Tips Psikologi: Cara Interview Narasumber yang Lebih Senior

Diposting: 9 September 2017 | Kategori Artikel: Karir & Perusahaan

Dilihat: 838 kali.

Penulis: Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Beberapa Cara Interview Narasumber yang Lebih Senior. Setelah menemukan Narasumber, yang pastinya lebih senior, sedapat mungkin mintalah waktu khusus untuk bertemu. Meskipun hanya setengah jam. Nah yang jadi masalahnya adalah kadang kita tidak tau cara Interview Narasumber yang Lebih Senior.

Jangan ragu atau malu untuk menginformasikan tujuan ‘interview‘ kamu. Jangan sebelum bertemu kamu hanya mengatakan, “Ingin ngobrol-ngobrol saja”. Yang ada, sang Narasumber jadi bertanya-tanya apa maksud kamu dan akhirnya malah malas bertemu.

Lebih baik nyatakan dengan jelas bahwa kamu tertarik untuk masuk ke pekerjaan/bidang kerjanya. Serta Kamu ingin mendapatkan informasi dari “orang dalam/senior/ahlinya” yang telah “sukses” di bidangnya.

Dengan begini, sang Narasumber bisa merasa dihargai dan dengan senang hati menanggapi anak muda yang serius. Anak muda yang ingin mengenal pekerjaan dan dunianya.

Tips Cara Interview Narasumber yang Lebih Senior

Berikut Tips Cara Interview Narasumber yang lebih senior dari kita. Berikut caranya:

  1. Siapkan pertanyaan sebelum bertemu

    Terkadang bila sudah asyik mengobrol kesana kemari, kita bisa lupa tujuan mencari informasi. Sebaliknya, bila waktu Narasumber terbatas, kita bisa langsung bertanya hal-hal yang penting. Jangan bertele-tele.

    Menyiapkan daftar pertanyaan akan membantu kamu menggali informasi secara efektif.

    Just in case kamu belum terpikir, berikut ini usulan beberapa pertanyaan yang bisa kamu tanyakan kepada Narasumber. Tentu saja ini hanya poin-poin umum:

    • Apa yang diperlukan untuk sampai ke posisi Anda sekarang?
      Pendidikan, pengalaman, keterampilan, kepribadian, training, dan lain-lain.
    • Apakah ada pengecualian?
    • Seperti apa umumnya perjalanan karir seseorang di bidang ini?
    • Bagaimana perjalanan karir Anda sendiri, dari awal sampai sekarang?
    • Apa suka dukanya bekerja di pekerjaan/bidang ini?
    • Apa yang paling menarik/menyenangkan/memuaskan dari pekerjaan Anda?
    • Apa bagian yang paling sulit?
    • Bagaimana rutinitas kerjanya?
    • Bagaimana waktu kerjanya?
    • Bagaimana lingkungan kerjanya?
    • Seperti apa orang-orang yang ditemui?
    • Masalah apa yang biasa/seringkali ditemui?
  2. Tanyakan dulu hal-hal positif, baru kemudian yang negatif

    Suka dulu, baru duka.

  3. Jangan menjadi pesaing

    Terkadang kamu juga perlu berhati-hati bila ada kemungkinan kamu dianggap sebagai saingan atau ‘calon kompetitor’ oleh sang Narasumber. Hal itu tentu saja bakalan bikin beliau ini enggan memberikan informasi.

    Bisa jadi kamu perlu mencari orang dengan pekerjaan dan bidang kerja yang sama, namun di wilayah atau kategori yang berbeda. Sehingga Narasumber tidak akan menganggap kamu sebagai ‘ancaman’ yang bisa mengambil lahan. Atau peluang bisnis atau kesempatan kerja mereka.

  4. Jangan sampai terkesan ‘manipulatif’

    Memanfaatkan kesediaan sharing Narasumber untuk kepentingan lain, sehingga bikin beliau ini kapok atau ‘ilfil’ (‘ilang feeling’). Beliau akan menganggap kamu hanya mencari-cari alasan untuk mendapatkan waktunya.

    Sejak awal, niatkan kesempatan ini betul-betul untuk mendapatkan wawasan yang benar. Wawasan tentang pekerjaan dan dunia kerja mereka, tanpa embel-embel. Misalnya, meminta untuk dimasukkan ke perusahaan tersebut, atau ujung-ujungnya menawarkan barang jualan.

    Tentu saja ada pengecualian. Yaitu bila setelah berbicara, mereka sendiri yang tertarik dan menawarkan kamu peluang untuk masuk ke sana.

Bisa jadi kamu kesulitan menemukan Narasumber yang betul-betul pas dengan yang kamu maksud. Terlebih, jika bidang atau pekerjaan yang jadi visi kamu memang sesuatu yang baru. Paling tidak di daerah kamu. Untuk itu kamu bisa melakukan media searching untuk melebarkan jangkauan pencarian kamu.

Cara lain, kamu bisa mencari orang-orang dalam bidang kerja yang ingin kamu masuki (meskipun pekerjaannya berbeda). Atau orang-orang yang mengerjakan apa yang kamu ingin kerjakan (meskipun bidangnya berbeda).

Misalnya, katakanlah, kamu ingin menjadi seorang event organizer yang menyelenggarakan kegiatan seputar otomotif, yang belum ada di daerahmu. Kamu dapat mewawancarai event organizer yang ada meskipun bukan penyelenggara kegiatan otomotif. Misalnya event organizer untuk acara-acara kantor atau pesta. Kamu juga bisa mewawancarai orang-orang yang bergerak di bidang penjualan otomotif. Dari sini kamu bisa menggabungkan insight yang diperoleh.

Demikianlah Artikel Cara Interview Narasumber yang ditulis untuk PSYLine.id Psikologi Online Indonesia. Namun bila kamu bingung dengan Cara Interview Narasumber, segera hubungi Pikolog Profesional PSYLine.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Salam bahagia.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Profil Psikolog Indonesia: Niniek L Karim Psikolog Peraih Piala Citra.

Tentang Penulis

Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia,
Magister Business Management dari IPMI International Business School
Konsultan, Trainer, Asesor, Konselor, Aktivis Sosial
Ibu yang bangga dari 3 anak keren, life-long learner & penikmat seni.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog