Apa itu Trauma? Apakah Brainspotting merupakan Terapi Ampuh Atasi Trauma?

Diposting: 14 April 2017 | Kategori Artikel: Klinis & Kepribadian

Dilihat: 2378 kali.

Penulis: Ine Indriani, M.Psi, Psikolog

Menurut American Psychology Association (2013), trauma merupakan  respon emosi terhadap kejadian yang mengerikan / buruk. Contoh kasus seperti kecelakaan, perkosaan atau bencana alam. Setelah kejadian, langsung menimbulkan shock atau menyangkal. Apa itu Trauma? Apakah Brainspotting merupakan Terapi Ampuh Atasi Trauma?

Reaksi jangka panjang yang terjadi: emosi yang tidak terprediksi, flashback, ketegangan dalam relasi. Bahkan menimbulkan gejala fisik, seperti sakit kepala dan mual.

Sebagian merasa hal ini dianggap sebagai kondisi normal. Sementara ada individu yang merasa sulit untuk menghadapi hal tersebut di dalam kehidupan mereka.

Penyebab Trauma.

Penyebab trauma ada berbagai macam. Bisa dalam kehidupan sehari-hari ataupun pada kejadian yang besar.

Contoh kasus penyebab trauma:

  • bencana alam
  • kecelakaan
  • kejahatan
  • sexual abused
  • emotional abused
  • pengalaman diabaikan oleh orangtua
    ayah, ibu, guru, orang terdekat atau berpengaruh lainnya
  • perubahan dinamika keluarga
  • bullying
  • pindah
  • menyaksikan kejadian traumatis
  • kehilangan orang yang dicintai
  • operasi
  • dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kejadian yang membuat trauma biasanya merupakan hal yang tidak diharapkan. Korban tidak siap terhadap kejadian. Korban merasa tidak ada yang bisa dilakukan untuk mencegah kejadian dan pengalaman tersebut dianggap menakutkan.

Namun mengapa suatu kejadian dapat menimbulkan trauma bagi seseorang, tapi tidak menimbulkan trauma bagi yang lain? dan apa Terapi Ampuh Atasi Trauma?

Sebagian Korban merasa hal ini dianggap sebagai kondisi normal dan tidak menimbulkan trauma baginya. Sementara ada individu yang merasa sulit untuk menghadapi hal tersebut di dalam kehidupan mereka.

Sebagai contoh:

Seseorang yang memiliki pengalaman dipermalukan oleh atasan saat rapat berlangsung. Kejadian tersebut membuat ia menjadi takut atau rendah diri.

Sementara, kejadian yang sama menimpa karyawan lain. Namun kejadian itu tidak membuat dia takut dan rendah diri.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Trauma.

Ada 4 faktor yang mempengaruhi trauma. Factor-faktor itu berupa:

  1. Faktor prekejadian:

    • Trauma yang terjadi sebelumnya.
    • Kemampuan mengatasi masalah (coping skills) yang dimiliki seseorang sebelum kejadian.
    • Ketidakstabilan keluarga.
    • Sejarah keluarga.
    • Stres atau masalah emosi yang pernah terjadi sebelumnya.
    • Ada tidaknya dukungan keluarga.
    • Kejadian yang terjadi di masa kecil / remaja.
  2. Faktor kejadian:

    • Letak geografis tempat kejadian.
    • Level kejadian.
    • Makna kejadian bagi korban.
    • Jumlah kejadian.
    • Durasi kejadian.
  3. Post kejadian:

    • Ada tidaknya dukungan (support system).
  4. Karakter personal:

    • Kekuatan fisik dan emosi individu.
    • Motivasi untuk mengatasi trauma.
    • Ada tidaknya sikap optimis.

Bagaimana mengatasi trauma?

Penulis, Psikolog Klinis Ine Indriani, mengatakan ada kaitannya antara trauma dan otak. Memori yang berkaitan dengan kejadian traumatis. Seperti kekerasan saat masa kanak-kanak atau kejadian lainnya. Hal itu membuat otak kewalahan.

Dalam seminar Brainspotting ‘Healing Through Your Eyes’ di Rumah Sakit Mata Jakarta Eye Center (JEC) Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu, 25 Maret 2017, Penulis mengatakan:

“Sehingga, otak langsung menekan atau menyimpan ke dalam bagian otak subkortikal,”.

Penulis menjelaskan, peneliti menyakini proses ‘state-dependent learning’ bertanggung jawab dalan membentuk urutan memori yang tidak dapat diakses oleh alam sadar. Proses ini dapat dimunculkan dengan suasana hati atau rangsangan tertentu.

“Untuk membantu Korban mengatasi trauma, Korban perlu kembali ke situasi yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Dengan cara mengakses subkortikal.”

Cara ini kemudian diaplikasikan dalam brainspotting Terapi Ampuh Atasi Trauma.

Penulis menjelaskan brainspotting adalah psikoterapi yang mengandalkan mata untuk masuk ke area bawah sadar subkorteks.

Penulis yang juga menjadi therapist dan trainer Brainspotting Indonesia.

Brainspotting langsung mengakses subkortek, memori bawah sadar, dan lebih cepat.

“Jadi, tidak hanya mengandalkan bahasa, brainspot lebih cepat dan lebih dalam.”

Tak hanya trauma, brainspotting juga dapat mengatasi seseorang yang memiliki pengalaman negatif, emosi negatif, dan pengalaman yang tidak nyaman. Kurang percaya diri juga bisa.

Satu kali sesi brainspotting menghabiskan waktu sekitar 45-60. Namun ada yang satu sesi masalahnya sudah teratasi (pulih traumanya). Namun ada pula yang beberapa sesi. Semua itu tergantung masalahnya yang dihadapi Korban.

Demikianlah artikel tentang Apa itu Trauma dari PyLine.id Psikologi Online. Semoga artikel singkat ini dapat berguna bagi kita semua.

Salam Bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: Penyebab Anak Marah dan Cara Menanganinya.

Tentang Penulis

Ine Indriani, M.Psi, Psikolog

Clinical Psychologist
Ego State therapist
Coach & Trainer
Talents Mapping Trainer & Practitioner
Parent Child Interaction Therapy (*in process for therapist certification)
Interested to trauma and performance
Interested to parents-child relationship and communication

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog