Perencanaan Karir : Karir Kita, Tanggung Jawab Siapa ?

Diposting: 2 April 2017 | Kategori Artikel: Karir & Perusahaan

Dilihat: 2717 kali.

Penulis: Arbono Lasmahadi

Ramawijaya  adalah lulusan Fakultas Ekonomi dari sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta. Dia sudah bekerja selama hampir 10 tahun di sebuah perusahaan asing bergerak di bidang industri makanan. Jabatannya sebagai Manajer Keuangan. Apa yang telah dilakkan Ramawijaya untuk Perencanaan Karir beliau?

Selama ini, Ramawijaya mempunyai pandangan bahwa hal-hal yang menyangkut masa depan karirnya. Dia bernanggapan bahwa karirnya merupakan tanggung – jawab sepenuhnya dari perusahaan.

Kondisi nyaman ini dia nikmati sampai suatu saat hadir seorang  Manajer Keuangan yang baru bernama Shinta. Buat Ramawijaya, Shinta bukanlah orang yang asing baginya. Shinta merupakan adik kelas Ramawijaya ketika masih sama-sama di Fakultas Ekonomi. Ramawijayalah yang merupakan mentor Shinta ketika pertama dia masuk ke Fakultas Ekonomi.

Yang membuat Ramawijaya tersentak, adalah posisi yang dipegang Shinta adalah posisi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan posisi yang dipegangnya saat ini.

Bagaimana mungkin?

Apa kata dunia?

Demikian mungkin campur aduk pikiran dan perasaannya yang ada dalam diri Ramawijaya. Saat harus menerima kenyataan bahwa adik kelasnya saat ini mempunyai karir yang lebih baik darinya.

Salahkah Ramawijaya dengan pengelolaan karir yang  dilakukannya selama ini?

Atau benarkah langkah Shinta  yang berpindah kerja  kerja untuk meningkatkan karirnya?

Jawabannya tidak ada yang benar dan salah. Ini merupakan sebuah pilihan yang perlu dipertimbangkan oleh seorang karyawan.

Perencanaan Karir : Tetap Bekerja di Perusahaan yang sama atau Berpindah demi Karir?

Tetap bekerja pada satu perusahaan tanpa perencanaan karir yang baik, bisa jadi bukan langkah yang bijak. Namun pindah kerja tanpa  perencanaan dan pertimbangan yang matang, tentunya juga bukan sebuah pilihan yang tepat. Mungkin bukan Perencanaan Karir yang bagus.

Tetap bekerja di satu perusahaan atau pindah kerja  dengan membuat perencanaan karir yang jelas, merupakan pilihan yang perlu dipertimbangkan.

Lalu siapa yang sebenarnya yang paling bertanggung jawab dalam rencana Karir Kita?

Perusahaankah?

atau Kita sendiri?

Menurut hemat penulis, disamping peran yang diambil oleh perusahaan,  Kita sebagai karyawanlah yang paling berperan dalam melakukan perencanaan karir pribadi Kita. Kita bertanggung jawab untuk terus meningkatkan ketrampilan yang Kita miliki. Itu dilakukan untuk memastikan bahwa diri Kita mempunyai kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan pasar tenaga kerja.

Kita juga sebaiknya bertindak proaktif untuk melihat kesempatan yang ada, dan kemungkinan munculnya masalah dengan karirnya saat ini.

Untuk itulah, ada baiknya Kita sebagai karyawan senantiasa dapat melakukan penilaian diri untuk mengenal aspirasi karir yang Kita inginkan. Mengukur kekuatan yang Kita miliki dan hal-hal yang perlu ditingkatkan lebih baik lagi.

Dengan perencanaan karir pribadi ini, Kita sebagai karyawan dapat menilai tingkat kesesuaian antara aspirasi karir Kita dan karir yang Kita pegang saat ini. Dengan demikian dapat mengarahkan diri Kita untuk memilih penugasan atau pekerjaan-pekerjaan yang lebih sesuai dengan aspirasi tanggng jawab karir kita.

Perencanaan Karir : sebaiknya tidak dibatasi hanya bekerja Kantoran.

Perlu diingat bahwa pengertian karir sebaiknya tidak dibatasi hanya bekerja di kantor atau perusahaan. Menjadi wirausahawan, pekerja sosial, atau menjadi penulis merupakan bentuk-bentuk pilihan karir yang dapat Kita pertimbangkan.

Dengan pengertian ini, tidak mengherankan bahwa sebenarnya Kita yang mempunyai perencanaan karir yang baik, tidak akan pernah pensiun. Karena karir Kita dapat terus berjalan seiring dengan kehidupan Kita.

Ada beberapa saran yang dapat Kita pertimbangkan dalam membuat perencanaan karir.

1. Tingkatkan Perencanaan Karir network Kita di dalam, maupun di luar perusahaan.

Misalnya:

  • Ikut terlibat dengan proyek-proyek atau kepanitiaan yang sedang berlangsung di perusahaan. Kegiatan ini berguna untuk lebih memahami rekan kerja dan juga proses bisnis di perusahaan.
  • Mendiskusikan rencana karir Kita dengan atasan Kita. Bahkan Kita bisa berdiskusi dengan orang –orang yang Kita anggap telah berhasil dalam karirnya.
  • Melakukan “wawancara” informal dengan orang-orang yang mempunyai karir yang Kita inginkan. Kegiatan ini untuk lebih memahami pekerjaan yang Kita cita-citakan.
  • Terlibat dalam kegiatan sosial atau asosiasi professional di luar jam kantor. Kegiatan ini untuk dapat berinteraksi dengan orang-orang baru dan meningkatkan wawasan terhadap dunia kerja.

2. Bila Kita cukup puas dengan pekerjaan anda saat ini, namun kurang puas dengan Perencanaan Karir dan cara pengorganisasiannya.

Mungkin Kita perlu melakukan rekonfigurasi pekerjaan Kita, supaya tidak mengalami kejenuhan. Hal yang dapat Kita lakukan misalnya :

  • Mempertimbangkan alternatif pengaturan waktu kerja atau cara kerja Kita, dari cara-cara yang umum berlaku saat ini.

Misalnya: flexi time, kerja paruh waktu, bekerja dari rumah, dan sebagainya.

  • Melakukan pemberdayaan kepada staf Kita (bila memiliki staff). Dengan demikian, Kita mempunyai waktu yang lebih luang untuk mencari penugasan-penugasan baru yang cukup menantang

3. Secara konsisten terus meningkatkan kompetensi yang berkaitan dengan Perencanaan Karir dalam pekerjaan Kita.

Konsisten dalam pengembangan diri maupun yang berkaitan dengan karir yang Kita idam-idamkan. Misalnya:

  • Mengikuti kegiatan pelatihan dan pengembangan yang diselengarakan oleh perusahaan atau atas inisiatif sendiri. Bila memang perusahaan tempat Kita bekerja tidak menyediakan program pelatihan dan pengembangan yang Kita inginkan.
  • Mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh asosiasi professional atau diskusi-diskusi yang dilakukan di mailing list, facebook, blog. Pastikan diakusi itu membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan minat Kita.

4. Bila memungkinkan memiliki mentor, yang dapat membantu Kita untuk meningkatkan kepuasan dan kesuksesan Perencanaan Karir Kita.

Mentor adalah seorang yang mempunyai posisi senior di perusahaan. Dia adalah seseorang yang dapat menjadi semacam narasumber. Bisa juga sebagai penasehat yang dapat memberikan bimbingan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan karir Kita.

Disinilah perusahaan dapat berperan untuk mendorong para senior manajernya agar bersedia meluangkan waktunya menjadi mentor. Perusahaan akan memberikan penghargaan kepada mereka atas kesediaannya tersebut.

Namun demikian, pada akhirnya, Kita sendirilah yang paling berperan dalam mendapatkan seorang mentor. Kemudian membangun hubungan yang produktif dengannya.

Bagaimana cara mendapatkan seorang mentor ?

Garry Dessler dalam Bukunya ” Human Resource Management (2005) “, mengungkapkan saran-saran sebagai berikut :

  • Memilih mentor potensial yang sesuai.

Mentor ini sebaiknya seorang yang dapat memberikan saran yang objektif tentang karir kepada Kita. Karena itulah sebaiknya bukan atasan langsung dari Kita.

Banyak orang yang mencari mentor yang merupakan seorang yang mempunyai jenjang karir setingkat atau 2 tingkat lebih tinggi dari atasan langsungnya. Bahkan bila memungkinkan seseorang di luar perusahaan.

  • Jangan patah semangat bila permintaan anda ditolak oleh mentor potensial anda.

Tidak semua orang bersedia meluangkan waktu untuk profesi yang cukup menyita waktu itu. Jadi jangan kaget bila Kita ditolak oleh pilihan pertama atau yang kedua.

  • Jelaskan harapan yang ingin Kita peroleh dari calon mentor Kita.

Dari sisi waktu dan saran-saran, saat Kita meminta kesediaannya untuk menjadi mentor. Dengan demikian akan membantu calon mentor Kita untuk mengambil keputusan. Baik itu meneriman atau menolak permohonan Kita.

  • Susunlah agenda yang jelas.

Buatlah agenda yang jelas tentang masalah-masalah penting atau topic-topik yang akan menjadi bahan diskusi, dan bawalah pada pertemuan pertama mentoring.

  • Menghargai waktu mentor.

Selektiflah dalam memilih masalah pekerjaan yang akan didiskusikan dengan mentor Kita. Ingatlah, mentor Kita bukanlah seorang konsultan pribadi Kita. Lebih lanjut lagi, proses mentoring umumnya tidak melibatkan masalah-masalah pribadi.

5. Last but not least .

selalu berdoa kepada Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, agar kita senantiasa diberi petunjuk , perlindungan dan tetap rendah hati. Sehingga mendapatkan karir yang penuh keberkahan dan manfaat. Tidak saja buat diri sendiri, tetapi juga buat lingkungan sekitar kita.

Demikianlah artikel tentang Perencanaan Karir ini dibuat untuk PsyLine.id web psikologi.

Semoga tulisan sederhana ini dapat terus mengingatkan diri saya agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Serta memberikan insipirasi kepada anda semua para professional  yang selalu bekerja dengan cerdas, penuh semangat dan dedikasi yang tinggi.

Salam Bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: Persiapan Menghadapi Buah Hati Kita Memasuki Masa Pubertas pada anak.

Tentang Penulis

Arbono Lasmahadi

Psikolog Senior
Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Praktisi Senior Manajemen Sumber Daya Manusia.
Pengurus IOC.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog