Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Gaya Hidup & Sosial, Klinis & Kepribadian | 11256 Views

Fobia sosial adalah penyakit mental terbesar ketiga di dunia.

12 Mei 2017 | Penulis: Riswandi Alekhine

Banyak orang yang merasa gugup atau menjadi sangat sadar diri pada beberapa kesempatan. Seperti saat memberikan pidato sambutan atau wawancara pekerjaan. Tapi, social anxiety disorder, alias kecemasan sosial atau fobia sosial. Lebih dari sekadar rasa malu atau gugup yang seringnya timbul tenggelam.

Gangguan kecemasan social sering muncul pertama kali di masa kanak-kanak atau remaja awal, dan cenderung timbul pada perempuan. Gangguan kecemasan sosial adalah gangguan psikologis yang diakui oleh dunia medis dan dapat diobati secara efektif. Sehingga Anda harus berkonsultasi dengan Psikolog jika Anda berpikir Anda memiliki kondisi ini.

Baca juga:

Perbedaan psikolog dengan psikater

Apa itu fobia sosial?

Social Anxiety Disorder atau gangguan kecemasan sosial, dikenal juga sebagai fobia sosial, adalah rasa ketakutan ekstrem dalam situasi sosial. Atau yang melibatkan performa tertentu, terutama situasi yang sama sekali asing. Atau di mana kita merasa akan diawasi atau dievaluasi oleh orang lain.

Kita mungkin takut bahwa orang akan berpikir buruk tentang kita. Atau kita merasa tidak akan tampil/bekerja sebaik yang diharapkan orang lain.

Fobia social terbagi menjadi dua:

  1. Fobia sosial khusus,

    Fobia sosial ini muncul ketika bertemu atau berada di dalam situasi-situasi sosial tertentu saja.

  1. Fobia sosial umum,

    Fobia sosial ini biasanya melibatkan rasa takut intens, persisten, dan kronis. Hal itu disebabkan perasaan dihakimi oleh orang lain dan dipermalukan atau dihina karena tindakan-tindakan yang pernah dilakukan.

Dari kedua jenis fobia sosial di atas, fobia sosial umum adalah yang paling parah. Sebab perasaan takut cenderung mudah muncul dalam situasi sosial apapun.

Munculnya fobia sosial pada usia dini ini cenderung mendorong munculnya depresi berat. Bisa juga karena tindakan penyalahgunaan obat-obatan, dan konflik-konflik psikologis maupun sosial lainnya.

Beberapa orang bisa mengalami cemas dan gugup di situasi tertentu, misalnya menghadapi wawancara kerja. Namun bagi orang lain, kecemasan dan kegugupan terkait dengan situasi sosial spesifik tertentu.

Misalnya:

  • Berbicara di depan publik
  • Tampil di atas panggung
  • Bertemu dengan orang baru
  • Menjadi pusat perhatian
  • Diamati ketika melakukan sesuatu
  • Membuat basa-basi
  • Digoda, diledek, atau dikritik
  • Berbicara dengan orang-orang penting atau figur yang berwenang
  • Dipanggil dalam kelas
  • Berkencan
  • Membuat/menerima telepon
  • Menggunakan toilet umum
  • Melaksanakan ujian
  • Makan dan minum di tempat umum
  • Berbicara saat rapat
  • Menghadiri pesta atau kumpul-kumpul teman

Tanda dan gejala fobia social.

fobia sosial

Gejala emosional dari fobia sosial:

  • Merasa sangat sadar diri dan gugup berlebihan di situasi sosial sehari-hari (yang orang lain anggap remeh)
  • Rasa cemas yang intens selama berhari-hari, minggu, atau bahkan bulanan sebelum situasi sosial yang akan datang
  • Ketakutan yang amat sangat akan rasa diamati atau dinilai oleh orang lain, terutama orang-orang yang tidak Anda kenal
  • Ketakutan amat sangat bahwa Anda akan memalukan diri sendiri
  • Ketakutan amat sangat bahwa orang lain akan menyadari bahwa Anda gugup

Gejala fisik dari fobia sosial:

  • Wajah memerah, blushing
  • Napas pendek-pendek
  • Sakit perut, mual
  • Gemetar, termasuk suara yang gemetar
  • Jantung deg-degan atau dada terasa sesak
  • Berkeringat atau hot flashes
  • Merasa pusing atau ingin pingsan

Gejala perilaku dari fobia sosial:

  • Menghindari situasi sosial hingga tingkat tertentu sehingga membatasi aktivitas Anda atau mengganggu rutinitas Anda
  • Menghindari tatap mata
  • Berdiam diri atau bersembunyi di belakang untuk menghindari orang lain menyadari kehadiran Anda
  • Kebutuhan untuk selalu membawa teman kemanapun Anda pergi
  • Minum (alkohol) sebelum menghadapi situasi sosial apapun untuk upaya menenangkan diri
  • Seringkali, anak-anak dengan fobia sosial menolak untuk pergi ke sekolah karena gejala yang mereka alami.

Fobia sosial berbeda dengan sifat pemalu, Anti Sosial dan Introvert.

Fobia Sosial

Pemalu.

Dikutip dari National Institute of Mental Health, Marcy Burstein, Ph.D, beserta tim meneliti tingkat rasa malu normal di kalangan remaja dan karakteristik lainnya yang tumpang tindih dengan gejala fobia social terhadap lebih dari 10 ribu pemuda Amerika usia 13-18 tahun.

Tim peneliti menemukan bahwa setengah populasi dari partisipan mengidentifikasikan diri mereka sebagai pemalu. Hanya 12% dari total anak pemalu yang juga memenuhi kriteria fobia sosial dalam hidup mereka.

Hasil tes di atas menunjukkan bahwa rasa malu/sifat pemalu dengan fobia sosial tidak selalu berkaitan langsung. Malah, kehadiran ciri fobia sosial dalam diri mungkin sebagai satu kesatuan yang berdiri sendiri. Terpisah dari rasa malu, pada beberapa kasus.

Singkatnya, penelitian Burstein berhasil membuktikan bahwa fobia sosial bukan hanya sekadar rasa malu. Sebaliknya, fobia sosial mempengaruhi sebagian kecil anak muda.

Anti Sosial.

Gangguan kepribadian ‘anti sosial’ yang sebenarnya ditandai dengan pola perilaku yang eksploitatif, penuh tipu muslihat, mengabaikan hukum, melanggar hak orang lain, serta kasar (cenderung kriminal). Tanpa motif yang jelas atau logis.

Introvert.

Ciri kepribadian introvert sering diasumsikan sebagai sifat pemalu, fobia sosial, atau bahkan penghindaran situasi sosial.

Salah besar..!

Banyak seorang introvert yang bisa bersosialisasi dengan mudah. Mereka hanya lebih nyaman jika sedang sendiri.

Baca juga:

Apa itu introvert? Bagaimana cara berinteraksi dengan mereka?

Bagi seseorang yang memiliki fobia sosial, keterlibatan dirinya di dalam satu situasi sosial tertentu dapat mengancam keselamatan dirinya.

Penyebab Fobia Sosial.

Gangguan kecemasan sosial merupakan gangguan yang paling mungkin terjadi sebagai hasil dari kombinasi faktor genetik dan lingkungan. Gangguan kecemasan sering menurun di keluarga.

Penyebab Fobia Sosial:

  1. Kondisi Biologis.

    Orang bisa terkena Fobia Sosial diakibatkan karena mendapatkan dari anggota keluarganya yang juga mengalaminya. Jadi kalau orang yang terkena Fobia Sosial karena keturunan/gen bisa diketahui saat masih anak-anak ketika akan memasuki dunia sosial.

  2. Kondisi Lingkungan Sosial.

    Seseorang bisa terkena Fobia Sosial karena pengaruh lingkungan. Trauma sosial yang dimaksud seperti, dikucilkan/dibully di lingkungannya. Atau mengalami suatu tragedi yang menyebabkan rasa malu yang amat sangat. Penderita sering berada dalam kondisi atau situasi sosial yang tidak berpihak, tidak mendidik, dan tidak memberinya kesempatan untuk berinteraksi sosial.

    Misalnya kondisi sosial yang tidak bisa menerima cacat, kekurangan, kelainan, atau perbedaan seseorang. Dimana penderita pada awalnya menjadi pribadi yang diasingkan atau tidak diterima. Salah satu contoh kasus sosial yang marak sekarang adalah “bullying“. Bullying bisa menyebabkan seseorang menjadi sangat tertekan, mengalami fobia sosial, hingga bisa berujung pada depresi.

  3. Kondisi Psikologis.

    Orang yang menderita fobia sosial biasanya merasa harga dirinya rendah (low self-esteem). Takut untuk ditolak atau tidak diterima oleh sekitar/sosial. Tidak memiliki rasa percaya diri yang cukup, baik dalam hal penampilan fisik (appearance) maupun performa diri (performance).

  4. Kondisi Tradisi.

    Banyak ditemukan pada penderita fobia sosial cenderung memiliki kepribadian yang tertekan sejak mereka anak-anak. Orangtua yang tidak mendidik mereka dengan keterampilan sosial. Domisili yang sering berpindah-pindah juga sebagai pemicunya. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mengakrabkan diri dengan lingkungan sekitar.

  5. Cara berpikir dan karakter.

    Cara berpikir sebenarnya juga dipengaruhi oleh karakter seseorang.

    Cara berpikir instan misalnya, dapat membuat seseorang memiliki harapan berlebih pada suatu usaha yang dilakukannya. Namun ketika hasil tidak dicapai dengan cepat, dia lalu merasa malu, rendah diri, atau bersalah. Menyalahkan diri sendiri terlalu mendalam dan tidak berkesudahan.

    Dia takut orang lain akan mengetahui kesalahan atau ketidakmampuannya dalam melakukan sesuatu. Reaksi yang paling parah adalah dia kemudian melarikan diri atau mengasingkan diri dari masyarakat.

Gejala-gejala demikian tersebut di atas juga merupakan bagian dari gangguan kecemasan secara umum.

Ciri-ciri penderita Fobia Sosial.

fobia sosial

  1. Selalu gelisah berada di tempat umum.
  2. Merasa takut/cemas untuk bertemu orang baru.
  3. Merasa sedang diperhatikan atau dinilai orang lain.
  4. Menghindari dimana anda akan menjadi pusat perhatian.
  5. Menghindari kegiatan sosial, walaupun kegiatan sosial itu terlihat menyenangkan.
  6. Menghindar/bersembunyi ketika ada tamu yang belum dikenal datang ke rumah.
  7. Takut/cemas menerima telepon dari orang yang tidak dikenal.
  8. Takut menatap lawan bicara.
  9. Sangat susah berbicara di tempat umum.
  10. Kecenderungan untuk menyendiri.
  11. Tidak suka untuk membuat kontak mata.
  12. Tidak mampu tampil dengan baik di muka umum.
  13. Penurunan konsentrasi kerja, belajar atau berkarya.

Cara mengatasi Fobia Sosial.

Bagaimana cara mengatasi Fobia Sosial?

fobia sosial

Berikut tips cara mengatasi Fobia Sosial:

  1. Lawan Rasa Takut.

    Satu-satunya cara menghilangkan rasa takut adalah melawannya rasa takut itu sendiri. Jangan kita terus menerus sembunyi dan ditindas oleh rasa takut! Bangkit dan hadapi rasa takut yang anda miliki! Kamu Pasti Bisa! MERDEKA..!

  2. Tingkatkan Rasa Kepercayaan Diri.

    Apakah kita sudah berani bangkit melawan rasa takut kita? Kalau sudah, pertahankan! Pertahankan dengan kepercayaan diri anda. Anda bisa membaca artikel berikut untuk membantu anda meningkatkan rasa percaya diri anda.

    Baca juga: tips agar percaya diri.

  3. Cari Teman yang Bisa Menjadi Panutan yang Baik.

    Rasa takut ada dimana-mana, karena itu tidak mungkin kita melawannya sendirian. Kita perlu bantuan dari orang-orang di sekitar kita. Maka, carilah teman-teman yang bisa meningkatkan rasa percaya diri kita dan memberikan hal-hal yang positif untuk kita. Jangan jadikan Teman Beracun anda menjadi sahabat anda.

    Baca Juga:
    19 Ciri Teman Beracun.

  4. Membiasakan Diri di Lingkungan Sosial.

    Kita dulu sering berada di tempat yang sepi, sekarang biasakan berada di tempat yang ramai. Bisa dibilang kalau kita sudah terbebas dari rasa takut. Selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah membiasakan diri di keadaan lingkungan yang baru tersebut.

  5. Menerima Diri Apa Adanya.

    Walaupun sekeras apapun kita berusaha, setiap orang pasti memiliki kekurangan. Maka dari pada itu, pemikiran kita harus dirubah. Jangan selalu merasa khawatir terhadap kekurangan yang kita miliki dan tidak selalu merendahkan diri. Bersyukurlah terhadap kelebihan dan ikhlaslah menerima kekurangan yang anda miliki.

  6. Tetap Tenang.

    Ketika Anda membuat janji bertemu dengan orang baru, sebelumnya cobalah untuk tetap tenang. Tarik napas dalam dan lepaskan; lakukan beberapa kali untuk membuat diri Anda menjadi lebih tenang dan rileks. Apa yang ada di pikiran Anda juga dapat mempengaruhi; jadi coba konsentrasi dan pikirkan bahwa orang yang Anda temui juga manusia biasa.

  7. Menemukan Jawaban.

    Tanyakan diri sendiri apa yang membuat Anda gugup untuk menghadapi orang lain. Apakah karena Anda gagap sedikit atau karena kondisi fisik Anda besar atau sesuatu yang lain? Cobalah untuk mencari akar permasalahan yang membuat Anda gugup saat bertemu orang banyak.

  8. Cari Solusi.

    Hanya dengan mengetahui penyebab dari kecemasan sosial yang Anda rasakan tidak akan membantu banyak kecuali Anda melakukan usaha untuk mengatasinya. Lakukan apa pun untuk mendapatkan solusi dari kecemasan Anda misalnya dengan membaca buku self-help, bergabung dengan kelas-kelas pengembangan kepribadian.

  9. Mencari Bantuan.

    Tidak usah merasa malu atau takut untuk mencari bantuan eksternal untuk mengatasi kecemasan sosial Anda. Ketika Anda bisa lebih terbuka tentang kondisi Anda pada keluarga, teman atau bahkan seorang konselor; mereka pasti akan memberikan masukan dan saran untuk membantu Anda.

  10. Lebih Bersosialisasi.

    Sebuah saran yang cukup aneh ya mengingat bahwa Anda menderita kecemasan sosial. Akan tetapi bila direnungkan, apabila Anda memiliki kecemasan terhadap sesuatu hal maka akan lebih baik bila dihadapi bukan? Bangkit dan hadapi masalah daripada menyerah pada masalah yang ada. Semakin sering Anda bersosialisasi, Anda akan semakin terbiasa dalam menghadapi banyak orang.

  11. Mengendalikan Imajinasi.

    Apakah Anda membayangkan hal-hal sebelum Anda pergi ke sebuah pesta? Atau ketika ingin bertemu orang banyak? Atau ketika ingin melakukan presentasi di depan banyak orang? Jika ini terjadi, pastikan untuk mengendalikan imajinasi Anda di waktu berikutnya. Dengarkan musik untuk mengalihkan pikiran Anda dari berandai-andai. Toh tidak ada gunanya juga berimajinasi pada hal-hal yang belum terjadi; belum tentu juga hasilnya seperti yang Anda bayangkan.

  12. Lebih Menghargai Diri Sendiri.

    Orang yang tidak menghargai dirinya sendiri dan merasa rendah diri bisa menjadi salah satu penyebab dari kecemasan sosial. Jangan khawatir tentang penampilan Anda atau apa yang orang lain akan berpikir tentang kekurangan Anda. Tidak ada sempurna. Anda hanya perlu untuk membangun kompetensi Anda dan lebih menghargai dri Anda sendiri.

  13. Menjadi Diri Sendiri.

    Kenali potensi diri Anda dan jadilah diri sendiri. Cara ini dapat membuat Anda lebih percaya diri dan dapat mengatasi kecemasan sosial yang dirasakan ketika berada di keramaian. Setiap orang unik. Apabila Anda memiliki kekurangan, jangan fokus pada hal tersebut atau cobalah untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

  14. Tetap Positif.

    Jangan menyerah dalam menghadapi kegagalan. Optimis sepanjang waktu. Anda pasti akan mengatasi kecemasan sosial Anda hari ini atau besok.

  15. Terus Mencoba.

    Mencoba, mencoba dan coba lagi. Waktu berikutnya Anda menyia-nyiakan naik di depan orang, pastikan untuk tidak membiarkan diri Anda down. Tetap semangat dan jangan lelah untuk terus mencoba lagi.

  16. Kunjungi Psikolog.

    Jika kita berpikir kita memiliki kondisi di atas, kita sebaiknya menghubungi Psikolog agar dapat membantu masalah kita.

    Anda bisa juga menggunakan fasilitas konsultasi psikologi dari psyline.id agar kita lebih baik lagi.

Demikianlah artikel tentang apa itu fobia sosial dari Psyline.id Psikologi Online. Semoga bermanfaat dan membuat kita lebih bahagia.

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Rahasia Keajaiban Pelukan Orangtua Bagi Anak. Tips memeluk anak

Tentang Penulis

Riswandi Alekhine

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Seorang Aquascaper.
Jatuh cinta pada script, poetry, filsafat dan senja saat hujan.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan