Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia pelopor psikologi Islam

Diposting: 18 Agustus 2017 | Kategori Artikel: Biografi Psikolog

Dilihat: 3012 kali.

Penulis: Bayu Lebond

Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia dan pakar psikologi Islam. Berkarier di Departeman Agama Indonesia sejak 1964. Beliau juga sebagai pendidik dan guru besar ilmu psikologi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

  • Tempat, Tanggal Lahir:
    Jorong Koto Marapak, Nagari Lambah, Ampek Angkek, Agam, Sumatera Barat, 6 November 1929.
  • Wafat:
    Di Jakarta, 15 Januari 2013.

Karya Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia

  • Ilmu Jiwa Agama
  • Kesehatan Mental dalam Al-Qur’an
  • Ketenangan dan Kebahagiaan dalam Keluarga
  • Membina Nilai-nilai Moral di Indonesia
  • Menghadapi Masa Menopause
  • Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental
  • Pendidikan Akhlak dalam Al-Qur’an
  • Perawatan Jiwa untuk Anak-anak
  • Problema Remaja di Indonesia

Penghargaan-Penghargaan Yang Diterima Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia

  • Medali Ilmu Pengetahuan
    Dari Presiden Mesir (Gamal Abdul Naser) atas prestasi yang dicapai dalam studi/penelitian untuk mencapai gelar doktor. Tahun 1965.
  • Tanda kehormatan “Order of Kuwait Fourth Class”
    Dari pemerintah kerajaan Kuwait (Amir Shabah Sahir As-Shabah) atas perayaannya sebagai penerjemah bahasa Arab. Tahun 1977.
  • Tanda Kehormatan Bintang “Fourth Class Of The Order Mesir”
    Dari presiden Mesir (Anwar Sadat) atas perayaannya sebagai penerjemah bahasa Arab. Tahun 1977.
  • Penghargaan Presiden RI Soeharto
    Atas peran dan karya pengabdian dalam usaha membina serta mengembangkan kesejahteraan kehidupan anak Indonesia. Tahun 1988.
  • Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya Satya tingkat I
    Tahun 1990:
  • Tanda kehormatan Bintang Jasa Utama
    Sebagai tokoh wanita/Guru Besar fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tahun 1995.
  • Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya Satya 30 tahun atau lebih
    Tahun 1996.
  • Tanda Kehormatan Bintang Jasa Putera Utama
    Sebagai Ketua Majelis Ulama Tahun 1999.

Masa Kecil Zakiah Daradjat

Ayahnya, Haji Daradjat Husain aktif dalam pergerakan Muhammadiyah sementara ibunya, Rafiah adalah anggota Sarekat Islam. Beliau adalah anak tertua dari 11 bersaudara, termasuk lima adik lain ibu. Sejak kecil Zakiah Daradjat telah ditempa pendidikan agama yang kuat.

Kiah, panggilan masa kecilnya, sudah dibiasakan oleh ibunya untuk menghadiri pengajian-pengajian agama dan dilatih berpidato oleh ayahnya. Sebelum Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia terkenal.

Pada usia tujuh tahun, Zakiah sudah mulai memasuki sekolah. Pagi beliau belajar di Standard School Muhammadiyah dan sorenya belajar lagi di Diniyah School. Semasa sekolah beliau memperlihatkan minat cukup besar dalam bidang ilmu pengetahuan dan agama.

Saat masih duduk di bangku kelas empat SD, beliau berpidato pertama kali di hadapan guru dan kakak kelasnya. Beliau mendapat tugas dari gurunya waktu itu untuk berpidato pada acara perpisahan sekolah.

Setelah tamat pada 1941, Zakiah masuk ke salah satu SMP di Padang Panjang sambil mengikuti sekolah agama di Kulliyatul Muballighat, kursus calon mubalig. Ilmu-ilmu yang diperolehnya dari Kulliyatul Mubalighat kelak ikut mendorongnya untuk menjadi mubalig.

Pada tahun 1951, beliau menamatkan pendidikan SMA di Bukittinggi. Sebelumnya, beliau pernah belajar di Sekolah Asisten Apoteker, tetapi tidak diteruskannya akibat Agresi Militer Belanda II yang diikuti pembumihangusan Bukittinggi.

Setelah itu, beliau meninggalkan kampung halamannya menjalani pendidikan tinggi di Yogyakarta. Beliau mendaftar dan lulus di dua perguruan tinggi dengan fakultas yang berbeda. Yaitu:

  • Fakultas Tarbiyah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta.
  • Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII).

Namun, setelah tahun ketiga, beliau meninggalkan kuliahnya di UII atas saran orangtuanya untuk fokus pada salah satu jurusan.

Pendidikan Zakiah Daradjat di Mesir

Pada tahun 1956, Zakiah mendapat tawaran beasiswa ikatan dinas dari Departemen Agama untuk kuliah ke Mesir, seiring kerja sama pemerintah Indonesia dengan Mesir. Beliau diterima di Fakultas Pendidikan Universitas Ain Shams, Kairo tanpa tes untuk program S-2.

Sebagai satu-satunya mahasiswa perempuan dari Indonesia, kepergian Zakiah dan restu orangtuanya dianggap sebagai keputusan revolusioner.

Tesisnya tentang problema remaja di Indonesia mengantarnya meraih gelar magister pada tahun 1959. Setahun sebelumnya mendapat diploma pasca-sarjana dengan spesialisasi pendidikan. Tesis ini mendapat sambutan dari kalangan terpelajar di Kairo waktu itu. Tesis itu pula menjadi sebagai rujukan dan bahan pemberitaan.

Pada saat Zakiah belajar, bidang psikologi tidak banyak ditekuni oleh pelajar Islam. Perkembangan ilmu psikologi didominasi oleh psikoanalisis Sigmund Freud. Yang mendudukkan alam tak sadar sebagai faktor penting dalam kepribadian manusia.

Zakiah mengenalkan metode non-directive dari Carl Rogers yang baru mulai dirintis dan diperkenalkan oleh universitas. Beliau mengajukan disertasi mengenai psikoterapi model non-directive dengan fokus psikoterapi bagi anak-anak bermasalah. Usulannya ini mendapat persetujuan pihak universitas.

Sambil membagi waktu menyelesaikan kuliah S-3 di universitas yang sama, beliau mulai membuka praktik konsultasi kejiwaan di almamaternya. Beliau juga mengajar bahasa Indonesia di Kairo. Beliau menjabat sebagai Kepala Jurusan Bahasa Indonesia di Higher School for Language.

Pada tahun 1964, dengan disertasi tentang perawatan jiwa anak, beliau berhasil meraih gelar doktor dalam bidang psikologi. Dengan spesialisasi psikoterapi dari Universitas Ain Shams.

Penelitian disertasinya mendapatkan penghargaan dari Presiden Mesir Gamal Abdul Nasir. Berupa “Medali Ilmu Pengetahuan” yang diberikan pada upacara Hari Ilmu Pengetahuan Mesir 1965.

Karier Zakiah Daradjat

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor di Mesir pada 1964, Zakiah membagi waktu bekerja dan membuka praktik konsultasi psikologi. Beliau pernah dipercaya sebagai Direktur Pendidikan Agama dan Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam. Disana beliau bertanggung jawab atas kebijakan dan eksistensi lembaga-lembaga pendidikan Islam.

Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1964, Zakiah merintis karier di Departemen Agama sebagai pegawai Biro Perguruan Tinggi. Beliau juga mengajar sebagai dosen keliling untuk perguruan tinggi agama Islam negeri Indonesia.

Pada 1967, Zakiah diangkat sebagai Kepala Dinas Penelitian dan Kurikulum Perguruan Tinggi di Biro Perguruan Tinggi, Kementerian Agama.

Sejak 1972, beliau menjabat sebagai Direktur Pendidikan Agama sampai tahun 1977. Tahun 1977 Beliau menjabat sebagai Direktur Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam sampai Maret 1984. Setelah itu, beliau secara resmi menjadi dekan Fakultas Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Selama berkarier di birokrasi pemerintahan, Zakiah beberapa kali diminta sebagai penerjemah bahasa Arab sewaktu Presiden Soeharto berkunjung ke beberapa negara Timur Tengah. Keahlian ini mengantarnya meraih tanda kehormatan “Order of Kuwait Fourth Class” dari Kerajaan Kuwait pada 1977. Dan penghargaan serupa dari Mesir “Fourth Class Of The Order Mesir” dari Presiden Anwar Sadat.

Beliau duduk di Dewan Pertimbangan Agung periode 1983–1988, satu-satunya perempuan dalam keanggotaan DPA. Pada saat yang sama, ia adalah anggota Dewan Riset Nasional dan mengurusi bidang masalah keluarga dan anak pada Majelis Ulama Indonesia (MUI) di bawah kepimpinan Hasan Basri.

Pengaruh Zakiah Daradjat Bagi Pendidikan Indonesia

Pemikiran Zakiah Daradjat di bidang pendidikan agama banyak mempengaruhi wajah sistem pendidikan di Indonesia. Semasa menjabat direktur di Kementerian Agama, Zakiah termasuk salah seorang yang membidani lahirnya kebijakan pembaruan madrasah.

Melalui surat keputusan tiga Mentri (Menteri Agama, Mendikbud, dan Mendagri),  Zakiah menginginkan peningkatan penghargaan terhadap status madrasah. salah satunya dengan memberikan pengetahuan umum 70 persen dan pengetahuan agama 30 persen. Aturan yang dipakai hingga kini di sekolah-sekolah agama di Indonesia. Hal ini memungkinkan lulusan madrasah berbagai jenjang diterima di sekolah maupun perguruan tinggi umum.

Ketika menempati posisi sebagai Direktur di Direktorat Perguruan Tinggi Agama, Zakiah Daradjat banyak melakukan sentuhan bagi pengembangan perguruan tinggi agama Islam. Salah satu contoh, untuk mengatasi kekurangan guru bidang studi umum di madrasah-madrasah.

Zakiah Daradjat membuka jurusan tadris pada IAIN. Beliau menyusun rencana pengembangan Perguruan Tinggi Agama Islam yang menjadi referensi bagi IAIN seluruh Indonesia.

Melalui rencana pengembangan ini Kementerian Agama dapat meyakinkan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Sehingga IAIN memperoleh “anggaran yang lebih masuk akal”.

Zakiah Daradjat Sebagai Dosen

Di luar aktivitasnya sebagai pegawai kementerian, Zakiah mengajar sebagai dosen keliling pada IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN) dan beberapa IAIN lainnya. Mata kuliah yang diasuhnya adalah ilmu jiwa agama.

Setelah meninggalkan jabatan sebagai direktur, beliau menduduki jabatan Dekan Fakultas Pasca-sarjana dan Pendidikan Doktoral IAIN Yogyakarta. Pada 1 Oktober 1982, Zakiah dikukuhkan oleh IAIN Jakarta sebagai guru besar di bidang ilmu jiwa agama.

Sebagai pendidik dan guru besar, beliau setia di jalur profesinya hingga akhir hayatnya. Meski telah pensiun, Zakiah masih aktif mengajar di UIN Syarif Hidayatullah dan perguruan tinggi lainnya. Selain itu, beliau sering mengisi ceramah agama untuk stasiun pusat RRI sejak tahun 1965 sampai dekade 2000-an. Beliau kerap pula diminta mengisi siaran Mimbar Agama Islam di stasiun pusat TVRI.

Pada 19 Agustus 1999, Zakiah Daradjat memperoleh Bintang Jasa Mahaputra Utama dari Pemerintah Rapublik Indonesia. Sebelumnya Beliau mendapat Bintang Jasa Utama pada 1995.

Sebagai realisasi ide-idenya dalam bidang pendidikan dan yang berkaitan dengan kesehatan mental, Zakiah mendirikan Yayasan Pendidikan Islam Ruhama di Jakarta. Disana Beliau sekaligus bertindak sebagai pimpinan.

Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia

Sebagai doktor dalam bidang psikologi, dengan spesialisasi psikoterapi dari Universitas Ain Shams, Zakiah membuka praktik konsultasi psikologi sewaktu bekerja di Departemen Agama. Mulanya, beliau membuka praktik dua kali dalam seminggu. Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia.

Pada 1965, beliau memutuskan membuka praktik di rumahnya di Wisma Sejahtera, Jalan Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan. Setiap hari kerja, beliau rata-rata menerima lima pasien. Beliau mengaku, sering tidak menerima bayaran apa-apa. Beliau tidak memungut bayaran, “kalau mereka memberi, saya terima.”

Dalam satu acara dengar pendapat dengan DPR pada 2004, beliau menyoroti banyaknya acara siaran televisi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama maupun etika moral masyarakat. Beliau melihat dampak buruk dari siaran televisi. Siaran yang mengandung unsur kekerasan, seks, dan klenik. Menurutnya hal tersebut dapat menumpulkan akal dan logika penontot. Menurutnya lagi, secara psikologi acara siaran televisi membawa pengaruh kuat dalam waktu yang lama terhadap pikiran penontonnya.

Zakiah Daradjat Wafat

Prof. Dr. Hj. Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia meninggal di Jakarta dalam usia 83 tahun pada 15 Januari 2013 sekitar pukul 09.00 WIB. Jenazahnya dimakamkan di Kompleks UIN Ciputat. Menjelang akhir hayatnya, beliau masih aktif mengajar, memberikan ceramah, dan membuka konsultasi psikologi.

Semasa hidup, Zakiah Daradjat Psikolog Indonesia dikenal sebagai psikolog dan dosen, muballig dan tokoh masyarakat. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Komaruddin Hidayat menyebut Zakiah sebagai pelopor psikologi Islam di Indonesia. Sementara itu, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mencatat, Zakiah Daradjat adalah sosok yang bisa diterima dengan baik oleh semua kalangan. Umar menambahkan, sosok Zakiah Daradjat seperti sosok Hamka dalam versi Muslimah.

Disusun oleh PSYLine.id Psikologi Online Indonesia yang dirangkum dari berbagai sumber.

Baca juga:

Kumpulan Biografi Psikolog Indonesia yang Terkenal.

Kumpulan Biografi Psikolog Dunia yang Terkenal dengan Karyanya.

Bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Salam Bahagia.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

8 Kecerdasan Intelektual dan Profesi yang Cocok Menurut Psikolog.

Tentang Penulis

Bayu Lebond

Seorang yang sok Seniman
Rocker yang sayang keluarga
Pecinta Wayang Jawa
#WhySoSerious

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog