Psikologi Anak: Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong

Diposting: 12 April 2017 | Kategori Artikel: Pendidikan & Anak

Dilihat: 1215 kali.

Penulis: Wulan Arumbi

Memasuki usia 4 tahun atau masa pra sekolah kemampuan anak untuk berargumen dan mengatakan apa yang mereka rasakan berkembang pesat. Pada usia inilah potensi anak berbohong mulai tampak. Apakah hal ini pernah terjadi pada putra-putri Anda? Tenang dan jangan panik. Ada Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong dari PSYLine.id Psikologi Online Indonesia.

Alasan Anak Berbohong untuk mendapat Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong.

Anak-anak adalah peniru yang baik. Bisa jadi bohong adalah hal sering saksikan melalui tontonan, meniru teman sebaya. Atau bahkan kita sebagai orangtua jangan-jangan sering berbohong juga tanpa sadar. Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong.

StatisticBrain.com mengatakan bahwa 60 persen orang-orang berbohong setidaknya sekali dalam percakapan 10 menit.

Baca Juga:

Psikologi Anak: 9 Alasan Mengapa Anak Suka Berbohong

Beberapa alasan berbohong dapat ayah dan bunda simak di bawah ini.

  1. Takut dihukum.

    Sebuah studi menemukan bahwa hukuman justru membuat anak tidak mau mengatakan kebenaran. Hal ini terjadi karena kekhawatiran anak ketika dia mengatakan hal yang sebenarnya, mereka justru akan dihukum.

    Ada pula anak yang semula jujur menjadi berlatih berbohong karena perlakuan orangtua yang menghukumnya saat ia jujur. Karena itulah seringkali anak berbohong karena ia takut kalau berkata jujur akan dimarahi atau mendapatkan hukuman.

  1. Ingin diperhatikan dan dipuji.

    Kebutuhan akan perhatian dan pujian kerap kali membuat anak mengarang cerita tentang dirinya, padahal hal tersebut tidak pernah terjadi.
    Misalnya, anak mengatakan kepada teman-temannya bahwa dirinya berhasil menjuarai suatu lomba. Atau baru dibelikan mainan baru yang mahal, atau akan diajak jalan-jalan ke luar negeri.

  1. Keinginan mendapatkan pengakuan.

    Jika anak bergaul dengan teman-teman yang suka berbohong, ia pun akan bertingkah laku yang sama dengan teman-temannya. Sebab, hanya dengan menunjukkan perilaku yang sama anak merasa dapat diterima oleh kelompoknya.

  1. Tuntutan orangtua yang terlalu tinggi.

    Seringkali orangtua memberi tuntutan yang terlalu tinggi pada anak, sedangkan anak merasa tidak mampu untuk memenuhi tuntutan tersebut. Akibatnya anak pun berbohong untuk membahagiakan dan mendapatkan penerimaan dari orangtua.

  1. Meniru orangtua atau tayangan televisi.

    Anak akan meniru perilaku orang dewasa disekitarnya. Orangtua kadang memberikan alasan dan mengatakan sesuatu yang bersifat bohong untuk menghindari suatu kegiatan di depan anaknya. Hal itu berarti secara tidak sadar orangtua telah memberikan contoh yang buruk kepadanya.
    Ketika anak melihat orangtuanya berbohong atau mengetahui orang-orang yang berbohong dari televisi, anak akan menganggap bahwa berbohong itu boleh dilakukan.

  1. Menutupi kekurangan pada dirinya.

    Anak yang merasa memiliki kekurangan tertentu biasanya akan berusaha menutupi kekurangan tersebut dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan berbicara bohong yang melebih-lebihkan dirinya, yang berkebalikan dengan kekurangan yang dimilikinya.

  1. Daya imajinasi yang sangat tinggi.

    Kadang daya imajinasi yang sangat tinggi membuat anak tidak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan. Ia pun kemudian mengatakan hal-hal yang sebenarnya hanya khayalan belaka.
    Misalnya, anak mengatakan bahwa dirinya bisa melihat hantu atau dapat melakukan berbagai pekerjaan.

  1. Untuk mendapatkan keinginannya.

    Anak mengetahui bahwa dia tidak akan dapat memperoleh apa yang diinginkannya jika bersikap jujur. Oleh karena itu, anak berbohong demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

  1. Melindungi teman.

    Keberadaan teman begitu penting buat anak. Umumnya anak-anak akan selalu berusaha untuk menyenangkan, membantu, atau melindungi temannya. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan berbohong.

Dengan mengetahui alasan-alasan tersebut, maka hendaknya orangtua dapat menciptakan komunikasi yang lebih kondusif, agar mendorong anak untuk belajar jujur. Karena ketika anak berkata jujur, maka permasalahan dapat diselesaikan dengan lebih mudah dan tepat sasaran.

Dengan demikian kita dapat membentuk konsep moral anak menjadi lebih baik, dan berkembang menjadi pribadi yang positif di kemudian hari.

Terlanjur berbohong

Tentu saja, itu tidak berarti berbohong dapat diterima. Sebagai orang tua, kita ingin mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi jujur. Bagaimana kita dapat mengatasinya padahal berbohong tampak tidak dapat dihindarkan?

Perhatikan diri sendiri.

Perhatikan ketika Anda tergoda untuk berbohong. Berusahalah untuk menemukan keberanian moral untuk menjadi lebih jujur. Jika Anda kedapatan berbohong di depan anak Anda, minta maaf. Biarkan dia tahu mengapa Anda berbohong, dan beritahu dia bahwa itu adalah sesuatu yang sedang Anda berusaha untuk hilangkan.

Pahami mengapa anak Anda berbohong, hal ini dapat membantu Anda mencari tahu cara menanganinya.

Pahami tipe anak dalam berbohong dan berikan Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong.

Baca Juga:

Psikologi Anak: 5 Tipe Anak yang Suka Berbohong

  1. Si pengkhayal.

    Si pengkhayal punya imajinasi nyata dan punya bakat untuk menjadi pendongeng hebat. Dia terkadang berpikir ceritanya akan menjadi sedikit lebih baik jika dia membuatnya seolah-olah nyata.
    Tentu saja, Anda tidak ingin mematikan imajinasinya. Jadilah antusias tentang cerita-ceritanya, dan berikan pujian kepadanya atas imajinasinya dan kemampuan mendongengnya yang luar biasa.
    Dengan lembut beritahu dia bahwa Anda tahu ada yang dia lebih-lebihkan, dan itu tidak apa-apa. Biarkan dia tahu bahwa dia punya bakat hebat dalam menceritakan “cerita imajinasi” dan doronglah dia untuk terus berbagi dengan Anda.
    Dia mungkin akan merasa agak malu karena kedapatan berbohong, tetapi jangan mempermalukannya.\

  2. Si penghindar.

    Si penghindar benci konfrontasi – terutama jika itu berarti dia mungkin akan kena masalah. Anak-anak akan sering berbohong untuk menghindari hukuman. Meskipun itu hal yang normal, kita ingin anak-anak kita mampu bertanggung jawab atas tindakan mereka.

    Perhatikan metode pengasuhan Anda. Apakah Anda sangat bergantung pada hukuman fisik atau berteriak untuk memberitahu anak-anak bahwa Anda sedang marah?

    Jika anak-anak benar-benar takut pada Anda, maka akan sulit bagi mereka untuk mengatasi kebohongan seperti ini. Namun, jika Anda lebih berfokus pada disiplin berbasis konsekuensi, maka Anda dapat mengajarkan anak-anak bahwa mereka mampu mengatasi konsekuensi dari perilaku mereka.

    Berikan anak Anda konsekuensi atas kesalahannya, dan konsekuensi lain atas kebohongannya.

  3.  Si tak mau kalah.

    Anda tahu siapa dia. Setiap kali ada yang punya cerita bagus, dia harus punya cerita yang lebih baik. Melebih-lebihkan cerita untuk mengesankan teman-teman biasanya tidak berakhir baik. Tidak hanya itu tidak jujur, tetapi itu dapat membuat anak Anda semakin tidak disukai.
    Bantulah anak Anda mengatasi kebohongan seperti ini. Bangunlah rasa percaya dirinya dengan berfokus pada hal-hal yang dapat dia lakukan dengan baik. Pastikan untuk tidak membanding-bandingkannya dengan orang lain.

    Ajarkan dia untuk berbahagia atas prestasi orang lain. Tunjukkan kepadanya bahwa tidak apa-apa jika ada teman yang lebih baik daripada dia dalam beberapa hal. Dia akan menjadi lebih baik daripada teman-temannya dalam hal-hal lain.

  4. Si tukang pura-pura.

    Si tukang pura-pura adalah ahli dalam berpura-pura sakit perut atau flu. Gejalanya biasanya timbul sesaat sebelum ujian sekolah atau peristiwa besar lainnya yang membuatnya takut.
    Pertama, cari tahu apakah ada alasan nyata untuk rasa takutnya. Apakah dia merasa terintimidasi? Anda mungkin perlu bertemu dengan gurunya untuk membahas cara-cara menghentikan intimidasi dan membantu anak Anda membela dirinya sendiri.

    Anda juga dapat meminta bantuan dari teman-teman anak Anda. Jika anak Anda tidak dalam bahaya nyata, ajarkan dia untuk mengatasi rasa takutnya. Berikan dia kesempatan untuk membangun rasa percaya diri dan mandiri di rumah.

    Berfokuslah pada hal-hal positif dari peristiwa yang dia takuti. Ingatkan dia tentang keberhasilannya di masa lalu ketika mengatasi rasa takut, dan betapa bangganya dia ketika dia mencapai keberhasilan itu. Biarkan dia tahu bahwa Anda percaya padanya dan akan selalu ada untuknya.

    Perhatikan juga diri dan perasaan Anda sendiri. Jika Anda mengkhawatirkan anak Anda, Anda mungkin secara tidak sadar menyampaikan kecemasan itu kepadanya. Anak Anda lebih kuat dan lebih tangguh daripada yang Anda pikirkan.

  5. Si pemuas.

    Si pemuas ingin membuat semua orang bahagia dan tidak ingin mengecewakan Anda. Ketika membesarkan seorang pemuas, hindari menyebutnya “baik” atau “buruk” berdasarkan perilakunya.
    Biarkan anak Anda membuat kesalahan. Beritahu dia bahwa semua orang melakukan kesalahan, dan itu adalah cara penting untuk belajar. Biarkan dia tahu bahwa Anda akan selalu mengasihinya tanpa syarat, dan bantulah dia belajar dari kesalahannya.

Jadi, mungkin kita semua berbohong. Tetapi kita semua sedang berusaha mengatasinya. Memahami anak Anda dan alasan mengapa dia berbohong akan membantu Anda mengatasinya bersama-sama.

Kebohongan Ada Batasnya.

Psikolog dan pembimbing pengasuhan asal Vermont-Amerika Serikat, Vicki Hoefle, memberikan gambaran tentang batas-batas bohong yang dapat diterima dan yang merusak.

“Anak berusia 5 hingga 7 tahun saja siap untuk menerima kebenaran. Bahkan untuk sebuah penjelasan apakah Sinterklas benar-benar ada,” ujarnya.

Dalam usia 7 tahun, anak juga dapat menilai bahwa kebohongan itu menyakitkan. Oleh karena itu, para orang tua sebaiknya tak sembarang berbohong hanya karena tak ingin anaknya merengek atau ngambek. Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong.

“Sekali anak menguak kebohongan orang tua hingga menyakiti hatinya, ia akan memukul rata dan menganggap orang tuanya adalah pembohong. Bahkan dapat saja ia menganggap bahwa orang tuanya tak benar-benar menyayanginya.” ujar psikolog dan ahli pola asuh asal Kanada, Alyson Schafer.

Satu hal lagi yang perlu digarisbawahi orang tua:

“Jangan pernah berbohong hanya karena Anda malas menjawab jujur.”

Bahkan, ketika Anda ditanya tentang hal sensitif oleh anak, seperti alat reproduksi atau perceraian, upayakan untuk tetap menjawab jujur. Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong.

Menurut Alyson, kebohongan semacam ini sebenarnya bukan demi kebaikan anak. Tapi hanya kemalasan orang tua untuk menjawab sesuai sudut pandang dan pemahaman anak.

Mengoreksi Kebohongan menjadi Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong.

Saat anak menguak kebohongan orang tuanya, jangan segan untuk mengoreksi kebohongan yang sudah terbongkar. Anda mungkin pernah berbohong pada anak dan pada akhirnya terkuak, namun ini bukanlah kesalahan yang tak bisa dikoreksi.

“Sebelum anak mendapat kesan yang salah, bahwa bohong itu sah-sah saja dilakukan, orang tua perlu mengoreksinya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengakui secara berani bila Anda berbohong,” ujar Alyson.

Cara terbaik mengakuinya adalah mengatakan pada anak bahwa sebagai manusia Anda juga melakukan kesalahan. Anda telah memilih jalan yang kurang berani dan setelah ini Anda bersedia untuk melakukan hal yang lebih baik. Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong.

Setelah membuat pengakuan, cobalah berkomitmen dengan tak mengulang melakukan kebohongan dan memenuhi janji Anda.

“Mengakui kesalahan dengan lapang dada adalah keterampilan pengasuhan yang sangat penting,” pesan Alyson.

Baca Juga:

Psikologi Anak: 5 Hal yang harus dilakukan Orangtua agar anak tidak suka berbohong

Berbohong tetap merupakan perbuatan yang kurang baik. Kebohongan yang kita lakukan tanpa sengaja akan membekas dan ditiru anak. Oleh karena itu minimalkan dan apabila kita terpaksa melakukannya. Berikan penjelasan yang bijak kepada anak supaya buah hati kita tahu kalau berbohong itu tindakan yang baik.

Ayah dan bunda, tetaplah bersemangat menjadi orangtua terbaik, ya!

Salam bahagia.

PSYLine.id Psikologi Online Indonesia

Bila Anda ada permasalahan yang sama dengan Hal yang harus dilakukan Orangtua agar anak tidak suka berbohong. Dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Jangan Takut! Data diri dan latar belakang Anda terjamin 100% kerahasiannya.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Victims dan Survivors Dalam Proses Downsizing.

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog