Konsultasi Gratis
Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Mendeteksi Depresi Pada Anak Sejak Dini

Keluarga & Pernikahan, Pendidikan & Anak | 875 Views

Tips Cara Mendeteksi Depresi Pada Anak Sejak Dini

13 Maret 2018 | Penulis: Dewi Anggraeni Psikolog

Anak adalah buah hati bagi semua Orangtua. Namun bagaimana bila anak kita mendadak berubah perangainya? Kemungkinan anak kita sedang dalam keadaan tertekan atau Depresi. Artikel berikut ini membahas tentang Tips Cara Mendeteksi Depresi Pada Anak Sejak Dini.

Menurut Psikolog Profesional PSYLine.id, Dewi Anggraeni Psikolog, bahwa Depresi pada anak dapat dideteksi sejak dini. “Jangan sampai terlambat dan menyesal di kemudian hari” Kata Psikolog Profesional yang sekarang menetap di Negri Kincir Angin ini.

Tips Cara Mendeteksi Depresi Pada Anak Sejak Dini

Untuk Mendeteksi Depresi Pada Anak Sejak Dini, Dewi Anggraeni menyarankan untuk para orangtua melakukan pengamatan (observasi) terhadap hal-hal di bawah ini:

  1. Amati setiap hari ekspresi wajah, selera makan, sikap tubuh, cara bereaksi dan perilaku mereka. Apakah ada perubahan?
    Misalnya dari yang biasanya riang jadi pendiam dan menutup-menarik diri (banyak mengurung diri di kamarnya), malas makan atau banyak sekali makan, jadi pemarah, cepat tersinggung dan menangis? 
  2. Amati apakah dia masih memiliki minat terhadap sekelilingnya (teman dan keluarga), masih melakukan hobbynya?
  3. Amati apakah dia memiliki (banyak) teman dan sesekali mengunjungi/dikunjungi atau mengajak mereka main ke rumah?
  4. Amati prestasi sekolahnya apakah tetap sama atau menurun? 
  5. Amati apakah dia jadi enggan pergi ke sekolah, sering bolos, ingin pindah sekolah?
  6. Amati apakah dia jadi banyak sekali tidur atau sulit tidur, sering merasa sakit kepala, sakit perut, lesu dan cepat cape?
  7. Amati apakah dia menjadi anak yang “sulit diatur” atau tidak mau mendengarkan lagi apa kata orang tua dan banyak membantah atau malah jadi pasif dan tidak peduli (acuh tak acuh)?
  8. Kenali/periksa kamar tidurnya apakah acak-acakan, bau, ditemukan minuman keras, banyak merokok atau merokok ganja?
  9. Apakah barang-barangnya sering hilang, rusak?
  10. Apakah ada luka, lebam atau menunjukkan ekspresi kesakitan?

Apabila si anak menunjukkan banyak perubahan ke arah negatif dalam ekspresi wajah, perkataan, sikap dan perilakunya dibandingkan dengan sebelumnya.

Misalnya tidak/kurang selera makan berhari-hari atau malah jadi banyak sekali makan. Sering murung, cepat menangis atau jadi cepat marah karena hal-hal kecil.

Tidak pernah pergi ke temannya atau tidak pernah dikunjungi teman-temannya.

Prestasi sekolahnya menurun, malas pergi ke sekolah, sering bolos ingin pindah sekolah.

Banyak sekali tidur atau sulit tidur, sering merasa sakit kepala, perut, lesu, cepat cape, tidak melakukan lagi hobbynya, acuh tak acuh?

Jadi suka minum alkohol, banyak sekali merokok, jarang mandi?

Bila Jawabannya YA

Bila kebanyakan dari pertanyaan-pertanyaan diatas jawabannya adalah “Ya”, maka si anak sedang memiliki persoalan serius dan depressif! 

Tips:

Segera bicara dengan anak dan cari bantuan profesional (tenaga akhli seperti Dokter dan atau Psikolog)

Bila Jawabannya YA dan TIDAK

Bila jawabannya sebagian besar “Ja” dan sebagian kecil “Tidak” atau hampir seimbang waspadalah!

Tip:

Bicaralah dengan anak, tunjukan dukungan dan tawarkan bantuan untuk menyelesaikan persoalan yang dialaminya.

Bahkan perubahan kecil yang ada pada si anak, sudah harus membuat orang tua menpertanyakan “ada apa dengan anakku?”

Tip: bicaralah dengan anak dan tanyakan apa yang bisa dibantu?  

Apa Yang Harus Dilakukan Orangtua saat Mendeteksi Depresi Pada Anak Sejak Dini

Apa yang harus dilakukan orang tua jika melihat anaknya memiliki tanda-tanda peberubahan seperti yang digambarkan di atas?

  1. Dekati anak meminta dia untuk menceriterakan persoalannya. Orang tua/dewasa lainnya mendengarkannya dengan serius. Kita harus aktif (sambil sesekali mengajukan pertanyaan), sabar dan mensupport.
  2. Bila persoalan menyangkut bullying (diejek dan diteror) di sekolah, datangi sekolah si anak untuk membicarakan masalah yang ada dengan Guru/Kepala Sekolah/BP. Dan bersama-sama membuat rencana untuk menanganinya.
  3. Bekerja sama dan menjalin kontak dengan sekolahnya. Hal itu perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangan yang ada (Langkah apa yang sudah diambil pihak sekolah).
  4. Memonitor secara aktif dan jaga kontak dan komunikasi dengan si anak. Hali ini untuk mengetahui bagaimana keadaannya. Apakah ada perbaikan? 
  5. Bila keadaan si anak sudah menunjukkan banyak tanda-tanda depressif, maka cari pertolongan dari tenaga akhli Dokter dan Psikolog. 

Peran Dokter:

Bila si anak sangat resah/gelisah atau depressif, maka Dokter bisa memberikan obat untuk menenangkan atau mengurangi depresinya. Ini hanya merupakan pemecahan yang sifatnya sementara!

Karena obat-obatan tidak memberantas sumber/akar masalah. Setelah si anak tenang dan bisa diajak berpikir, maka bantuan seorang Psikolog amat diperlukan.

Peran Psikolog:

Psikolog bisa mengetahui mengapa seorang diteror dan apa yang harus dilakukan untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Bagi keadaan-keadaan di atas, bantuan seorang Psikolog akan sangat berguna untuk membantu memperkuat sikap mentalnya, belajar asertif, meningkatkan rasa percaya diri, mencintai diri serta belajar bagaimana menghadapi gangguan-gangguan yang disebabkan teror dari teman sekolah/teman lainnya. Bila diperlukan selain terapi individuil juga terapi keluarga.

Salam bahagia.

Dewi Anggraeni

PSYLine.id Psikologi Online Indonesia

Bila Anda ada permasalahan Mendeteksi Depresi Pada Anak Sejak Dini, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Bergabunglah dengan kami di Media Sosial PSYLine.id Klik Tautan Berikut Ini:

comfort.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Stop Bilang Sabar. Karena “Sabar” Tak Selamanya Menenangkan.

Tentang Penulis

Dewi Anggraeni Psikolog

Psikolog lulusan Universitas Padjadjaran, mempelajari antara lain: RET (Rational-emotive therapy), Logo Therapy, Autogene, ACT (Acceptance Commitment Therapy). Saat ini tinggal di Velserbroek, Belanda.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan