Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Dampak Teror Dilihat Dari Berbagai Sisi

Pendidikan & Anak | 304 Views

Dampak Teror Dilihat Dari Berbagai Sisi

1 Maret 2018 | Penulis: Dewi Anggraeni Psikolog

Di dalam artikel lanjutan tentang Bullying/mengejek dan menteror ini akan disampaikan akibat-akibat lainnya bagi si korban. Dan akibat bagi si pelaku, teman-teman sekelas dan orangtua si korban. Selain itu juga mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan oleh si anak dan orangtua, dalam mengatasi masalah yang ada. Dampak Teror Dilihat Dari Berbagai Sisi.

Selanjutnya dibahas pula hal-hal apa yang harus diamati oleh orang tua untuk bisa mendeteksi apakah anaknya baik-baik saja. Atau anaknya sedang memiliki persoalan serieus dan atau depressif.

Selanjutnya campur tangan Dokter dan Psikolog diperlukan apabila si anak mulai menunjukkan perubahan emosi, sikap dan perilakunya akibat depressi.

Artikel Terkait:

PESTEN: Candaan yang Menteror Sesama. Bagaimana Cara Menghadapinya?

Dukungan di sekolah atau di dalam lingkungan pergaulannya, si korban biasanya memiliki seseorang yang mendukung-membelanya (tapi tidak memberikan perlawanan secara nyata). Misalnya dengan hanya mengatakan “hindari saja mereka”, “ jangan diambil hati”. Dukungan seperti ini juga sangat berarti bagi si korban!

Dampak Teror Dilihat Dari Berbagai Sisi

Dampak Teror Bagi Si Korban

Selain akibat psikologis dari diteror bagi si korban seperti yang telah disebutkan di dalam tulisan sebelumnya (depressi, merasa minder, dendam, takut, merasa tidak berdaya ), ada pula akibat-akibat lain yang menyertainya.

Yakni diteror bisa menimbulkan kesepian, keluhan psikosomatis seperti sulit tidur, sakit kepala, sakit perut, kencing di tempat tidur, merasa cepat cape serta membuat permasalahan lain yang ada jadi lebih parah.

Dia menjadi takut untuk ke sekolah dan tidak mempercayai orang-orang sebayanya dan bahkan jadi tidak menyukai dirinya sendiri. Perasaan-perasaan seperti ini bisa membuat si korba tambah menyendiri (terisolasi), semakin depressi dan hal-hal ini bisa memancing si pelaku untuk lebih menterornya.

Si korban bisa pula dikemudian hari (misalnya di tingkat sekolah lain) karena marah dan dendam, berubah jadi orang yang suka menteror, untuk balas dendam atas perlakuan yang diterimanya di masa lalu.

Dampak Teror Bagi Si Pelaku

Akibat menteror bagi si pelaku tidak cepat nampak. Dia masih tetap duduk di sekolah yang sama, tetap macho, rasa percaya dirinya semakin besar, semakin “populer” dan prestasinya bisa lebih bagus daripada si korban.

Tetapi seringkali polularitasnya ini bukan popularitas yang sesungguhnya alias popularitas yang semu. Teman-teman sekelasnya “mengagumi” si pelaku sekaligus merasa takut dan tidak menyetujui sepak terjangnya.

Lama kelamaan si pelaku akan mengalami masalah-masalah sosial. Selama ini dia sudah belajar mencapai maksudnya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan tunturan lingkungan sosial.

Akibatnya dia akan nenunjukkan pola perilaku yang tidak sesuai (mengganggu). Dan di masa dewasanya kemungkinan besar memiliki masalah2 psikologis yang serius. Misalnya melakukan pelanggaran hukum, jadi peminum, sering berkelahi, tidak sukses studi-nya, melakukan kekerasan dalam rumah tangga, bahkan menjadi depressif dan (bisa) bunuh diri.

Anak-anak dari si pelaku teror juga pada gilirannya akan menunjukkan gangguan atau perilaku yang bermasalah. Hal ini disebabkan karena anak-anak meniru sikap dan perilaku salah satu atau ke dua orang tuanya.

Sikap dan perilaku yang macho, suka mengejek dan menteror serta dominan. Dari salah satu orangtua biasanya akan lebih ditiru oleh anak-anaknya. Misalnya anak laki-laki akan meniru perilaku ayahnya yang suka menteror.

Dampak Teror Bagi Teman Sekelas

Teman–teman sekelas tidak menyukai dan merasa terganggu oleh si pelaku teror ini. Suasana belajar pun jadi terganggu dan kurang konsentrasi.

Pada saat mereka melihat ada yang diteror, mereka merasa tidak nyaman di sekolah. 

Sementara si korban merasakan  dan belajar bahwa sekelilingnya tidak berbuat apa-apa. Seolah-olah dirinya memang wajar diteror. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan (power) lebih penting daripada keadilan dan kebenaran.

Dan di matanya orang dewasa tidak melindungi dan menjaga dengan baik anak-anaknya.

Dampak Teror Bagi Orangtua Korban

Saat orangtua mengetahui bahwa anaknya diteror maka muncul perasaan/emosi yang campur aduk. Dari mulai tidak percaya/kaget bahwa anaknya diteror, marah, sedih sampai memiliki perasaan bersalah dan kasihan.

Seringkali orang tua mempertanyakan, apakah yang salah dalam cara mengasuh dan mendidik anaknya. Anak yang disayanginya mengalami diteror dan tidak bisa membela dirinya sendiri.

Umumnya orang tua akan langsung terlibat untuk mengatasi masalah yang ada. Misalnya dengan melaporkannya kepada Kepala Sekolah yang bertalian. 

Apa yang perlu dilakukan oleh pihak sekolah?

Kepala Sekolah/konselor harus menanggapi laporan murid dan orang tua murid dengan serius. Memanggil si pelaku dan semua yang terlibat, memberikan penyuluhan dan akibatnya. Lalu memanggil Orangtua si pelaku, memperingatkannya si pelaku dan atau menskors-nya.

Pesan untukmu, bersikap terbuka, bicara dan bicarakan!

Kalau misalnya kamu diteror, hal yang sangat penting adalah membicarakannya dengan seseorang yang kamu percayai. Bisa saja itu adalah orang dewasa, teman akrab, orangtua, Psikolog, Guru, Kepala Sekolah, konselor/PB di sekolah. 

Selain uneg-unegmu keluar, juga dari pembicaraan ini biasanya diperoleh jalan keluar atau ide-ide untuk mengatasinya. Membicarakannya dengan seseorang bisa mencegah pengalaman diteror ini melekat dalam dirimu. Hal itu yang bisa merusak harga diri dan rasa percaya dirimu saat ini dan di masa depan.

Bila kamu tidak berani membicarakan soal diteror ini dgn seseorang. Hal ini akan semakin menguntungkan si pelaku dan membuat kamu lebih sulit. Dia tahu kamu sendirian dan merasa senang karena tidak ada yang menegur perilakunya yang keliru ini.

Pesan saya kepada korban teror ini, jangan ragu-ragu mencari bantuan/pemecahan dan untuk belajar bagaimana bersikap asertif! 

Salam Bahagia.

Dra. Dewi Anggraeni Psikolog

PSYLine.id Psikologi Online Indonesia

Bila Anda ada permasalahan dengan dampak terror dilihat dari berbagai sisi, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Bergabunglah dengan kami di Media Sosial PSYLine.id Klik Tautan Berikut Ini:

comfort.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Tentang Penulis

Dewi Anggraeni Psikolog

Psikolog lulusan Universitas Padjadjaran, mempelajari antara lain: RET (Rational-emotive therapy), Logo Therapy, Autogene, ACT (Acceptance Commitment Therapy). Saat ini tinggal di Velserbroek, Belanda.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan