Psikologi Karir: Reality Testing “Get Help from Resource People”

Diposting: 22 September 2017 | Kategori Artikel: Karir & Perusahaan

Dilihat: 597 kali.

Penulis: Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Reality Testing: Get Help from Resource People. Aspek-aspek Reality, termasuk ‘supporter’ dan ‘blocker’ yang kita miliki, ada yang kita sadari, namun ada juga yang tidak kita sadari. meskipun they’ve been there all this time. Karenanya, ada yang relatif dengan mudah dapat kita kenali, namun ada juga yang tidak.

Baca Juga:

Psikologi Karir: Reality Checking untuk Perencanaan Karir Anda.

Pemetaan Reality, termasuk identifikasi supporter dan blocker, juga dipengaruhi oleh mind set atau pandangan subyektif kita. Seringkali kita sulit untuk menilai aspek Reality yang sudah sangat lekat dan jadi bagian dari diri kita. misalnya sifat, keyakinan dan ‘kecenderungan’ pribadi kita, termasuk pengaruh pola asuh orangtua dan budaya sekitar yang sudah kita alami sejak kecil.

Kita biasanya menganggap hal itu sebagai “that’s just the way I am” atau “that’s just the way things are“; ya begitulah adanya. Seringkali kita juga sulit untuk memastikan apakah penilaian atas diri sendiri itu sudah obyektif. Misalnya, apakah kita itu tegas atau galak, realistis atau sebenarnya pesimis, pemberani atau kurang sopan, dst.

Kita juga seringkali sulit menilai sendiri tingkat kemampuan kita dalam suatu hal. Misalnya:

  • apakah kita punya daya analisis yang baik,
  • apakah kepercayaan diri kita kuat,
  • atau apakah kemampuan komunikasi kita sudah baik.

Reality Testing: Get Help from Resource People

Reality Testing dengan Mendapatkan Bantuan Dari Orang Lain. Karenanya, sangat riskan jika kita hanya berpegang pada perasaan, penilaian atau keyakinan subyektif kita sendiri. Bisa-bisa kita cuma ge-er (gede rasa) sendiri, merasa sudah oke dalam suatu hal padahal belum. Atau justru minderan, merasa diri kurang atau tidak punya kelebihan padahal sebenarnya ada poin-poin positif yang sudah kita miliki.

Idealnya memang, penilaian kita didasarkan atas ukuran yang obyektif. Sayangnya, banyak aspek diri kita yang tidak dapat dengan mudah kita nilai semudah mengukur tinggi, berat dan proporsi lingkar badan untuk menilai apakah tubuh kita sudah ideal.

Ada juga aspek Reality eksternal yang belum kita ketahui dengan cukup baik. Karena kita belum mengembangkan wawasan yang memadai atau belum cukup banyak mengeksplorasi hal itu. Misalnya, kita belum tahu situasi dan kondisi di bidang yang ingin kita masuki. Sehingga belum mengetahui bagaimana sulitnya untuk masuk ke sana. Bagaimana lingkungan pergaulan di sana. Berapa besar ‘cost’ yang diperlukan. jalan-jalan mana yang dapat ditempuh untuk bisa masuk ke sana, dan seterusnya.

Reality Testing: Menguji Reality dengan Resouce People

Karenanya, untuk membantu kita memahami reality yang relevan dengan visi atau Dream kita secara lebih obyektif, lebih akurat dan lebih lengkap. Seringkali kita butuh masukan dari pihak lain. Mereka inilah para “resource people” kita.

Tentu saja kita perlu memilih resource people dengan tepat. Agar masukan yang kita peroleh juga tepat dan sesuai dengan kebutuhan dan tujuan kita. Secara umum, resource people haruslah orang-orang yang telah memiliki maturity dalam memandang suatu persoalan. Sehingga mereka bisa memberikan penilaian secara jujur, obyektif, berimbang (positif maupun negatif). Dan konstruktif (bertujuan untuk membangun, bukan sekedar mengkritik, apalagi menjatuhkan).

Pastikan juga resource people kita adalah orang-orang yang menunjukkan kepedulian dan kesediaan untuk mendukung kemajuan kita. Dalam hal ini ada beberapa ‘kategori’ resource people yang dapat kita datangi untuk Reality Testing.

Siapa Saja Resource People yang Ideal

Reality Testing adalah orang-orang yang telah lebih dulu sukses menapaki jalan yang ingin kita tempuh, plus telah mengenal kita dengan baik. Mereka adalah ‘senior-senior’ kita, yang bisa bilang, “Been there, done that”. Mereka inilah yang paling mungkin bisa memberikan pandangan atau penilaian atas Reality kita.

Pasti dengan lengkap dan akurat (eksternal & internal, supporter & blocker) diikaitkan dengan visi atau Dream kita secara spesifik. Nantinya mereka ini juga bisa menjadi “mentor” atau ”sparring partner” dalam perjalanan karir kita.

Jika kita kesulitan menemukan ‘resource people’ yang ideal seperti ini, kita bisa memilah resource people kita ke dalam beberapa kategori. Yang bisa memberi kita masukan mengenai aspek yang berbeda-beda.

Ada yang bisa memberi masukan mengenai Reality eksternal saja, atau Reality internal kita saja. Ada yang bisa memberi masukan mengenai aspek kemampuan tertentu yang kita miliki. Atau satu sisi kepribadian kita saja. Semua masukan itu kemudian bisa kita summary-kan sendiri.

Untuk membantu kita mendapatkan gambaran Reality eksternal, kita bisa mendatangi orang-orang yang telah lebih dulu sukses di bidang yang ingin kita masuki. Meskipun mereka belum mengenal diri kita dengan baik.

Bila kamu sudah melakukan ‘interview narasumber’, seperti yang telah dibahas di bab yang lalu, para narasumber tersebut dapat menjadi resource people kita. Juga untuk memberikan gambaran mengenai Reality eksternal yang terkait dengan situasi dan kondisi di bidang kerja kita.

Untuk membantu memahami Reality internal, yakni diri kita sendiri. Resource people pertama yang dapat kita datangi adalah orang-orang terdekat yang telah mengenal kita dengan baik. Paling tidak dari suatu segi.

  1. Reality Testing dengan Orang Terdekat

    Mintalah masukan dari Orangtua, saudara, sahabat, guru/dosen, kakak kelas, hingga tetangga sebelah rumah bila perlu. Dengan bertanya pada beberapa orang yang berbeda (rumah, kampus, personal, sosial, akademik, dll). Kita bisa mendapatkan masukan-masukan dari sudut pandang yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi.

  2. Reality Testing dengan Para Ahli di Bidang yang Kita Tuju

    Selain orang-orang terdekat kita, resource people lain yang dapat kita mintai masukannya tentang Reality Testing kita adalah para ‘ahli’. Yang bisa membantu untuk lebih mengenal diri kita dalam suatu hal.

  3. Reality Testing dengan Para Ahli Lainnya

    Resource people ahli lainnya yang dapat membantu untuk memahami aspek-aspek yang berkaitan dengan kepribadian kita. Misalnya para konselor, career coach, hingga ahli Grafologi (ilmu yang mempelajari karakter manusia melalui tulisan tangannya). Atau ahli-ahli lainnya, selama ilmunya dapat dipertanggungjawabkan.

    Untuk menilai kemampuan kita secara spesifik dalam suatu bidang, kita bisa meminta masukan dari ahlinya dalam bidang tersebut. Yang dapat kita jadikan tolok ukur. Para ‘ahli’ ini bisa menjadi mentor kita untuk mendiskusikan hal-hal yang menjadi kekuatan kita. Maupun hal-hal yang perlu kita improve dalam bidang tersebut, serta bagaimana melakukannya.

    Seperti para finalis X-Factor yang selalu menerima masukan dari mentor-judge yang merupakan para ahli di bidang olah vokal dan/atau dunia entertainment. Kita juga bisa meminta masukan dari para ahli di bidang-bidang yang lain.

  4. Reality Testing dengan Lembaga Terkait

    Ada kalanya masukan yang kita butuhkan bukan berasal dari resource people dalam arti individu ahli. Tapi dari lembaga yang memiliki suatu sistem dan standar untuk menilai kemampuan kita dalam bidang tertentu secara obyektif.

    Misalnya, bila kita ingin mengetahui tingkat kemampuan bahasa Inggris, kita bisa mendatangi lembaga yang menyelenggarakan TOEFL (Test Of English As a Foreign Language). Lembaga-lembaga pendidikan, mulai dari bahasa asing sampai music. Mereka biasanya memiliki rangkaian tes yang hasilnya bisa menunjukkan tingkat kemampuan kita dalam bidang yang dimaksud. Kita bisa menggunakan hasil tes ini sebagai acuan.

  5. Reality Testing dengan Tes Online

    Resource people lainnya adalah para ‘ahli’ yang menawarkan tes melalui Internet. Saat ini sudah terdapat cukup banyak Website yang memberi kita kesempatan untuk mengikuti tes secara online. Baik yang gratisan maupun berbayar. Baik yang bertujuan untuk mengukur pengetahuan atau kemampuan tertentu (tentu saja terbatas pada hal-hal yang dapat diukur melalui layar Internet). Maupun untuk mengetahui aspek kepribadian.

    Caranya pun relatif mudah. Biasanya kita dipersilakan merespons sejumlah pertanyaan atau melengkapi semacam kuesioner. Kemudian skor atau profil kita akan keluar.

    Untuk menemukan Website seperti ini pun, kita tinggal memanfaatkan kemampuan mesin pencari yang semakin canggih. Misalnya, jika kita ketik di mesin pencari “free online psychological tests”. Kita akan menemukan Website link semacam yang menawarkan pengukuran aspek-aspek kepribadian.
    Website seperti ini tentu saja merupakan privilege bagi kita yang hidup di era Internet. Sehingga sayang juga kalau tidak kita manfaatkan. Untuk itu, kita perlu jeli memilih online test yang memberikan hasil yang valid. Perlu uraian yang panjang untuk membahas tentang validitas suatu pengukuran.

    Beberapa poin berikut bisa menjadi pertimbangan memilih Website:

    • Sebelum mengerjakan tesnya, telitilah penyelenggara Website yang memiliki kredibilitas untuk menyelenggarakan tes dalam bidang tersebut. Kredibilitas ini dapat berupa otoritas legal atau keilmuan. Misalnya, fakultas dari suatu universitas, atau institusi. Yang mana memang banyak melakukan penelitian atau memiliki keahlian dalam bidang yang dimaksud.
    • Bahkan di Website yang kredibel pun, tidak semua tes memberikan hasil yang bisa kita pegang secara mutlak. Banyak free online test yang memberikan tes singkat yang sifatnya ‘quick scan’ Sehingga hasilnya pun bisa jadi masih sebatas gambaran umum. Sementara, bila kita ingin hasil yang lebih spesifik dan betul-betul ingin kita jadikan tolok ukur. Sebenarnya perlu pengukuran yang lebih mendalam dan lebih komprehensif. Karena itu kita perlu berhati-hati dalam memahami hasil suatu tes.
    • Jangan bergantung pada satu sumber saja. Sedapat mungkin bandingkanlah hasil yang diperoleh dengan tes serupa di Website atau tempat lain.
    • Ada juga ‘tes-tes’ yang sebenarnya lebih tepat disebut ‘quiz‘. Seringkali tidak didasari dengan konsep, teori dan konstruksi tes yang kuat. Bisa jadi juga suatu tes belum melalui uji validitas dan reliabilitas. Apakah memang betul tes tersebut dapat mengukur apa yang memang mau diukur dan dapat memberikan hasil yang cukup konsisten bila diulang. Karenanya, meskipun beberapa quiz kepribadian di beberapa Website yang cukup kredibel. Tidak bisa memberikan insight untuk gambaran suatu aspek kepribadian kita. Hasilnya tidak dapat dijadikan acuan yang mutlak.
    • Ada Website yang menawarkan tes untuk mengukur tingkat pengetahuan kita di suatu bidang, dari matematika hingga musik. Tes-tes semacam ini bisa kita manfaatkan sebagai bahan masukan. Sekaligus untuk mengasah pengetahuan kita dalam bidang yang dimaksud. Dengan catatan, bila penyelenggaranya tidak memiliki otoritas dalam bidang tersebut. Hasilnya juga tidak dapat dijadikan patokan standar.
    • Perlu disadari bahwa informasi yang diolah sepenuhnya berasal dari diri kita sendiri, dan dalam kondisi yang tidak sepenuhnya terkontrol. Karenanya, hasilnya bisa jadi mengandung bias, baik yang disengaja atau tidak. Misalnya, saat mengerjakan apakah kita serius dan fokus atau tidak? Apakah murni dari diri kita atau dipengaruhi orang lain? Apakah saat mengisi sesuai dengan diri kita apa adanya atau berusaha menampilkan diri yang ideal? Apakah saat mengerjakan tes murni berdasarkan apa yang kita ketahui atau mencontek? dan seterusnya.

 

Reality Testing Adalah Dari Diri dan Hidup Kita

Dalam memetakan reality, mengingat ‘subyek’ yang dinilai adalah diri dan hidup kita sendiri. Ada kalanya hal ini menjadi tidak mudah. It’s becoming very personal and sometimes emotional.

Karenanya, hal penting yang perlu diperhatikan adalah menyiapkan diri kita sendiri untuk berani membuka diri kepada orang lain. Termasuk terbuka dalam menerima penilaian atau umpan balik (feedback) yang tidak selalu positif. Dan dengan tetap tenang, pikiran dan hati yang lapang.

Can you take it?  

Sebaliknya, tidak semua masukan atau penilaian harus kita terima mentah-mentah begitu saja. Yang terbaik adalah tetap membuka diri untuk berdiskusi dengan kepala dingin. Terutama dengan para resource people. Termasuk berani berbagi tentang visi atau impian kita.

Seringkali, saat bertukar pikiran dengan orang lain, pikiran kita sendiri bisa menjadi lebih terbuka, gagasan-gagasan baru bisa bermunculan. Ide bisa tersinergikan, sehingga kita bisa melihat alternatif-alternatif yang tak terpikirkan sebelumnya.

Para pemenang di semua bidang adalah mereka yang pandai memanfaatkan feedback yang mereka terima. Sebagai pijakan untuk peningkatan diri mereka. Karenanya, masukan atau feedback yang kita terima adalah ‘hadiah’ berharga untuk melangkah ke depan.

Feedback is a winner’s breakfast.

Bila Anda ada permasalahan yang sama dengan Anak Suka Berbohong, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Bergabunglah bersama PSYLine.id Psikologi Onlien Indonesia untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Psikologi Klinis: Skizofrenia adalah gangguan mental kronis.

Tentang Penulis

Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia,
Magister Business Management dari IPMI International Business School
Konsultan, Trainer, Asesor, Konselor, Aktivis Sosial
Ibu yang bangga dari 3 anak keren, life-long learner & penikmat seni.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog