Konsultasi Psikologi: Ingin Bercerai Setelah 3 Bulan Menikah

Diposting: 2 Maret 2018 | Kategori Konsultasi:

Dilihat: 1633 kali.

Psikolog: Dinda Setiadewi, M.Psi, Psikolog.

: Raisha

: Bandung

: Wanita

Isi Konsultasi:

Selamat sore, PSYLine.id Psikologi Online Indonesia.

Saya Raisha, saya ingin berkonsultasi masalah saya. Saya baru saja menikah selama 3 bulan,terhitung sejak november 2017. Sekarang saya ingin mengajukan proses perceraian. Karena permasalahan nafkah lahir dan bathin.

Saya menikah dengan seorang laki-laki lebih tua 16 tahun. Dia duda, punya anak 3, dia seorang PNS Dosen. Kami menikah resmi di KUA.

Saya baru saja kehilangan bapak saya yang meninggal oktober 2016. Saya dekat dengan bapak. Saya mungkin kehilangan figur bapak. Ketika ada seseorang yang saya anggap bisa menggantikan sosok figur bapak,saya mau menikah dengannya.

Ibu saya ada.Ibu pensiunan PNS, sekarang berwiraswasta, bapak saya(alm) pensiunan PNS juga. Kakak laki laki saya lulusan sarjana sudah nikah bekerja punya anak. Adik saya laki-laki lulusan sarjana sudah menikah bekerja dan punya anak.

Secara finansial, keluarga saya tidak ada masalah. Saya menikah dengan suami karena figur bapak.Tapi ternyata tidak terpenuhi.

Apa yang harus saya lakukan kalau sosok yang saya cari tidak ada di suami?

Dinda Setiadewi, M.Psi, Psikolog

Jawab:

Dear Mba Raisa yang baik, yang sedang gundah karena Ingin Bercerai Setelah 3 Bulan Menikah. Terima kasih atas kepercayaannya untuk berbagi cerita dengan PSYLine.id Psikologi Online Indonesia.

Saya dapat memahami apa yang saat ini sedang Mba Raisa hadapi. Semoga dari pembicaraan kita via PsyLine.id ini setidaknya dapat sedikit memberikan sudut pandang lain. Sehingga Mba Raisa pada akhirnya menemukan apa yang “dicari”.

Ingin Bercerai Setelah 3 Bulan Menikah

Berdasarkan apa yang sudah Mba Raisa sampaikan, usia pernikahan 3 bulan adalah saat di mana Mba Raisa dan suami sedang dalam masa penjajakan dan penyesuaian diri. Adalah wajar bila mba Raisa menemukan konflik dan perbedaan. Ssebab ada dua manusia berbeda yang harus mulai menjalani hidup bersama.

Saya bisa mengerti bahwa saat ini Mba Raisa sedang kehilangan sosok ayah yang di sepanjang kehidupan Mba Raisa selalu mendampingi. Namun demikian, yang Mba Raisa harus sadari adalah; yang sedang dihadapi Mba Raisa saat ini adalah suami. Bukan ayah, yang tentu terdapat peran dan tanggung jawab yang berbeda.

Saya ambil contoh, mungkin Mba Raisa jika dengan ayah selalu bisa mendapatkan apa saja yang diinginkan. Sebab ayah akan selalu mengalah kepada anaknya. Berbeda dengan suami, yang dalam pernikahan posisinya adalah partner. Dalam posisi yang sejajar antara suami dan istri, di mana pada setiap keinginan harus dicari jalan tengahnya. Sebab pasti akan selalu ada kepentingan dan kebutuhan yang berbeda.

Suami Bukan Ayah

Sebelum kita lanjutkan, mohon Mba Raisa memfokuskan kembali pikiran, bahwa yang saat ini sedang dihadapi adalah suami, bukan ayah.

Kami memahami bahwa bisa jadi Mba Raisa memiliki ketergantungan yang besar terhadap ayah. Dan memang hal tersebut dapat dimaklumi. Sebab seorang anak perempuan wajar bila merasa sangat dekat dengan ayahnya.

Hanya saja, saat ini posisi dan peran Mba Raisa adalah seorang istri, bukanlah seorang anak. Tentu saja sikap dan  apa yang menjadi tuntutan harus berbeda. Begitupun suami, ia akan memperlakukan Mba Raisa sebagai istri yang diharapkan melaksanakan tugas dan kewajibannya. Bukan sebagai anak.

Kenali Lebih Jauh Suami

Ada baiknya di waktu-waktu ini Mba Raisa mencoba untuk mengenal lebih jauh suami. Sedikit demi sedikit, Mba Raisa juga bias menyampaikan kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi. Baik secara fisik maupun psikis.

Sebelum kita lanjutkan, silahkan fokuskan kembali pikiran dan perasaan Mba Raisa; “yang dihadapan saya adalah suami, bukan ayah”.

Sebelum Memutuskan Ingin Bercerai Setelah 3 Bulan Menikah

Silahkan Mba Raisa menuliskan dalam buku atau kertas terkait pertanyaan kami. Jawablah secara realitsik, sedetail dan sekonkrit mungkin, hindari menjawab dengan kalimat normatif.

  1. Kriteria suami yang diidamkan Mba Raisa seperti apa?

    Jika Mba Raisa misalnya menulis; “bertanggung jawab”, ini masih jawaban normatif, silakan dikonkritkan. Sehingga bisa dilihat dari perilaku suami sehari-hari.

    Saya contohkan dari bertanggung jawab ini misalnya adalah; memberikan uang bulanan sebesar sekian. Atau yang lain seperti; mau membantu pekerjaan rumah tangga. Atau bisa juga misalnya contoh seperti; menjemput saya setiap hari dari kantor, dan sebagainya.

  2. Lakukanlah observasi dan evaluasi di setiap harinya.

    Jika ada yang kurang dari suami, kemukakanlah dengan penuh kasih sayang. Sehingga tidak terdengar seperti kritikan atau tuntutan, namun permintaan lembut seorang istri kepada suami. Sertai dengan argumen yang logis, bukan emosional.

  3. Tuliskanlah apa yang Mba Raisa kagumi dari sosok ayah beserta alasannya.

    Kemudian carilah waktu untuk menceritakan hal tersebut kepada suami. Dengan demikian diharapkan suami dapat memahami apa yang dirindukan Mba Raisa.

    Sebaiknya jangan berharap suami melakukan hal yang sama. Namun setidaknya, suami akan lebih memahami Mba Raisa dan bagaimana Mba Raisa ingin diperlakukan. Mungkin dengan cara berbeda namun setidaknya kualitas kasih sayangnya sama.

Selamat mencoba dan berusaha, jika masih ada yang perlu kita bahas jangan ragu untuk menghubungi kami kembali.

Salam Bahagia,

Dinda Setia Dewi.

Ceritakan Masalah Pribadimu Secara Rahasia dan Anonim.

Silakan mengisi kuesioner singkat untuk memberikan beberapa latar belakang umum tentang Anda dan isu-isu yang ingin Anda bahas dalam konseling.

Bila Anda ada permasalahan yang sama dengan Tips Psikologi tersebut di atas, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Jangan Takut! Data diri dan latar belakang Anda terjamin 100% kerahasiannya.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Bergabunglah dengan kami di Media Sosial PSYLine.id Klik Tautan Berikut Ini:

comfort.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Konsultasi Psikologi sebelumnya membahas tentang:

Konsultasi Psikologi: Stress Dengan Pacar Karena Tidak Mau UpLoad Foto Berdua Di Jejaring Sosial.

Tentang Psikolog

Dinda Setiadewi, M.Psi, Psikolog.

Dengan pengalaman utama sebagai konselor remaja dan dewasa beserta permasalahan dalam tugas perkembangannya. Memiliki minat terhadap pengembangan terapi klinis dan alat tes psikologi. Di waktu senggang, menyempatkan diri menyalurkan kegemaran yaitu wisata sejarah Indonesia ataupun hanya sekedar membaca buku sejarah.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog