Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

9 Tanda Orangtua yang Terlalu Memanjakan Anak

Gaya Hidup & Sosial, Keluarga & Pernikahan, Pendidikan & Anak | 1703 Views

9 Tanda Orangtua yang Terlalu Memanjakan Anak. Apakah Kita Termasuk?

3 Juli 2017 | Penulis: Wulan Arumbi

9 Tanda Orangtua yang Terlalu Memanjakan Anak. Artikel sebelumnya, PsyLine.id Psikologi Online Indonesia membahas tentang Dampak Negatif yang Ditimbulkan Akibat Terlalu Memanjakan Anak. Nah, kita sebagai orangtua sebaiknya mengoreksi diri juga. Apakah selama ini cukup bijaksana atau malah sudah masuk dalam kategori memanjakan anak dengan berlebihan.

Kenali tanda-tanda terlalu memanjakan anak di bawah ini. Kalau sudah terlanjur tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya.

Tanda-tanda Orangtua yang Terlalu Memanjakan Anak

Orangtua memiliki seribu alasan untuk membuat anak senang. Namun, mari kita perhatikan tanda-tanda berikut, apakah cara tersebut malah terlalu memanjakan anak?

  1. Tanda Orangtua yang Terlalu Memanjakan Anak adalah Selalu Memuji Anak

    Pujian itu boleh, tetapi lebih efektif untuk anak yang masih sangat muda, yakni usia 0 – 3 tahun. Pada usia tersebut, anak sedang belajar menguasai beragam keterampilan dasar. Memberinya pujian saat ia bisa membuang sampah pada tempatnya akan mendorong ia terus melakukan itu.

    Begitu memasuki usia prasekolah, saat kita memuji pada hal-hal yang harusnya sudah ia kuasai. Misalnya: makan sendiri, buang air kecil di toilet, atau buang sampah pada tempatnya. Malah bisa mengurangi makna pujian itu. Bahkan, membuat anak berpikir bahwa “aku makan sendiri supaya dipuji Mama”.

    Jadi, pilah-pilih memuji anak itu perlu. Khususkan pada saat anak melakukan hal-hal besar atau menuntaskan suatu tantangan baru yang ia terima.

  2. Sering Memberikan Hadiah Pada Anak

    Dengan berbagai macam benda, seperti mainan, permen, cokelat, dan sebagainya. Sama seperti dengan pujian. Terlalu sering membelikan anak sesuatu yang sebetulnya tidak ia butuhkan. Malah mengurangi arti dan nilai dari barang tersebut.

    Contoh, setiap anak ulang tahun, kita memberinya hadiah mahal yang mungkin belum sesuai dengan usianya. Semakin besar, anak akan berharap ia mendapatkan kado yang lebih bagus dan lebih mahal. Sebaliknya, saat kita tidak memberinya apa-apa, anak akan sangat kecewa dan sedih. Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi berlarut-larut bukan?

  3. Mengganggap Remeh Kemampuan Anak

    Sehingga kita jarang memberinya tanggung jawab untuk suatu hal. Kita lebih suka mengerjakan keperluan anak, tanpa memberi kesempatan anak untuk melakukannya sendiri. Orangtua yang Terlalu Memanjakan Anak.

    Misalnya, anak ingin makan sendiri. Tapi karena tidak mau baju anak kotor dan meja makan berantakan, plus biar cepat habis, kita cenderung menyuapi anak. Padahal, tindakan itu sama saja dengan membiarkan anak terus bergantung pada kita.

    Untuk jangka pendek, mungkin tidak masalah, tetapi pasti berdampak untuk kemandirian anak nantinya. Mengerjakan semua keperluan anak adalah bentuk lain dari memanjakan anak. Masalahnya, kita tidak tahu apakah kita bisa terus berada di dekat anak.

  4. Selalu Membantu Anak Tanpa Diminta

    Ini juga merupakan tanda Mama terlalu memanjakan anak yang tidak Mama sadari. Ada kalanya Mama perlu bijak menjaga jarak dan melihat dari jauh dulu. Apakah anak bisa mengatasi sendiri masalah yang ia temui.

    Sesederhana membuka resleting tas, biarkan ia mencoba dulu membukanya sendiri, sampai ia sendiri yang memanggil dan meminta tolong. Pendek kata, jangan lakukan sesuatu yang sebetulnya sudah mampu ia lakukan sendiri.

  5. Anak Terlalu Bergantung Pada Kita

    Membuat anak bergantung terus menerus pada kita rasanya seolah kita adalah satu-satunya orang yang diandalkan anak. Namun, seiring ia tumbuh besar, ketergantungan itu pun harusnya juga berkurang. Anak harus belajar merasa nyaman dengan orang lain selain kita, bahkan bisa mengandalkan dirinya sendiri.

  6. Tidak Pernah Berkata Tidak

    Tanda pertama adalah bahwa Anda tidak pernah menggunakan kata \’Tidak\’ ketika anak Anda meminta sesuatu pada Anda. Mungkin Anda tidak tega tapi setiap kali mereka meminta sesuatu yang bukan suatu kebutuhan mendesak. Namun Anda mudah menyerah karena Anda tidak bisa menolak mereka.

    Hal ini pada akhirnya akan menjadi kebiasaan dan ketika mereka tumbuh dewasa. Mereka akan berharap bahwa hal-hal akan selalu berjalan sesuai dengan yang mereka inginkan. Karena mereka tidak pernah ditolak.

  7. Membeli Terlalu Banyak Mainan

    Menghabiskan uang banyak pada anak Anda tidak berarti Anda mencintai mereka lebih dari memberikan perhatian. Kasih sayang bisa diberikan dalam bentuk perhatian dan waktu yang Anda berikan kepada mereka dan saat-saat yang Anda berbagi.

    Jumlah mainan yang terlalu banyak dalam jangka waktu yang pendek antara mainan yang lama dan yang baru. Sebelum mainan lama belum sempat juga dimainkan dengan baik. Hal itu dapat membuat anak acuh terhadap mainan-mainannya. Akhirnya anak akan selalu menuntut akan datangnya mainan baru ketimbang bermain dengan mainan yang ada. Anak akan merasa selalu tak puas dan merasa bahwa mainannya yang sempurna ada disekitanya.

    Jika anda ingin membelikan anak anda mainan, belikan apa yang benar-benar diinginkan oleh anak anda. Bukan hanya sekedar mainan yang ia tahu dari iklan. Akan tetapi mainan yang anda tahu dari observasi anda sebagai orang tua. Dan dari komentar anak anda apa yang ia suka.

    Minta anak anda untuk memasukkan mainannya yang telah selesai dimainkan dalam kotak atau wadah mainan. Untuk pertama kali memang sulit, anak cenderung untuk membongkarnya kembali. Tetapi pelan-pelan ia akan belajar untuk meletakkan mainan sesuai tempatnya.

  8. Orangtua yang Terlalu Memanjakan Anak, Anak Mudah Merengek

    Mereka terus merengek dan tidak pernah bahagia dengan hal-hal yang mereka miliki.  Bahkan jika Anda melakukan segala sesuatu yang Anda bisa untuk mereka dan memberi mereka segalanya. Jika Anda melihat bahwa anak-anak Anda selalu mengeluh tentang hal-hal yang mereka tidak miliki. Sekarang saatnya untuk menyadari bahwa Anda terlalu memanjakan mereka.

  9. Sering Mengeluh Tentang Kelakuan Anak

    Orangtua yang suka mengeluh tentang kelakuan anaknya bisa saja karena sang anak sudah terlanjur dimanja. Curhat sekali-sekali bolehlah, namun jangan kesembarang orang dan sembarang tempat. Orangtua yang Terlalu Memanjakan Anak akan suka mengeluh tentang anaknya.

    Jika kita ingin curhat tentang anak yang sudah terlanjur terlalu dimanja, kita bisa kita bisa saja melakukan curhat secara online. Tempat curhat online yang bisa kita gunakan adalah di PsyLine.id Psikologi Online Indonesia.

    Kita bisa berbagi cerita kepada Psikolog berpengalaman pada bidangnya. PsyLine.id adalah sebuah situs Psikologi Online Indonesia yang membantu kita yang membutuhkan. PsyLine.id  menjamin 100% kerahasiannya, dan hanya dipergunakan untuk membantu kita menjadi lebih baik.

    Klik Link di Bawah ini:
    Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

    Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.
    FansPage FaceBook PsyLine.

Salam Bahagia.

Artikel Terkait:

Dampak Negatif yang Ditimbulkan Akibat Terlalu Memanjakan Anak.

7 Cara Tepat Memanjakan Anak Tanpa Manja Berlebih.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

18 Tips Mengembalikan Semangat Kerja Setelah Liburan Panjang.

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan