Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Menguji Visi

Karir & Perusahaan | 316 Views

Tips Psikologi Perencanaan Karir: Menguji Visi yang Hakiki

11 September 2017 | Penulis: Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Sekarang, setelah kamu memiliki visi profesional, sebelum kamu lari mengejar karir impian kamu, kamu perlu ‘mempertanyakan’ lagi visi kamu. Untuk menguji visi apakah yang kamu idamkan itu adalah sesuatu yang betul-betul ingin kamu raih.

Something you hold dearly to your heart.

Bacalah kembali visi yang telah kamu susun. Kemudian tanyakan pada diri sendiri:

  • ”Apa jadinya diri dan hidup saya jika saya tidak mencapai ini?”
  • “Apa yang akan saya rasakan bila saya menghabiskan hidup saya dengan menempuh jalan yang berbeda dan tidak melakukan ini?”
  • “Kalau saya meninggalkan dunia ini tanpa bisa meraihnya, akan menyesalkah saya?”

Sobat, jangan sampai kamu terjebak pada ‘ambisi semu’. Awalnya merasa yakin bahwa kamu telah menetapkan karir impian kamu. Pasti dengan alasan-alasan yang menurut kamu sangat bagus. Ternyata, setelah tahun-tahun penuh kerja keras dan kepontang-pantingan, apa yang kamu capai bukanlah sesuatu yang sangat kamu inginkan.

Kamu merasa “It’s not worth it“. Atau “Tanpa ini semua pun aku tidak apa-apa”. Atau “Cuma seperti ini sajakah akhirnya?”.

Sungguh ironis kalau kamu mendaki anak tangga yang ternyata berada di dalam gedung yang salah.

Kamu berjuang untuk sesuatu, yang pada akhirnya, setelah kamu sampai di puncaknya, ternyata tidak membuat kamu bahagia dan fulfilled. Sementara proses perjalanannya telah membuat kamu susah payah. Dan yang lebih parah, mengorbankan hal-hal yang justru sangat berharga. Seperti: keyakinan, keluarga, relationships, kesehatan, masa muda.

What could possibly be worse than that? 

Menguji Visi yang Hakiki

Ada dua hal lain yang perlu kamu pahami untuk menguji visi yang Hakiki kamu.

  1. Pahami Alasan Dasarnya

    Kamu perlu memahami alasan mendasar di balik segala yang kamu inginkan. Bahasa kerennya ‘basic motive’ kamu.
    Mengetahui passion dan sense of purpose, mengenali apa yang betul-betul penting dan bermakna bagi kamu. Seperti yang telah kita bahas sebelumnya, bisa membantu kamu untuk memahami ‘basic motives‘ kamu ini.

    • Mengapa ingin menjadi direktur perusahaan multi nasional?
    • Mengapa mau jadi pengacara kondang dan kaya raya?
    • Mengapa berambisi jadi penyanyi papan atas?
    • Apa pentingnya memiliki bisnis dan menjadi pengusaha sukses?
    • Mengapa harus punya rumah di cluster mewah atau BMW seri terbaru?
    • Apa tujuannya sekolah hingga meraih gelar S3? Apa tujuannya kalau sudah berhasil menyimpan uang 100 milliar?

    Jawablah pertanyaan “mengapa”, “apa pentingnya” dan “apa tujuannya” ini lagi, lagi, lagi, dan lagi, dan lagi. Ada teori yang menyarankan minimal lima kali bertanya ‘mengapa’ untuk sampai ke akar masalahnya. Sampai kamu paham alasan mendasar yang membuat kamu mengidamkan karir impian kamu itu. Memahami “basic motive” kamu akan memberi akar yang kokoh sebagai dasar karir kamu.

  2. Pastikan Visimu adalah Tujuan Sejatimu

    Kamu juga perlu memastikan, apakah visi yang mau kamu capai adalah “the real goal” (tujuan sejati). Ataukah sebenarnya adalah “atribut” atau “tujuan antara” saja.

    Jangan sampai kamu terjebak mengejar atribut, namun mengabaikan the real goal-nya. Atau merasa sudah sampai di puncak, padahal baru sampai di lereng tujuan saja.

    Lambang kesuksesan biasanya berupa:

    • Uang atau harta,
    • jabatan,
    • gelar,
    • popularitas,
    • fasilitas,
    • gaya hidup,
    • penampilan,
    • properti seperti rumah,
    • apartemen,
    • kendaraan,
    • atau barang-barang mewah dan bermerek.

    Hal itu memang biasa dipakai untuk melambangkan kesuksesan, sehingga sering dijadikan ukuran, terlebih di dunia yang orientasinya serba materi ini.

    Hal-hal tersebut memang bisa menambah kepercayaan diri, membuat pemiliknya merasa bangga dan sukses di hadapan orang lain. Yang lebih penting dapat memberikan pemiliknya lebih banyak pilihan dalam hidup.

    So, they do matter and valuable.

    Yang perlu diingat, semua itu adalah ‘atribut’, yang bisa menyertai kesuksesan sejati; atau ‘tujuan antara’, yang dapat mengantarkan kepada the real goal, namun bukan merupakan tujuan sejatinya.

    Boleh saja memasukkan ‘simbol-simbol kesuksesan’ itu di dalam visi profesional kamu, bahwa itu semua adalah “atribut” atau “tujuan antara” semata. Dengan fokus yang jelas pada “the real goal”-nya.

Menguji visi seperti ini bisa kamu lakukan di setiap tahap. Boleh juga dilakukan berulang kali sepanjang perjalanan karirmu. Hal itu untuk mengecek apakah kamu telah, dan tetap, berada di jalur yang memang ingin kamu tuju.

Menguji Visi: Your Vision is Your Guiding Star, Not Your Master

Your vision is your guiding star. Sepanjang perjalanan karir, dari waktu ke waktu kamu akan perlu mengakses dan ‘berkonsultasi’ dengan visi kamu. Saat menentukan pilihan, membuat keputusan, menyelesaikan masalah, menyikapi persoalan, perubahan, kegagalan, maupun keberhasilan.

Jadi pastikan kamu dapat mengingat dan mengaksesnya dengan mudah kapan saja.

Agar mudah mengaksesnya:

  • Ada yang menyimpannya di dalam laptop atau tablet,
  • menempelnya di dinding kamar atau meja kerja,
  • menuliskan dalam kartu-kartu dan menyimpannya di dompet atau tas kerja.

Agar lebih mudah mengingatnya, Ada yang membuat ‘tagline‘. Atau semacam slogan atau keywords, atau menggunakan simbol-simbol atau gambar. Tentu saja, sekedar tagline, slogan atau simbol tidak dapat menggantikan visi yang terumuskan dengan baik. Karena yang penting adalah proses berpikir di belakangnya.

Perlu diingat juga, visi bukanlah “doktrin” yang baku atau harus diikuti secara kaku.

Menguji Visi: Your vision is not your master. Its purpose is to serve you.

Jadi jangan pernah merasa terpenjara oleh visi yang kita buat sendiri.

Lihatlah visi itu seperti bintang yang memandu kita dalam pengembaraan di rimba belantara yang tak berpetunjuk. Bintang itu mencegah kita tersesat dan membantu menentukan arah yang tepat. Serta memberi tahu apakah kita bergerak mendekat atau menjauh dari impian kita.

Tapi tidak pernah memaksa kita untuk terus mengikutinya. Bisa jadi, hal terbaik datang di luar rencana dan perkiraan kita. Bisa juga justru bisa mengantarkan kita lebih cepat menuju tanah impian.

Envision your goals clearly, and still keep an open mind and an open heart. For best things are still waiting to happen.

Baca juga:

Cara Menguji Visi yang Kita Punya.

Bingung dengan Cara Menguji Visi yang Hakiki yang Kita Punya? Segera hubungi PSYLine.id Psikologi Online Indonesia untuk konsultasi Psikologi dengan Pikolog Profesional PSYLine.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Salam bahagia.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Tips Psikologi: Cara Interview Narasumber yang Lebih Senior.

Tentang Penulis

Hesti Nur Lestari, S.Psi, MM, Psikolog.

Psikolog lulusan Universitas Indonesia,
Magister Business Management dari IPMI International Business School
Konsultan, Trainer, Asesor, Konselor, Aktivis Sosial
Ibu yang bangga dari 3 anak keren, life-long learner & penikmat seni.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan