Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Sekolah Tinggi Orangtua

Keluarga & Pernikahan | 437 Views

Dimanakah Sekolah Tinggi OrangTua? Ada tidak ya?

11 April 2017 | Penulis: Drs. Julyvan Pertamawan, Psi

Teori Psikologi Perkembangan yang banyak mengkaji bagaimana manusia berkembang dari bayi menjadi dewasa. Tampaknya hal ini tidak cukup membekali seseorang untuk dapat menjalankan perannya sebagai orangtua yang baik. Sekolah Tinggi OrangTua adakah itu?

Dalam sebuah seminar tentang pengasuhan anak, muncul pertanyaan dari seorang peserta yang merasa bahwa pembahasan yang dikemukakan dalam seminar tersebut hanya berisi sebuah “pameran”. Contoh ideal menjadi orang tua yang baik dan terkesan hanya dilihat dari satu sudut pandang. Yaitu sudut pandang Psikologi. PsyLine.id Psikologi Online.

Peserta tersebut bertanya: “Apakah untuk menjadi orang tua yang baik harus belajar Psikologi?”.

Mungkin lebih tepatnya: “Apakah Psikologi merupakan dasar utama dalam membangun peran orangtua yang baik?”.

Meskipun saya bukan pembicara dalam seminar itu, namun pertanyaan itu cukup membekas bagi saya pribadi. Sebagai lulusan Psikologi, saya berusaha mencari jawaban praktis dari pertanyaan itu.

Bukan jawaban teoritis. Psikologi sebagai pondasi pola pikir dalam membangun peran orangtua yang efektif, mungkin dapat dipertanggung jawabkan.

Orang tua yang efektif berdasarkan teori, belum tentu efisien dalam penerapannya.

Salah satu dosen saya, menerapkan pola komunikasi yang cukup unik di rumahnya. Ia membiasakan diri dan seluruh anggota keluarganya untuk memanggil nama. Beliau tidak memperkenankananak-anaknya memanggil dirinya dan istrinya dengan panggilan yang umum digunakan. Seperti: Ayah-Ibu, Abi-Umi, Bapak-Ibu, Papa-Mama, dan sebagainya.

Tidak sesuai dengan norma komunikasi yang selama ini ditanamkan oleh orangtua pada umumnya. Sesuatu yang terasa tidak lazim.

Pertanyaannya, apa itu efektif dan efisien dalam menjalankan peran sebagai orangtua?

Contoh lain. Dalam keluarga besar saya sendiri, dari jalur keluarga ibu saya, ada seorang sesepuh yang seorang pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau menerapkan sebuah pola komunikasi yang sangat permisif dan terkesan membiarkan semua anggotak eluarganya “berkembang” sesuai dengan keinginannya masing-masing. Dominasi aturan lebih banyak diterapkan dan datang dari pihak istrinya.

Efektif?

Efisien?

Mungkin saja.

Jadi, apa yang bisa dijadikan tolok ukur sebuah keluarga dikelola dengan baik dan orangtua menjalankan peran dengan baik?

Sepertinya tidak ada.

Bahkan Psikologi juga bukan tolok ukur.

Apalagi kalau ada yang merasa seorang praktisi atau sarjana Psikologi dipastikan mampu “mengendalikan” keluarga dengan baik, itu jauh sekali dari sebuah kepastian.

Menjadi orangtua yang baik, bukan sebuah ilmu pasti. Jadi tidak ada Sekolah Tinggi OrangTua.

Menjadi orangtua yang baik, tidak berarti kita harus berperan sebagai manusia super yang mampu menyelesaikan berbagai masalah dalam keluarga dengan baik. Kriteria penyelesaian masalah yang baik, juga menjadi suatu hal yang relatif.

Yang terpenting, dalam keluarga, peran orangtua harus “hadir”. Baik saat ada masalah, maupun dalam kondisi yang tidak bermasalah.

Menjadi orangtua merupakan sebuah komitmen.

Menjadi orangtua adalah sebuah peran yang harus dijalankan 24 jam setiap hari. 7 hari dalam seminggu. Tidak ada libur. Seumur hidup.

Keahlian sebagai orangtua dipelajari sejalan dengan bertambahnya usia. Seperti seorang pelajar, ujian untuk naik kelas, tentu ada.

Bagi saya, menjadi orangtua, belajarnya setiap hari. Ujiannya? Juga setiap hari.

Sayangnya, tidak ada institusi yang mampu memberikan modul atau kurikulum yang lengkap dan komprehensif agar seseorang dapat predikat sebagai “Sarjana OrangTua”.

Salah satu adik sepupu saya, memberikan pujian bahwa saya (menurutnya) mampu mendidik anak-anak saya dengan baik. Saya berterimakasih dan sedikit tersanjung dengan pujian itu. Namun, tidak lama setelah itu, saya merasa ada yang kurang sempurna. Saya tidak berhak menerima pujian itu.

Mungkin dari luar, orang bisa menilai secara obyektif apa yang terlihat. Tetapi, dari dalam, masih ada ruang-ruang ketidak sempurnaan yang kadang kala mengganggu diri saya.

Sekolah Tinggi OrangTua yang baik itu tidak ada.

Tugas orangtua untuk belajar dan terus belajar, berjalan terus selama hayat masih dikandung badan. Warisan yang terbaik seseorang adalah terbentuknya generasi penerus yang mampu mandiri dan memiliki kekuatan untuk bertahan hidup dalam kondisi sesulit apa pun. Itu adalah sasaran utama bagi semua orang tua.

“Warisan harta bukan yang utama. Warisan ilmu, akhlak, dan keterampilan untuk bertahan hidup, itu bagi saya yang utama.” 

Semoga tugas kita sebagai orangtua dapat selesai pada waktunya dengan predikat kelulusan terbaik.

In syaa Allah.

Salam Bahagia..

Tulisan sebelumnya membahas tentang: Stop Lakukan Tindakan Pemicu Konflik Suami Istri Ini!

Tentang Penulis

Drs. Julyvan Pertamawan, Psi

Aktif di Himpsi Jaya (www.himpsijaya.org) dan Iluni Psikologi Universitas Indonesia.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan