Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Keyakinan, Firasat dan Insting

Klinis & Kepribadian | 1180 Views

Keyakinan, Firasat dan Insting Manusia untuk bertahan hidup.

25 Mei 2017 | Penulis: PsyLine Indonesia

Masalahnya, keyakinan, firasat dan insting adalah sesuatu yang tidak mudah diperoleh. Bahkan sering dikacaukan dengan nafsu atau emosi atau ego.

Kadang-kadang ketika kita merasa yakin akan sesuatu. Atau merasa punya firasat atau instink mengenai sesuatu. Secara tidak sadar kita sebenarnya sedang menampilkan nafsu atau emosi terhadap sesuatu tersebut.

Diperlukan kesediaan kita untuk memenjarakan nafsu dan emosi. Kita juga perlu melepaskan ikatan-ikatan terhadap hati nurani, kerelaan dan kepasrahan terhadap Penguasa tertinggi semesta ini. Agar memperoleh keyakinan atau firasat. 

Gut oleh karena itu tidak terkait langsung dengan sesuatu yang bersifat fisikal atau organik, namun adalah suatu yang spiritual sifatnya.

Sayangnya tidak banyak dari kita yang dapat membedakan kedua hal ini, termasuk saya.

Yang juga menarik, gut tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya data dan informasi yang dimiliki. Malah semakin banyak informasi yang diserap bisa jadi menumpulkan gut seseorang karena ia menjadi begitu bergantung pada data atau informasi tersebut.

Kata Hati, Keyakinan, Firasat dan Insting

Kita sering mendengar orang mengatakan, ‘do it with heart’.

Sayangnya kalimat indah ini diucapkan hanya sebagai lip service, cliche, atau kemasan. Belakangan saya menemukan orang yang acapkali mengutarakan kalimat itu malah bertindak sebaliknya. Artinya, bisa jadi orang tersebut belum bisa memenjarakan nafsu, emosi atau egonya.

Nafsu ingin dianggap orang baik, orang yang membela kebenaran, orang yang sungguh-sungguh melayani masyarakat, dst, dst.

Fenomena ini sama dengan orang yang berkali-kali berucap, ‘gue ikhlas, gue ikhlas’, tetapi sebenarnya dia jauh dari keikhlasan. Oleh karena keikhlasan adalah tindakan spiritual. Jika makin banyak dibicarakan justru makin jauh dari iklas. 

Do it with gut dan do it with heart 

Oleh karenanya berada dalam area yang sama yakni spiritual. Yaitu sesuatu yang merupakan dorongan yang bersifat positif, oleh karena dorongan ini berasal dari Tuhan Semesta Alamdi luar diri dan kesadaran kita.

Orang yang bekerja atas dasar gut dan heartter dorong dan bukannya tertarik untuk melakukan sesuatu. Mereka umumnya fokus melakukan sesuatu untuk kebaikan baik bagi orang lain maupun diri sendiri.

Apapun yang mereka kerjakan, dalam pikiran mereka adalah:

“Apakah apa yang kerjakan ini bermanfaat atau memberi manfaat optimal bagi orang lain dan diri sendiri?”

Bahkan setelah selesai mengerjakan sesuatu, mereka tetap tak berhenti bertanya:

“Apakah manfaat yang diberikan kepada orang lain telah cukup memadai? Apakah saya bisa memberikan manfaat yang lebih baik lagi?” dst, dst. 

Keberanian, Kata Hati dan Anugrah.

Jika masyarakat ditanya apa tujuan mereka bekerja? Maka jawaban yang umum adalah untuk mencari nafkah (baik untuk keluarga atau diri sendiri).

Jawaban seperti ini seringkali merupakan jawaban yang bersifat lip service, cliche, atau kemasan. Oleh karena ternyata ada sejuta alasan mengapa orang-orang bekerja. Namun apapun itu, bekerja umumnya memiliki tujuan akhir yakni martabat(dignity).

Mengapa ?

Karena tidak ada seorangpun yang dapat hidup nyaman tanpa memiliki martabat. Baik martabat terhadap manusia maupun terhadap Tuhan maupun manusia. Karena itulah yang membedakan kita dari mahluk lain.

Namun sayangnya, seringkali terjadi upaya pencapaian martabat tersebut dilakukan justru melalui proses tanpa martabat. Disinilah perlunya seseorang memiliki gut & heart, oleh karena keduanya akan menuntun kita memperoleh martabat melalui proses yang bermartabat pula.

Jika kita bekerja jujur namun tujuannya untuk dipuji orang lain, maka itu tidak dapat dikatakan sebagai proses bermartabat.

Namun jika bekerja jujur oleh karena ada dorongan jujur dari dalam diri tanpa mempedulikan apakah orang lain memperhatikan atau tidak. Maka itulah yang disebut sebagai proses yang bermartabat.

Martabat yang diperoleh melalui proses bermartabat ini dikatakan sebagai blessing atau berkah (barokah). Berkah diartikan sebagai hadiah atau perolehan yang tidak ditentukan atau ditargetkan oleh manusia. Namun datang dari kehendak dan wewenang Yang Maha Kuasa.

Bagaimana kita mendapatkan Anugrah?

Ketika akan mengerjakan sesuatu nyatakanlah harapan-harapan kita mengenai hasil yang akan diperoleh. Jangan menetapkan seperti apa harapan yang diinginkan tersebut.

Bahasa yang umum mengenai hal ini contohnya,

‘Saya ingin mendapatkan rejeki dari apa yang saya kerjakan. Namun berapa dan seperti apa rejeki yang saya akan peroleh sepenuhnya bergantung kepada belas kasihan Tuhan kepada saya’.

Jangan pernah mematok rejeki yang diperoleh harus dapat berapa. Karena hal itu berarti mengkerdilkan berkah dari Tuhan yang tak ada batasnya.

Jadi apa sebaiknya yang harus lakukan?

  • Tanamkan keyakinan sedalam-dalamnya mengenai apa yang akan/sedang kita kerjakan,
  • kembangkan instink apakah pekerjaan ini akan berhasil atau tidak,
  • jalankan proses pekerjaan sambil terus memikirkan apakah yang saya kerjakan sudah baik atau sudah yang terbaik,
  • apakah apa yang saya kerjakan benar-benar memberikan manfaat bagi orang lain secara optimal,
  • jika kita merasakan ada kekurangan atau kesalahan berupayalah sungguh-sungguh untuk mengatasinya,
  • jika pekerjaan kita sudah selesai, bertanyalah kepada diri sendiri. Apakah yang kita berikan ini sudah cukup memadai bagi orang lain? Atau apakah masih dapat diupayakan lebih baik lagi?
  • jangan pikirkan berapa banyak yang akan saya hasilkan.

Bila seluruh proses ini kita jalankan dengan penuh kerelaan, dipastikan keberkahan akan muncul, bahkan seringkali lebih dari yang kita harapkan.

Selamat beraktivitas.Semoga memperoleh hasil yang terbaik.

Artikel ini disadur oleh PsyLine.id Psikologi OnLine Indonesia dari HimpsiJaya.org dengan judul:

DOING IT WITH GUT.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Gitu Aja Koq Repot, Enjoy The Simple Thing In Life.

Tentang Penulis
Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan