Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Psikologi Karir: Reality Checking

Karir & Perusahaan | 552 Views

Psikologi Karir: Reality Checking untuk Perencanaan Karir Anda

19 September 2017 | Penulis: Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Setelah memiliki gambaran yang jelas tentang visi profesionalmu. Tetaplah ingat bahwa perjalanan harus dimulai dengan melangkahkan kaki di atas tanah berpijak Reality Checking. Karena itu, sebelum melangkah, pahamilah diri yang memiliki mimpi dan bumi tempat berpijaknya.

Reality: something that actually exists or happens.
(Definisi Merriam-Webster Dictionary)

it’s time to check your Reality.

Reality Checking

Reality Checking: Look Inside and Outside, Identify Your Supporters and Blockers

Tengoklah ke dalam dan ke luar dirimu. Reality yang melingkupi diri kita meliputi hal-hal yang bersifat internal maupun eksternal.

Reality Checking: Internal reality

Adalah semua hal yang melekat pada diri kita atau kita miliki di dalam diri kita. Termasuk di dalamnya:

  • kondisi fisik,
  • pengetahuan, ilmu, pengalaman, ide,
  • bakat, keterampilan dan kemampuan,
  • kebiasaan dan gaya hidup,
  • temperamen, kecenderungan, karakter pribadi dan aspek-aspek kepribadian,
  • keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut.

Reality Checking: External reality

Adalah semua hal yang berada di luar diri kita yang secara langsung atau tak langsung bisa mempengaruhi tingkah laku dan keadaan kita. Mulai dari yang terdekat hingga yang terluas. Termasuk di dalamnya:

  • keluarga & kerabat,
  • teman-teman dan lingkungan pergaulan,
  • lingkungan tempat tinggal,
  • Situasi dan perkembangan yang terjadi di lingkup negara, regional hingga global. Baik dari aspek ekonomi, teknologi, sosial, budaya, politik dan lingkungan hidup.

Sekarang cobalah mengenali berbagai aspek dari Reality tersebut. Dikaitkan dengan visi profesional yang telah kamu susun. Untuk mendapatkan gambaran mengenai Reality aktual yang kamu miliki.

Reality adalah bagian dari diri dan hidup kita, yang perlu kita pahami dan terima. Pemetaan yang tepat atas Reality adalah hal yang penting. Agar kita dapat memperoleh gambaran yang akurat dan realistis mengenai ‘modal’ yang kita miliki dan ‘medan’ yang akan kita tempuh. Hal itu untuk mencapai tujuan atau visi kita.

Dari visi yang telah kita rumuskan, diharapkan kita telah mendapatkan gambaran tentang apa yang ingin kita tuju. Termasuk apa yang diperlukan untuk mencapai tiap tahapan dari visi tersebut. Bila gambaran tersebut saat ini masih terasa belum terlalu jelas atau belum cukup spesifik, tidak mengapa. Yang lebih penting adalah kamu sudah mulai dapat memiliki arah bagi perjalananmu ke depan. Kamu akan bisa membuatnya semakin jelas dengan terus menjalani proses ini.

Reality Checking: Membandingkan Gambaran yang Ingin Kita Tuju

Selanjutnya, bandingkanlah gambaran yang ingin dituju tersebut (‘desired Reality’) dengan Reality yang ada (actual Reality). Semua aspek actual Reality (internal maupun eksternal) yang dapat mendukung pencapaian visi adalah ‘supporter’ kamu.

Sebaliknya, semua aspek actual Reality (internal maupun eksternal) yang dapat menjadi penghambat. Baik faktor penyulit atau batu sandungan dalam mencapai visi adalah ‘blocker‘ kamu.

Bila kita summary-kan secara visual, pemetaan atas Reality tersebut bisa digambarkan sebagai sebuah ‘reality map‘:

Reality Map

Psikologi Karir: Reality Checking

Supporter’ dan ‘blocker’ sendiri ada yang berlaku umum, dan ada yang spesifik untuk suatu visi tertentu.

Reality Checking: Supporter:

Supporter‘ internal yang berlaku umum,

misalnya:

  • punya tubuh yang fit dan energik,
  • otak encer,
  • kepercayaan diri yang baik,
  • kemauan belajar yang tinggi,
  • sikap kerja yang tekun dan ulet,
  • mudah bergaul dengan berbagai tipe orang,
  • mudah menyesuaikan diri di lingkungan baru.

Sedangkan ‘supporter’ eksternal yang berlaku umum,

misalnya:

  • orang tua yang berkecukupan dan mampu memenuhi (hampir) semua kebutuhan,
  • rumah yang nyaman dengan fasilitas serba lengkap,
  • atau punya network yang terdiri dari orang-orang yang berpengaruh.

Kesemua hal ini bisa jadi supporter, at least most of the time. Bahkan jika kita memutuskan untuk memiliki visi karir yang berbeda. Memiliki supporter jenis ini ibarat mengantongi ‘golden ticket’ yang bisa kita gunakan untuk mencapai berbagai tujuan dalam hidup kita.

supporter yang lebih spesifik untuk visi tertentu,

Bisa jadi kurang relevan bila kamu memiliki visi atau impian yang berbeda. Sebagai contoh:

Untuk kamu yang memiliki visi menjadi seorang pengusaha. Actual Reality yang bisa menjadi supporter kamu misalnya:

  • punya pengalaman menjual atau bikin usaha semasa kuliah,
  • memiliki hobi yang bisa diangkat menjadi ide usaha,
  • punya kemampuan persuasif yang bagus dan tidak mudah ciut nyali menghadapi penolakan (kesemuanya adalah supporter internal),
  • punya ruang nganggur di rumah yang bisa dijadikan tempat usaha dan orangtua yang mau memberikan modal usaha (supporter eksternal).

Contoh lain, untuk kamu yang memiliki visi menjadi seorang peneliti (di suatu bidang). Reality yang bisa menjadi supporter kamu misalnya:

  • punya latar belakang pendidikan yang sesuai,
  • sikap kerja yang tekun dan memperhatikan hal-hal detil,
  • pernah jadi anggota kelompok studi mahasiswa,
  • pernah menang lomba penelitian,
  • mengetahui persyaratan untuk menjadi peneliti di LIPI berikut informasi mengenai proses penerimaannya (kesemuanya supporter internal),
  • dan memiliki dosen yang bersedia memberikan rekomendasi serta memberikan referensi mengenai universitas dan lembaga yang bisa kita masuki (supporter eksternal).

Kenalilah baik-baik semua ‘supporter’ kamu, karena itulah ‘modal’ atau sumberdaya (resources) kamu.

Supporter internal perlu terus diasah agar semakin berkembang dan bersinar, hingga dapat menjadi kekuatan kamu.

Supporter eksternal juga perlu ‘didayagunakan’ secara positif.

Bedakan antara diberdayagunakan dengan disalahgunakan untuk membantu mencapai visi kamu secara optimal.

Reality Checking: Blocker

Bagaimana dengan ‘blocker’?

Sama seperti supporter, blocker juga ada yang berlaku umum dan ada yang spesifik untuk visi tertentu.

‘Blocker’ internal yang berlaku umum,

misalkan:

  • badan yang mudah sakit atau capek,
  • kurang percaya diri,
  • kecenderungan cepat bosan dan gampang menyerah,
  • kebiasaan telat dan suka menunda-nunda pekerjaan yang kronis. Sehingga sering bikin kacau rencana dan kegiatan, dan sebagainya.

‘Blocker’ eksternal yang berlaku umum,

misalnya:

  • kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan,
  • budaya di lingkungan yang beranggapan bahwa karir seharusnya tidak menjadi prioritas penting bagi seorang wanita,
  • atau kondisi tempat tinggal yang masih minim fasilitas dan infrastruktur.

Hal-hal ini bisa menjadi penghambat, faktor penyulit, atau batu sandungan, at least most of the time, dalam merealisasikan visi profesional.

Seperti halnya ‘supporter‘ yang spesifik, kita juga perlu mengenali ‘blocker’ yang spesifik untuk pencapaian visi kita. Yang bisa jadi kurang relevan bila kita memiliki visi yang berbeda.

Blocker internal,

misalnya:

  • IPK pas-pasan padahal ingin diterima jadi Management Trainee di perusahaan besar.
  • Ingin jadi seorang motivator tetapi belum fasih bicara di depan umum, bagaimana bisa memberikan motivasi yang menggugah.
  • Ingin jadi Perwira TNI tapi tinggi badan dan kondisi fisik kurang menunjang.
  • Ingin jadi manajer tapi belum pernah dan merasa tidak bisa memimpin.

Blocker eksternal,

misalnya:

  • Orangtua yang tidak mendukung anaknya merantau demi karir padahal ingin berkarir sebagai diplomat di luar negeri.
  • Ingin menjadi ahli sipil di bidang properti tapi situasi industri properti sedang down karena imbas kriris ekonomi.

Reality Checking: Bagaimana gambaran Reality mapmu?

Bila kamu menemui kesulitan atau keraguan dalam memetakan Reality yang kamu miliki. Atau paling tidak ingin memastikan bahwa penilaian atas Realitymu sudah cukup obyektif. Alangkah baiknya bila kamu meminta masukan dan mendiskusikannya dengan orang lain: your ‘resource people’.

Bila Anda ada permasalahan yang sama dengan Menggambarkan Reality Checking, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi kepada PSYLine.id Psikologi Online Indonesia dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Psikologi Anak: 5 Hal yang harus dilakukan Orangtua agar anak tidak suka berbohong.

Tentang Penulis

Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia,
Magister Business Management dari IPMI International Business School
Konsultan, Trainer, Asesor, Konselor, Aktivis Sosial
Ibu yang bangga dari 3 anak keren, life-long learner & penikmat seni.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan