Saat Anak bertengkar dengan temannya, Apa tindakan kita sebagai orangtua?

Diposting: 13 April 2017 | Kategori Artikel: Pendidikan & Anak

Dilihat: 4303 kali.

Penulis: Wulan Arumbi

Beda pendapat, berselisih, bahkan sampai berkelahi merupakan hal tak terelakkan yang harus kita saksikan ketika buah hati mulai aktif bersosialisasi dengan lingkungannya. Saat Anak bertengkar dengan temannya, Apa tindakan orangtua? PsyLine.id Psikologi Online akan membahasnya di artikel ini.

Interaksi antar teman beresiko adanya beda pendapat kemudian potensi perdebatan muncul sampai terjadi perkelahian antar teman. Hal itu tidak bisa kita hindari. Namun kita sebagi orangtua bisa mengarahkan agar pertengkaran tidak melebar.

Berikut ini, hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang tua saat anak bertengkar dengan temannya:

  1. Tindakan langsung ikut campur orangtua saat Anak bertengkar tidaklah bijaksana.

    Beri kesempatan buah hati kita untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Lebih baik dan bermanfaat jika anak bisa mempertahankan masalahnya tanpa bantuan dari Anda sebagai orang tuanya.

    Ayah dan Bunda, jengkel? Sudah pasti.
    Orang tua mana, sih, yang rela anaknya disakiti?

    Tahanlah diri, kita harus memberi kesempatan pada anak untuk berlatih menyelesaikan konfliknya. Amati saja dari jauh bagaimana cara anak menyelesaikan konflik dengan temannya. Kita boleh turun tangan bila konflik sudah tidak wajar, misalnya memakai kekerasan fisik.

  2. Bertindaklah tepat saat anak bertengkar dengan temannya.

    Ayah dan Bunda, jika tahap ini sudah terjadi maka bertindaklah!
    Pisahkan anak-anak dan minta merekan menyelesaikan masalah dengan baik.

    Masalah ini sangat sensitif karena melibatkan anak orang lain, belum tentu orangtua dari teman anak kita berfikiran positif sama seperti yang Ayah Bunda harapkan. Bukannya solusi yang didapat, tindakan kita bisa jadi malah akan berujung panjang.

    Percekcokan tidak akan berhenti pada anak saja, tetapi melebar ke urusan antar orangtua. Lebih baik untuk melibatkan pihak netral (misalnya guru). Daripada kita menegur langsung anak dan temannya yang bertikai.

    Boleh memberikan informasi pada orangtua anak, asalkan Anda yakin dapat meredam emosi dan sifatnya benar-benar informasi.

    Apabila setelah terjadi kesepakatan pasca berselisih, dan anak masih nekat berteman dengan temannya itu, Ayah dan Bunda sebaiknya tetap menghargai keputusan sang buah hati. Dengan tetap memberitahu konsekuensi yang mungkin akan ia terima andai suatu saat nanti terjadi percekcokan lagi.

    Beritahu anak apa saja yang harus dilakukan. Ajari Anak kita untuk melapor pada guru, tidak terpancing emosi,dan membicarakan masalah dengan baik.

  3. Tempatkanlah diri kita sebagai fasilisator yang baik.

    Apabila suatu saat terjadi perkelahian antara anak kita dan temannya, ajarkanlah untuk mempertahankan diri, bukan membalasnya. Kemudian ajarkan anak untuk meminta pertolongan kepada orang dewasa yang  berpengaruh dalam mengatasi perilaku negatif temannya. Misalnya guru atau orangtua teman itu.

    Yang perlu diingat, bedakan antara meminta pertolongan dengan mengadu, ya, Bunda.
    Artinya, ajarkan anak untuk mengatakan hal sebenarnya tentang perlakuan si teman, jangan melebih-lebihkan.

  4. Pahami bahwa Bertengkar itu adalah belajar mengelola konflik.

    Pertengkaran sebenarnya baik untuk anak belajar mengelola konflik di masa depan. Kita yang sudah dewasa ini tentu sudah banyak merasakan konflik dengan teman, suami, istri, tetangga, rekan kerja. Tidak terhindarkan kan?

    Tindakan bertengkar karena beda pendapat adalah peristiwa berulang yang terjadi saat masih anak-anak sampai dewasa.

    Adakah manusia setelah dewasa bebas dari konflik? Jawabannya, Tidak.

    Oleh karena paradigma yang harus kita bangun adalah barentem itu harus kita kelola bukan kita hentikan.

  5. Menghadapi Orangtua teman anak yang menyakiti anak kita ternyata pasif.

    Bagaimana jika anak kita dipukul, sementara sang ibunya cuek-cek saja melihat anaknya menyakiti anak kita?

    Bisa jadi ibu tadi diam saja karena dia pun sendiri sebenarnya malu dengan apa yang dilakukan anaknya atau dia sendiri menganggap wajar.
    Mungkin dia beranggapan apa yang dilakukan anaknya dengan dalih “ah itu urusan anak” atau “Ah namanya juga anak-anak, nanti juga baikan lagi”.
    Apalagi posisi anaknya sendiri bukanlah yang disakiti.

    Tapi menurut bunda, apakah orangtua ini akan diam saja saat anaknya yang dalam posisi disakiti?

    Tindakan apa yang dapat dilakukan?

    Tentu bukan balik memukul anak yang sudah memukul anak kita, atau memprovokasi anak kita untuk memukul balik. Bahkan apalagi dengan menyerang secara verbal dari orangtua anak yang menyakiti tadi karena mendiamkan. Tindakan-tindakan seperti ini hanya akan memperumit masalah.

    Yang dapat kita lakukan adalah MELERAI DENGAN TENANG.

    Pegang tangan anak yang memukul tadi dan katakan dengan lembut tapi tegas. Misalnya nama teman anak kita Zahra, kita katakan:
    “Zahra, tidak boleh nak, temannya bisa sakit dipukul. Itu menyakiti ya. Zahra juga kalau dipukul sakit kan? Zahra juga tidak mau dipukulkan?”
    Lalu kita bisa bekerjasama dengan orangtua anak tadi dengan mengatakan:
    “Bu, maafkan saya kalau saya telah buat anak ibu tidak nyaman. Ini untuk kebaikan anak kita bersama, boleh pegang anaknya bu?”
    Barulah di tempat lain Bunda bisa melatih anak Bunda untuk mencari solusi. Katakan apa yang harus dilakukan jika ada temannya mencoba menyakiti lagi. Dimanapun ia berada.

Menjadi orangtua yang baik memang harus banyak belajar dan bersabar terutama dalam memahami karakter anak. Bukan hanya intelegensi saja tetapi pengelolaan emosi anak juga harus diperhatikan. Agar dalam kehidupan mendatang tidak terkendala dalam menghadapi persoalan hidupnya.

Salam bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: Solusi tepat menghadapi Anak Berbohong: Kenapa Buah Hati Kita Berbohong?

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog