Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga? semuanya ada plus minusnya.

Diposting: 20 April 2017 | Kategori Artikel: Keluarga & Pernikahan

Dilihat: 2357 kali.

Penulis: Wulan Arumbi

Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga? semuanya ada plus minusnya. Wanita bekerja di luar rumah ataupun di dalam rumah adalah sebuah pilihan. Menjadi ibu rumah tangga total pun merupakan pilihan yang sudah disepakati antara suami istri. Karena suami dan istri memiliki peran sendiri-sendiri.

Suami yang menginginkan istrinya untuk mengurus rumah tangga secara total tentu punya alasan yang kuat. Mungkin mereka memiliki alasan supaya anak-anak berada dalam pengasuhan yang terbaik, yaitu ibunya sendiri. Istri juga mempunyai banyak waktu untuk mengurus suami dan rumah tangga dengan fokus.

Tentu saja suami berperan memenuhi semua kebutuhan keluarga dari segi finansial. Namun, Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga itu harus memiliki pertimbangan yang matang.

Istri memilih untuk bekerja di dalam rumah dengan alasan bisa menambah penghasilan sekaligus mengurus keluarga adalah pilihan yang membutuhkan dukungan dari suami. Kerjasama untuk menyelesaikan tugas-tugas rumah tangga dan mengurus anak.

Hal itu harus dibicarakan sehingga keutuhan dan keharmonisan rumah tanggapun akan tetap terjaga dengan baik.

Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga: Alasan Ibu Berkarir.

Bekerja adalah media aktualisasi diri selain mencari nafkah tentunya. Istri yang memilih untuk melanjutkan karirnya atau bekerja di luar rumah merupakan pilihan dengan berbagai resiko. Terlebih kalau sudah dikaruniai anak. Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga akan menjadi pilihan yang sulit.

Terkadang naluri seorang ibu menjadikannya berat meninggalkan anak. Apalagi kalau suami tidak mendukung, tentu akan membuat tekanan tersendiri bagi ibu. Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga adalah menjadi pilihan yang sulit.

Di bawah ini beberapa hal yang membuat  ibu bekerja:

  1. Memperoleh Penghasilan Tambahan.

    Kebutuhan hidup semakin meningkat. Kondisi keluarga dimana penghasilan suami tidak bisa menjangkau semua kebutuhan. Hal itu membuat dan mengharuskan wanita untuk bergerak.

    Dengan resiko mengurangi kuantitas interaksi dengan Keluarga.

    Rasa bersalah pada Ibu yang bekerja di luar rumah umumnya lebih dirasakan saat anak-anak dalam usia 0-5 tahun. Karena masa ini adalah masa emas, perkembangan mereka. Wajar saja sebagai Ibu berharap untuk bisa menghabiskan setiap waktu bersama anak-anak.

    Bagi Ibu yang bekerja di rumah-pun mereka harus meluangkan waktu untuk tidak bersama anak-anak saat mereka harus menyelesaikan pekerjaannya. Jika tidak, mereka tidak akan bisa melakukan apa-apa karena tidak bisa fokus dengan pekerjaannya ataupun bahkan terganggu oleh anak-anak.

  2. Orangtua Tunggal.

    Tidak ada alasan untuk tidak bekerja untuk orangtua tunggal. Kalau ia seorang ayah agaknya tidak terlalu masalah. Karena memang tugasnya mencari nafkah. Jika seorang ibu, cenderung lebih rentan terhadap perasaan bersalah ketika meninggalkan anak untuk berkarir. Karena tidak bisa mendampingi saat fase-fase emas pertumbuhannya.

    Menitipkan anak pada kerabat adalah solusi yang bijak sebelum memasuki usia sekolah. Kondisi orangtua tunggal membuat kita tidak memiliki pilihan lain. Seorang Wanita yang menjadi Orangtua tunggal membutuhkan pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan anak dan dirinya.

  3. Rasa tanggung jawab.

    Ibu yang bekerja terbebani tanggung jawab. Dengan bekerja, dia bisa memastikan ada makanan di meja.

    Bagi keluarga berkecukupan, bisa jadi si Ayah memiliki bisnis yang sangat menguntungkan. Mungkin Ayah memiliki suatu pekerjaan dengan penghasilan tinggi yang sangat memuaskan untuk keluarga. Namun Ibu pewaris bisnis keluarga, tidak dapat diwariskan oleh orang lain.

    Mereka-pun terjebak oleh tanggung jawab terhadap pekerjaan mereka.

  4. Bekerja sebagai gaya hidup.

    Ada sebagian wanita yang menganggap bekerja adalah adalah bagian dari hidup. Terbiasa bekerja keras membuat wanita bekerja sepanjang waktu dan hanya mengambil cuti 3 bulan untuk melahirkan.

    Wanita tipe ini  tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang harus tinggal di rumah untuk mengurus kelarga. Apabila dipaksakan untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya, bisa-bisa tipe wanita seperti ini akan mengalami depresi berat.

Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga: Hal positif bagi wanita bekerja.

Tidak semua Ibu yang memiliki Karir itu selalu negative. Di beberapa hal, Ibu yang memiliki karir juga berdampak positif.

Hal positif bagi Ibu yang memiliki karir:

  1. Mengajarkan Tanggung Jawab.

    Secara tidak langsung, ibu bekerja mengajarkan arti tanggung jawab dan kemandirian pada anak. Anak terbiasa membantu perkerjaan rumah, mengerjakan PR, dan menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri karena waktu ibu memang terbatas.

  2. Mengenalkan arti Kerja Keras.

    Anak akan tahu, untuk mendapatkan uang seorang ibu harus banting tulang untuk bekerja. Ini secara tidak langsung mengajarkan makna kerja keras pada anak.

    Bagaimana uang hasil jerih payah saat bekerja dapat digunakan untuk membeli berbagai keperluan. Anak akan lebih berhati-hati terhadap permintaan mereka, dan lebih menghargai apa yang mereka miliki.

  3. Menginspirasi anak perempuan untuk bekerja lebih keras menyelesaikan berbagai masalah.

    Sebagai seorang ibu yang bekerja, Anda adalah seorang contoh dan teladan bagi anak-anak, terutama anak perempuan. Ibu yang bekerja menginspirasi anak perempuan untuk bekerja lebih keras untuk menyelesaikan berbagai masalah.

    Hal tersebut juga mengajarkan mereka menghadapi tantangan yang berat bagi perempuan di masa depan. Ungkap psikolog Susan Newman, PhD.

  4. Menciptakan sikap empati pada anak.

    Ibu bekerja juga bisa menciptakan sikap empati pada anak. Misalnya ketika para ibu sudah terlihat atau mengatakan jika mereka lelah selepas pulang kantor.

    Anak-anak yang sudah cukup dewasa mengerti untuk merasa kasihan sehingga tidak terlalu meminta dilayani. Mereka pun bisa menjadi lebih mandiri.

  5. Kasih sayang kepada anak tetap terpenuhi.

    Perkembangan anak lebih dipengaruhi oleh kesehatan emosional keluarga, dan cara mendidik anak yang tepat. Anak yang menerima kasih sayang dan perhatian yang cukup dari keluarga akan terlepas dari berbagai masalah. Sekalipun sang ibu harus bekerja di luar rumah.

Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga: Alasan meninggalkan karir

Kalau ada kalimat “demi keluarga” maka prioritas yang lain langsung menurun ke peringkat di bawahnya. Tak heran, karir yang sudah ada di puncak rela dipertaruhkan.

Hal tersebut menyebabkan banyak para ibu mengalami banyak tekanan baik dari suami, keluarga, maupun dari dalam dirinya sendiri. Nalurinya sebagai ibu akan mengalahkan karirnya yang sudah di atas puncak.

Walaupun ini keputusan yang sulit, tetapi pilihan ini pada akhirnya menjadi solusi bagi kebahagiaan keluarga.

Beberapa hal ini bawah ini menjadi alasan bagi wanita meninggalkan karirnya:

  1. Tidak bisa Memantau pertumbuhan anak dengan maksimal.

    Kepribadian seorang anak dimulai ketika usia 0-5 tahun. Anak akan belajar dari orang-orang dan lingkungan sekitar. Anak yang berada di lingkungan pemarah dan keras, anak tersebut juga akan tumbuh menjadi pribadi yang keras.

    Hanya karena lingkungan yang kurang mendukung sewaktu masih kecil aka mengabkibatkan dampak negatif bagi perumbuhan kepribadian anak pada usia selanjutnya.

    Hal inilah yang membuat seorang ibu memutuskan untuk berada dekat dengan buah hatinya sepanjang waktu. Sehingga dapat memantau setiap tumbuh kembangnya.

  2. Kehabisan tenaga menemani anak belajar.

    Saat memasuki usia sekolah, anak-anak mebutuhkan pendampingan kita saat belajar. Kondisi lelah sepulang bekerja membuat kita malah tegang ketika menemani anak belajar. Terutama kalau buah hati kita tidak kunjung faham dengan penjelasan yang kita berikan.

    Terkadang anak-anak juga lebih percaya dengan cara belajar yang diberikan gurunya daripada ibunya. Padahal hasilnya sama. Hal ini malah membuat kita uring-uringan sendiri.

  3. Tidak ada waktu memantau kebutuhan harian anak.

    Kesehatan adalah sesuatu yang berharga untuk kita jaga. Menjaga anak-anak dari makanan yang tidak sehat, butuh perjuangan. Kita tidak bisa memantau apa saja yang dimakan buah hati kita ketika jauh dari orangtua.

    Salah satu cara mencegah makanan sehat tidak masuk ke tubuh anak kita adalah dengan menyiapkan bekal setiap hari. Cukup waktukah ibu bekerja menyiapkan ini setia harinya.

    Bisa saja, tetapi membutuhkan energi besar untuk melakukannya. Ini baru masalah makanan, belum lagi kebutuhan harian anak yang lain.

  4. Sulit terlibat dalam kegiatan sekolah.

    Orangtua yang baik tidak menyerahkan semua tanggung jawab mendidik anak kepada sekolah. Orangtualah yang tetap memegang kendali penuh terhadap anak.

    Melibatkan diri dalam acara sekolah akan memberikan dukungan moril untuk anak. Anak akan merasa orangtua selalu ada untuk mereka. Kepercayaan diripun tumbuh. Hal ini akan berimbas pada semangat untuk belajar.

    Untuk terlibat dalam agenda sekolah, rasanya tidak enak apabila ibu sering izin meninggalkan kantor. Sedangkan dalam hatinya ingin menemani buah hati dalam kegiatan sekolah.

  5. Tidak didukung suami meneruskan bekerja.

    Nah, ini alasan  yang paling tidak terbantahkan  untuk segera membuat surat pengunduran diri. Karena bila sudah tidak ada dukungan pasangan untuk bekerja di luar rumah, bekerjapun kita tidak akan nyaman lagi.

    Bahkan ada pasangan yang mengakhiri pernikahannya hanya karena istri bersikeras mempertahankan karirnya.

Menjadi Wanita Karir atau Ibu Rumah Tangga : Pilihan untuk menjadi ibu rumah tangga.

Bagi Ibu yang sudah yakin mengambil pilihan menjadi Ibu Rumah Tangga, jalanilah dengan penuh kebahagiaan. Pengorbanan ini tidak akan sia-sia. Ibu mengambil peran yang besar dalam pembentukan pribadi sebuah generasi.

Dampingilah Buah Hati Kita dengan ulet dan telaten, sabar, bersungguh-sungguh, dan  bertekad yang kuat.

Bisakah Kita begitu saja menitipkan anak pada pembantu atau membiarkan anak tumbuh begitu saja?

Kita sama-sama tahu lingkungan kita bagaimana (TV, internet, dan lingkungan masyarakat).  Siapa lagi kalau bukan ibu yang akan mendampingi anak-anaknya. Padahal anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat

Nah, ayah bunda. Kami yakin setiap keluarga memiliki kondisi yang beragam. Ada beberapa pilihan yang harus ibu ambil untuk kebaikan keluarga. Apapun pilihan ibu, jangan abaikan anak, karena sibuk dengan  pekerjaan atau kegemaran sendiri. Berilah perhatian dan sediakan waktu-waktu khusus dimana mereka merasa orangtua selalu ada kapapun dan dimanapun.

PsyLine.id Psikologi Online sangat percaya bila keputusan yang Kita ambil adalah keputusan yang telah dipikirkan sebaik-baiknya.

Salam bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: Cerita Wayang dan Psikologi : Sebagai Cerminnan Kehidupan Masyarakat.

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog