Psikologi dan Cinta: Kenapa Manusia Butuh Cinta?

Diposting: 26 April 2017 | Kategori Artikel: Cinta & Remaja

Dilihat: 5210 kali.

Penulis: Riswandi Alekhine

Jika kita membahas tema tentang Cinta, maka akan menjadi sesuatu yang menarik bagi siapa saja. Tidak peduli Kamu adalah anak kemarin sore yang masih ingusan, remaja dewasa atau bahkan kakek nenek di hari tua. Pada kesempatan ini PsyLine.id Psikologi Online akan membahas tentang hubungan Psikologi dan Cinta.

Membahas tentang Cinta, kita perlu mengetahui hal yang mendasar terlebih dahulu, yaitu tentang definisinya. Terkadang hal ini sangatlah subyektif bagi setiap individu. Karena menyangkut tentang persepsi, pengalaman, dan perasaan.

Selanjutnya setelah kita membahas definisi dari para tokoh, kita akan melangkah lebih jauh. Dengan pertanyaan-pertanyaan apa kaitan Psikologi dan Cinta? Atau kenapa manusia butuh dicintai dan mencintai? Atau mungkin bagaimana konsep cinta yang positif?

Ada kutipan menarik dan paradox yang lucu tetapi juga menyedihkan dari tokoh film Kera Sakti yang bernama Fat Kai. Sering kali beliau mengungkapkan cinta sebagai sesuatu yang menyakitkan dan membuat menderita:

“Sejak dulu beginilah Cinta, deritanya tidak berakhir.”

Apakah definisi itu tepat?

Tentunya tepat bagi beliau atau bagi orang-orang yang memiliki pengalaman yang sama.

Akan tetapi berlaku sebaliknya bagi orang-orang yang memiliki pengalaman yang berbeda. Untuk itu Kita perlu mengetahui beberapa definisi yang bisa kita jadikan acuan dalam mengartikan Cinta.

Definisi Cinta menurut para Ahli.

Berikut berbagai definisi Cinta menurut para Ahli:

Menurut Jalaluddin Rumi.

“Cinta merupakan sumber segala sesuatu dimana dunia dan kehidupannya muncul karena kekuatan yang bernama cinta. Cinta adalah subtansi dari segala bentuk kehidupan di dunia.”

Menurut Erich Fromm:

“Cinta adalah suatu seni yang memerlukan pengetahuan serta latihan. Cinta adalah suatu kegiatan dan bukan merupakan pengaruh yang pasif. Salah satu esensi dari cinta adalah adanya kreativitas dalam diri seseorang, terutama dalam aspek memberi dan bukan hanya menerima.”

Menurut Swihart:

“cinta adalah usaha aktif produktif yang melibatkan komitmen, penghargaan, perhatian, dan rasa penyatuan.”

Adapun secara asal-usul Bahasa, Cinta merujuk pada kata love dalam Bahasa Inggris. Dimana love mengacu kepada Bahasa latin yaitu:

  • Eros: cinta yang lebih cenderung pada romantic, asmara, dan hawa nafsu.
  • Philia: Sayang yang cenderung kepada teman, sahabat, dan keluarga.
  • Agape: Kasih yang cenderung pada sesama dan Tuhan.
  • Storge: Semangat yang biasanya lebih kepada nasionalisme dan patriotisme.

The Art of Loving, Erich Fromm.

Erich Fromm dalam buku “The art of loving” lebih lanjut menyatakan bahwa ada lima syarat sebagai konsep tentang cinta yang positif. Artinya jika tidak ada kelima unsur tersebut, maka akan sulit Cinta itu disebut sebagai Cinta.

Adapun kelima unsur tersebut adalah:

  1. Perasaan
  2. Pengenalan
  3. TanggungJawab
  4. Perhatian
  5. Saling Menghormati

Sederhananya, jika Kamu memiliki perasaan kepada pasanganmu, cukup mengenal dengan baik, bertanggung-jawab serta perhatian. Tetapi jika tidak memiliki sikap saling menghormati. Maka Cinta mu belum sebenarnya Cinta menurut Erich Fromm.

Begitu juga, jika kamu kenal dekat dengan pasanganmu, bertanggung-jawab, perhatian dan saling menghormati. Tetapi tidak memiliki perasaan, maka itu juga bukanlah Cinta.

Erich Fromm lebih lanjut dalam buku the art of loving membahas cinta secara rasional. Yang memandang cinta sebagai jawaban atas problem eksistensi manusia. Secara positif, Erich Fromm melihat cinta sebagai persoalan kemampuan yang selalu mensyaratkan adanya kedewasaan dan upaya pengembangan totalitas kepribadian.

Cinta dipandang sebagai seni yang harus dimengerti dan diperjuangkan.

Lebih lanjut Erich Fromm menjelaskan bahwa cinta adalah jawaban atas problem eksistensi manusia. Dimana dalam filsafat, problem ini selalu menjadi pertanyaan yang hampir tidak pernah selesai bagi manusia.

Secara spesifik problem yang dimaksud oleh Erich Fromm adalah Problem keterpisahan manusia (teralienisasi). Dalam bahasa gaul sekarang adalah Jones (jomblo ngenes) yang merasa kesepian dan sendiri.

Secara rasional problem ini timbul karena manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang memiliki akal budi, sebagai makhluk yang sadar akan dirinya. Manusia sadar akan dirinya sebagai individu yang terpisah dan hidup dalam ketidakpastian di dunia ini.

Manusia sadar bahwa dirinya dilahirkan di luar kemauannya dan akan mati di luar keinginannya. Manusia sadar akan kelemahannya menghadapi kekuatan-kekuatan alam dan masyarakat. Yang mana Hal tersebut menjadi sumber kecemasan yang besar.

Sehingga kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan dan keluar dari penjara kesendirian. Serta mengadakan hubungan dengan manusia lain atau dunia luar menjadi kebutuhan terdalam manusia.

Dalam sejarah manusia, banyak usaha-usaha yang dilakukan untuk problem eksistensi tersebut. Sering kali jawabannya adalah konformitas kelompok, alkoholisme, hedonisme dan lain sebagainya.

Menurut Erich Fromm, jawaban tersebut memang dapat mengatasi rasa keterpisahan, tetapi sifatnya sementara dan parsial. Jawaban yang lengkap untuk mengatasi problem eksistensial dalam pencapaian kesatuan interpersonal yang diharapkan adalah dengan apa yang sering disebut sebagai Cinta.

Jadi Cinta adalah salah satu jawaban dari persoalan eksistensi manusia. Sehingga jika kamu mulai galau, depresi, terasing mungkin Kamu hanya perlu mencari belahan jiwamu.

Hal yang sangat ditekankan oleh Erich Fromm dalam cinta adalah bahwa cinta bukan hanya tentang soal hubungan dengan seseorang atau sesuatu. Akan tetapi merupakan suatu pola karakter yang menentukan hubungan seseorang dengan dunia secara keseluruhan – bukan hanya terhadap satu objek/subjek tertentu.

Cinta tidak dapat dipisahkan dari wilayah sosial.

Jika kita mencintai seseorang tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain, maka hal itu tidak layak disebut cinta. Melainkan hanya suatu ikatan kebutuhan atau sebentuk egoisme yang diperluas.

Jika kita sungguh mencintai seseorang, maka kita wajib mencintai semua orang, mencintai alam, mencintai dunia ini. Bahkan mencintai kehidupan. Tanpa hal tersebut, maka problem keterpisahan akan selalu dan tetap ada.

Karena meskipun kita telah memperoleh pengalaman mengatasi keterpisahan, tetapi kita sendiri terpisah dari orang lain. Maka kitapun tetap saling terpisah dan terasing dari diri kita sendiri.

Kaitan Psikologi dan Cinta.

Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari manusia. Salah satu pembahasan dalam ilmu Psikologi adalah apa yang menyebabkan manusia berperilaku (motif).

Sigmund Freud dalam teorinya tentang dorongan yang membuat manusia berperilaku adalah “the life instincts” (eros) dan “the death instincts” (Thanatos).

Menurut Freud, manusia pada dasarnya memiliki insting dasar untuk bertahan hidup. Dorongan itu melalui dorongan kehidupan (cinta) dan dorongan kematian (Thanatos).

Sederhananya, perilaku manusia secara psikologis didasari salah satunya oleh Cinta. Lebih lanjut, Seperti yang dijelaskan Erich Fromm, Cinta memiliki motif, dan menjadi jawaban atas permasalahan manusia.

Dari teori Freud dan Fromm dapat disimpulkan bahwa Psikologi dan Cinta tidak dapat dipisahkan. Karena manusia yang memiliki jawaban Cinta atas masalahnya, merupakan subyek dari keilmuan Psikologi.

Nah, mudah-mudahan nartikel ini, dapat memberikan penjelasan dan menginspirasi Kamu, dalam mengenal apa itu Psikologi dan Cinta. Sehingga, Kamu dapat mengatasi masalah eksistensimu dengan mencari pasangan Cintamu dengan konsep cinta yang positif. Serta menjadi pribadi yang selalu bahagia, karena kamu pantas bahagia.

Salam Bahagia!

Artikel sebelumnya membahas tentang: Mengapa manajemen karir penting untuk kita? Apa kegunaan dan manfaatnya?

 

Tentang Penulis

Riswandi Alekhine

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Seorang Aquascaper.
Jatuh cinta pada script, poetry, filsafat dan senja saat hujan.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog