Fenomena Emak-emak Perang di Media Sosial atau MOMMY War

Diposting: 15 Agustus 2017 | Kategori Artikel: Gaya Hidup & Sosial

Dilihat: 715 kali.

Penulis: Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Emak-emak mengungkapkan pendapat di media sosial adalah hal yang wajar dan sah-sah saja. Masing-masing pendapat memiliki pendukung garis keras. Pendukung yang giat membombardir pihak lawan dengan artikel-artikel pendukung. Tak jarang dibarengi dengan sindiran halus maupun kasar. Kemudian terjadilah Emak-emak Perang di Media sosial alias Mommy War.

Kondisi ini mirip seperti perang. Oleh sebab itu, muncul istilah mommy wars atau perang opini antar ibu-ibu. Biasanya mengenai seputar masalah keluarga, pengasuhan anak atau masalah rumahtangga lainnya.

Emak-emak Perang di Media Sosial

Istilah ini muncul pertama kali pada tahun 1986. Setelah Leslie Morgan Steiner mengeluarkan buku berjudul Mommy Wars: Stay-at-Home and Career Moms Face Off on Their Choices, Their Lives, Their Families.

Jadi perdebatan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara lain. Seperti Amerika Serikat dan sekutunya ;).

Efek Kemudahan Akses Informasi Membuat Emak-emak Perang di Media sosial Marak Terjadi

Mengapa fenomena ini marak kita temui saat ini? Menurut Psikolog Hesti Nur Lestari, S.Psi. MBA, Psikolog. Kemudahan mengakses informasi mendorong orang untuk mengekspresikan diri. Termasuk mengungkapkan opini.

Dahulu jika seseorang ingin tulisannya tampil di media massa dan dibaca banyak orang, mereka harus menulis rubrik opini di koran. Syaratnya, harus pintar menulis dan siap bersaing dengan pakar.

Berapa banyak yang berhasil? Mungkin hanya satu dua orang.

Sekarang, dengan adanya internet dan media sosial, kita punya banyak platform atau sarana ekspresi diri. Yang bisa diakses selama 24 jam, 7 hari dalam seminggu, tanpa hambatan dan birokrasi yang rumit. Kita tinggal membuat akun di media sosial.

Lalu simsalabim, kapan pun kita bisa mengekspresikan diri. dan terjadilah Emak-emak Perang di Media sosial atau Mommy War.

Kemudahan teknologi memudahkan manusia mengakses informasi. Para ibu bisa memanfaatkannya seoptimal mungkin untuk menggali pengetahuan apa saja. Baik itu masalah keluarga, pengasuhan anak atau masalah rumahtangga lainnya.

Namun realitasnya, terlalu banyak informasi menimbulkan kebingungan. Apalagi jika sumber informasinya berpusat di media sosial. Tidak digali lebih dalam, dipahami secara parsial, dan dengan serampangan disebarluaskan.

Ibu Zaman Dulu Vs Ibu Masa Kini

Jika bicara mengenai perbedaan metode pengasuhan, para ibu di masa lalu juga mengalaminya. Namun mengapa di masa lalu tidak terjadi mommy war seperti masa kini?

Emak-emak Perang di Media Sosial

Tentu saja, karena ibu-ibu kita dulu hidup dalam situasi yang berbeda dengan kita sekarang. Isu-isu seputar masalah keluarga, pengasuhan anak atau masalah rumahtangga lainnya belum sebanyak sekarang. Sehingga jarang ada Emak-emak Perang di Media sosial atau Mommy War.

Dahulu belum muncul dilema menggunakan susu formula atau ASI, menggunakan jasa babysitter. Atau tidak, kapan usia tepat mengenalkan gadget, dan seterusnya. Jadi tentu saja, tidak banyak silang pendapat.

Faktor penting lainnya, mengenai sumber pengetahuan dan informasi. Para ibu di masa lalu umumnya memperoleh ilmu mengasuh anak dari ibunya. Saat akses terhadap buku mulai terbuka, banyak orangtua yang menggali pengetahuan dari sana. Namun masalah pengasuhan masih menjadi ranah pribadi.

Sejak ada internet dan media sosial, kita mudah memperoleh pengetahuan tentang pola pengasuhan dari berbagai sumber. Kita bisa menyebarkannya dan memberikan opini kita sendiri. Jadilah Emak-emak Perang di Media sosial atau mommy wars. Atau saya lebih suka menyebutnya pertukaran informasi antar ibu-ibu.

Efek Mommy Wars

Perang opini—atau pertukaran informasi—mengenai pengasuhan anak bisa dimaknai positif atau negatif. Bila positif, maka tidak akan ada Emak-emak Perang di Media sosial. Tapi bila negatif, maka akan ada Mommy War.

Secara positif, 

Emak-emak Perang di Media sosial atau mommy wars bisa menjadi sarana mengasah pikiran kritis, memicu rasa ingin tahu, dan menjadi pendorong untuk memperluas wawasan. Dengan begitu, para ibu bisa memiliki banyak pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu.

Para Ibu tidak terjebak pada grup thinking yang hanya memiliki referensi, pendapat, dan solusi tunggal. Pendapat yang (seolah-olah) disetujui dan diterima semua orang.

Namun bagaimana bila Emak-emak Perang di Media sosial atau mommy wars berkembang menjadi ajang saling menyerang personal? Saling bertukar komentar pedas dan menumbuhkan permusuhan? Hal ini menunjukkan bahwa belum ada semangat untuk berdiskusi secara dewasa.

Berdebat tentang suatu hal merupakan hal biasa di dalam keseharian kita. Tujuannya untuk melihat permasalahan dari berbagai sisi dan menemukan solusi terbaik. Tentu hal tersebut dibarengi dengan data dan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Jika kita menyampaikan sebuah opini, harus siap diterima dan ditolak. Apalagi melalui media sosial. Pernyataan/tulisan yang sama bisa dipahami secara berbeda oleh banyak orang. Berbeda pendapat itu wajar dan normal. Utamakan sikap bijak dan lapangkan hati menghadapinya.

Efek Negatif Kumpul-kumpul di Medsos

Emak-emak Perang di Media Sosial

Jika Anda menemukan gejala-gejala berikut ini pada diri Anda:

  • Berbangga diri/pamer.
  • Iri dengan apa yang diunggah orang lain.
  • Merasa paling benar dan selalu memandang negatif sikap atau pendapat orang lain yang berbeda.
  • Baper (bawa perasaan) atau cepat tersulut emosi saat menerima tanggapan yang berbeda.
  • Menyebarkan berita bohong dan tidak pantas.
  • Memfitnah untuk menjatuhkan nama seseorang yang berbeda pendapat dengan Anda.
  • Setiap detik merasa perlu untuk mengecek dan membalas semua komentar di medsos.

Berarti Anda perlu merenungkan kembali aktivitas Anda di media sosial (medsos).

Salam Bahagia.

Namun Apabila Anda memiliki masalah dengan Kehidupan Dunia Maya anda, dan ingin berbagi curahan hati Kepada Psikolog Professional PSYLine. Anda dapat Konsultasi di PSYLine.id. Psikologi Online Indonesia.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

From Hero to Zero yang Tidak Diinginkan Semua Orang.

Tentang Penulis

Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia,
Magister Business Management dari IPMI International Business School
Konsultan, Trainer, Asesor, Konselor, Aktivis Sosial
Ibu yang bangga dari 3 anak keren, life-long learner & penikmat seni.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog