DNA

Diposting: 19 Mei 2019 | Kategori Artikel: Handbook of Millennial Career

Dilihat: 160 kali.

Penulis: Niam Muiz

Ketika di pertengahan 90an saya masih aktif memberikan bimbingan kepada wisudawan dalam membekali masa memilih dan masuk kerja, ada dua hal yang paling “hot” dan tidak pernah saya lupakan sampai menjelang 2020 ini.

Pertama, perdebatan mengenai berapa copy ijazah yang perlu dilegalisir untuk mempersiapkan lamaran bekerja. Saya berpendapat, tidak lebih dari 5 copy. Para wisudaswan dan mahasiswa semester akhir protes berat. Menurut mereka minimal 15 copy saja kadang tidak cukup. Iklan (pada waktu itu) koran saja sekurangnya 10-15, sisanya referensi oom/tante dan dari kakak kelas. Kalau mau aman 30 copy legalisasi lah, kata mereka

Saya tidak bergeser dari rekomendasi maximum 5 copy legalisasi (masa itu hard copy).

Perdebatan itu akhirnya saya maklumi. Mereka adalah pencari kerja. Dimana ada lowongan, disitulah peluangnya. Dicoba aja. Soal dipanggil saja belum tentu, ya siapa tahu saja. Mereka mengandalkan coba-coba dan coba. Negeri ini adalah negeri dengan banyak peluang. Angkatan kerja juga banyak, jadi rumus “siapa tahu” adalah teori paling populer. Akibatnya fenomena seseorang diterima disatu tempat, lalu dipanggil oleh job opening lain yang dilamarnya bisa saja terjadi. Menurut sebagian wisudawan hal itu “happy problem”, tinggal dipilih mana yang lebih menarik.

Buat saya sebagai konselor, ceritanya tidak demikian. Sekali Anda melamar, itulah pilihanmu. Anda harus commit dari pertama kali melamar, apalagi kalau sudah diterima, bahkan sudah ditraining. Saya ulangi; bekerja adalah pilihan dimana Anda mau berkiprah. Bukan asal menemukan kesempatan. Jika itu adalah pekerjaan menjadi sales heavy equipment, ya itu pilihan Anda dan memang karena mau jadi sales, dan anda mau bidangnya di lapangan heavy equipment. Bukan karena adanya peluang itu.

Saya tidak suka menjadi sales, apalagi di lapangan heavy equipment. Tapi lowongan yang ada cuma itu. Gimana, kata mereka yang menyanggah teori saya. Ya saya jawab, berarti belum ada pekerjaan untuk anda. Memang disuatu titik, Anda harus berkompromi antara yang anda kehendaki dengan apa yang tersedia. Tapi bukan asal samber lowongan.

Rupanya hal diatas tidak mudah dijelaskan, terutama ketika si pelamar sudah berada dititik kefefet. Rupanya mesti dijelaskan lebih awal?! Tapi, konsekwensi kalau disampaikan lebih awal, akan makin tidak didengarkan. Karena mereka belum ngqapa2in, bahkan belum berhadapan dengan kenyataan melamar kerja.

Hal kedua yang saya ingat, adalah manakala menjelang mereka diwisuda. Sebelum mengenakan toga, dan masuk auditorium wisuda, dan gempita menyanyikan lagu Godeamus, saya melakukan riset dengan satu pertanyaan. Anda hari ini akan diwisuda jadi sarjana. Siapa dari kalian yang merasa disiplin kesarjanaan Anda sekarang rasanya salah jurusan dibanding selera dan minat pribadi ?!

Saya berharap tidak ada yang mengacungkan tangan, wong mereka sudah pakai toga dengan warna jubah sesuai disiplin ilmunya masing-masing. Eh, ternyata banyak yang mengacungkan tangan . Saking banyaknya disalah satu acara wisuda, saya menyempatkan diri menghitung berapa yang mengacungkan tangan merasa salah jurusan. Dari 132 wisudawan satu jurusan, 51 orang mengacungkan tangan. Artinya 38,6 % wisudawan ! Oh MG……..

Point saya, romantika ingatan yang sudah 20 tahun silam itu mengingatkan betapa masih relevannya cita-cita sebagai tujuan. Sejak masuk kuliah sampai melamar pekerjaan. Seseorng kuliah, karena sekedar harus kuliah dan mendapat strata pendidikan. Anda memilih jurusan karena DNA pribadi Anda cocok pada disiplin ilmu tertentu, dan tidak cocok pada disiplin lain. Lulus S-1 saja bukan “perlengkapan hidup”, perlengkapan hidup itu lantaran disiplin ilmu tertentu membuat Anda bisa melakukan sesuatu, nanti dalam pekerjaan. Maka disiplin ilmu yang diminati adalah jembatan perjalanan Anda menuju masa depan.

Dari “jembatan” anda dianggap memiliki kualifikasi untuk duduk dilapangan pekerjaan tertentu. Dari sana Anda akan berjuang membuktikan prestasi kerja. Jika disiplin yang memodali Anda tidak cocok dengan diri Anda, maka selamanya Anda akan tersiksa dengan pekerjaan yang makin menjemukan dari hari ke hari. Maka pekerjan itu tidak akan cocok pula bagi Anda. Alhasil, hidup seperti apa yang Anda sedang jalani ?! Ini bukan sekedar kuliah lagi, ini adalah soal pilihan.

Ternyata, di masa dewasa sekalipun, banyak orang memilih dengan alasan yang salah. Lebih parah, ini terjadi dimasa millenia, saat informasi tersedia disekeliling Anda

Handbook of millenial career
Mau belajar lebih dalam, email ke info@psyline.id

Tentang Penulis

Niam Muiz

Adalah konsultan yang telah menangani berbagai isyu perusahaan nasional maupun Multinasional dalam hampir 20 tahun ini, memberikan pencerahan bagi lebih dari 5000 eksekutif setahun.

Bagikan Artikel Ini:

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PSYLine.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog