Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Pernikahan Dini

Cinta & Remaja | 700 Views

Masih Pelajar tapi Sudah Ingin Melangsungkan Pernikahan Dini

20 Juli 2017 | Penulis: Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Keinginan untuk menikah adalah sesuatu yang indah dan manusiawi. Bukanlah sesuatu yang salah atau buruk. Hanya saja, perlu mencermati, darimana datangnya motivasi untuk segera menikah? Mengapa Harus terjadi Pernikahan Dini?

Pernikahan Dini

Pernikahan Dini

Bukan cintanya yang terlarang

Hanya waktu saja belum tepat

Merasakan semua..

Diatas adalah penggalan sair sebuah lagu yang diciptakan oleh Melly Goeslaw yang menggambarkan tentang Pernikahan Dini.

Curhatan Ingin Segera Melangsungkan Pernikahan Dini

Saya mendapat E-Mail dari seseorang yang ingin Menikah Dini. Kurang lebih isinya begini:

Dear Konselor Psyline,

Aku adalah seorang gadis remaja berusia 16 tahun. Aku baru setahun lebih memakai jilbab. Segala konsekuensi dari pemakaian jilbab aku sudah tahu. Aku juga punya banyak teman yang berjilbab, bahkan ada yang sudah menikah.

Setiap kali aku melihat pasangan yang sudah menikah, timbul rasa di diriku keinginan untuk berumah tangga. Maka dari itu, aku selalu memikirkan tentang kehidupan rumah tangga. Aku takut, padahal aku baru kelas 2 SMK.

Setelah lulus nanti pun aku harus bekerja dulu untuk membantu ibu dan adik-adik. Banyak cita-cita yang ingin aku capai sebelum aku nikah nanti.

Tapi aku juga nggak bisa melawan perasaan yang selalu hadir.

Apa yang harus aku lakukan biar nggak selalu berpikiran tentang menikah. Namun aku juga tidak ingin melakukan pacaran.

Mohon bantuannya.

NZ, Indonesia.

Tanggapan Hesti Nur Lestari, S.Psi., MM, Psikolog PSYLine.id tentang Pernikahan Dini

Dear Adik-adikku yang sholihah,

Keinginan untuk menikah adalah sesuatu yang indah dan manusiawi. Bukanlah sesuatu yang salah atau buruk. Hanya saja, Adik-adik perlu mencermati. Darimana datangnya motivasi untuk segera menikah ini?

Saat kita melihat pasangan yang sudah menikah, apalagi yang masih terhitung “pengantin baru”, seringkali yang terbayang adalah betapa indahnya dunia.

Kita memiliki seseorang untuk dicintai dan mencintai, untuk berbagi suka dan duka. Kemana-mana berdua dan hidup bersama dengan bahagia seumur hidup.

Duuh, romantisnya.

Sebagai remaja yang memahami nilai-nilai Islam, Adik NZ memahami bahwa Islam membatasi hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Sehingga istilah “pacaran” pun tidak ada dalam kamus NZ.

Jadinya, di saat teman-teman NZ sibuk naksir-naksiran dan pacar-pacaran, NZ sendiri bawaannya pingin cepat nikah, deh!

Dampak dari Pernikahan Dini

Pernikahan Dini

Adik-adikku yang aku sayangi.

Menikah tidaklah sebatas hubungan romantis dua insan seperti yang sering digambarkan dalam sinetron, telenovela atau fairy tales. Menikah adalah keputusan hidup yang sangat serius. Membawa konsekuensi yang begitu besar seumur hidup kita, karena nantinya sebagai istri, kemudian ibu.

Kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengurus rumah tangga dan keluarga kita. Belum lagi, pada saat dua orang yang berbeda menikah, mereka dituntut untuk saling menyesuaikan diri dan menerima keadaan pasangannya.

Dalam pernikahan tidak hanya ada saat-saat indah. Akan ada saja masalah dan saat-saat sulit yang harus dihadapi, yang sangat bisa jadi belum terbayangkan olehmu saat ini. Hal ini membutuhkan kedewasaan dan kematangan dalam berpikir dan bersikap.

Apakah Adik-adik sudah siap untuk itu semua?

Kalau sekolah ada saat selesai. Kalau bekerja di kantor bisa keluar dan pindah ke kantor lain. Kalau mengerjakan sesuatu kita bisa saja berhenti karena merasa bosan. Nah, kalau menikah, Adik-adik nggak ingin seperti itu, kan? Mosok mau cuti menikah? Ha ha ha.

Renungkanlah kembali tentang hasrat ingin melangsungkan Pernikahan Dini

Sekarang cobalah Adik-adik renungkan dengan pikiran yang jernih. Bagaimana jalan hidup terbaik menurut Adik-adik, dan apa saja cita-cita yang ingin Adik-adik raih?

Seperti yang NZ curhatkan, sekarang NZ duduk di kelas 2 SMK, ingin menyelesaikan sekolah. Kemudian bekerja untuk membantu ibu dan adik-adik.

Itu adalah cita-cita yang mulia, lho!

Pertimbangkan pula dalam rencana hidup Adik-adik, kapan waktu yang terbaik untuk menikah?

Alangkah baiknya jika Adik-adik bisa berdiskusi dengan orang dewasa yang telah berpengalaman dalam berumah tangga.

Pernikahan Dini itu Butuh Kesiapan dan Pertimbangan yang Matang

Yang terpenting, keputusan untuk menikah perlu dibuat dengan kesiapan dan pertimbangan yang matang. Bukan mengikuti emosi atau rasa romantisme belaka. Adik-adik perlu menjadi Individu yang Maturity atau Kematangan Individu.

Artikel tentang Maturity atau Kematangan Individu bisa dibaca di:

Konsep Maturity atau Kematangan Individu dilihat dari Ilmu Psikologis.

Keinginan menikah memang karunia Allah. Di saat yang sama, Allah juga menganugerahi kita dengan akal pikiran untuk membuat keputusan secara bijaksana dalam hidup kita.

Bila Adik-adik sudah menetapkan rencana, berfokuslah pada rencana itu. Sibukkanlah dirimu dengan berbagai hal yang dapat meningkatkan prestasi dan kualitas dirimu. Carilah lingkungan yang dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki motivasi untuk berprestasi yang tinggi. Sehingga Adik-adik terpacu untuk mengejar impian-impianmu.

Saat NZ melihat pasangan yang sudah menikah, katakan pada diri sendiri bahwa kamu juga bisa memiliki hal itu. Yang akan jadi indah pada saat yang tepat. Saat NZ memutuskan untuk menikah pada saatnya nanti, yang NZ yakini sebagai saat yang terbaik. Insyaa Allah NZ sudah merasa lebih siap dan lebih matang.

Menikah dan tetap berprestasi, merupakan hal yang mungkin untuk dicapai bagi orang yang telah siap dan matang untuk menjalaninya keduanya dengan baik.

Namun Apabila Adik-adik memiliki masalah dengan Pernikahan Dini dan ingin berbagi curahan hati namun bingung harus curhat kepada siapa. Adik-adik dapat Konsultasi di PsyLine.id Psikologi Online Indonesia.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Salam bahagia.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Perencanaan Karir untuk Fresh Graduate Bagian Kedua.

Tentang Penulis

Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia,
Magister Business Management dari IPMI International Business School
Konsultan, Trainer, Asesor, Konselor, Aktivis Sosial
Ibu yang bangga dari 3 anak keren, life-long learner & penikmat seni.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan