Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

BAPER

Klinis & Kepribadian | 2635 Views

Jadilah Orang BAPER yang Bahagia. Baper salah, Gak Peka juga salah

1 Agustus 2017 | Penulis: Riswandi Alekhine

Jadilah Orang Baper yang Bahagia. Istilah “baper” tentu saja sudah menjadi hal yang biasa di kalangan Anak Muda sekarang. Terkadang istilah tersebut menjadi stigma negatif kepada orang-orang yang dianggap terlalu sensitif. Hal ini terkadang menjadi dilema juga lho. BAPER salah, GAK PEKA juga salah.

So, memang hidup itu perlu disikapi secara bijak dan seimbang. Sehingga kita sebaiknya bersikap sesuai konteks. Tunggu sebentar, untuk kamu yang belum tahu apa itu “baper”, kata ini kepanjangan dari kata “bawa perasaan”. Kata ini merujuk kepada sifat, sikap atau perilaku terlalu sensitif.

Pengertian fobia sosial BAPER

Untuk kamu yang merasa sulit sekali menghilangkan perasaan Baper dan sudah terlanjur di cap “baperan”. Pertanyaannya adalah apakah baper salah?

Mesti bagaimana?

Salah gak sih?

Apakah Saya harus berubah?

Sebelum menjawab itu, yuks kita bahas secara lebih ilmiah dengan ilmu psikologi.

Istilah BAPER dalam Psikologi

Istilah “baper” dalam Psikologi merujuk pada term “sensory -processing sensitivity” atau SPS. Beberapa orang di negara barat menyebut hal ini dengan istilah sehari-hari Highly Sensitive Person.

Menurut Marwa Azab Ph. D. di Psychology Today menyatakan bahwa orang-orang yang “baper” itu memang sudah dari sananya. Hal ini berarti memang bukan proses belajar dari lingkungan. Pada saat mereka masih anak-anak memiliki kecenderungan pemalu dan kecenderungan introvert saat dewasa.

Yang perlu dicatat adalah tidak semua orang dengan kecenderungan introver otomatis menjadi orang “baperan”. Karena menurut fakta, 30 dari orang “baper” sebanyak 30% adalah orang ekstrovert.

Ciri-ciri Orang BAPER

Kalau Kamu sudah mengetahui istilah baper dalam terminologi Psikologi, yuks mari kita kenali. Apa aja siy ciri-ciri orang baper itu:

  1. Memiliki kehidupan didalam dirinya yang beraneka ragam dan kompleks.
  2. Mudah terpengaruhi oleh Seni dan Musik.
  3. Mudah sekali terbebani secara perasaan.
  4. Sulit untuk tampil jika dilihat orang, mudah grogi.
  5. sulit untuk memulai sesuatu.
  6. sangat sensitif atas rasa sakit, kafein dan rasa lapar.
  7. Mudah tertangkap perubahan perasaan.

Hasil penelitian tentang orang “baper” dan orang yang sensitif menunjukan hasil menarik. Hal ini karena orang “baper” atau orang sensitif memiliki kualitas sifat yang positif. Akan tetapi secara bersamaan juga rentan dengan depresi, dan kesehatan mental lainnya.

Secara tidak mengejutkan, sifat “baper” atau sensitif ini sering ditemukan pada kalangan seniman, dan penyair. Serta dihubungkan dengan sebuah keberbakatan, kreatifitas, dan empati. 

Oleh karena itu, jika kamu merasa dan termasuk orang “baper” atau sensitif seperti ciri-ciri diatas. Maka kamu perlu mencari lingkungan dan pertemanan yang dapat membuatmu bersinar. Cari lingkungan yang dapat mengeluarkan kemampuan terbaikmu.

Otak Orang BAPER

Lebih lanjut dikatakan bahwa otak dari orang “baper” atau sensitif terhubung secara berbeda dan sistem syaraf sangat sensitif dengan ambang batas yang rendah. Disamping itu, otak orang “baper” atau sensitif memiliki perubahan dalam skala makro.

Maaf Memaafkan BAPER

Area otak yang dikaitkan dengan sifat ini. Tumpang tindih dengan area pada otak yang mendukung perilaku empati. Dimana, mereka juga  memiliki hyper active insula. Dijelaskan sebagai kesadaran yang tinggi akan emosi didalam diri mereka dan sensasi sensori pada tubuh mereka. Dalam bahasa sederhananya, mereka sangat peka.

Jadilah Orang Baper yang Bahagia dan Produktif

Nah, sudah tahu kan penjelasan secara Ilmu Psikologi tentang “baper”? Jadi diharapkan kamu sudah paham mesti bersikap bagaimana dengan hal ini. Pertama dengan mengenali diri sendiri terhadap ciri-ciri orang “baper” atau sensitif.

Kemudian mensyukuri bahwa hal ini bisa menjadi hal yang positif jika dapat digunakan untuk hal-hal yang sifatnya produktif.

Misalnya:

  • Kamu bisa membuat lukisan,
  • tulisan,
  • puisi,
  • refleksi diri
  • dan lain sebagainya.

Daripada hanya meratapi nasib dengan mengikuti perasaanmu yang sensitif.

Semoga artikel ini dapat membantumu menjadi lebih baik yah.

Namun kadang kala kita gundah dan stress karena mengalami Tingkat Kebaperan yang Tinggi . Dan kita tidak tahu akan kemana kita berbagi cerita. Kita bisa saja melakukan curhat secara online. Tempat curhat online yang bisa kita gunakan adalah di PsyLine.id Psikologi Online Indonesia.

Kita bisa berbagi cerita kepada Psikolog berpengalaman pada bidangnya. PsyLine.id adalah sebuah situs Psikologi Online Indonesia yang membantu kita yang membutuhkan. PsyLine.id  menjamin 100% kerahasiannya, dan hanya dipergunakan untuk membantu kita menjadi lebih baik.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Salam bahagia!

Artikel sebelumnya membahas tentang:

10 Cara Hindari Bullying untuk Anak Agar Terhindar Dari Bullying.

Tentang Penulis

Riswandi Alekhine

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Seorang Aquascaper.
Jatuh cinta pada script, poetry, filsafat dan senja saat hujan.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan