Psikologi Gaya Hidup: Tidak Ada Kebetulan Dalam Hidup Ini

Diposting: 6 September 2017 | Kategori Artikel: Gaya Hidup & Sosial

Dilihat: 4149 kali.

Penulis: Arbono Lasmahadi

Dalam  kehidupan kita, tidak jarang kita mengalami peristiwa-peristiwa yang dianggap seperti “kebetulan dalam hidup”. Karena memang terjadi di luar rencana kita. Padahal tahukah Anda, bahwa Tidak Ada Kebetulan Dalam Hidup Ini?

Seperti tiba-tiba bertemu dengan kawan lama yang sudah puluhan tahun tidak bersua. Padahal kita tidak merasa melakukan hal-hal khusus yang membuat kita bisa bertemu dengan kawan lama. Atau tiba-tiba mendapatkan  rezeki nomplok yang tidak kita duga-duga.

Tidak Ada Kebetulan Dalam Hidup: Pengalaman Pribadi

Dalam perjalanan hidup dan karir saya, sayapun mengalami begitu banyak Kebetulan Dalam Hidup. Sehingga bisa membawa saya pada situasi dan kondisi saya saat ini.

Dalam perjalanan karir saya, kebetulan saya pernah mengalami Pengakhiran hubungan kerja (PHK) bersama dengan perusahaan yang mempekerjakan saya. Peristiwanya sebenarnya bukanlah yang saya inginkan, namun Kebetulan Dalam Hidup terjadi pada saya.

Padahal saya sudah berupaya keras untuk tetap bisa bertahan di posisi yang saya pegang di perusahaan yang bersangkutan. Namun kebetulan sepertinya, saya yang harus mengalaminya, bukan kawan-kawan saya yang lainnya.

Pada sekitar 20 tahun yang lalu, hubungan kerja saya berakhir dengan sebuah perusahaan, karena satu dan lain hal alasan. Disaat saya sedang menikmati karir baru saya di perusahaan yang saya impikan. Disaat anyaman benang angan hampir selesai.

Namun, untung tak bisa diraih, dan malang tak bisa ditolak, saya harus mengakhiri mimpi indah saya dan menjadi pengangguran. Walau dompet lumayan terisi, karena dapat uang pesangon. Namun apalah artinya uang pesangon kalau karena itu saya agak malas hadir di acara reuni-reuni sekolah.

Karena biasanya di acara tersebut, ada sejumlah pertanyaan yang umum dilontarkan kawan kepada yang lainnya. Seperti : Sudah menikah? Sudah berapa momongannya? Dan kerja dimana? sebagai apa? Dan sejumlah pertanyaan lainnya yang sepertinya “kebetulan” ditanyakan kepada saya di dalam setiap acara kumpul-kumpul alumni.

Kadang-kadang untuk menutupi perasaan kecewa karena tidak punya pekerjaan, saya suka bergurau ketika ditanya kawan tentang tempat bekerja saya. Saya biasanya menjawab di PT. Tempo. Tempo tempo kerja kerja, tempo tempo menganggur.

Namun sisa baiknya karena PHK itu, sebagian dana pesangon bisa digunakan untuk biaya operasi almarhumah ibunda. Yang saat itu sedang menjalani operasi usus buntu. Sungguh Kebetulan Dalam Hidup saya.

Kebetulan Saya DiPHK

Singkat cerita, saya tidak ingin tinggal diam dengan kondisi menganggur ini. Iseng-iseng saya membuka surat kabar untuk mencoba mencari pekerjaan. Karena itu, surat kabar di hari Sabtu dan Minggu selalu saya nantikan. Karena masa itu, di hari-hari itulah iklan iklan lowongan kerja bertebaran. Lowongan yang saya impikan tidak muncul muncul. Iklan-ilklan besar kebanyakan mencari calon-calon karyawan yang kemampuannya jauh di atas pengalaman yang saya miliki.

Sampai suatu saat, “kebetulan” saya lihat iklan lowongan kerja, mirip seperti iklan baris. Sebuah perusahaan mencari HR Manager di perusahaan penjualan spare part kendaraan dan mesin pabrik. Awalnya saya tidak tertarik. Karena saya pikir, kalau perusahaan bagus, koq menggunakan iklan baris.

Selain itu lokasinya yang bukan di kawasan elit segitiga emas, membuat saya agak enggan melamar. Namun setelah saya berpikir lebih jauh, bahwa kalau perusahaan kecil ini tidak bagus, mengapa mencari HR Manager.

“Kebetulan” akhirnya hati saya tergerak untuk melamar. Toh saya pikir tidak ada ruginya. Selain saya sedang menganggur, dan jabatan yang ditawarkan melebihi yang pernah saya alami. Jabatan saya terakhir adalah Training Manager.

Singkat cerita, lamaran saya diterima. Setelah melalui proses seleksi, saya diterima di perusahaan kecil itu. Belakangan baru saya tahu bahwa ini perusahaan milik sebuah perusahaan Multi nasional asing dari Swedia.

Dan yang yang paling membuat saya “shock” ternyata “kebetulan” mereka sedang dalam proses melakukan reorganisasi perusahaan. Berati saya harus melakukan PHK kepada sejumlah karyawan yang memang tidak masuk dalam kategori akan dipertahankan. Shock karena seumur hidup saya belum pernah mem-PHK orang.

“Kebetulan” inilah yang kemudian membuat saya akhirnya bersentuhan dengan Hukum Ketenagakerjaan, khususnya tentang PHK. Belakangan menjadi salah satu subyek yang membantu saya dalam perjalanan karir selanjutnya.

Karir awal sebagai HR Manager di perusahaan inilah, yang menjadi fondasi awal saya untuk bisa meniti karir yang lebih baik kemudian. Hal ini dapat terjadi karena “kebetulan” saya kena PHK.

Tidak Ada Kebetulan Dalam Hidup Ini: Peristiwa Kehidupan

Hari ini saya mengalami 2 kejadian yang kalau diukur dengan paradigma rasionalis. Kedua kejadian tersebut adalah kebetulan.

  • Peristiwa pertama:

    Saat anak saya yang paling kecil yang  baru saja menjalani proses khitan. Metode khitan yang digunakan adalah Klamp. Dengan metode ini, proses khitan dilakukan dengan penjepitan. Sehingga meminimalkan pendarahan, dan alat vital (maaf), diberikan pelindung dari bahan plastik. Sehingga anak bisa segera beraktivitas dan bisa mandi seperti halnya orang normal.

    Metode ini akan terasa  sedikit nyeri, saat klamp dibuka beberapa hari kemudian. Anak saya begitu ketakutannya, dan saya juga agak khawatir. Karena beberapa tahun yang lalu, anak yang paling besar mengalaminya, dan agak sedikit nyeri.

    Karena ingin membesarkan hati anak saya, saya minta dia berdoa kepada Allah agar besok (jum’at pagi ini) bisa dimudahkan proses penglepasan Klamp-nya. Saya pun berdoa agar proses tersebut dimudahkan.

    Masya Allah, pagi tadi, saat anak saya ingin buang air kecil, dia berteriak. Saya pikir dia mengalami pendarahan atau kesakitan, ternyata alat Klamp-nya sudah terlepas. Saya terkesima melihatnya, karena kecil kemungkinannya ini terjadi. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan dari  pengelola tempat kami melakukan khitan, bahwa dia baru pertama kali mengalami kejadian ini.

    Alat Klamp terlepas secara otomatis. Yang membuat saya merinding saat anak saya cerita, bahwa semalam dia menangis kesakitan. Saat bermimpi bertemu dengan dokter yang melepas Klamp-nya. Dan masya Allah, di pagi hari mimpi itu terjadi. Kebetulankah?

  • Peristiwa kedua:

    Terjadi saat saya dan anak saya yang paling besar bersama-sama menjalankan ibadah shalat Jum’at di sebuah Mesjid dekat rumah. Saya minta dia pakai sendal jepit biasa saja agar sendal yang bagus tidak hilang. Wah saya sudah berprasangka buruk kepada Allah. Anak saya tidak mengindahkan permintaan saya, dia malah menggunakan selop perginya.

    Singkat cerita, sehabis sholat ketika akan pulang, didapatinya, sendalnya separuh tertukar dengan sendal yang lain. Artinya dia tetap bisa pulang namun dengan sendal yang belang, artinya useless.

    Saya sempat menegur anak saya, dan menyalahkannya atas peristiwa itu. Namun saya segera menyadari kesalahan saya berprasangka buruk kepada Allah, saya beristighfar. Kemudian mengikhlaskan kejadian itu. Saya berdoa semoga bisa diketemukan dengan orang yang membawa separuh dari selop anak saya.  Secara logika kecil kemungkinannya, karena jamaah mesjid ada sekitar ratusan orang.

    Kami tidak langsung pulang ke rumah, tapi mampir di sebuah kios untuk membeli keperluan anak saya. Dalam perjalanan, saya terus berdoa dan berharap bisa bertemu dengan pemakai selop anak saya.

    Saat kami mengantri untuk membayar, berdirilah seorang pria di sebelah saya. Tanpa sengaja, anak saya melihat ke bawah dan “criiiing”. Orang yang bersangkutan memakai separuh dari selop anak saya. Dan beliaupun terkaget-kaget dan baru menyadari bawah selopnya tertukar.

    Bertahmidlah kami mengucapkan syukur, karena kalau pertemuan ini tidak terjadi. Selop masing-masing pihak walau lengkap akan tetap tiada berguna, karena belang. Kebetulankah?

Tidak Ada Kebetulan Dalam Hidup Ini: Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian

Pelajaran apakah yang bisa tarik dari kejadian-kejadian di atas? Menurut hemat saya, ada beberapa pembelajaran yang bisa tarik, sebagai berikut:

  1. Tiada sesuatu hal terjadi kepada diri kita sebuah kebetulan.

    Kita mungkin menganggap sesuatu hal yang terjadi pada diri kita diluar yang rencanakan adalah sebuah peristiwa kebetulan. Atau mungkin hal-hal ghaib yang terjadi, di luar kemampuan nalar kita untuk memahaminya, adalah peristiwa kebetulan.

    Padahal sesungguhnya Allah Swt telah mengatur dan mencatatnya dengan rinci di Lauh Mahfuzh. Seperti Firman Allah Swt, berikut ini:

    “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib. Tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering. Melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).“
    (Al An’aam ayat 59)

    Juga ditegaskan kembali tentang tiada kebetulan dalam hidup ini dalam Firman Allah berikut:

    “Tiada sesuatu pun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).
    (An Naml, ayat 75).

    Lauh Mahfuzh (Kitab Terpelihara) adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/catatan kejadian di alam semesta. Artinya yang terjadi pada kita bukanlah sebuah kebetulan dalam hidup. Allah sudah mencatatkan semua yang terjadi pada kita dengan jelas di Lauh Mahfuz.

    Tugas kita berikhtiar dan berdoa, agar segala yang saya harapkan bisa terjadi. Dan kalaupun tidak terjadi mengikhlaskannya, Allah mempunyai skenario lain yang insya Allah baik bagi kita.

  2. Saat kita dalam keadaan kesulitan, ketakutan atau terpuruk, mohon bantuan-Nya, dan berdoalah.

    Karena manusia memang sumbernya kelemahan, dan  hanya Dialah Sang Maha Pemberi Pertolongan. Seperti dalam Firman-Nya berikut ini :

    “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.”
    (QS. An Nisa ayat 28)

    “Allah-lah yang Menciptakan kamu dari keadaan lemah. Kemudian Dia Menjadikan (kamu) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia Menjadikan (kamu) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.”
    (QS.Ar-Rum:54)

    Bertaqwalah dan berdoa agar kita dilepaskan dari kesulitan, karena Allah, senang mengabulkan doa-doa hambanya.

    “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
    (QS At Thalaq 2-3)

    Juga seperti yang disampaikan Rasulullah Saw, dalam hadistnya berikut ini:

    “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Murah hati. Allah malu bila ada hamba-Nya yang menengadahkan tangan (memohon kepada-Nya) lalu dibiarkannya kosong dan kecewa.”
    (HR. Hakim).

  3. Selalu berprasangka baik kepada Allah Swt.

    Berprasangka baiklah kepada Allah terhadap setiap kejadian yang tidak menyenangkan yang menimpa diri kita. Karena bisa jadi itu adalah sebuah pintu gerbang untuk memasuki sebuah situasi atau kondisi. Kondisi yang lebih berkah dibandingkan situasi atau kondisi kita sebelumnya.

    Ingatlah selalu firman Allah dalam Surat:

    “Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.”
    (QS Al Insyiraah 5-6)

  4. Selalu mengambil pembelajaran (ibrah)

    Dari setiap kejadian baik atau buruk yang menimpa diri kita, pasti ada hikmahnya. Dan menggunakannya sebagai bagian dari upaya perbaikan diri  kita. Agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Semoga tulisan sederhana ini dapat mengingatkan saya untuk terus belajar ikhlas menerima segala sesuatu yang terjadi. Dan semakin meyakini bahwa tiada yang kebetulan yang terjadi dalam hidup ini.

Semoga artikel PSYLine.id Psikologi Online Indonesia ini juga bermanfaat bagi yang membacanya. Hal-hal baik dari tulisan ini pasti datang dari Allah Swt. Segala kekurangan dan kekhilafan yang ada di dalam tulisan ini pasti datang dari saya, hamba-Nya yang penuh dengan kelemahan ini.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Tips Psikologi: 4 Ketrampilan yang Harus Dimiliki Psikolog Profesional.

Tentang Penulis

Arbono Lasmahadi

Psikolog Senior
Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Praktisi Senior Manajemen Sumber Daya Manusia.
Pengurus IOC.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog