Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Mengatasi Anak Pemalu

Pendidikan & Anak | 684 Views

6 Jurus Ampuh Mengatasi Anak Pemalu dan Penyebab Anak Jadi Pemalu.

15 April 2017 | Penulis: Wulan Arumbi

Pemalu merupakan keadaan dalam diri seseorang dimana orang tersebut sangat peduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya. Meraka merasa cemas karena penilaian sosial tersebut. Sehingga mereka cenderung untuk menarik dan menutup diri. Bagaimana cara mengatasi anak pemalu? PsyLine.id Psikologi Online akan membahas pada artikel dibawah ini.

“Malu-malu kucing.”

“Malu bertanya sesat di jalan.”

Kedua ungkapan di atas menggambarkan sikap kurang positif yang dimiliki seseorang.

Malu yang pertama adalah mereka sebenarnya mau tetapi membatasi diri untuk tidak melakukan yang sebenarnya diinginkannya.

Malu kedua sikap menutup diri untuk menerima informasi dari orang lain. Kurang aktif mencari tahu.

Kedua jenis malu di atas lebih banyak merugikan dalam bersosialisasi.

Siapa saja yang disebut Anak Pemalu?

Jika anak anda memiliki ciri-ciri di bawah ini berarti anak anda seorang pemalu.

Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu.

Hal-hal yang biasa dilakukan oleh anak yang pemalu:

  1. Menghindari kontak mata.
  2. Tidak mau melakukan apa-apa.
  3. Terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums.
    Hal ini dilakukan untuk melepaskan kecemasannya.
  4. Tidak banyak bicara.
    Menjawab secukupnya bila ditanya.
    Seperti “ya”, “tidak”, “tidak tahu”, “halo”.
  5. Tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di Sekolahnya.
  6. Tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal.
  7. Mengalami demam panggung.
    Pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering di saat-saat tertentu.
  8. Menggunakan alasan sakit.
    Hal ini dilakukan agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain.
    Misalnya agat tidak perlu pergi ke sekolah atau kegiatan social lainnya.
  9. Mengalami psikosomatis.
    Gangguan pada tubuh yang disebabkan oleh pikiran.
    Baca juga:
    Psikosomatis. Berawal dari rasa cemas yang berlebihan.
  10. Merasa tidak ada yang menyukainya.

Apakah anak anda, atau mungkin anda sendiri dalam kritera di atas?

Jika ya, berarti anda perlu merubah perilaku tersebut.

Dampak rasa malu bagi kehidupan.

Rasa malu sangat berpengaruh cukup besar dalam pergaulan kita dengan orang lain dan perilaku kita di dalam masyarakat.

Dalam Centi (1993), disebutkan bahwa orang-orang yang tidak aman dengan diri sendiri menjadi orang-orang sebagai berikut:

  1. Tidak memenuhi dalam pergaulan.

    Tepatnya, mencapai kepenuhan dalam pergaulan. Sebab rasa takut mereka menahan dan menghambat langkah dalam pergaulan mereka dengan orang lain.

  2. Mendekati orang-orang dengan terlalu hati-hati.

    Mereka berpendapat bahwa orang lain tidak akan berminat atau menghargai mereka. Mereka mendekati orang lain dengan pelan, ragu-ragu, cemas sambil menduga bagaimana orang lain akan menerima mereka.

    Mereka akan bertindak sesuai dengan penangkapan dan kecurigaan mereka sendiri.

  3. Sadar diri dan cemas tentang bagaimana pendapat orang lain.

    Mereka berbuat dengan sengaja agar diterima dan disukai. Mereka mempersiapkan diri untuk ditolak orang, karena terlalu sopan dan kaku perilaku orang pemalu.

    Hal ini membuat batin mereka jadi terpecah antara usaha untuk disukai dan menjaga agar jangan tidak disukai orang.

  4. Terlalu memandang unsur-unsur negatif yang dikira ada pada diri mereka.

    Sifat pemalu juga dapat menjadi masalah. Jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi terkubur dan anak tidak berkembang secara optimal sesuai dengan potensinya.

    Misalnya anak yang punya suara bagus dan berbakat menyanyi. Tapi merasa malu untuk mengasah bakatnya dengan ikut koor, les vokal dan mengikuti kejuaraan. Maka suara indahnya akan tersimpan sia-sia dan tidak bertambah indah. Hal ini sangat disayangkan baik bagi anak maupun orangtuanya.

6 Jurus Ampuh Mengatasi Anak Pemalu dan Kurang Percaya Diri.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan para orang tua untuk Mengatasi Anak Pemalu, yaitu diantaranya dengan cara sebagai berikut:

  1. Jangan mengolok-olok atau memperbincangkan sifat pemalu anak.

    Sama halnya dengan orang dewasa. Anak kita juga akan merasa semakin malu apabila di depan umum dirinya dibicarakan tentang rasa malunya itu. Anak bisa merasa tidak diterima sebagaimana adanya.

    Jangan sibuk menceritakan kalau anak kita sangatlah pemalu kepada semua kawan-kawan atau orangtua yang lain. Itu akan membuat lingkungan pergaulan anak mengecap sikap anak kita. Justru semakin terpuruk dan galaulah dia.

  2. Pahami hobi dan potensi anak.

    Bantulah anak mengatasi rasa malunya. Doronglah untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Jangan menghakimi rasa malunya sebagai sesuatu yang tidak bisa dirubah. Justru disinilah peran kita sebagai orangtua sangat dibutuhkan anak.

    Misalnya, ketika mengajaknya ke toko mainan, anak bisa didorong untuk mengatakan kepada pelayan bahwa ia mencari letak mainan yang diinginkan. Hal ini akan membantunya berinteraksi dengan orang tanpa takut dan berlatih mengungkapkan isi hati.

  3. Saling mengunjungi teman.

    Ajak anak berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana secara rutin. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah.

    Hal ini akan membiasakannya untuk mengenal lingkungan di luar orangtua. Ia akan menyadari bahwa mengenal oranglain itu bukan suatu hal yang sulit asalkan dikomunikasikan dengan baik.

  4. Role-playing bersama anak.

    Cara ini akan menyenangkan bagi anak dan mudah diingat. Misalnya bermain peran menjadi apa yang disukai anak.

    Kita berperan sebagai pemilik toko es krim, anak sebagai pembeli. Bagaimana membuka percakapan ketika akan membeli es krim, bagaimana bertransaksi, setelah selesai bagaimana cara berpamitan. Kegiatan ini akan dipelajari anak tanpa harus merasa digurui.

  5. Orangtua adalah contoh bagi anak.

    Menjadi model yang baik bagi anak, akan menjadi pengalaman mengesankan bagi anak. Bahkan anak akan termotivasi sendiri untuk melakukan yang kita lakukan, tanpa banyak kita ceramahi.

    Misalnya, mengajak anak pada suatu acara yang melibatkan kita untuk tampil di depan. Seperti mengajukan pendapat saat rapat, atau bisa juga maju ke depan untuk unjuk kebolehan menyanyi.

    Hal ini akan membuat perlahan-lahan mengubah pikiran anak untuk meninggalkan rasa malu yang kurang bermanfaat tersebut.

  6. Dampingi anak.

    Jangan lepaskan anak sendiri, dampingi ia ketika akan menunjukkan kemampuannya. Agar ia tidak merasa khawatir melakukan kesalahan. Setidaknya dengan berada di sampingnya, anak menjadi tenang. Meskipun kita hanya diam.

    Misalnya ketika diminta bicara pada pelayan toko, orangtua berada di samping anak. Atau ketika mengajak main ke rumah temannya, orangtua tetap berada di rumah temannya itu.

    Anak bisa kita lepaskan melakukan segala sesuatu sendiri, jika dilihat rasa percaya dirinya sudah berkembang.

Tidak semua rasa malu memiliki kecenderungan negative. Seperti orang yang sedikit bicara tidak berarti tidak bisa. Bisa jadi ia tidak nyaman dengan kita yang banyak bicara dan terlalu aktif. Dan dampingi agar anda dapat Mengatasi Anak Pemalu.

Tipe pemalu memiliki memiliki pemikiran berbeda.

Kalau memang cara-cara di atas tidak bisa membuat anak menjadi tidak pemalu seperti yang kita inginkan, tetaplah hargai keputusannya. Mungkin saja anak belum menunjukkan kepada kita kemampuan yang sebenarnya.

Tetapi tetap tidak ada salahnya untuk terus mendorong anak memiliki sikap terbuka. Karena akan meminimalisir potensi konflik dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri. Anak pemalu bukan berarti tidak memiliki kelebihan.

Doronglah terus menerus supaya bakatnya terasah dengan baik tapa terhalang rasa malu. Dan cobalah untuk Mengatasi Anak Pemalu.

Salam Bahagia..

DAFTAR PUSTAKA

Centi, Paul J. 1993. “Mengapa Rendah Diri?”. Yogyakarta: Kanisius.

Artikel sebelumnya membahas tentang: 

Apa itu Trauma? Apakah Brainspotting merupakan Terapi Ampuh Atasi Trauma?

 

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan