Penggila hidup bersih: terindikasi gangguan kejiwaan OCD

Diposting: 26 Mei 2017 | Kategori Artikel: Klinis & Kepribadian

Dilihat: 1737 kali.

Penulis: Wulan Arumbi

Penggila hidup bersih terindikasi gangguan kejiwaan OCD. Kebiasaan untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan adalah hal baik, tetapi bagaimana kalau hal itu anda lakukan secara berlebihan? Sampai anda merasa kelelahan dan tidak bisa menghentikan bersih-bersih tanpa alasan yang jelas?

Baca juga:

Pengertian OCD Obsessive Compulsive Disorder Lengkap.

Coba ingat-ingat lagi, apakah ada kebiasaan kalian yang terus berulang dan sifatnya tidak wajar? Atau kalian tidak tahu alasan mengapa kalian melakukannya terus menerus seperti itu?

Si penggila hidup bersih

  • Seperti yang terjadi pada Julia Abdullah, ia Penggila hidup bersih. Mencuci tangan 300 kali, 5 jam mandi, dan keramas 25 kali dalam sehari. Ia merasa ada yang tidak beres ada dalam dirinya semenjak  bekerja sebagai teknisi laboratorium dan sering menangani sampel urine dan tinja, serta sampel darah HIV dilansir dari Odditycentral.Julia Abdullah Penggila Hidup Bersih
  • Lesley Turner yang berasal dari Bridgend Penggila hidup bersih. Wales hampir setiap waktu selalu membersihkan debu, menggunakan pemutih dan vacuum cleaner sepanjang waktu. Dia juga mengelap berbagai permukaan benda yang ada di rumah mereka. Dengan alasan karena takut bersentuhan dengan kuman atau kotoran.
  • Tuesday putrinya juga mengalami hal yang sama. ia Penggila hidup bersih dan benci ke kampus karena fobia terhadap kuman. Jadi ia takkan menyentuh komputer di kampus atau pergi ke kantin, ia tak suka disentuh orang lain. Termasuk orang-orang yang bernafas di dekatnya, apalagi sampai batuk atau bersin.

Apa yang terjadi dengan mereka yang Penggila hidup bersih?

Sebenarnya kenapa mereka berperilaku demikian. Dalam ilmu psikologi dikenal gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan perilaku tersebut yaitu OCD.

OCD (Obsessive Compulsive Disorder). OCD merupakan suatu penyimpangan kejiwaan. Ditandai dengan adanya gejala seperti kepanikan, kecemasan, tindakan berulang, dan hal-hal lain untuk mengurangi kepanikan tersebut.

Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Misalnya, orang yang merasa harus memeriksa pintu dan jendela lebih dari 3 kali sebelum keluar rumah.

4 Tahap Utama dalam kondisi OCD (obsesi, kecemasan, kompulsi, dan kelegaan sementara)

Penderita OCD juga umumnya terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku tertentu. Terdapat 4 tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu:

  • obsesi,
  • kecemasan,
  • kompulsi,
  • dan kelegaan sementara.

Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa takut atau kecemasan. Kemudian obsesi dan rasa kecemasan akan memancing aksi kompulsi. Di mana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan berkurang.

Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara. Namun obsesi serta kecemasan akan kembali muncul dan membuat penderita mengulangi pola itu.

Sifat perfeksionis berbeda dengan gejala OCD. Ia  bukan hanya sekedar rasa cemas yang ekstrem tentang masalah dalam kehidupan. Jika obsesi dan kompulsi sudah menghambat rutinitas, harap periksakan diri anda.

Gejala OCD

Ada beberapa gejala yang sering muncul pada penderita OCD:

Obsessive Compulsive Disorder Penggila Hidup Bersih

Gejala OCD ini meliputi berbagai pikiran, ide atau dorongan yang tidak diinginkan yang terus saja datang tanpa henti. Dorongan ini terus saja ada di kepala anda, bisa menyebabkan kecemasan dan rasa takut. Beberapa contoh OCD untuk jenis obsesi seperti ini diantaranya adalah:

  • Takut membahayakan diri sendiri ataupun pasangan.
  • Takut kotor, terkena kuman ataupun infeksi.
  • Ketakutan pasangan mendapatkan bahaya saat mengemudi.
  • Selalu saja merasa resah.
  • Banyak pikiran negative yang ada di pikiran. Seperti perasaan mengunci pintu, lupa mematikan kompor ataupun hal-hal sejenis.

Gejala OCD ini berupa kelakuan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk menghilangkan obsesi di atas. Contohnya adalah:

  • Mencuci tangan terus menerus untuk menghilangkan kotor, kuman ataupun infeksi.
  • Mengulang sesuatu hingga anda merasa hal tersebut sempurna namun tidak akan pernah terasa sempurna.
  • Berdoa secara terus menerus yang diakibatkan oleh kecemasan yang berlebihan.
  • Melakukan hal-hal yang aneh 

Obsesi atau dorongan di atas terjadi biasanya terjadi lebih dari 1 jam dalam sehari. Pada suatu saat, penderita merasa yakin bahwa dorongan atau compulsion tersebut tidak nyata. Namun pada waktu lainnya mereka sangat ketakutan dengan hal tersebut.

Obsesi penderita OCD

Paling sering, orang-orang dengan OCD menderita obsesi berikut ini.

  • Merasa terkontaminasi dengan dorongan kuat untuk membersihkan.
  • Merasa serampangan dan terorganisir dengan dorongan kuat untuk menjaga hal-hal rapi dan simetris
  • Merasa bahwa seseorang adalah di luar sana untuk melukai diri sendiri atau orang lain dengan dorongan yang tidak diinginkan perlindungan.
  • Merasa pikiran mengerikan atau yang tidak diinginkan, termasuk pikiran yang berhubungan dengan agama, agresi atau hal-hal seksual.

Penyebab OCD

Penyebab OCD Belum berhasil diketahui secara pasti. Meski demikian, banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menganalisis sejumlah faktor pemicu yang dapat meningkatkan risiko OCD. Di antaranya adalah:

  1. Faktor genetika.

    Ada bukti yang menunjukkan bahwa gangguan ini berhubungan dengan gen tertentu yang memengaruhi perkembangan otak.

  2. Ketidaknormalan pada otak.

    Hasil penelitian pemetaan otak memperlihatkan adanya ketidaknormalan pada otak penderita OCD yang melibatkan serotonin yang tidak seimbang. Serotonin adalah zat penghantar yang digunakan otak untuk komunikasi di antara sel-selnya. Selain itu berperan mengatur beberapa fungsi tubuh yang meliputi suasana hati, kecemasan, ingatan, dan pola tidur.

  3. Kepribadian seseorang.

    Orang yang rapi, teliti, serta memiliki disiplin tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar untuk mengalami OCD.

  4. Trauma atau kejadian penting dalam hidup.

    Contohnya karena mengalami perundungan (bullying) atau setelah persalinan.

  5. Pengaruh pola asuh dan keluarga.

    Sikap orang tua yang terlalu cemas dan protektif dapat meningkatkan risiko seseorang menderita OCD.

  6. Dampak dari infeksi.

    Menurut salah satu teori, antibodi dapat memicu reaksi tubuh terhadap bagian otak tertentu dan bisa memicu OCD. Gejala OCD yang muncul akibat terpicu infeksi biasanya mulai dalam waktu 7-14 hari.

Upaya penyembuhan

Penggila Hidup Bersih

Upaya penyembuhan hanya akan terjadi apabila pederita mau mengaku dan mulai tidak nyaman dengan perilaku yang tidak dimengertinya itu. Sehingga ia bisa menikmati hidup kembali tanpa ada rasa cemas.

Biasanya dokter atau psikolog anda akan menyarankan untuk melakukan langkah berikut ini.

  1. Terapi Perilaku Kognitif.

    Tujuan dari terapi perilaku kognitif adalah untuk membimbing penderita OCD dalam menghadapi ketakutan mereka. Dan mengurangi kecemasan tanpa melakukan perilaku ritual (disebut terapi eksposure dan terapi pencegahan respon). Terapi ini juga berfokus pada mengurangi pikiran berlebihan atau pikiran yang sering terjadi pada orang dengan OCD.

  2. Terapi Obat.

    Antidepresan, seperti selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), antidepresan seperti Paxil, Prozac, Zoloft. Jenis obat yang lama, misal antidepresan trisiklik seperti Anafranil, juga dapat digunakan.

  3. Terapi electroconvulsive.

    Dalam kasus OCD yang parah dan pada orang yang tidak merespon terhadap terapi obat dan perilaku. Maka dapat digunakan terapi electroconvulsive (ECT) atau psychosurgery untuk mengobati gangguan tersebut. Selama ECT, elektroda dipasangkan pada kepala pasien dan serangkaian kejutan listrik dikirim ke otak, yang akan menyebabkan kejang. Kejang ini menyebabkan pelepasan neurotransmiter atau senyawa serotonin di otak.

Apabila gejala-gejala OCD sudah anda rasakan dan mulai mengganggu hidup anda, segeralah temukan jalan keluarnya sebelum anda benar-benar depresi menghadapinya.

PsyLine.id Psikologi Online Indonesia

Salam bahagia.

 

Warning..!

Artikel dari PsyLine.id Psikologi Online Indonesia tentang Penggila Hidup Bersih ini berupa memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan.

Informasi dalam artikel ini hanya digunakan untuk penjelasan ilmiah. Bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.

PsyLine.id Psikologi Online bukan pengganti dokter.

Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Keyakinan, Firasat dan Insting Manusia untuk bertahan hidup

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog