Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

curhat ke psikolog

Klinis & Kepribadian | 1622 Views

Curhat ke psikolog Menakutkan dan apakah perlu?

3 April 2017 | Penulis: Wulan Arumbi

Menemui dan curhat ke psikolog terkadang terasa tabu plus malu. Kenapa? Karena sejak masa sekolah, sperti sudah didoktrin dalam kepala kita kalau panggilan ke guru BP/konselor/psikolog sekolah. Itu bagaikan panggilan untuk anak-anak nakal yang hobi melanggar aturan. Dari suka membolos, bermasalah dengan guru, berkelahi dan deretan cap negatif lain. Jadi, Curhat ke psikolog, apakah perlu?

Kesimpulannya ke BP/konselor/psikolog sekolah sama dengan nakal atau bermasalah atau jelek.

Seiring perubahan waktu dan tak bisa dipungkiri dalam menapaki kehidupan ini. Sering sekali kita tersandung-sandung bahkan ada yang sampai tersungkur, terjerembab, lalu sulit untuk bangkit lagi. Apakah pembaca sekalian termasuk yang mengalaminya?

Masalah kalau tidak segera diatasi sedikit-sedikit lama –lama bisa menggunung trus meledak, deh. Sedangkan kita tidak punya daya upaya untuk mengatasinya. Semakin kita tidak memperdulikan masalah kecil yang kita hadapi. Hal itu hanya akan membuat masalah itu semakin masuk ke dalam diri kita. Bahkan berpengaruh ke hal lain yang awalnya tidak bermasalah.

Curhat ke Psikolog adalah cara untuk mengatasi kegalauan.

Ada solusi yang tepat pembaca sekalian, yaitu BERBAGI. Tapi terkadang berbagi  kepada orang yang tidak tepat malah membuat masalah kita semakin runyam. Masalah kita jadi menyebarluas dan menjadi perbincangan umum.

Yang dapat kita lakukan adalah mencegah sedini mungkin agar masalah itu tidak meluas dan membuat kejiwaan kita terganggu

Nah, ketika tidak sorangpun bisa diandalkan untuk mendengarkan dan memberi solusi masalah anda, datang ke psikolog adalah solusi yang tepat. Mereka akan bekerja secara profesional dan menjalankan profesinya sebaik mungkin sesuai kode etik yang berlaku.

Tidak perlu mengalami gangguan kejiwaan dahulu untuk menemui psikolog karena permasalahan kecil pun dapat menjadi besar ketika tidak ditangani segera.

Pemikiran lama yang harus ditinggalkan sehingga ragu untuk curhat ke psikolog.

  1. Takut dibilang gangguan jiwa

    Seseorang yang sangat tertekan dapat menemui psikolog, meskipun tanpa adanya gejala-gejala atau gangguan. Tekanan dapat merubah perilaku seseorang. Kognisi dan emosi terutama saat tekanan tersebut muncul terus menerus atau disebabkan peristiwa signifikan. Seperti kematian anggota keluarga, perceraian, operasi atau kelahiran yang akan segara dilakukan.

    Jadi, hilangkan rasa takut itu. Katakan kalau anda memang butuh bantuan. Karena orang lain tidak akan mengenal anda seperti anda mengenal diri anda sendiri.

    Percayalah semua masalah akan ada jalan keluarnya, dan tidak perlu sampai jiwa anda terganggu. Apalagi kalau berawal dari rasa takut terhadap pendapat orang lain yang belum tentu benar. Bisa jadi itu hanya pemikiran negatif anda sendiri.

  2. Takut  tidak kuat membayar biaya konseling

    Anda dapat mencari rekomendasi psikiater yang tepat dengan menanyakannya kepada keluarga, teman, atau kerabat di lingkungan Anda. Sehingga bisa menentukan mana yang cocok dengan kemampuan. Pertimbangkan juga mengenai biayanya apabila tidak ditanggung oleh asuransi.

    Selain itu, Anda juga bisa mencari informasi ke perguruan tinggi jurusan psikiatri. Jika ada tenaga ahli yang memberikan biaya pengobatan yang lebih rendah atau bahkan konsultasi gratis.

    Ada perbedaan antara Psikolog dan Psikiater.
    Simak Artikel
    Perbedaan Psikolog dan Psikiater.

  3. Takut rahasia terbesar kita terbongkar

    Mempertahankan Kerahasian Data adalah salah satu pasal yang wajib dipatuhi Psikolog. Psikolog atau  Ilmuwan Psikologi wajib memegang teguh rahasia yang menyangkut klien atau pengguna layanan psikologi dalam hubungan dengan pelaksanaan kegiatannya.

    Jadi untuk urusan rahasia jangan pernah khawatir, ya!

Takut untuk curhat ke psikolog?

Mungkin Anda merasa tidak membutuhkan bantuan psikiater dan merasa bisa menyelesaikan permasalahan pribadi Anda sendiri.

Namun tetap tidak ada salahnya untuk berkonsultasi, terutama dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi yang mendasarinya, seperti:

  1. Mengalami perubahan suasana hati, pikiran, dan emosi yang sering kali terjadi secara tiba-tiba.
  2. Mengalami depresi, cemas, merasa takut berlebihan, merasa tidak bahagia, merasa bersalah, gangguan pola tidur (insomnia), muncul niat untuk bunuh diri.
  3. Mengalami gangguan obsesis-kompulsif (OCD), gangguan bipolar, skizofrenia, merasa putus asa

jadi, silahkan pembaca sekalian tentukan dengan hati. Mau mencari teman curhat yang bisa meringankan persoalan anda atau konsultasi dengan psikolog dengan penuh keyakinan dan tanpa beban. Baik bertemu secara face 2 face. Tempat curhat online yang bisa kita gunakan adalah di PsyLine.id Psikologi Online Indonesia.

Kita bisa berbagi cerita kepada Psikolog berpengalaman pada bidangnya. PsyLine.id adalah sebuah situs Psikologi Online Indonesia yang membantu kita yang membutuhkan. PsyLine.id  menjamin 100% kerahasiannya, dan hanya dipergunakan untuk membantu kita menjadi lebih baik.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Salam Bahagia..

Artikel sebelumnya membahas masalah:

7 Kunci Sukses Negosiasi Remunerasi ala PsyLine.

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan