Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Cerita Wayang dan Psikologi

Gaya Hidup & Sosial | 2383 Views

Cerita Wayang dan Psikologi : Sebagai Cerminnan Kehidupan Masyarakat.

19 April 2017 | Penulis: Bayu Lebond

Wayang sudah tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Indonesia. Khususnya bagi masyarakat dengan latar budaya Jawa dan Bali. Wayang adalah cerita yang disadur dari cerita India yang di Indonesiakan. Cerita wayang dan Psikologi di Indonesia telah mengalami modifikasi untuk disesuaikan dengan kultur dan budaya Indonesia. Khususnya masyarakat Jawa.

Wayang adalah sebuah cerita kolosal yang selalu ada Tokoh dan  ada Lakon. Wayang jadi hiburan sekaligus kesempatan seseorang untuk sejenak ‘keluar’ dari kenyataan.

Dijaman modern sekarang ini, cerita wayang sudah tidak lagi digemari oleh kalangan muda dan anak-anak. Wayang kalah pamor dengan Mupet Show, Sasame Street, Anime dan Marvel serta DC. Dikalangan muda, khususnya di kota besar, wayang dianggap sudah ketinggalan jaman dan tidak kekinian.

Padahal cerita wayang sarat dengan pesan moral yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan kita.

PsyLine.id Psikologi Online mencoba memaparkan Cerita Wayang dan Psikologi sebagai cerminan kehidupan masyarakat.

Wayang Merupakan Cerminan Kehidupan.

Cerita wayang adalah cerita yang inspiratif.

Dari Cerita Lakon Wayang, Kita dapat menyamakan sendiri. Bahkan kita selalu berusaha mencari kesamaan yang dicocok-cocokan, dengan kisah hidup kita dengan lakon yang dipentaskan.

Setiap lakon Wayang selalu tematis.

  • Ada tema derita.Dalam lakon ketika Pendawa diasingkan dua belas tahun di hutan Dandaka.Atau saat Dewi Shinta ditawan oleh Rahwana.
  • Ada tema cinta sejati.Dalam lakon Dewi Banowati dan Arjuna yang memendam cinta mereka. Padahal mereka berdua sudah memiliki pasangan masing-masing.Atau dalam lakon Dewi Anggraini memilih ikut mati bersama Suami tercintanya, Bambang Paldunadi. Dari pada diperistri oleh Arjuna.
  • Ada tema keteguhan hati.Dalam lakon pencarian makna hidup Werkudara dalam Bima Ruci.Atau dalam lakon keteguahan Dewi Shinta menunggu dibebaskan oleh Ramawijaya dari cengkraman Rahwana.
  • Ada tema konflik batin.Dalam lakon saat dialog Bhagavad Gita antara Arjuna yang galau dengan  Kresna tentang takdir Bharatayuda.Atau dalam lakon Prabu Salya memilih berpihak ke Kurawa karena jebakan dari Sengkuni. Padahal Prabu Salya adalah paman dari Nakula dan Sadewa, si kembar Pandawa.
  • Ada tema kesetiaan.Dalam lakon kesetiaan Adipati Karna kepada negara yang melebihi pada keluarga maupun kebenaran. Padahal dia tahu yang diperanginya adalah adik-adiknya sendiri.Atau dalam lakon Kumbokarno harus berperang menghadapi pasukan kera dari pihak Ramawijaya karena kesetiaannya kepada Negaranya. Padahal beliau tahu kalau kakanya, Rahwana, itu adalah dipihak yang salah.
  • Ada tema pengorbanan.Dalam lakon Gatotkaca menerima kematian lewat panah Konta Adipati Karna, demi kemenangan Arjuna.Atau dalam lakon Janji Bisma yang mengorbankan nafsunya demi kebahagiaan Ayahnya.
  • Ada tema kasih sayang orang tua.Dalam lakon Resi Durna Gugur setelah mendengar Aswatama, putra satu-satunya, gugur. Padahal itu hanya itu hanya siasat licik dari Kresna.Atau dalam lakon Dewi Kunti selalu mengikuti kemana anak-anaknya berada. Bahkan saat Pandawa dibuang dan diasingkan.
  • Ada tema ujian hidup.Dalam adegan setiap perjalanan hidup akan selalu ada halangan seperti ksatria yang dihadang buta- cakil.

Ketakutan dan keberanian, kebaikan dan kejahatan hadir dalam tema setiap lakon.

Setiap orang juga punya tema hidup.

Lakon itu kemudian jadi cerminan tema hidup seseorang. Proyeksi itu ibarat layar lebar yang memutarkan sebuah film. Dengan proyeksi seseorang seolah-olah menyaksikan dirinya sendiri dalam lakon tersebut.

Lakon menjelma menjadi cermin kehidupan seseorang.

“Wayang is life itself.”

Cerita Wayang dan Psikologi Cerminan Psikologis.

Mekanisme alam bawah sadar ketika seseorang tenggelam menikmati pertunjukkan wayang. Tidak jarang orang terhanyut dengan cerita wayang yang sedang dia saksikan. Bahkan dia merasa bagian dari cerita tersebut.

Cerita Wayang dan Psikologi Cerminan Identifikasi Pribadi.

Salah satu keistimewaan wayang adalah wayang punya ratusan tokoh. Setiap tokoh memiliki karakter sendiri.

Seperti juga manusia yang tak pernah sama. Tokoh- tokoh wayang punya sifat, tabiat, bahkan takdirnya sendiri-sendiri. Sebagian tokoh punya karakter yang mempersona. Karakter ideal. Dan sebagian lagi punya karakter antagonis.

Orang Jawa sebagai pencinta wayang, umumnya punya  salah satu tokoh identifikasi.

Yang populer dan umum dipilih adalah

  • Kresna, konsultan dan ahli strategi. Sedikit licik.
  • Werkudara yang kuat,setia dan teguh hati. Namun agak bodoh.
  • Arjuna lelanaging jagad – lelaki sejati. Satria pilih tanding yang play boy.
  • Semar sang pengemong. Selalu memberi petuah positif. Namun pernah berebut tahta dengan kakaknya -Togog-.
  • Narada the messenger nan lucu. Yang salah mengenali antara Arjuna dengan Karna.
  • Puntadewa bersih dan jujur. Namun gila judi.
  • Petruk yang bebas sesuka-sukanya.
  • Wisanggeni yang blak-blakan dan tak kenal takut.

Tentu saja akan selalu ada kemungkinan terjadi distorsi.

Seseorang yang suka tampil malah memilih Kresna yang sejatinya bak sutradara di belakang layar.

Seorang yang lemah dan penakut justru memilih Werkudara.

Itu biasa.

Hakekat identifikasi adalah mekanisme pertahanan diri, defense mechanism. Ini berguna bagai selimut untuk merasa aman dan nyaman. Karena semua orang suka disebut baik, maka tokoh antagonis jarang diidentifikasi.

Sulit dan mustahil mencari orang Jawa yang mau mengidentifikasi dirinya seperti Sengkuni, Rahwana, Burisrawa atau Dursasana. Bahkan orang cenderung menghindar untuk diindentifikasikan dengan Durna sang guru bangsa.

Cerita Wayang dan Psikologi Cerminan Intropeksi Diri.

Intropeksi berupa proses penanaman nilai. Penonton menyerap nilai-nilai dari pertunjukan wayang  untuk kemudian dilebur ke dalam sistem nilai pribadinya.

Ada banyak nilai yang diintropeksikan oleh lakon wayang seperti nilai-nilai kesatriaan, patriotisme, martabat dan kehormatan, kesediaan berkorban.

Nilai-nilai yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai perilaku normatif.

  • Seorang pemimpin pantang menarik ucapannya.
  • Jiwa ksatria tidak mengenal kata mundur bila ia benar.
  • Siap mengaku salah ketika khilaf.
  • Kehalusan berbahasa dan nada suara yang pelan adalah ciri satria terhormat.
  • Sebaliknya suara lantang dan tutur kata yang kasar digolongkan sebagai sifat denawa atau raksasa dari negeri seberang alias ‘ora njawani’.

Cerita Wayang dan Psikologi Cerminan Nalar dan Pemikiran.

Orang dapat merasionalkan tindakannya dengan merujuk kepada wayang.  Menarik bila kemudian dijumpai bahwa rujukan itu meningkatkan toleransi seseorang kepada sebuah tindakan yang meleset.

Dalam wayang, khususnya Mahabhrata, tidak ada tokoh yang sempurna. Bahkan para dewa sekalipun. Kisah Mahabhrata tidak hitam putih seperti Kisah Ramayana.

Dalam Ramayana amat jelas siapa jahat, siapa baik. Walaupun versi yang berbeda seratus delapanpuluh derajat dapat dijumpai di Srilangka. Di sana Rahwana konon adalah pahlawan yang dipuja.

Dalam epos Mahabhrata ,baik dan jahat dapat bercampur.

Yudistira atau Puntadewa yang hanya berdusta satu kali dalam kasus Aswatama nyatanya suka berjudi. Demikian juga Werkudara, Arjuna dan Nakula Sadewa . Masing-masing punya kelemahan yang dibeberkan jelas di akhir kehidupan mereka di gunung Mahameru.

Tidak semua Pendawa selalu sempurna  dan tidak semua di pihak Kurawa selalu jahat.  Seperti Arya Bisma yang membela Kurawa, justru dihormati dalam kematiannya.

Suatu kenyataan menarik bahwa Mahabharata  yang posisinya samar-samar tentang kebaikan lebih disukai di masyarakat Jawa daripada Ramayana yang hitam putih.

Apakah ini karena orang Jawa lebih toleran terhadap ketidak sempurnaan?

Tampaknya begitu.

Dalam alam pikiran orang Jawa, kesempurnaan hanya milik Gusti Pangeran. Seperti pada keris yang selalu berluk ganjil karena genap adalah kesempurnaan dan itu bukan milik manusia.

Manusia adalah Mahluk Bermain alias homo ludens.

Punakawan adalah bintangnya. Adegan gara-gara ketika punakawan keluar adalah adegan yang ditunggu-tunggu penonton meski itu terjadinya  sekitar jam 3 pagi.

Punakawan suka bermain dan melucu.

Akan tetapi dalam kelucuan , dan  absurditas adegan punakawan terselip kritik sosial atau pesan moral.

Bagi sang dalang, adegan punakawan inilah sarana  untuk menyampaikan nilai-nilai yang ia mau teruskan kepada penontonnya. Namun dikemas dalam humor. Hal ini dimungkinkan oleh posisi punakawan yang “bebas”.

Seandainya Petruk, Gareng atau Bagong berkata arif maka mereka disebut hebat. Sebaliknya bila ucapannya kurang pantas, kritiknya terlalu keras, toleransi  tetap diberikan. Hal itu karena mereka memang diposisikan sebagai wakil kaum polos, tak banyak mengerti  dan lugu.

Dulu, para penguasa memanfaatkan punakawan untuk menyampaikan pesan-pesan politik mereka. Dalam pengawasan penjajah, kepiawaian dalang ditantang untuk menyampaikan nya dengan sindiran halus dan tidak vulgar.

Cerita Wayang dan Psikologi Menjadi Sejarah.

Meski wayang adalah  cerita, namun wayang  sudah menyatu dengan kehidupan penggemarnya. Bahkan batas antara cerita dan kenyataan seringkali menjadi tipis. Cerita menjadi ‘sejarah’.

Banyak tempat-tempat di Indonesia yang mengambil nama tempat wayang. Seperti Pringgondani daerah di Karang Anyar jawa tengah yang mengambil nama dari kerajaan tempat Gatutkaca berkuasa. Atau Grojokan Sewu tempat BalaDewa bersemedi menunggu perang Barata Yuda.

Bahkan ada yang menempatkan wayang sebagai pedoman hidup. Wayang jadi rujukan kehidupan.

Selalu ada Konflik dalam Cerita Wayang dan Psikologi.

Selalu ada pertentangan kejahatan dan kebaikan. Sumber persoalan adalah nafsu. Ketika seseorang dikuasai nafsu maka lenyaplah akal budi . Lahirlah niat dan perilaku jahat. Kejahatan biasanya diwakilkan kepada figur  raksasa meski tak selamanya demikian.

Seorang ksatria bahkan dewa-dewa pun dapat dikalahkan oleh nafsu.

  • Batara Guru hilang kebijaksanaannya ketika memaksa Dewi Uma bercinta di atas punggung lembu Andini.
  • Begawan Wisrawa tak kuasa menahan hasrat bercinta dengan Dewi Sukesih, calon menantunya sendiri. Justru ketika sedang mengajarkan sastra jendra, ilmu kemuliaan.
  • Werkudara tidak cukup hanya mencabut nyawa Dursasana. Tetapi juga merobek dadanya dan mengambil jantungnya untuk diserahkan dan dimakan oleh Drupadi guna menuntaskan sumpahnya.
  • Drupadi mencuci rambutnya dengan darah Dursasana.

Selalu ada Pro-Kontra dalam Lakon atau Cerita Wayang dan Psikologi.

Dorongan seks dan agresi adalah dua naluri dasar manusia.

Wisrawa, Guru, Werkudara, Drupadi  biasa diposisikan sebagai tokoh baik. Akan tetapi mengapa mereka dapat berbuat menyimpang jauh?.

Hal itu disebabkan karena  Ego tidak mampu bertahan  membendung norma. Sekali waktu, dengan berbagai alasan, norma dapat menyelinap,  muncul dan berkuasa penuh untuk mengendalikan perilaku seseorang.

Memang begitulah kehidupan manusia yang tidak pernah sempurna. Hidup adalah pertarungan dalam diri antara menyeimbangkan nafsu dan dogma.

Wayang adalah cerita kehidupan. Wayang adalah tempat manusia bercermin tentang dirinya.

Demikianlah artikel tentang wayang dalam sudut pandang psikologi yang ditulis ulang oleh PsyLine.id. Psikologi Online. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Salam Bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: Anoreksia Gangguan Makan Merupakan Indikasi Gangguan Psikis.

Tentang Penulis

Bayu Lebond

Seorang yang sok Seniman
Rocker yang sayang keluarga
Pecinta Wayang Jawa
#WhySoSerious

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan