Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Narsis adalah Gangguan Kejiwaan

Gaya Hidup & Sosial, Klinis & Kepribadian | 2446 Views

Narsis adalah Gangguan Kejiwaan yang harus diobati.

16 Mei 2017 | Penulis: Wulan Arumbi

Banyak yang beranggapan kalau narsis itu adalah kegiatan “gila foto” semata. Padahal sebenarnya NARSIS adalah Gangguan Kejiwaan atau psikologis yang disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD). Ketika seseorang memiliki rasa percaya diri yang sangat tinggi untuk kepentingan pribadinya dan juga rasa ingin dikagumi, itulah NARSIS.

Seseorang yang menderita gangguan narsistik biasanya diiringi juga dengan pribadi yang emosional, lebih banyak berpura-pura, antisosial dan terlalu mendramatisir sesuatu. Mereka cenderung arogan dan terus-menerus mengharapkan pujian dari orang lain. Mereka akan membanggakan dan melebih-lebihkan prestasi yang dicapai. Ketika merasa ada orang lain yang lebih unggul daripada mereka, penderita gangguan kepribadian narsistik akan merasa sangat iri.

Baca Juga:

Kepribadian EXTROVERT. Ciri-ciri, Mitos, Serta profesi yang cocok

Gaya Hidup Pria Metroseksual. Kenali juga ciri Pria Metroseksual

Dikutip dari US News, dalam bukunya ‘The Narcissism Epidemic’, psikolog Jean Twenge and W. Keith Campbell dan rekannya di San Diego State University, sangat banyak terjadi di kalangan mahasiswa dan anak muda, terutama para wanita. Mereka sangat yakin bahwa dirinya lebih unggul dan lebih baik dibanding yang lainnya. Biasanya memiliki rasa penghargaan yang rendah terhadap orang lain. Namun di balik semua itu tersimpan pribadi yang lemah dan mudah hancur ketika dikritik.

ASAL MUASAL NARSIS

kisah narsisus dan echo Narsis adalah Gangguan Kejiwaan

Dalam sebuah buku yang berjudul ‘Malignant Self Love-Narcissism Revisited’, kata Narsis berasal dari sebuah mitologi Yunani. Berkisah tentang seorang pemuda tampan bernama Narcissus aka Narsisus.

Alkisah, diceritakan bahwa ia lebih tampan dari pria manapun di dunia ini sehingga banyak gadis memujanya. Bahkan dia sendiri mencintai bayangan wajahnya. Tak urung dewi-dewi pun menyukainya termasuk salah seorang peri yang jatuh cinta padanya bernama Echos. Ia mengabaikan cinta Echos, karena ia lebih mengagumi ketampanannya dengan berkaca pada sebuah sungai. Narsisus jatuh cinta pada bayangannya sendiri hingga akhirnya tenggelam.

Berdasarkan mitos tersebut, kata narsis digunakan untuk menggambarkan orang yang mencintai dirinya sendiri. Akan tetapi menurut Sam Vaknin, penulis buku itu, konsep narsisisme kerap disalahartikan.

Narsisus sebenarnya bukan mencintai dirinya sendiri, tetapi bayangannya. Ada perbedaan besar antara diri yang sebenarnya dengan diri yang terlihat dari sebuah pantulan. Mencintai diri sendiri adalah hal yang normal dan sehat. Tapi yang terjadi pada seorang yang narsis adalah ia mencintai citra diri yang ditangkap oleh orang lain.

Orang yang jatuh cinta pada bayangan tidak mampu mencintai sesamanya, juga dirinya sendiri. Untuk terus eksis menonjolkan kelebihannya, seorang narsis tergantung pada yang disebut sebagai Narcissistic Supply. Yaitu pandangan orang-orang di sekitarnya yang menampilkan ilusi bahwa ia seorang yang penting, unik, dan istimewa.

Setiap orang pasti memiliki rasa kebanggaan terhadap diri sendiri, tidak ada yang salah dengan itu. Tapi jika sudah berlebihan, terutama kebanggaan terhadap fisik (body narsis), maka sudah menjadi penyakit.

Kriteria jiwa Narsis adalah Gangguan Kejiwaan.

Berdasar buku Diagnostic and Statistic Manual (DSM), Malignant Self Love-Narcissism Revisited, seseorang dapat dikatakan narsistiktik apabila memiliki lima atau lebih kriteria sebagai berikut.

Merasa yang paling, Narsis adalah Gangguan Kejiwaan

  1. Merasa hebat dan penting,

    Merasa paling hebat bisa dimulai dari membesar-besarkan prestasi dan bakat hingga terdengar mustahil/bohong. Menuntut dikenali sebagai seorang yang superior/lebih tinggi meski tanpa prestasi yang pantas.

  2. Terobsesi oleh fantasi-fantasi sukses,

    Obsesi tersebut tidak ada batasnya, ketenaran, kekuatan menakutkan atau maha, kepintaran yang tidak ada tandigannya (narsisis cerebral). Keindahan tubuh atau seks (narsisis somatic) atau cinta/birahi yang menuntut taklukan, kekal dan ideal.

  3. Merasa sangat yakin paling unik dan spesial,

    Perasaan hanya dapat dimengerti oleh, hanya mesti diperlakukan dengan, atau dihubung-hubungkan dengan orang atau institusi lain yang juga special, unik atau punya status tinggi.

  4. Membutuhkan untuk dikagumi dengan berlebihan,

    Orang yang berperilaku narsis selalu ingin dipuja-puja, diperhatikan dan diiyakan. Jika tidak, ia berharap untuk ditakuti dan dikenal karena kejahatannya (narsisis supply).

  5. Merasa berhak,

    Mengharap untuk diprioritaskan dalam hal perlakuan baik dan spesial atau tidak masuk akal. Menuntut dipenuhi secara otomatis dan benar-benar sesuai dengan harapannya.

  6. Memanfaatkan hubungan,

    Sangat memanfaatkan hubungan antar manusia, yakni memperalat orang lain untuk mencapai tujuan-tujuannya.

  7. Tidak punya empati.

    Tak mampu atau tak rela untuk mengenali atau mengakui perasaan dan kebutuhan orang lain.

  8. Cemburu,

    Terus menerus cemburu terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain mempunyai perasaan cemburu yang sama terhadapnya.

  9. Sangat arogan,

    Kelakuan atau sikap sombongnya digabung dengan kemurkaan jika merasa frustasi, ditentang atau dilawan. Bagi orang biasa, seorang yang narsis mungkin kelihatan begitu percaya diri dan terampil. Dalam kenyataan dia menderita kekurangan percaya diri yang sangat besar dan butuh suplai pujian, pujaan, dan kemuliaan dari luar. Seorang narsistiktik juga memiliki harga diri yang rapuh dan sensitif terhadap setiap kritik kecil.

Nah, apakah anda masuk dalam beberapa kriteria di atas? Berarti harus waspada sebelum kebablasan, kawan.

Antara narsistik dan percaya diri.

Kalau narsistik itu adalah sebuah gangguan, lalu apa perbedaannya dengan percaya diri?

Percaya diri adalah baik.

Baca juga:

15 Langkah Mudah Mendapatkan Rasa Percaya Diri

Orang yang memiliki percaya diri, mengetahui kualitas diri sendiri, tapi tidak tergantung pada pujian orang lain untuk merasa nyaman. Mereka cenderung lebih terbuka terhadap kritik dan saran.

Berlawanan dengan si narsis yang memiliki rasa percaya diri sangat tinggi untuk kepentingan pribadinya dan juga rasa ingin dikagumi. Ia butuh dukungan dan perhatian serta pengakuan dari orang lain untuk menjaga kepercayaan dirinya. Tetapi jauh dalam hati mereka tersimpan jiwa yang sangat rapuh. Mereka akan menutupinya dengan menekankan betapa hebatnya mereka

.Jadi beda ya, jangan disalah artikan. Tetaplah percaya diri tanpa berjiwa narsistik.

Peyebab Narsis adalah Gangguan Kejiwaan.

Kenapa pribadi narsistik bisa menghinggapi anda?

Dengan mengenali penyebab berikut ini, mungkin kita bisa menghindarinya.

penyebab narsis

  1. Pendidikan tidak sehat

    Narsisme lebih mungkin terjadi pada usia muda dan bisa disebabkan karena pendidikan yang ‘tidak sehat’. Contohnya orangtua yang terlalu memanjakan anaknya. Anak yang selalu dimanja dan mendapat banyak perhatian, cenderung mengharapkan perhatian yang sama di kemudian hari.

  2. Diabaikan saat masih usia dini

    Penyebab lain yaitu sikap terlalu diabaikan atau pelecehan saat masih usia anak-anak. Seseorang yang terabaikan di masa kecil dapat berubah yang akhirnya mencoba ‘menangkap’ perhatian yang dulu tak diperolehnya. Kebutuhan akan perhatian ini akhirnya bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan narsisme.

  3. Perubahan kesuksesan

    Faktor lain adalah karena efek perubahan kesuksesan atau transient effect of success.
    Sebagai contoh: Seorang gadis muda dan sangat cantik mendapat banyak perhatian karena kecantikannya. Namun setelah 20 tahun kemudian, kecantikannya telah memudar dan tidak mendapatkan perhatian yang sama dari orang-orang disekitarnya.

  4. Faktor genetik

    Ada juga kemungkinan faktor genetik atau psikobiologis. Yakni hubungan antara otak dengan perilaku serta kemampuan berpikir memainkan peran dalam perkembangan gangguan kepribadian narsistik.

  5. Meniru perilaku orangtua

    Mempelajari perilaku manipulatif dari orang tua Anak-anak yang mempelajari bahwa “kerentanan/kelemahan adalah sesuatu yang tidak dapat diterima”. Kemudian dapat kehilangan kemampuan untuk berempati terhadap kebutuhan lain. Mereka mungkin menutupi kebutuhan emosional mereka dengan perilaku egois, kesombongan, yang membuat mereka nampak “anti peluru” secara emosional.

Kenapa penderita narsistik harus berobat

Narsis harus diobati

Pada kondisi yang sesungguhnya, gangguan kepribadian narsistik menimbulkan banyak masalah dalam bidang kehidupan seperti hubungan, pekerjaan, sekolah, atau urusan keuangan. Orang dengan gangguan kepribadian narsistik mungkin merasa tidak bahagia dan bingung dengan campuran perasaan/emosi yang saling bertentangan.

Orang NARSIS harus BEROBAT dan BERTOBAT.

Karena Orang Narsis adalah Gangguan Kejiwaan.

Orang lain mungkin tidak merasa nyaman berada di sekitar si narsis, dan mungkin merasa hubungannya tidak memuaskan. Jika memiliki masalah ini, pertimbangkan untuk menemui dokter yang dipercaya atau penyedia kesehatan mental. Mendapatkan pengobatan yang tepat dapat membantu hidup  menjadi lebih berkualitas dan menyenangkan.

PsyLine.id Psikologi Online Indonesi.

Salam bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Cara Mengatasi Rasa MINDER. Apa Sebab dan Akibat dari rasa MINDER

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan