen yang harus dilakukan saat memaafkan.

Agar hal ini bermaanfaat bagi kita secara fisik dan psikis. Akan tetapi, untuk beberapa alasan, hal ini sangat mudah diucapkan tetapi sulit dilakukan.

Kenapa yah kira-kira?

Dari pengalaman yang dilakukan oleh Ryan Howes PhD, ABP, baik bersifat personal maupun klinis. Didapati bahwa memaafkan banyak dilakukan akan tetapi gagal dalam prosesnya. Karena memaafkan bukanlah hal yang sangat mudah dilakukan. Apalagi ini menyangkut dengan emosi dan penganiayaan yang cukup keras di masa lalu.

4 elemen yang harus dilakukan saat memaafkan

Agar memaafkan menjadi efektif untuk terapi psikologis. Maka kamu perlu tahu 4 Elemen yang harus dilakukan saat Memaafkan, yaitu sebagai berikut:

  1. Mengekspresikan perasaan atau emosi

    Apapun kejahatan, atau ketidakadilan, atau kekerasan yang didapati, untuk memaafkan, kamu perlu mengekspresikan perasaanmu secara penuh. Kamu bisa berteriak dihutan atau berlari ke pantai, yang terpenting adalah kamu bisa menyalurkan perasaan dan emosimu. Atau kamu cukup berdiam saja dalam sebuah kursi dengan menangis.

  2. Memahami kenapa

    Setelah kita meluapkan atau mengekspresikan emosi, selanjuta otak kita akan mencari beberapa penjelasan sampai puas. Kadang-kadang kita tidak sepenuhnya puas dengan hal ini, tetapi kita butuh skema yang menjelaskan kenapa hal ini terjadi.

    Pada kondisi tertentu, kita hanya perlu menjawab bahwa semua hal tentu ada hikmahnya untuk kita. Itu sudah cukup bagi kita.

  3. Membangun kembali rasa aman

    Saat kita memaafkan, terkadang kita perlu perasaan aman bahwa hal ini tidak terjadi kembali dimasa datang. Jika kita sudah sangat terbiasa, maka kita akan memaafkan tanpa syarat atau tulus.

    Akan tetapi, sangat normal jika kita merasa bahwa ancaman dimasa datang akan terulang kembali dan kita akan tersakiti. Hal ini perlu rasionalisasi, bahwa kita tidak pernah aman 100% dari hal-hal yang kita tidak inginkan.

  4. Let go – move on – memulai lembaran baru

    Setelah elemen pertama memberikan kita kesempatan mengekspresikan perasaan. Kemudian elemen kedua membuat kita paham tentang kejadian yang menimpa kita. Dan elemen ketiga memberikan kita rasa aman, maka elemen terakhir merupakan yang paling sulit.

    Let go – move on atau memulai lembaran baru merupakan sebuah pilihan karenanya hal ini merupakan hal yang sulit. Let go atau move on atau memulai lembaran baru berarti kamu tidak mengungkit kembali kesalahan dimasa lampau. Jika ini ada hubungannya dengan hubungan personal.

    Sebagai contoh, suami atau istri yang bertengkar tidak mengungkapkan kesalahan yang pernah dilakukan pasangan tapi fokus pada masalah saat ini.

Maaf Memaafkan

Contoh penerapan 4 elemen yang harus dilakukan saat memaafkan ini dalam kehidupan kita adalah:

Saat teman kamu meminjam sepeda motor kemudian mengembalikannya dengan sepeda motor yang kotor. Bahkan bensin kosong, padahal kamu sudah isi full. Dan juga kamu menemukan stiker di sepeda motor mu dengan stiker tidak pantas.

  • Pada elemen pertama kamu diperbolehkan mengekspresikan perasaanmu kepada temanmu dengan contoh kalimat, “gw dah pinjemin, terus gini balesannya?” atau “mau lu apa siy bro? gw kan dah baik saama elu?”.
  • Selanjutnya pada elemen kedua, kamu perlu mendapatkan penjelasan kenapa temanmu melakukan itu. Misal, kamu perlu penjelasan temanmu yang terburu-buru. Atau dia mau ganti dengan duit saja 2 kali lipat meskipun kamu gak suka tetapi masuk akal. Kemudian menyatakan bahwa stiker itu adalah becandaan aja. Hal ini akan membuatmu paham kenapa temanmu melakukan itu dan membuatmu semakin mudah memaafkan.
  • Pada elemen ketiga, kamu perlu membangun rasa aman agar hal ini tidak terulang. Maka kamu katakan ke temanmu untuk tidak melakukannya lagi. Atau next time setiap meminjam sepeda motor maka akan dikenakan biaya sewa.
  • Jika semua elemen tersebut sudah kamu penuhi, maka hal ini akan membuatmu semakin mudah untuk memaafkan. Jangan sampai emosi mu tertekan yang akan mengganggu kondisi psikologis kamu. Oleh karenanya, pada elemen terakhir kamu tidak mengungkit kesalahan temanmu pada obrolan atau konflik di masa datang.

Tentu saja, setiap situsi memiliki kompleksitas yang berbeda. Jika kamu sudah paham 4 elemen yang harus dilakukan saat memaafkan forgiveness theory tersebut. Diharapkan kamu lebih dapat memaafkan dengan tulus dan tidak menggantu kondisi psikologismu. Hal ini tentu akan membuatmu menjadi pribadi yang jauh lebih mature dan bahagia.

Baca juga:

4 Manfaat Memaafkan Bagi Kesehatan Jiwa (Forgiveness therapy).

Salam bahagia!

Artikel sebelumnya membahas tentang:

15 Cara Jitu Berurusan dengan Teman Beracun Dalam Pergaulan.

Tentang Penulis

Riswandi Alekhine

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Seorang Aquascaper.
Jatuh cinta pada script, poetry, filsafat dan senja saat hujan.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan