Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Kesurupan dari segi Psikologi

Klinis & Kepribadian | 2697 Views

Meninjau Fenomena Kesurupan dari segi Psikologi. Apa penyebabnya, dan bagaimana cara menanganinya.

5 Mei 2017 | Penulis: Wulan Arumbi

Meninjau Kesurupan dari segi Psikologi. Apakah anda pernah mendengar berita tentang kesurupan? Atau fenomena itu pernah anda saksikan sendiri? Mudah-mudahan tidak terjadi dengan anda, ya!

Peristiwa kesurupan dapat disikapi dari berbagi kacamata. Ada yang menganggapnya halusinasi sampai ke peristiwa mistis. Nah, bagaimana ilmu psikologi menanggapinya?

Berikut ini beberapa gejala yang biasanya menyerang orang kesurupan:

  • Bertindak lepas kontrol dan berbeda dari biasanya.
  • Hilang kesadaran akan sekitarnya dan tidak sadar dirinya sendiri.
  • Sulit membedakan kenyataan atau fantasi pada waktu yang sama.
  • Perubahan nada suara.
  • Kesusahan berkonsentrasi.
  • Hilang ingatan.

Fenomena Kesurupan dari segi Psikologi di Beberapa wilayah di Nusantara.

Kuatnya pengaruh animisme masyarakat kita sedikit banyak berperanan dalam memunculkan pemikiran-pemikiran mistis. Pada akhirnya memunculkan maraknya fenomena kesurupan di tanah air. Hal itu merupakan sebagai jalan pintas bawah sadar ketika mendapat tekanan.

Di Nusantara kesurupan adalah fenomena yang dapat dijumpai dari Aceh hingga Papua. Ciri khasnya yang sedang tren sekarang adalah kesurupan massal di lingkungan sekolah.

Indonesia merupakan bangsa kaya budaya termasuk budaya kesurupan. Bahkan di daerah daerah tertentu, malah sengaja untuk kesurupan, dan menjadi tontonan menarik. Seperti reog, kuda lumping, debus dan tari kecak.

Kuda Lumping - Kesurupan dari segi Psikologi

Budaya ini lah yang menjadi arketip-arketip yang tersimpan dalam ketidaksadaran kolektif. Hal inilah yang banyak mempengaruhi terjadinya kesurupan di indonesia.

Ada banyak istilah-istilah yang mirip dengan kesurupan. Seperti kerasukan, kerawuhan atau keranjingan. Kata surup, rasuk, rawuh, ranjing menggambarkan keadaan sesuatu yang berasal dari luar, masuk ke dalam dan mengisi ruang dalam.

Pendapat ahli psikologi tentang Kesurupan dari segi Psikologi.

Sartono Mukadis, pakar Psikologi Universitas Indonesia,

Munculnya fenomena kesurupan jika dilihat dari sudut pandang psikologi disebabkan oleh faktor labilitas kepribadian.

“Yang terkena pada umumnya orang-orang yang labil dan yang mencari pegangan. Anak badung sekali pun biasanya tidak ada yang kena,” kata Sartono, seperti dikutip di detik.com (25/3/2006).

Menurut psikolog Setiyo Purwanto, S. Psi, MSi,

Dalam psikologi, fenomena kesurupan itu bisa dijelaskan dalam tiga hal:

  • pertama, keadaan disosiasi, saat seseorang seakan terpisah dari dirinya;
  • kedua, histeria, saat seseorang tidak dapat mengendalikan dirinya,
  • dan ketiga, split personality, saat diri seseorang tampil dengan beragam perilaku yang dimunculkan oleh “pribadi” yang berbeda.

Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater dari Universitas Indonesia.

Beliau menjelaskan, kesurupan adalah reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi disosiasi. Yaitu reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya. Hal itu disebabkan oleh tekanan fisik maupun mental (berlebihan).

Tetapi kalau kesurupannya massal, itu melibatkan sugesti. Reaksi disosiasi dapat terjadi secara perorangan atau bersama-sama. Hal itu saling memengaruhi, dan tidak jarang menimbulkan histeria massal.

Prof. Dr. dr. H. Soewadi, MPH, Guru Besar Ilmu Kedokteran Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada.

Beliau meyakini bahwa kesurupan bukan disebabkan oleh masuknya makhluk halus. Seperti jin, kuntilanak, atau lainnya. Soewadi memandang tekanan sosial sebagai biang kesurupan.

Kesurupan, menurut ahli jiwa ini adalah gejala gangguan jiwa pada seseorang yang diikuti orang lain. Gangguan jiwa ini mengakibatkan hilangnya kepribadian yang asli.

Dapat disimpulkan juga bahwa fenomena kesurupan merupakan luapan emosi orang yang mengalaminya dalam rangka mengekspresikan suatu beban yang mereka alami baik fisik maupun kejiwaan.

Kesurupan dari segi Psikologi.

Menurut C.G. Jung, ketidaksadaran punya dua lapisan. Yaitu:

  • Ketidaksadaran individual yang isinya dibentuk oleh pengalaman-pengalaman pribadi yang digeserkan ke bawah sadar.
  • dan ketidaksadaran kolektif (collective unconsciousness) yang isinya merupakan warisan yang dimiliki semua manusia sebagai bagian dari kodratnya.

Setiap kita memiliki potensi untuk kesurupan karena memang bawah sadar kita dalam collective unconciousness berisi mitos-mitos. Sebagai contoh, yaitu  memedi pocong, wewe gombel, jin penunggu rumah, jin penunggu sungai, dan banyak lagi. Bahkan legenda penunggu laut selatan Nyai Roro Kidul.

Mitos inilah yang turun-menurun dari zaman dulu terus hingga sekarang.

Ditambah lagi pengalaman masa kecil yang sering ditakut takuti dengan berbagai macam hantu dan segala varian nya. Hal itu kemudian tersimpan dalam personal unconciousness. Sehingga kedua kenyataan itu klop membentuk suatu sistem keyakinan dan kepercayaan. Keyakinan yang setiap saat bisa muncul bila ada pemicunya (precipitating event).

Kasus kesurupan masal.

Kesurupan masal - Kesurupan dari segi Psikologi

Dalam kasus kesurupan masal yang menjadi precipitating event adalah teman yang sudah kesurupan. Dalam istilah hipnotisme teman yang sudah kesurupan menginduksi bawah sadar teman lainnya. Sehingga seperti penyakit menular yang bila tidak diisolasi akan mewabah ke yang lain.

Seringkali orang yang kesurupan memiliki kekuatan yang melebihi kemampuan biasanya. Dalam beberapa kasus kesurupan dia bisa berteriak teriak hingga berjam jam. Atau bisa melemparkan beberapa orang yang sedang memeganginya.

Ada lagi kesurupan mampu berbicara seperti bukan dia yang bicara. Dalam keadaan seperti ini seseorang yang kesurupan sedang memasuki alam bawah sadarnya tepatnya di alam ketidaksadaran kolektif. Menurut tokoh psikoanalis (Sigmund Freud) ketidaksadaran tersebut mengandung kekuatan jiwa (psyche) sehingga dia memiliki kekuatan yang melebihi seperti biasanya.

Mengapa orang bisa masuk kedalam alam bawah sadarnya?

Sebab utamanya adalah lemahnya kesadaran seperti orang mau masuk tidur. Karena lemahnya kesadaran karena faktor mengantuk.

Kesurupan bisa saja terjadi ketika penderita mengalami kecemasan hebat, tetapi ditekan ke alam bawah sadar. Akibatnya, terjadi gangguan disosiatif.

Histeria semacam ini terjadi ketika seseorang memendam stres terlalu lama. Ketika kita memendam stres, terjadi represi. Represi seperti menanam bom hidup ke dalam tanah.

Ingat, stres jangan dipendam terlalu lama. Ia akan meledak saat kita lepas kontrol. Saat kita sudah lepas kontrol, katakanlah melamun, kita bisa saja kehilangan kendali.

Apa yang harus kita lakukan ketika berada dalam situasi lingkungan “kesurupan”?

Peristiwa kesurupan sering terjadi secara masal di lingkungan sekolah. Jika suatu saat kita berada dalam situasi tak terhindarkan, dimana ada peristiwa kesurupan sedangkan para ahlinya belum hadir, maka jangan panik.

Lakukan beberapa langkah di bawah ini setidaknya sebagai pertolongan pertama Kesurupan dari segi Psikologi.

  • Isolasi sesegera mungkin anak yang terkena kesurupan
  • Tenangkan suasana, karena kesurupan cenderung membuat suasana menjadi gaduh, ketakutan, dan crowded atau ramai.
  • Tenangkan anak yang mengalami kesurupan dengan membiarkannya, jangan dipaksa atau dipegang apalagi diteriaki terlebih dipukul-pukul,
  • Tempatkan si anak di tempat tertutup namun yang aman dan udara bisa keluar masuk dalam ruangan dengan baik
  • Jika keadaan semakin tidak terkendali, panggilah dokter untuk memberikan obat penenang kepada si anak. Jika sudah dampingi anak dengan orang tuanya

Penanganan Jangka panjang Kesurupan dari segi Psikologi:

  • Ciptakan suasana sekolah yang cerah dan ceria.
    Baik lingkungan maupun hubungan guru muridnya dan tentunya proses belajar mengajar.
  • Berikan penerangan yang cukup di tempat tempat yang terkesan singup.
    Rubah warna cat dari cat yang gelap menjadi lebih terang. Tebang pohon pohon yang dianggap angker.
  • Hilangkan suasana mistis disekolah.
    Kesurupan sering terjadi biasanya di tempat yang bekas kuburan, atau dekat kuburan. Karena nuansa mistis bisa menjadi condtioning event atau keadaan yang mengkondisikan terjadinya kesurupan.
  • Cegah sikap tahayul.
    Sehingga lingkungan sekolah tidak menjadi tersugesti untuk kembali ke jaman animisme. Yang pada akhirnya akan melemahkan tauhid dan akibatnya adalah munculnya kesurupan.

Demikianlah artikel dari PsyLine.id Psikologi Online tentang fenomena kesurupan dari segi psikologi yang dirangkum dari berbagai sumber.

Semoga artikel ini bermanfaat, tentunya semua peristiwa memiliki hikmah. Semoga apa yag kita saksikan sebagai peristiwa kesurupan menjadi pelajaran kepada kita tentang rasa syukur. Menikmati apa yang sudah kita miliki akan membuat kita terhindar dari tekanan.

Salam bahagia..

Artikel Sebelumnya membahas tentang: Apa Itu Introvert, Extrovert dan Ambivert.

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan