Konsultasi Gratis
Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

9 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Menanamkan Disiplin Pada Anak

Pendidikan & Anak | 183 Views

9 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Menanamkan Disiplin Pada Anak

25 September 2017 | Penulis: Bayu Lebond

9 Kesalahan yang sering dilakukan orangtua saat menanamkan disiplin pada anak. Padahal Kedisiplinan merupakan cara untuk mengajarkan anak pelajaran kehidupan. Bukan sebagai alat untuk menghukum anak.

Baca Juga:

Psikologi Anak: Proses Menanamkan Disiplin Pada Anak.

9 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Menanamkan Disiplin Pada Anak

Berikut adalah 9 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Menanamkan Disiplin Pada Anak menurut Adimia Rila Oktoga, S.Psi, M.Psi, Psikolog,:

  1. Tidak Mengargai Anak

    Orangtua mengharapkan anak untuk menghormati dan menghargainya, namun seringkali melupakan bahwa menghargai itu bersifat dua arah.

    Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan adalah:

    • Berbicara dengan membentak.
    • Tak jarang mengeluarkan “cap” negatif kepada anak. Misalnya “dasar anak nakal, kuping kamu ga bisa denger ya!!!!”.
    • Kembali mengungkit kesalahan-kesalahan yang pernah ia lakukan sebelumnya setiap kali ia melakukan suatu kesalahan baru.

    Hal yang semestinya dilakukan Orangtua ketika sedang mendisiplinkan anaknya:

    • Perlakukan anak, terutama bagi ABG, dengan cara yang sama seperti yang Kita inginkan saat orang lain menegur Kita.
    • Membungkuk atau berjongkoklah menyesuaikan tinggi badan Kita dengan tinggi mata anak. Sehingga ia tidak perlu mendongak terus-menerus saat anda bicara.
    • Tatap matanya dan diskusikan masalahnya dengan tenang.
    • Menghargainya namun tetap tegas.
  2. Mendisplinkan Sambil Marah

    Hukuman fisik seperti pukulan, cubitan atau bentakan memang terlihat lebih efektif untuk menghentikan kenakalan yang dilakukan oleh anak. Tapi hal tersebut hanya akan menjadikan anak takut. Namun anak tidak paham mengapa perilaku mereka itu salah. Poses pengembangan kontrol diri anak menjadi tidak berjalan optimal. Akibatnya anak akan kembali mengulang perilaku negatif tersebut di kemudian hari.

    Penting untuk diingat, bahwa Orangtua harus tetap tenang. Berpikir jernih adalah aspek penting dalam proses membetulkan perilaku anak yang salah.  Saat Orang tua bersikap tenang maka akan dapat menjelaskan dengan lebih baik kepada anak. Anak akan menjadi lebih paham dan menyadari bahwa tindakan mereka salah, dan orangtua menegur  karena rasa sayang.

    Ambil waktu menjauh sebentar dari anak untuk menenangkan diri. Hal ini berguna untuk mengatur kembali pemikiran Orangtua sebelum akhirnya bicara dengan anaknya. Kendalikan diri, seberapa pun marahnya anda tetaplah tenang dan jangan berteriak. Dan yang terpenting jangan melakukan kekerasan fisik dan mengeluarkan komentar yang merendahkan anak.

  3. Tidak Konsisten

    Jika Orangtua menegur/menghukum anak karena ia melakukan suatu kesalahan, namun di kesempatan lain Orangtua membiarkannya. Maka anak akan mendapatkan pesan yang tidak jelas dan membuatnya bingung.

    Berikan anak arahan yang jelas, sederhana dan realistis akan tingkah laku yang diharapkan dilakukannya. Misalnya jika Orangtua menginginkannya untuk membersihkan kamarnya sendiri setiap 1 minggu sekali di setiap Jumat sore. Maka tandai kalendernya di setiap hari Jumat sebagai hari membersihkan kamar.

    Persiapkan anak untuk melakukan perilaku yang positif. Dan jika anak tidak melakukannya, maka berikan ia konsekuensi. Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Menanamkan Disiplin Pada Anak.

  4. Berbicara Secara Bertele-tele

    Sangat penting untuk menjelaskan kepada anak secara singkat dan jelas alasan mengapa perilaku yang ia lakukan negative. Sehingga anak paham betul mengenai kesalahannya agar nantinya ia tidak melakukan kesalahan yang sama.

    Penjelasan yang terlalu panjang dan “berputar-putar” tidaklah tepat diberikan untuk anak. Fokus perhatian anak masihlah sangat mudah teralihkan. Sehingga tidak semua informasi dapat mereka terima secara lengkap.

    Untuk anak yang lebih besar, beri penjelasan apa yang salah. Kemudian disksuikan dengannya alternatif perilaku positif yang bisa ia lakukan. Sedangkan untuk anak yang lebih muda, sebutkan apa yang salah dan alasannya secara simpel.

  5. Menjadi Negatif

    Mendengar serentetan larangan “Jangan begini!”; “Jangan begitu!”; “Tidak boleh ini!”; “Tidak boleh itu!” bukan hal yang menyenangkan untuk siapapun. Terlebih lagi untuk anak. Lakukan pendekatan secara lebih positif , dengan memberikan alternatif perilaku yang baik dilakukan. Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Menanamkan Disiplin Pada Anak.

  6. Berpikir Bahwa Mendisplinkan Anak Sama dengan Memberikan Hukuman

    Mendisiplinkan anak bukan berpusat pada memberikan hukuman. Tapi lebih pada membimbing mereka ke perilaku yang positif. Hal ini bukan berarti ketika anak melanggar aturan lantas diabaikan.

    Harus ada konsekuensi yang jelas dan konsisten diberikan ketika anak melanggar aturan. Konsekuensi itu bisa berupa berkurangnya kesempatan anak untuk melakukan kegiatan yang mereka sukai. Hukuman yang tidak logis seperti dikunci di dalam kamar mandi, dibiarkan di ruangan gelap hanya akan menimbulkan trauma pada anak.

    Hal yang perlu diingat adalah, konsekuensi diberikan sebagai cara untuk mengoreksi perilaku anak. Bukan sebagai alat kemarahan orang tua karena melihat perilaku negatif anak.

  7. Orang Tua Tidak Melakukan Tingkah Laku yang Sesuai

    Orangtua ingin anak disiplin dalam melakukan tingkah laku tertentu, maka Orangtua pun harus konsekuen dan konsisten melakukan tingkah laku tersebut. Misalnya Orangtua menginginkan anak untuk bersikap sabar terhadap temannya. Namun Ia sendiri sering bersikap tidak sabar dan mudah marah dengannya. Orangtua ingin anak rajin beribadah namun Ia sendiri tidak melakukannya dsb. Tentunya hal ini akan menimbulkan kebingungan pada diri anak.

    Jika anda melanggar aturan yang anda buat sendiri, maka jangan segan untuk meminta maaf kepada anak. Jelaskan alasan mengapa anda melakukan tindakan tersebut. Diskusikan dengannya alternatif tingkah laku positif yang bisa dilakukan. Buat janji dengan anak untuk tidak melakukannya lagi di kemudian hari. Upayakan untuk benar-benar memenuhi janji tersebut.

  8. Sikap Otoriter

    Menetapkan aturan dan batasan bukan berarti tidak memberi kesempatan pada anak untuk membuat pilihan. Bukan pula menjadikan anak takut untuk mengeksplorasi lingkungan karena takut melakukan kesalahan. Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Menanamkan Disiplin Pada Anak.

    Anak dididik disiplin dengan cara positif. Memahami bahwa pendapat mereka akan didengar dan dihargai orangtua. Walau orangtua tidak selalu setuju dengan pendapat tersebut. Hal ini akan membantu rasa percaya diri anak dalam mengeksplorasi dan berkembang. Sehingga pada akhirnya bisa membedakan hal-hal yang negative dan berbahaya. Dengan hal-hal positif dan bermanfaat untuk mereka lakukan.

  9. Sikap Permisif dan Sama Sekali Tidak Mendisiplinkan Anak

    Membiarkan anak melakukan tingkah laku apapun sekehendak hatinya memiliki dampak yang jelek di kemudian harinya. Anak yang tidak diberikan batasan dan konsekuensi oleh orangtuanya akan tumbuh menjadi anak manja. Egois dan seenaknya tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Hal ini tentu akan menyulitkan adaptasi anak dengan lingkungan.

Orangtua diharapkan dapat menunjukkan kepada anak tingkah laku apa saja yang pantas/tepat dilakukan. Perlakuan anda selaku orang tua yang penuh cinta kasih namun tegas dan jelas dalam memberikan batasan dan harapan pada anak. Hal itu akan membentuk rasa aman pada diri anak dan menjadikannya nyaman saat berada di lingkungan.

Bila Anda ada permasalahan yang sama dengan Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Menanamkan Disiplin Pada Anak. Dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama PSYLine.id Psikologi Online Indonesia menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Psikologi Karir: Reality Testing “Get Help from Resource People”.

Tentang Penulis

Bayu Lebond

Seorang yang sok Seniman
Rocker yang sayang keluarga
Pecinta Wayang Jawa
#WhySoSerious

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan