Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Psikosomatis

Klinis & Kepribadian | 16819 Views

Psikosomatis. Berawal dari rasa cemas yang berlebihan

1 Juni 2017 | Penulis: Riswandi Alekhine

Psiko berasal dari Psyche yang artinya Jiwa, sedang soma artinya badan. Jadi ilmu Psikosomatis atau Psikosomatiskadalah ilmu yang mempelajari kaitan antara jiwa dan badan. Ilmu ini menegaskan bahwa faktor psikologis memegang peranan sangat penting dalam perkembangan semua penyakit.

Gangguan psikosomatik adalah salah satu gangguan jiwa yang paling umum ditemukan dalam praktek umum. Istilah ini terutama digunakan untuk penyakit fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor kejiwaan atau psikologis.

Beberapa penyakit fisik dianggap sangat rentan diperburuk oleh faktor mental seperti stres dan kecemasan. Di antaranya gangguan kulit, muscoskeletal (otot, sendi dan saraf), pernafasan, jantung, kemih, kelenjar, mata dan saraf.

Apa itu Psikomatis?

psikosomatis psyline

Gangguan psikosomatik merupakan gangguan psikis dan emosional yang melibatkan pikiran dan tubuh, sehingga menyebabkan gangguan fisik. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya.

Beberapa orang juga menggunakan istilah gangguan psikosomatik ketika faktor kejiwaan menyebabkan gejala fisik. Tetapi penyakit fisiknya sendiri tidak ada (tidak dapat dijelaskan secara medis).

Salah satu penjelasan psikosomatik adalah bahwa emosi negatif mempengaruhi sistem otonom tubuh, hormon dan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Antara Lain:

  • Depresi, kemarahan, dan isolasi sosial berkontribusi terhadap penyakit jantung.
  • Stres di sisi lain, mempengaruhi asma, gangguan pencernaan dan banyak penyakit fisik lainnya.

Tanda dan Gejala Gangguan Psikosomatis 

Gejala fisik ini disebabkan meningkatnya aktivitas impuls saraf dikirim dari otak ke berbagai bagian tubuh. Dan pelepasan adrenalin ( epinefrin ) ke dalam aliran darah ketika kita cemas.

Adapun tanda dan gejala gangguan psikosomatik diantaranya :

  • Sebuah denyut jantung yang cepat,
  • Hati berdebar (palpitasi),
  • Merasa sakit (mual),
  • Gemetar (tremor),
  • Berkeringat,
  • Mulut kering,
  • Nyeri dada,
  • Sakit kepala,
  • Sebuah simpul di perut,
  • Cepat bernapas.
  • Merasa lemah,
  • Sesak napas,
  • adanya gangguan pada lambung,
  • diare,
  • dan lain sebagainya.

Gejala tersebut dirasakan dengan frekuensi yang berulang, bahkan seringkali bisa kambuh dalam kurun waktu tertentu. Waspadalah jika Anda mengalami nyeri dada, sakit kepala, atau sakit maag yang tak kunjung membaik.

Akan tetapi menurut hasil pemeriksaan tidak menunjukkan bahwa Anda menderita suatu penyakit atau dengan kata lain Anda dinyatakan normal.

 Jika Anda mengalami keluhan seperti itu bisa jadi Anda mengalami psikosomatik.

Penyebab Gangguan Psikosomatis

Sampai saat ini penyebab gangguan psikosomatik belum diketahui secara pasti meski telah banyak dilakukan penelitian oleh para ahli. Umumnya, gangguan psikosomatik disebabkan oleh beban pikiran yang tidak bisa keluar atau tersalurkan.

psikosomatis psyline

Selain itu, terlalu banyak membaca informasi di majalah ataupun dari internet. Tentang berbagai macam penyakit terkait gejala yang dirasakan juga dapat memicu seseorang mengalami gangguan psikosomatis. Karena para penderita gangguan ini selalu ragu dengan  kondisi fisiknya.

Selain merasa ragu, mereka juga cenderung menanggapi respons tubuh secara negatif dan berlebihan, terutama terhadap suatu penyakit. Jadi, semakin banyak mereka membaca tentang gejala suatu penyakit, semakin banyak pula sensasi gejala yang akan mereka rasakan pada tubuh.

Mereka juga sangat sensitif dalam merespons rasa nyeri, daripada orang normal. Hal ini disebabkan ketidakseimbangan serotonin dan nor-epineprin. Hal yang merupakan neurotransmitter penting di otak.

Pasien psikosomatik memang harus diberi psikoterapi untuk menggali masalah psikologis yang mereka alami, agar pikiran yang membebani mereka dihilangkan. Dengan begitu, keluhan fisik pasien juga diharapkan menghilang. 

Kadang-kadang, pasien merasa lebih sehat hanya karena keluhan-keluhannya didengarkan oleh dokter. Pasien yang diberi kesempatan untuk berbicara tentang perasaan dan emosinya juga lebih memahami diri dan penyakit mereka. Mereka bisa mengetahui bahwa langkah-langkah untuk mengelola stres dapat membantu menghilangkan keluhan fisik yang dirasakan.

Teori atau hypotesis mengenai penyebab seseorang mengidap gangguan psikosomatik belum disepakati oleh para ahli di dunia kesehatan.

Namun demikian yang dapat disimpulkan adalah bahwa pada penderita gangguan psikosomatis memiliki sifat yang khas yaitu:

  1. Stres Umum

    Stres ini dapat berupa suatu peristiwa atau suatu situasi kehidupan dimana individu tidak dapat berespon secara kuat.

    Menurut Thomas Holmes dan Richard Rahe. Didalam skala urutan penyesuaian kembali sosial (social read justment rating scale) menuliskan. 43 peristiwa kehidupan yang disertai oleh jumlah gangguan dan stres pada kehidupan orang rata-rata.

    Sebagai contohnya kematian pasangan 100 unit perubahan kehidupan, perceraian 73 unit, perpisahan  perkawinan 65 unit, dan kematian anggota keluarga dekat 63 unit.

  2. Stres Spesifik Lawan Non Spesifik

    Stres psikis spesifik dan non spesifik dapat didefenisikan sebagai kepribadian spesifik. Atau konflik bawah sadar yang menyebabkan ketidakseimbangan homeostatis yang berperan dalam perkembangan gangguan psikosomatis.

    Tipe kepribadian tertentu yang pertama kali diidentifikasi berhubungan dengan kepribadian koroner. Atau orang yang memiliki kemauan keras dan agresif yang cenderung mengalami oklusi miokardium.

  3. Variabel Fisiologis

    Faktor hormonal dapat menjadi mediator antara stres dan penyakit, dan variabel lainnya adalah kerja monosit sistem kekebalan. Mediator antara stres yang didasari secara kognitif dan penyakit mungkin hormonal.

    Seperti pada sindroma adaptasi umum Hans Selye, dimana hidrokortison adalah mediatornya. Mediator mungkin mengubah fungsi sumbu hipofisis anterior hipotalamus adrenal dan penciutan limfoit.

    Dalam rantai hormonal, hormon dilepaskan dari hipotalamus dan menuju hipofisis anterior. Dimana hormon tropik berinteraksi secara langsung atau melepaskan hormon dari kelenjar endokrin lain. Variabel penyebab lainnya mungkin adalah kerja monosit sistem kekebalan. Monosit berinteraksi dengan neuropeptida otak, yang berperan sebagai pembawa pesan (messager) antara sel-sel otak.

Jadi, imunitas dapat mempengaruhi keadaan psikis dan mood.

Pencegahan Gangguan Psikosomatis

psikosomatis psyline

Pencegahan gangguan psikosomatik merupakan bentuk pelayanan, yang akan membantu pasien dan keluarga dalam menurunkan faktor risiko terhadap penyakit. Menurut Potter, et all (1989) dalam Rasmun (2004) menjelaskan, beberapa strategi dapat dilakukan untuk mengurangi gangguan psikosomatik:

  1. Membangun kebiasaan baru.
    Misalnya seorang ibu yang memutuskan berhenti bekerja untuk mengurus anaknya, akhirnya merasa bosan lantaran tak ada kegiatan ketika anak–anaknya dewasa.
  2. Menghindari perubahan sebagai upaya yang dilakukan untuk tidak melakukan perubahan yang tidak perlu atau dapat ditunda.
  3. Menyediakan waktu tertentu atau membatasi waktu untuk memfokuskan diri beradaptasi dengan stressor (penderita stress).
  4. Pengelolaan waktu berguna untuk seseorang yang tidak dapat mengerjakan berbagai hal dalam waktu yang bersamaan.
  5. Memodifikasi lingkungan.
    Mengatakan tidak secara tegas terhadap sesuatu yang tidak mungkin, merupakan cara lain dalam mengurangi kecemasan atau perasaan tidak menyenangkan. Juga mengurangi respon fisiologis terhadap stress, seperti latihan olahraga teratur, memperbaiki nutrisi dan diet, istirahat.
    Tetapi sebaliknya, tetap perlu meningkatkan respon perilaku dan emosi terhadap stress. Serta memanfaatkan sistem pendukung (keluarga dan teman).

Dokter selalu berusaha untuk mengobati penyakit fisik dengan perawatan medis yang sesuai bila diperlukan. Namun dia juga perlu memahami lebih lanjut penyebabnya. Hal ini pada gilirannya akan membantu memahami penyakitnya lebih baik, baik untuk dokter sendiri maupun penderita dan keluarganya.

Pasien yang diberi kesempatan berbicara tentang perasaan dan emosinya, juga akan lebih memahami diri dan penyakit mereka. Mereka bisa mengetahui, langkah-langkah untuk mengelola stress dapat membantu menghilangkan keluhan fisik yang dirasakan.

Langkah tepat yang dapat dilakukan untuk menghindari gangguan psikosomatik adalah menjauhi faktor-faktor penyebab yang memicu timbulnya gangguan itu sendiri. Setiap penderita umumnya memiliki ciri khas tersendiri terhadap hal-hal yang menjadi pemicunya.

Setelah terjadinya gangguan psikosomatik. Apabila penderita sudah merasa dapat bernafas lega akan tetapi disarankan untuk meneruskan pengobatannya. Namun harus sesuai obat dan dosis yang diberikan oleh dokter.

Cara Mengatasi Gangguan  Psikosomatis

Pengobatan untuk penderita Psikosomatik pada umumnya adalah:

  1. Pengobatan Somatis

    Pengobatan yang hanya ditujukan kepada faktor somatis (fisik). Hal ini dapat menyebabkan penyakit timbul kembali. Yang lebih parah, akan menurunkan kepercayaan pasien akan kemungkinan penyakitnya sembuh yang sebenarnya akan memperparah kelainan psikosomatiknya sendiri.

  2. Pengobatan Psikoterapi

    Hubungan antara penyakit somatik dan kondisi psikologis seseorang sangatlah erat sehingga dapat memungkinkan terjadinya interaksi antara keduanya.  Masalah yang menyebabkan seseorang datang ke dokter yang berhubungan dengan kondisi psikologisnya dapat berhubungan dengan dua hal.

    Yaitu:

    1. Masalah yang tampaknya berhubungan dengan masalah pasien di masa lalu.
    2. Masalah yang tampaknya berasal dari stres dan tekanan masa sekarang yang melebihi pengendalian sadar pasien.
    3. Atau dapat pula terjadi kombinasi dari kedua masalah tersebut.
  3. Pengobatan Psikofarmakoterapi

    Pada dasarnya psikofarmaka bekerja lebih intensif pada gangguan psikosomatikdaripada obat lokal simtomatis tetapi kurang spesifik dibanding obat tersebut karena pada umumnya tidak mempengaruhi faktor etiologisnya.

    Golongan obat psikofarmaka yang banyak dipergunakan adalah Obat Tidur, Obat Penenang, dan Antidepresan.

    Penggunaan jenis obat ini perlu pengawasan yang ketat karena seringkali menimbulkan efek samping. Seperti ketergantungan psikologis dan fisik yang dapat mengakibatkan keracunan obat, depresi dan kehilangan sifat menahan diri. Dapat pula gangguan paru-paru, gangguan psikomotoris dan iritatif (mudah marah, gelisah dan ansietas bila obat dihentikan).

Psikosomatis Bisa Disembuhkan

Walaupun kesannya penyakit kronis, sebenarnya psikosomatik bisa disembuhkan. Hal yang perlu dipahami dulu adalah bahwa dasar dari kondisi psikosomatik ini adalah gangguan kejiwaan. Gangguan yang biasanya adalah gangguan cemas dan depresi.

Psikosomatik bisa dikelola apabila kita mampu mengelola stres.  Namun, sama seperti umumnya masalah kejiwaan, kemunculan psikosomatik bisa dikendalikan. Caranya dengan mengelola stres dan mengontrol respons terhadap stres.

Baca juga:

11 Hal yang bisa membuatmu lebih Bahagia.

Untuk gangguan psikosomatik yang berkepanjangan, biasanya dokter akan meresepkan antidepresan yang sesuai. Tidak seperti obat penenang atau antitesa, obat antidepresan tidak mengakibatkan ketergantungan pada pasien, sehingga aman dikonsumsi dalam jangka panjang.

Dokter mengobati penyakitnya bukan keluhannya saja. Inilah mengapa sebenarnya pasien harusnya diobati gangguan dasarnya bukan hanya diberikan obat-obat untuk meringankan keluhannya. Kalau hanya diberikan obat-obat untuk meringankan keluhannya saja, maka kondisi ini tidak akan mendapatkan perbaikan yang diinginkan.

Selain obat, pasien juga akan diajarkan bagaimana cara mengatasi keluhan-keluhan yang berkaitan dengan psikosomatiknya. Pasien akan diajak memahami bagaimana kondisi psikosomatis. Hal ini bisa terjadi padanya dan bagaimana mengatasi kondisi-kondisi stres kehidupan yang terkait dengan keluhan psikosomatiknya.

Salam Bahagia..

PsyLine.id Psikologi Online Indonesia dari berbagai sumber.

Artikel sebelumnya membahas tentang:
Binge Eating Kelainan Pola Makan yang Membuat Makan Berlebihan.

Tentang Penulis

Riswandi Alekhine

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Seorang Aquascaper.
Jatuh cinta pada script, poetry, filsafat dan senja saat hujan.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan