11 Langkah Menghadapi Anak Keras Kepala. Dan kenali penyebab anak menjadi keras kepala.

Diposting: 27 April 2017 | Kategori Artikel: Keluarga & Pernikahan, Pendidikan & Anak

Dilihat: 6993 kali.

Penulis: Wulan Arumbi

Apakah ayah dan bunda sekalian pernah tersadar? Ketika anak kita berperilaku menjengkelkan, ngeyel, susah diberi pengertian, tidak menerima masukan, dan semaunya sendiri, Apa yang menyebabkan anak menjadi keras kepala seperti itu? Kadang kita dibuat stress dan tak tahu bagaimana cara menghadapi anak keras kepala. Oleh karena itu, menghadapai anak keras kepala perlu sedikit pengetahuan Psikologi juga, agar Ayah Bunda tidak stress.

Kemudian saat itu tiba-tiba mak jleb, kita seperti melihat diri kita sendiri.

Apakah sewaktu menjadi anak kita pernah seperti itu terhadap orang tua? He..he..

Mengakui kejelekan sendiri itu sulit. Apalagi hal-hal buruk yang kita lakukan, pasti mudah dilupakan, ya!

Dan sekarang hal itu terjadi di depan mata kita. Pada anak kita. Seperti dejavu, ya.

Pertanyaannya adalah keras kepala itu apakah semacam penyakit genetis,ya? Atau hanya pengaruh lingkungan saja.

Apapun masalalu kita, sekarang kita lah yang berperan sebagai orangtua. Harapannya adalah hal buruk yang pernah kita lakukan dahulu, jangan sampai terjadi pada anak kita. Tidak mudah menghadapi anak keras kepala tanpa kita tahu penyebabnya.

Untuk mengatasi dan menghadapi anak keras kepala, mari kenali penyebabnya, yuk!

Penyebab Anak menjadi keras kepala.

Penyebab anak berperilaku keras kepala dan suka melawan orangtua.

  1. Orangtua yang otoriter.

    Hari gini masih otoriter? Tunggu saja, semakin besar anak malah akan berbalik melawan kita. Saat ia sudah mampu menggunakan cara berfikir yang matang, mereka akan berani melawan.

    Anak kita sudah hidup di zaman berbeda. Godaan dan rintangannya pun lebih besar dan terstruktur. Teknologi, pergaulan, perang pemikiran, dan lebih rumit zamannya dibandingkan masa kita dahulu.

    Orangtua jangan terlalu menekan atau memaksa anak untuk menuruti semua kenginannya tanpa melihat kondisi dan kemampuan anak.

    Jangan merasa serbatahu apa yang terbaik untuk anak dan apa yang harus dilakukan anak. Sehingga anak terus ditekan atau dipaksa jika tidak mampu memenuhi semua keinginan orangtua. Pada akhirnya, mereka akan menunjukkan sikap melawan.

  2. Tidak tepat memilih waktu bicara.

    Meminta anak untuk mendengarkan kita. Diperlukan waktu dan suasana yang pas apabila ingin pendapat kita didengar. Sering sekali orangtua tidak mau memahami hal itu. Ketika anak masih melakukan aktivitas kegemarannya atau sedang asik-asiknya bermain bersama teman-teman. Tiba-tiba orangtua memintanya melakukan sesuatu.

    Memanggil anak untuk berbicara di saat kondisi tersebut membuat anak merasa tidak dihargai. Ia akan merasa terganggu dengan permintaan orangtuanya tersebut.

    Tak heran jika ada beberapa anak yang mengabaikan permintaan orangtuanya. Menunda melakukannya, atau langsung menolak permintaan tersebut. Jika orangtua terus memaksa, bisa jadi malah terjadi ketegangan antar keduanya.

  3. Keinginan anak tidak terpenuhi.

    Mencari perhatian adalah cara yang sering ditunjukkan anak untuk mencapai keinginannya, salah satunya yaitu berperilaku keras bahkan sampai  melawan orangtua.

    Anak sedang menyampaikan protes dengan harapan perilakunya mampu membuat orangtua mau memenuhi keinginannya.

  4. Cuek dengan perkembangan anak.

    Mencari nafkah memang kewajiban orangtua, tetapi jangan digunakan sebagai alasan untuk tidak memperhatikan perkembangan anak kita. Bukankah salah satu tujuan mencari nafkah adalah untuk kehidupan mereka.

    Artikel tentang Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga? Mungking bisa membantu kita untuk mempertimbangkannya.

    Berilah  perhatian dan didikan yang dibutuhkan anak hingga nilai-nilai. Seperti sopan santun, menghargai orang lain, atau batasan benar-salah, tertanam dengan baik pada diri anak.  Jangan sampai anak tumbuh menjadi pribadi yang egois dan suka melawan orangtua.

    Berinteraksi dengan anak bisa dilakuakan setiap saat. Dengan memantau kegiatannya, apa kegemarannya, siapa teman-teman dan bagaimana perasaannya. Termasuk mengetahui apa yang ia suka dan tidak suka, dapat membuatnya merasa nyaman dan terlindungi. Sehingga kita tidak akan pernah terlambat mengetahui perkembangan anak kita sendiri.

  5. Pengaruh lingkungan.

    Lingkungan keluarga merupakan aspek yang pertama dan utama dalam mempengaruhi perkembangan anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga. Sehingga keluarga mempunyai peran yang banyak dalam membentuk perilaku dan kepribadian anak serta memberi contoh nyata kepada anak.

    Karena di dalam keluarga, anggota keluarga bertindak seadanya tanpa dibuat-buat.

    Setelah lingkungan keluarga ada lingkungan bermain dan sekolah. Nah, inilah yang terkadang menjadi pertentangan bagi anak. Apa yang disaksikan di luar berbeda dengan yang ia dapatkan di rumah. Biasanya anak akan begitu mudah meniru perilaku teman-temannya, orang-orang lain yang dikenalnya, atau tayangan televisi.

    Ketika anak mendapati teman-temannya atau orang lain menunjukkan perilaku suka melawan kepada orangtua. Anak-anak kitapun akan dengan mudah melakukan hal yang sama.

  6. Mencontoh perbuatan orangtuanya.

    Kebiasaan buruk yang dilakukan orangtua akan mudah sekali ditiru anak. Misalnya anak sering melihat kedua orangtuanya bertengkar atau bersikap keras kepala. Atau, anak melihat orangtuanya tidak patuh kepada nenek dan kakeknya. Anak pun dapat terdorong untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orangtuanya.

  7. Anak terlalu dimanja.

    Wajar saja ketika orangtua menyayangi anak. Tetapi tidak tepat jika terlalu memanjakannya. Memenuhi semua keingingan anak, tanpa disadari akan berdampak tidak baik untuk masa depannya.

    Karena anak sudah terbiasa dituruti, tentu ia akan merasa kecewa jika suatu ketika Kita mencoba menghentikannya. Kemarahan dan frustrasi saat tidak dituruti, dapat diekspresikan dengan paksaan lewat segala cara yang tentu akan membuat Kita pusing. Seperti memaksa, keras kepala dan marah-marah.

    Memanjakan tidak ada hubungannya dengan miskin atau kaya. Meloloskan semua permintaan anak tanpa menimbang perlu tidaknya akan membuat orangtua kerepotin sendiri. Tak heran jika orangtua juga memaksakan diri atau mengada –adakan sesuatu. Yang sebenarnya tidak mampu mereka lakukan hanya untuk membuat anak senang.

    Hal ini sering dilakukan orangtua yang kurang memahami pola asuh yang baik.

  8. Hubungan antara orangtua dan anak tidak harmonis.

    Saat kondisi lelah, orangtua terkadang tidak mampu mengendalikan dirinya menghadapi anak yang sedang marah. Akhirnya kita terpancing juga untuk lebih marah.

    Sering kali terjadi, orangtua sedang banyak persoalan, tetapi karena ketidaktahuannya. Anak justru meminta perhatian lebih dengan melakukan hal-hal yang membuat orangtua semakin emosional. Akibatnya, tanpa disadari anak menjadi sasaran kemarahan orangtuanya.

    Orangtua perlu mengenal emosi anaknya. Sehingga komunikasi antara orangtua dan anak dapat terjalin dengan baik. Kita harus tahu kapan anak sedang senang, sedih, dan lainnya sehingga komunikasi dapat dilakukan dengan tepat.

    Ketika anak menunjukkan muka marah, alihkan dulu perhatiannya pada hal-hal yang menyenangkan. Setelah kemarahannya mereda, barulah ajak ia membicarakan permasalahannya.

    Ikatan saling pengertian dan kasih sayang yang kurang dibangun ini, rentan menimbulkan konflik.

Mendidik anak membutuhkan kekuatan, ketelatenan dan keteladanan dari orangtua. Sebagai orangtua kita tidak boleh menyerah membiarkan anak yang keras begitu saja. Menghadapi anak keras kepala akan tidak mudah.

11 Langkah menghadapi anak keras kepala.

Tips di bawah ini bisa kita coba untuk mengatasi anak yang memiliki watak serta sikap yang cukup keras.

  1. Luangkanlah waktu.

    komunikasi dengan anak dapat kita jaga dengan memberikan waktu khusus dan rutin. Waktu yang kita gunakan untuk berbicara dan menghabiskan waktu bersama. Anak yang melawan kita, akan membuat kita bingung menghadapi anak keras kepala.

    Sehingga tahu dengan siapa dia berteman, sedang sibuk mengerjakan apakah dia, apa saja masalah yang ia hadapi sekarang ini. Saat itulah kita untuk mendengarkan apa sebenarnya yang anak kita inginkan.

  2. Berlemah lembutlah.

    Apabila anak mengiginkan sesuatu dan kita sebagai orangtua sebenarnya sudah tahu keinginan anak itu buruk atau belum saatnya. Maka sampaikanlah dengan tidak menggurui atau menceramahi.

    Berikan pengertian dengan cara yang lemah lembut pada anak. Pilihan yang ia pilih bisa jadi merupakan hal yang tidak baik untuk dirinya. Berkata lembut, akan mempermudah menghadapi anak keras kepala.

  3. Jangan memarahi anak di tempat umum.

    Jangan mempermalukannya dengan marah di hadapan orang banyak. Maafkanlah, coba tanyakan kepadanya mengapa ia membuat kesalahan. Ajaklah berbicara berdua dengan lemah lembut di tempat sepi, atau menunggu bila sampai di rumah.

    Anak berbuat kesalahan bukanlah karena keinginannya sendiri. Mungkin terkadang terjadi karena ketidaksengajaan atau ketidaktahuannya.

  4. Buang pola asuh memanjakan.

    Sesekali boleh, lah. Tetapi jangan menjadi habbit. Ia akan terbiasa mendapatkan segala hal tanpa mengetahui kesulitan orang lain. Perlakukan anak dengan baik dan sewajarnya saja.

    Menghadapi anak keras kepala dengan cara memanjakannya itu hal yang sangat tidak disarankan.

  5. Pilih bahasa yang sederhana dan positif.

    Memberi nasihat atau perintah dengan bertele-tele atau disertai emosi, akan membuat anak malah tidak memahami maksud sebenarnya dari orangtua. Anak menjadi bingung. Berikan perintah sederhana saja.

    Misalnya “Nak, tolong  rapikan mainanmu, ya!”.

    Akan lebih baik daripada:
    “Gimana sih, kotor semua deh. Mama sudah capek seharian bersih bersih. Mama nggak mau tau ya, mama pulang rumah harus rapi sendiri!”.

    Kalimat yang kedua terlalu panjang, intinya kurang jelas. Mana tahu anak makna sindiran kita. Silahkan pada kalimat intinya saja. Daripada kita tambah jengkel sendiri karena anak kita kurang paham.

  6. Konsisten di hadapan anak.

    Berikan pengertian yang tepat sehingga anak bisa memahami tentang larangan yang Kita berikan, dan apa konsekuensinya.

    Misalnya saja anak sedang pilek, ia dilarang makan es krim. Tetapi karena merengek terus anak menjadi tidak tega dan akhirnya mengabulkan keinginannya. Hal ini akan membuat anak mengulangi trik yang sama ketika meminta sesuatu yang kita larang.

    Butuh kesabaran dan jiwa yang kokoh untuk menunjukkan kalau kita itu orangtua yang konsisten menghadapi anak keras kepala.

  7. Pilih waktu tepat.

    Apabila anak tidak mau mengikuti perintah Kita, jangan terlalu memaksanya. Terlebih jika tengah berada di tempat umum.  Pilihlah waktu yang tepat untuk memberitahu anak, bahwa yang ia lakukan adalah hal yang salah.

    Ajari anak untuk mengungkapkan apa yang ia inginkan dengan cara yang terpuji. Agar supaya anak tidak menangis ketika keinginannya tidak dapat kita dipenuhi.

    Hindari untuk bersuara keras pada saat menyuruh atau melarang anak ketika melakukan sesuatu. Terutama di hadapan umum.

  8. Tidak bertengkar dengan pasangan dihadapan anak.

    Kalau pertengkaran dengan pasangan tidak terhindarkan usahakan sebisa mungkin jauh dari anak. Cari tempat lain atau tunda dulu. Jadi sabar dulu, ya Ayah Bunda.

    Tunggu waktu yang tepat, karena bukan tidak mungkin sikap tersebut bisa dicontoh atau ditiru oleh anak Kita.

  9. Beri  penghargaan.

    Jangan hanya memberi hukuman saat anak salah, tetapi ketika ia berbuat baik dan mendapatkan prestasi beri penghargaan, hadiah, atau minimal pujian. Dengan begitu ia akan termotivasi untuk melakukan hal yang baik.

    Langkah efektif yang bisa Kita ambil adalah dengan membuat sebuah aturan yang tegas dengan sanksi dan reward dan jelas. Sanksi berguna agar mereka menjauhi perbuatan tersebut. Sementara reward (hadiah) difungsikan agar memberikan semangat kepada anak untuk bersikap lebih baik.

  10. Hindari Memberikan Label Buruk.

    Ucapan orangtua bisa menjadi doa,lho. Jangan sampai kita memberi label buruk kepada anak. Misalnya si pemalas, si berisik, si bandel, si nakal. Karena sebutan yang kita ucapkan terus menerus dan didengar anak akan malah membuat anak yakin dengan label tersebut.

    Anak akan menganggap itulah sifatnya dan tidak perlu diubah. Padahal itu sifat yang buruk. Hal tersebut pada akhirnya hanya akan mempersulit kita sebagai orang tua. Kita akan kelsulitan dalam mengembalikan anak menjadi lebih baik.

  11. Menghadapi anak keras kepala dengan mempertebal religiusitas anak.

    Pondasi akhlak yang paling utama dalam kehidupan adalah agama. Itulah sebabnya ilmu agama sangat penting untuk diberikan kepada anak sejak dini agar pendidikan akhlaknya bagus. Keluarga media anak yang pertama mengenal agama dari contoh-contoh yang dilakukan orangtuanya.

Cara menghadapi anak keras kepala dan mendidik anak keras kepala menjadi baik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya harus dilakukan dengan usaha, kerja keras, dan perjuangan.

Mulailah dari mengubah perilaku orangtua yang mungkin dijadikan model contoh anak menjadi keras kepala. Kemudian sama-sama lakukan perubahan dengan pendekatan yang dilakukan terus-menerus.

PsyLine.id Psikologi Online mengucapkan selamat mencoba 11 langkah cara menghadapi anak keras kepala dan Semoga berhasil, ya.

Salam bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: Psikologi dan Cinta: Kenapa Manusia Butuh Cinta?

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog