Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Rubrik Konsultasi Psikologi

Kategori: | 678 Views

Konsultasi Psikologi Takut akan Kegagalan.

21 Mei 2017 | Penulis: Drs. Julyvan Pertamawan, Psi

: Remuka

: Bandung

: Pria

Isi Konsultasi:

Hai PsyLine.id Konsultasi Psikologi Online Indonesia.

Saya sangat takut akan kegagalan.

Apabila gagal maka saya akan mengalami panik dan stress.

Bagaimana saya menghilangkannya?

Lalu saya memiliki gejala panik pada semua hal yang apa bila gagal ataupun kurang pas dengan saya.

Kenapa hal itu bisa terjadi dok?

Drs. Julyvan Pertamawan Psi.

Jawab:

Konsultasi Psikologi Takut akan Kegagalan.

Remuka yang baik,

Pertama, perlu saya sampaiakan dan perlu dipahami beda Psikolog dengan Psikiater ya.

Kalau Psikolog, dari awal kuliahnya, tidak menangani medikasi atau pengobatan yang dilakukan dokter. Psikolog menangani masalah kejiwaan melalu pendekatan non medis. Sedangkan Psikiater adalah seorang Dokter yang mengambil spesialisasi di bidang kejiwaan.

Oleh karena itu, saya bukan Dokter ya. Artkelnya dapat dibaca pada PsyLine.id Psikologi Online dengan judul:

Mau tahu apa Perbedaan Psikolog dan Psikiater?

Kembali ke curhat Remuka.

Konsultasi Psikologi Takut akan Kegagalan.

Ketakutan pada kegagalan tidak hanya dialami anda sendiri. Bisa Saya katakan semua orang mengalami rasa takut pada kegagalan.

Kenapa demikian?

Karena dalam budaya kita di Indonesia, orang yang gagal langsung menjadi obyek pembicaraan dan menjadi bahan ejekan. Hukuman yang paling tidak nyaman bagi siapa saja, adalah hukuman yang diberikan oleh orang di sekitar kita.

Tidak ada satu orang pun yang senang dihukum; apa pun bentuk hukumannya.

Jadi, takut gagal itu adalah produk budaya yang senang mengejek. Namun, hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam pembahasan ilmu Psikologi, dikenal dengan konsep “degradation of laughter”. Orang senang menertawakan orang lain yang gagal.

Lalu orang yang gagal dan ditertawai akan merasakan seperti mengalami degradasi kepercayaan diri. Semakin sering kita mengalami kegagalan dan mendapat hukuman (minimal ditertawai), semakin rendah rasa percaya diri kita. Bagaimana mengatasinya? Bagaimana mengelola perasaan dalam diri sendiri agar terhindar dari stress dan rasa panik?

  1. Tahap pertama,

    Remuka perlu merubah sudut pandang. Kegagalan bukan sebuah ancaman. Kegagalan tidak selalu membuat orang lain senang. Karena kegagalan adalah salah satu cara kita untuk menguji kemampuan kita untuk berbuat lebih baik.

    Orang lain dapat dibuat kagum. Kagum atas usaha dan kegigihan diri kita untuk berusaha dan berjuang untuk memperbaiki diri. Memang tidak mudah. Tapi bisa dicoba. Bahkan, ada kalanya kegagalan membuahkan sebuah gagasan untuk menciptakan peluang keberhasilan.

  2. Tahap kedua,

    Remuka diharapkan dapat menemukan kemampuan diri sendiri yang dapat diandalkan. Kemampuan dalam hal tertentu yang mendukung penyelesaian tugas atau pekerjaan yang dipercayakan kepada diri Remuka.

    Keberhasilan kecil yang diperoleh, saya anjurkan dicatat sebagai sebuah prestasi. Remuka harus memberi penghargaan pada usaha dan keberhasilan kecil yang dicapai. Rayakan (buat selebrasi sederhana) tanpa harus dilihat orang lain.

    Bulatkan tekad untuk berani mengambil tugas atau pekerjaan lain yang dapat menjadi sarana pengujian kemampuan Remuka. Perlahan tapi pasti kepercayaan orang lain terhadap kemampuan Remuka akan semakin bertambah.

  3. Tahap ketiga,

    Remuka dapat berbagi pengalaman dengan orang-orang terdekat mengenai keberhasilan kecil yang semakin membesar.

Demikian, saran saya. Semoga dapat diterapkan.

Semoga dapat memperbaiki diri sendiri.

Salam Bahagia,

Curhat sebelumnya:

Pria menikah mencoba menjadi sesuatu yang berbeda


Ceritakan Masalah Pribadimu Secara Rahasia dan Anonim.

Silakan mengisi kuesioner singkat untuk memberikan beberapa latar belakang umum tentang Anda dan isu-isu yang ingin Anda bahas dalam konseling.

Data ini akan membantu PsyLine.id Psikologi Online mencocokkan Anda dengan Psikolog yang paling cocok untuk Anda.
Jawaban jujur Anda juga akan memberikan Psikolog untuk mengenal latar belakang Anda sehingga dapat memberikan saran yang relefan.

Data diri dan latar belakang Anda terjamin 100% kerahasiannya, dan hanya dipergunakan untuk membantu Anda menjadi lebih baik.

Klik Link di Bawah ini:

Konsultasi Psikologi Gratis

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine

Tentang Penulis

Drs. Julyvan Pertamawan, Psi

Aktif di Himpsi Jaya (www.himpsijaya.org) dan Iluni Psikologi Universitas Indonesia.

Bagikan Artikel Ini:

Terkait

Tinggalkan Balasan