Biografi Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia (1907-2004)

Diposting: 25 Juli 2017 | Kategori Artikel: Biografi Psikolog

Dilihat: 9480 kali.

Penulis: Bayu Lebond

Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia (1907-2004). Profesor emeritus Fakultas Psikologi UI, ini tidak saja perintis dan pendiri Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Tetapi juga perintis studi psikologi di Indonesia. Patutlah digelari Prof. Dr. Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia. Bahkan nama Beliau diabadikan untuk Gedung Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

gedung Slamet iman santoso Bapak Psikologi Indonesiapsikologi UI

Beliau juga ikut mendirikan beberapa universitas. Pria yang senang berpakaian putih-putih ini dikenal jujur, jernih, tegas dan konsisten. Prinsip hidupnya tak pernah berubah sampai akhir hayatnya.

Biodata Prof. Dr. Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia

slamet iman santoso Bapak Psikologi Indonesia

Nama:

Prof. Dr. Slamet Iman Santoso

Tempat/Tgl.Lahir:

Wonosobo, Jawa Tengah, 7 September 1907.

Wafat:

Jakarta, Selasa 9 November 2004.

Alamat rumah:

Jalan Cimandiri No 26, Jakarta Pusat.

Agama:

Islam.

Istri:

Suprapti Sutejo.

Pendidikan:

  • Europeesche Lagere School (ELS) dan Hollandsch Inlandsche School (HIS), Magelang (1912-1920),
  • Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), Magelang (1920-1923),
  • MAS-B, Yogyakarta (1923-1926),
  • Indische Arts, Stovia (1926-1932),
  • Geneeskunde School of Arts, Batavia Sentrum (1932-1934).

Karya Tulis:

  • Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Sinar Hudaya, Jakarta (1977),
  • The Social Background For Psychotheraphy in Indonesia,
  • Psychiatry dan Masyarakat,
  • Kesejahteraan Jiwa,
  • School Health in the Community,
  • Sekolah Sebagai Sumber Penyakit atau Sumber Kesehatan,
  • Dasar Stadium Generale, Pendidikan Universitas Atas Dasar Teknik dan Keilmuwan, Dasar-dasar Pokok Pendidikan.

Karir:

  • Direktur Rumah Sakit Jiwa Gloegoer, Medan (1937-1938),
  • Pendiri Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (1953-1972),
  • Pembantu Rektor Bidang Akademis, Universitas Indonesia (1962-1972),
  • Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (1950-1953),
  • Dosen Lemhannas,
  • Dewan Kurator Universitas Mercu Buana.

Bintang Jasa:

Mahaputra Utama (III) pada tanggal 19 Mei 1973.

Masa Kecil Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia

Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia

Pemberian namanya, Slamet Iman santoso, terkait dengan proses kelahirannya. Beliau dilahirkan dalam keadaan terbungkus ari-ari. Ketika itu, semua penduduk desa heran dan membicarakannya. Beliau dianggap sebagai bayi ajaib. Dipercaya bayi yang lahir terbungkus ari-ari itu kelak akan mempunyai kelebihan. Sangat jarang kelahiran bayi terbungkus ari-ari bisa selamat (menjadi Slamet).

Beliau memang terlahir dari keluarga berpendidikan pada zamannya. Ayahnya seorang Asisten Wedana Banjaran. Di bawah pengasuhan ayahnya, Slamet dibesarkan dengan penanaman nilai-nilai keramahan, saling tolong-menolong dan gotong-royong.

Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia Nyaris mati hanyut di saluran irigasi

Beliau berulangkali mengisahkan berbagai pengalaman masa kecil yang yang amat berkesan baginya. Salah satu pengalaman itu adalah ketika di suatu saat beliau dan anak lain sedang sibuk mencari ucen-ucen. Buah tanaman liar yang sangat manis dan biru warnanya. Eh, tiba-tiba Slamet terpeleset, hampir masuk selokan irigasi.

Namun beliau beruntung, karena anjing Pak Lurah melompat antara Slamet dan tebing selokan tadi, sehingga Beliau tertolong. Beliau dan kawan-kawanya menceriterakan peristiwa itu kepada Ayah-Ibu Slamet. Sang Ayah dengan spontan mengharuskannya memberi makan si Macan (nama anjing tadi Pak Lurah) itu.

Julukan Setan Alas melekat pada Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia

Masa kecil dan remaja anak sulung dari dua bersaudara ini sangat bahagia. Ia ikut kakeknya di Magelang, Jawa Tengah. Saking nakalnya, beliau dijuluki teman-temannya ‘setan alas’.

”Saya senang main ketapel, berburu anjing dan burung,” katanya, sebagaimana dikutip dalam Buku Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986. Beliau bahkan mengaku sekali-kali mengganggu orang.

Masa Sekolah Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia

Masa kecil dan remaja Slamet Iman Santoso diisi dengan mengecap pendidikan pada jaman kolonial Belanda di Magelang. Mulai dari Europeesche Lagere School (ELS), Hollandsch Inlandsche School (HIS (1912-1920) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO (1920-1923).

Kemudian melanjut ke MAS-B, Yogyakarta (1923-1926); Indische Arts, Stovia (1926-1932); dan Geneeskunde School of Arts, Batavia Sentrum (1932-1934).

Beliau pun terkesan sangat mengagungkan pendidikan masa kolonial Belanda itu. Walaupun beliau menyadari kondisi pendidikan ketika itu sangat berbeda dibanding setelah Indonesia merdeka.

Beliau mengenang, pada zamannya bersekolah dulu, sangat diasakan betapa guru sangat begitu memperhatikan murid dan bersatu dengan orang tua murid. Hal yang sudah jarang terjadi saat ini. Masuknya Jepang, menurutnya, memberi andil atas awut-awutannya pendidikan di negeri ini.

Terasa sekali suasana pendidikan zaman Belanda yang terkesan akrabnya hubungan orang tua-murid-guru, tiba-tiba hilang lenyap. Diganti dengan jaman pendidikan Jepang yang mulai awut-awutan. Ironisnya, kondisi ini terus berlangsung sampai sekarang. Beliau memberi beberapa bukti. Di antaranya, sekarang ada guru yang mengasih tahu bahan ujian yang akan diuji kepada murid.

Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia

Beliau meninggalkan tujuh anak, 13 cucu dan delapan buyut. Isterinya, Suprapti Sutejo, sudah terlebih dahulu meninggal pada November 1983. Beliau sebagai perintis dan pendiri Fakultas Psikologi UI juga ikut mendirikan Universitas Andalas, Universitas Sriwijaya, Universitas Airlangga dan Universitas Hasanuddin.

buku slamet iman santoso Bapak Psikologi Indonesia

Motivasi Beliau, merintis dan mendirikan fakultas psikologi, karena sebagai psikiater menemukan banyak masalah yang tidak bisa dipecahkan oleh psikiater.

Dalam bidang profesi kedokteran, beliau menerima penghargaan Wahidin Sodiro Hoesodo dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada tahun 1989.

Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia berdialog dengan penduduk gusuran Istora Senanyan

Sebagai seorang ahli psikologi,tahun 1961, Beliau memimpin sekitar lima puluh mahasiswa Fakultas Psikologi UI. Mereka mengunjungi penduduk yang terkena gusuran pembuatan Istana Olahraga Senayan dan dipindahkan ke daerah Tebet dan Penjaringan.

Kunjungan ini, menjadi awal pogram mahasiswa turun ke lapangan (masyarakat). Bidang studi psikologi pun makin menarik perhatian banyak orang. Masa-masa psikologi mengalami kesulitan (saat psikologi hanyalah sebuah jurusan dalam lingkungan FKUI), seperti sudah terlupakan.

Saat itu, kata Slamet dalam pidato ketika menerima penghargaan bintang jasa Mahaputra Utama III (1973), beliau merasa ibarat seorang yang sedang berdiri seorang diri di tepi pasir yang gersang tanpa pedoman untuk melintasinya sambil mengajak saudara-saudara mengembangkan disiplin ilmu yang baru ini.

Slamet sebagai orang yang sangat tertib, teliti dan juga memiliki wawasan yang sangat luas. Beliau selalu berfikir filosofis meskipun bukan ahli filsafat.

Dalam menguji mahasiswa, Slamet selalu menegaskan jangan menanyakan apa yang kamu ketahui. Tetapi usahakan untuk bertanya apa yang dipahami mahasiswa. Dengan demikian dialog akan terjadi dan mahasiswa dapat mengaktualisasikan dirinya.

Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia adalah tokoh pendidikan yang berani.

Beliau adalah orang pertama mengusulkan perlunya satu standar bagi semua jenjang pendidikan di Indonesia. Usul yang beliau lontarkan sepanjang tahun 1979-1981 ini membuat heboh dunia pendidikan.

Beliau juga orang yang mengkritik keras minimnya gaji guru yang beliau sebut dapat merusak dunia pendidikan. Beliau membandingkan gaji guru jaman Belanda yang dua kali lipat daripada gaji dokter. Sehingga guru tak perlu mencari tambahan dan dunia pendidikan tidak dicampurbaurkan dengan bisnis.

Beliau juga mempunyai andil besar dalam merintis program penerimaan mahasiswa melalui UMPTN. Ketika itu (1979-1980), Slamet menjadi Ketua Komisi Pembaruan Pendidikan Nasional (KPPN, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).

Saat itu terjadi booming lulusan SMA yang ingin masuk Perguruan Tinggi Negeri. Sebagai contoh, UI yang kapasitasnya sekitar 800 mahasiswa tapi jumlah pendaftar 4000 orang. Maka melalui komite yang diketuainya dibentuklah satu sistem penerimaan calon mahasiswa. Sejak 1979 sudah berlangsung dengan nama yang sekian kali berubah. Mulai dari Skalu, Proyek Perintis, Sipenmaru (Sistim Penerimaan Mahasiswa Baru) dan UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).

Pria yang dikenal terus terang dan sempat menjadi Penjabat Rektor UI, ini meskipun sudah mengakhiri jabatan sebagai Ketua Komisi Pembaruan Sistem Pendidikan, 1980, ia masih sempat mengurusi penerimaan calon mahasiswa pada tahun 1981.

Slamet dan para mantan muridnya

Sudah sangat banyak tokoh pendidikan bekas murid Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia (1950-1953) serta mantan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini.

Tidak sedikit mantan muridnya sukses dan menduduki kursi menteri seperti Fuad Hassan, Sujudi, dan Wardiman Djojonegoro. Bahkan Mahar Mardjono (mantan rektor UI), Conny Semiawan (mantan rektor IKIP Jakarta), Saparinah Sadli (Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia) begitu hormat dan mengagumi figur gurunya ini. Dan masih banyak lagi. Di mata para muridnya, Slamet memang dikenal sangat akrab dan suka menularkan pengalamannya kepada mereka.

Salah satu ucapannya dalam acara peringatan 100 tahun Albert Einstein di ruang Rektorat UI, 1979:

”Ciri orang pandai, hal yang ruwet bisa disederhanakan. Sebaliknya orang bodoh akan meruwetkan soal sederhana.”

Mantan Anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1973), ini juga penulis terkemuka. Beliau sering menulis kolom di berbagai media dan juga menulis buku.

Slamet Iman Santoso Bapak Psikologi Indonesia Profesor Jahil dan Aneh

Profesor emeritus Fakultas Psikologi UI ini juga dikenal sebagi tokoh yang jahil dan sering dinilai aneh. Beliau sendiri mengibaratkan diri sebagai Abunawas. Karena, menurutnya, Abunawas itu tokoh penuh akal. Jiwa Abunawas itu pun banyak menyemangati hidupnya.

Dalam buku, Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1985-1986, diceritakan sekali waktu beliau melihat mobil seorang pejabat UI diparkir salah dengan posisi miring di halaman kampus UI. Ia mengambil kertas dan menulisnya dengan spidol: “Barang siapa yang parkir mobil miring, otaknya juga miring”.

Ketika Bung Karno menanyakan pendapatnya mengenai semboyan “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”. Slamet dengan tenang menjawab “Nggak, malah saya gantungkan di cantelan baju. Kalau usang kan bisa diganti.”

Suatu ketika, beliau menyatakan terheran-heran karena ada orang yang dipinjami buku, mengembalikan buku itu dengan utuh. “Baru sekarang saya temukan orang yang saya pinjami buku mengembalikannya dengan utuh,” katanya. Beliau bilang, “hanya orang bodoh yang meminjamkan buku ini. Dan orang yang mengembalikan pun adalah orang gila.”

Hidupnya yang selalu ceria diwarnai canda memberi andil besar atas usianya yang lanjut (97 tahun). Padahal beliau tak senang olah raga, termasuk olah raga pagi. Becanda, beliau bilang: ”Pagi-pagi itu ‘kan hawanya segar. Kok dipakai buat berkeringat, lebih baik dipakai untuk tidur.”

Disusun oleh PSYLine.id Psikologi Online Indonesia yang dirangkum dari berbagai sumber.

Baca juga:

Kumpulan Biografi Psikolog Indonesia yang Terkenal.

Kumpulan Biografi Psikolog Dunia yang Terkenal dengan Karyanya.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Semoga sukses selalu untuk Anda.

Salam Bahagia.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Pengertian Fobia: Kenali gejala dan cara penanganannya.

Tentang Penulis

Bayu Lebond

Seorang yang sok Seniman
Rocker yang sayang keluarga
Pecinta Wayang Jawa
#WhySoSerious

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog