Psikologi Klinis: Diagnosis dan Pengobatan Gangguan BIPOLAR

Diposting: 26 November 2017 | Kategori Artikel: Klinis & Kepribadian

Dilihat: 1553 kali.

Penulis: Bayu Lebond

Diagnosis dan Pengobatan Gangguan Bipolar sangat membutuhkan evaluasi psikologis untuk mendiagnosis gangguan bipolar. Dalam hal ini, psikolog biasanya menanyakan tentang pola perilaku penderita, suasana hati yang dirasakannya, dan apa yang dipikirkannya.

Baca Juga:

Apa Itu BIPOLAR? Dan Apa Penyebab Gangguan BIPOLAR.

Psikologi Klinis: Gejala Gangguan BIPOLAR Yang Perlu Diketahui.

Diagnosa Gangguan Bipolar

Psikolog akan bertanya apakah penderita pernah mengalami perubahan suasana hati secara drastis. Apa yang dirasakannya ketika periode tersebut muncul, dan kapan periode tersebut terjadi.

Selain itu, psikolog juga biasanya meminta penderita atau keluarga penderita memberi informasi yang berkaitan dengan episode mania atau depresi. Setelah itu, psikolog juga akan menanyai riwayat kesehatan keluarga pasien. Yaitu apakah dirinya memiliki kakak, adik, atau orang tua yang mengidap gangguan bipolar.

Selain bertanya langsung kepada pasien atau seseorang yang mendampingi pasien berobat, psikolog kemungkinan juga perlu menganalisis data dari buku harian tentang suasana hati. Dalam hal ini, pasien akan diberi tugas oleh psikolog untuk mencatat tentang suasana hati yang dirasakannya tiap hari. Pola tidur sehari-hari, dan hal-hal lain yang terkait dengan kondisi kejiwaan.

Jika seluruh keterangan sudah terkumpul, maka penyimpulan bisa lebih mudah dilakukan. Keterangan lengkap juga akan membantu psikolog dalam memberikan solusi yang tepat.

Pengobatan Gangguan Bipolar

Tujuan penanganan gangguan bipolar adalah untuk menurunkan frekuensi terjadinya episode-episode mania dan depresi. Hal itu agar penderita dapat hidup secara normal dan membaur dengan lingkungan. Selain memperbaiki pola hidup. Penanganan biasanya mencakup terapi psikologis dan dikombinasikan dengan pemberian obat-obatan oleh dokterspisialis atau psikiater.

Jika pengobatan berjalan efektif, gejala gangguan bipolar biasanya akan mereda dalam waktu kurang dari tiga bulan. Namun jika kondisi ini diabaikan atau tidak mendapat penanganan yang tepat, maka gejala bisa berlangsung selama berbulan-bulan. Bisa 3-6 bulan untuk episode mania dan enam bulan sampai satu tahun untuk episode depresi.

Selain dengan obat, penanganan bipolar harus dikombinasikan dengan terapi psikologis di bawah bimbingan dokter spesialis atau psikiater. Penderita biasanya juga akan disarankan untuk memperbaiki pola hidup ke arah yang lebih sehat. Misalnya berolahraga secara teratur, tidur cukup, dan mengonsumsi makanan sehat.

Sebagian besar penderita gangguan bipolar dapat membaik tanpa harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Perujukan ke rumah sakit pun biasa dilakukan jika gejala makin parah. Dikhawatirkan perilaku penderita dapat membahayakan orang lain atau dirinya sendiri. Seperti misalnya ingin melakukan bunuh diri.

Terapi psikologis

Terapi psikologis untuk gangguan bipolar Di dalam terapi psikologis, pasien akan dikenalkan dengan masalah kejiwaan yang sedang mereka alami. Pasien juga akan diajak mengidentifikasi hal-hal yang dapat memicu terjadinya episode, baik itu dalam bentuk pemikiran maupun perilaku pasien.

Setelah faktor pemicu gejala diketahui, psikolog atau ahli terapi akan membimbing pasien untuk berupaya mengubah pemikiran. Dan mengubah perilaku negatif tersebut menjadi sesuatu yang positif. Melalui metode yang dinamakan terapi perilaku kognitif ini, pasien juga akan diajari cara menanggulangi stres secara efektif. Serta pasien diberi nasihat-nasihat seputar pola makan, tidur, dan olahraga yang baik untuk kesehatan.

Tidak hanya penderita, keterlibatan keluarga dalam terapi psikologis juga bisa sangat membantu. Tujuannya adalah agar keluarga memahami kondisi yang dialami pasien. Sehingga bisa bekerja sama untuk mengidentifikasi masalah yang terjadi di dalam rumah tangga sebagai satu kemungkinan penyebab gangguan bipolar. Serta memberikan dukungan kepada penderita.

Gangguan bipolar dan kehamilan

Merencanakan kehamilan bagi wanita penderita bipolar merupakan hal yang tidak mudah. Karena obat-obatan bipolar memiliki risiko efek samping. Dampaknya pada proses kehamilan belum sepenuhnya diketahui. Dibutuhkan suatu kerja sama di antara sisi medis yang menangani bipolar penderita dan kehamilannya.

Wanita hamil bisa menderita gangguan bipolar, umumnya ketika mengalami dilema. Di satu sisi, jika dirinya mengonsumsi obat-obatan penenang suasana hati, maka janinnya bisa berisiko mengalami kecacatan. Namun di sisi lain, jika obat-obatan tersebut tidak digunakan, maka gejala gangguan bipolar wanita hamil tersebut bisa memburuk.

Wanita yang sedang menyusui juga menghadapi masalah yang sama. Karena sebagian besar obat gangguan bipolar dapat terserap oleh ASI. Bayi dikhawatirkan bisa terkena efek samping dari obat-obatan tersebut.

Sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut, bicarakanlah kepada dokter untuk mendapatkan solusi pengobatan yang tepat. Tanpa harus membahayakan kondisi bayi, Diagnosa dan Pengobatan Gangguan BIPOLAR.

Salam Bahagia.

PSYLine.id Psikologi Online Indonesia

Bila Anda ada permasalahan dengan Diagnosa dan Pengobatan Gangguan Bipolar, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Jangan Takut! Data diri dan latar belakang Anda terjamin 100% kerahasiannya.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Tentang Penulis

Bayu Lebond

Seorang yang sok Seniman
Rocker yang sayang keluarga
Pecinta Wayang Jawa
#WhySoSerious

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog