Psikologi Lingkungan: Mari Kita Berpaling dari Mall

Diposting: 27 Mei 2017 | Kategori Artikel: Gaya Hidup & Sosial

Dilihat: 728 kali.

Penulis: PsyLine Indonesia

Menjelang akhir minggu kita sering menerima pesan ‘have a nice week end’, ‘selamat hari minggu’. Lalu terbayang mall, bioskop atau tempat nongkrong lain yang dipadati pengunjung. Baik dengan keluarga masing-masing, atau sendiri, di hari libur. Mampukah kita berpaling dari Mall?

Sebagai peminat hiburan di alam terbuka, saya menghindari mall dan sejenisnya apalagi pas tanggal muda. Namun perasaan rileks dan bahagia saat berkumpul bersama keluarga di akhir pekan memang sangat berharga.

Saking berharganya sampai saya tidak rela membuang waktu untuk berkendaraan dulu ke mall. Tidak sudi menembus kepadatan jalan. Galau membuang bensin ke cafe favorit saat ramai.

Saya ingin menikmati Sabtu dan Minggu sejak melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah. Olahraga jalan kaki, brisk walking atau apapun orang menyebutnya. Pokoknya Berpaling dari Mall.

Psikologi Lingkungan Berpaling dari Mall

Marilah tengok pengertian Psikologi Lingkungan yang secara singkat merujuk pada interelasi antara perilaku dan pengalaman individu dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dimana ia berada.

Buka kembali makna kebahagiaan yakni merasa baik, menikmati apa yang dilakukan atau merasakan pengalaman yang sangat memuaskan. Selanjutnya kawinkan teori dan pelaksanaan.

Menikmati Keramahan Tetangga,

Saya berjalan kaki menyusuri jalan aspal yang tidak sempit tapi juga tidak luas. Di bawah naungan pohon-pohon Angsana yang rantingnya saling bertautan. Ditemani sinar matahari yang ramah. Berpaling dari Mall Tanpa sampah bertebaran di kiri kanan jalan. Berjumpa tetangga yang berjalan bersama peliharaan golden retriever atau chihuahua. Sungguh nyaman rasanya.

Semakin jauh melangkah, jalan semakin lebar dengan trotoar yang memanjakan pejalan kaki. Kendaraan yang lalu lalang sedikit bertambah menjelang area bisnis. Tapi tidak ada klakson yang pekak dan tidak ada bau asap knalpot yang pekat.

Langkah terus diayun hingga mendekati bulevard persis di seberang sebuah pojok belanja. Gerbangnya yang mencolok berhiaskan patung naga merah dan lampu-lampu gantung.

Masih di area yang sama, saya melintasi sekelompok orang sedang yoga beralaskan karton-karton lebar. Salah satunya mendekati saya dan mengajak yoga bersama.

Bazaar batu akik dan aneka baju juga menarik minat saya untuk sekedar cuci mata. Sebelum saya kembali melangkah lebih cepat untuk menyelesaikan etape kedua. Hingga tiba kembali di rumah.

Saya berbelok dari rute standar. Tampak seorang bapak menyapu rerumputan di kiri kanan jalan. Ia ragu menyapa hingga saya pun mempercepat senyum dengan keramahan yang biasa saja. Saling menyapa menjadi kebiasaan baru yang mewarnai jalan pagi saya.

Bapak yang bertopi, berbaju agak lusuh, datang mengendarai sepeda tua. Beliau menyapu sisi jalan raya lalu pulang begitu saja. Pantas selalu ada pengki dan sapu lidi yang disenderkan ke batang pohon disitu. Tak ada yang mengusik peralatan kerjanya. Entah dia orang suruhan pengelola kawasan, entah dia menyapu karena kemauannya sendiri.

Diam-diam saya mengagumi upaya kerjanya. Uang tak seberapa jumlahnya yang saya sodorkan diterima dengan gembira. Berpaling dari Mall Pengalaman demi pengalaman berkesan menemani olahraga saya di akhir pekan.

Moral Cerita Berpaling dari Mall ini,

Moral cerita kali ini adalah keberadaan kita di tengah lingkungan fisik yang baik dan sehat membuat kita bernapas lebih lega. Kita nyaman melihat lingkungan yang teratur dan menarik. Demikian pula kehadiran kita di tengah keluarga, kawan atau di dalam organisasi (dengan orang-orang yang sepemahaman atau memiliki nilai yang sama) berpengaruh positif bagi kebahagiaan dan kepuasan diri.

Bagi saya, olahraga pagi bukan sekedar gerakan tulang dan otot melainkan juga sensing. Dengan sensing saya memperhatikan realitas yang hadir melalui penglihatan, dengan mendengar, menyentuh atau membaui sesuatu. Menyerap dan merasakan sesuatu untuk disyukuri atau dinikmati dari kegiatan yang dilakukan.

Manfaat berpaling dari mall

Beberapa manfaat yang saya peroleh antara lain :

  1. Lebih sehat (minimal setelah berolahraga hari itu).
  2. Mengenali lingkungan sekitar tempat tinggal secara lebih mendetil. Lubang di jalan yang perlu dihindari, toko yang baru buka, jalan pintas, desain rumah atau taman yang bisa dicontoh, dst.
  3. Asyik melihat ragam kegiatan menarik, menghibur dan tidak mahal.
  4. Berjumpa kawan lama atau saudara yang tinggal di kompleks yang sama atau daerah berdekatan atau mendapat kenalan baru.
  5. Memperoleh informasi melalui berbagai spanduk atau pengumuman yang tersebar di area tempat tinggal.
  6. Melakukan kegiatan sosial seperti memberi sedekah, ikut donor darah, dsb.

Inilah dampak signifikan lingkungan bagi perkembangan spriritual, kondisi fisik, perilaku dan emosional yang sehat.

Jika ditarik dari skala rumah ke skala hunian dan skala lebih makro. Psikologi lingkungan mengingatkan kita akan pentingnya membangun dan mengelola kawasan fisik secara bijaksana. Dalam proses mendukung tumbuhnya berbagai kesempatan yang setara antara manusia dan menjadi dasar berkembangnya relasi antar individu yang harmonis. Termasuk relasi harmonis dengan alam itu sendiri.

Dulu, lapangan luas mudah dijumpai di tengah kota, tersebar diantara rumah warga. Disinilah warga berkumpul di pagi atau sore hari. Mereka melakukan aktivitas bermain bola, mengajak cucu jalan-jalan untuk membelikan balon. Atau tanding voli para bapak dan para ibu, ditambah anak-anak yang melakukan macam-macam permainan.

Lapangan seolah menjadi magnet aktivitas fisik, aktivitas sosial dan aktivitas ekonomi yang mengatur dirinya sendiri. Sekarang lapangan-lapangan itu banyak berubah menjadi gedung perkantoran atau pusat perbelanjaaan.

Mungkin kerinduan akan akses ‘ruang publik hijau’ inilah yang mendorong saya berpaling dari mal di setiap akhir pekan. Bagi saya, olah raga jalan kaki di lingkungan sekitar rumah mampu mencukupi kebutuhan fisik dan psikis saya.

Ada perasaan senang, bersyukur, lelah fisik tapi puas.

Bahagia. Sesekali ke mal atau pameran sah-sah saja. Kita tak memungkiri mal sebagai one stop service yang memenuhi berbagai kebutuhan.

Tapi dari sisi rekreasi yang mudah, murah dan lebih sering dilakukan. Bukalah mata bahwa lingkungan rumah dan sekitar rumah bisa menawarkan hiburan tersendiri.

Ini bukan promosi jenis olahraga atau hunian ya! Ini penerapan ilmu kehidupan dari pojok Psikologi Lingkungan. Sederhana tapi Mak Nyuuss.

Nosi Lestariwati

Artikel ini disadur oleh PsyLine.id Psikologi Online Indonesia dari web HimpsiJaya.org dengan judul: Berpaling Dari Mal.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Penggila hidup bersih: terindikasi gangguan kejiwaan OCD.

Tentang Penulis

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog