Psikologi Klinis: Skizofrenia adalah gangguan mental kronis

Diposting: 21 September 2017 | Kategori Artikel: Klinis & Kepribadian

Dilihat: 1415 kali.

Penulis: Riswandi Alekhine

Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.

Penyakit ini bisa diidap siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Kisaran usia 15-35 tahun merupakan usia yang paling rentan terkena kondisi ini. Penyakit ini diperkirakan diidap oleh satu persen penduduk dunia.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) yang dipublikasikan pada tahun 2014. Jumlah penderita skizofrenia di Indonesia diperkirakan mencapai 400 ribu orang.

Di Indonesia, akses terhadap pengobatan dan pelayanan kesehatan jiwa masih belum memadai. Akibatnya, sebagian besar penduduk di negara ini, terutama di pelosok-pelosok desa. Kerap memperlakukan pasien gangguan jiwa dengan tindakan yang tidak layak seperti pemasungan.

Penyebab skizofrenia

Sebenarnya para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizofrenia secara pasti. Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.

Diagnosis dan pengobatan skizofrenia

Penyakit skizofrenia akan terdeteksi pada diri pasien jika:

  • Mengalami halusinasi, delusi, bicara meracau, dan terlihat datar secara emosi.
  • Mengalami penurunan secara signifikan dalam melakukan tugas sehari-hari. Termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala di atas.

Gejala-gejala di atas bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan bipolar atau efek samping penyalahgunaan obat-obatan.

Gejala skizofrenia dibagi menjadi dua kategori, yaitu negatif dan positif.

Gejala negative

skizofrenia menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada di dalam diri orang yang normal.

Sebagai contoh,

  • Keengganan untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat dengan orang lain.
  • Kehilangan konsentrasi.
  • Pola tidur yang berubah.
  • Kehilangan minat dan motivasi dalam segala aspek hidup.
  • Kehilangan minat dalam menjalin hubungan
  • sikap tidak responsif terhadap keadaan,
  • dan kecenderungan untuk mengucilkan diri.

Terkadang gejala tersebut sulit dikenali orang lain karena biasanya berkembang di masa remaja. Sehingga orang lain hanya menganggapnya sebagai fase remaja.

Ketika penderita sedang mengalami gejala negatif, dia akan terlihat apatis dan datar secara emosi. Misalnya: bicara monoton tanpa intonasi, bicara tanpa ekspresi wajah, dan tidak melakukan kontak mata. Mereka juga menjadi tidak peduli terhadap penampilan dan kebersihan diri, serta makin menarik diri dari pergaulan.

Sikap tidak peduli akan penampilan dan apatis tersebut bisa disalahartikan orang lain sebagai sikap malas dan tidak sopan. Hal ini sering kali memicu rusaknya hubungan penderita dengan keluarga ataupun dengan teman-temannya.

Gejala negatif skizofrenia bisa berlangsung beberapa tahun sebelum penderita mengalami episode akut pertama. Yaitu ketika gejala menjadi parah dan kadang-kadang diikuti beberapa gejala positif.

Gejala positif skizofrenia:

  • Halusinasi.
    Terjadi pada saat panca indera seseorang terangsang oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Fenomena halusinasi terasa sangat nyata bagi penderita. Contoh gejala halusinasi yang biasanya dialami oleh penderita skizofrenia adalah mendengar suara-suara.
  • Delusi.
    Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau kenyataan yang sebenarnya. Contoh gejala delusi bisa bermacam-macam. Ada penderita yang merasa diawasi, diikuti, atau khawatir disakiti oleh orang lain. Ada juga yang merasa mendapat pesan rahasia dari tayangan televisi. Gejala-gejala delusi semacam ini bisa berdampak kepada perilaku penderita skizofrenia.
  • Pikiran kacau dan perubahan perilaku.
    Penderita sulit berkonsentrasi dan pikirannya seperti melayang-layang tidak tentu arah sehingga kata-kata mereka menjadi membingungkan. Penderita juga bisa merasa kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Perilaku penderita skizofrenia juga menjadi tidak terduga dan bahkan di luar normal. Misalnya, mereka menjadi sangat gelisah atau mulai berteriak-teriak dan memaki tanpa alasan.

Berikut adalah tanda-tanda yang menunjukkan seseorang mengalami skizofrenia, seperti dilansir psychcentral.com.

  • Mengisolasi diri atau menarik diri dari pergaulan social,
  • Irasional, mengatakan atau meyakini sesuatu yang aneh atau ganjil,
  • Peningkatan paranoia atau mempertanyakan motivasi orang lain,
  • Mudah emosi,
  • Melihatkan Permusuhan atau kecurigaan,
  • Peningkatan ketergantungan pada obat-obatan atau alkohol (dalam upaya untuk mengobati diri),
  • Kurangnya motivasi,
  • Berbicara dengan cara yang aneh tidak seperti diri mereka sendiri,
  • Sering tertawa pada waktu yang tidak tepat,
  • Insomnia atau susah tidur,
  • Penurunan dalam penampilan pribadi dan kebersihan.

Meskipun tidak ada jaminan bahwa seseorang yang mengalami satu atau lebih gejala-gejala di atas menderita skizofrenia. Sebelas tanda di atas bisa menjadi acuan untuk mengenali apakah ada gangguan yang diderita seseorang.

Penting untuk mengenali gejala-gejala skizofrenia

Jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan ke rumah sakit. Makin dini skizofrenia ditangani, maka peluang sembuh menjadi makin tinggi.

Karena skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Untuk memperbesar peluang sembuh, pengobatan juga harus ditunjang oleh dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat.

Meskipun sudah sembuh, penderita skizofrenia tetap harus dimonitor. Biasanya dokter akan terus meresepkan obat-obatan untuk mencegah gejala kambuh. Selain itu, penting bagi penderita untuk mengenali tanda-tanda kemunculan episode akut dan bersedia membicarakan kondisinya pada orang lain.

Faktor yang diduga berpengaruh dalam penderita Skizofrenia di antaranya:

  • Ketidakseimbangan kadar serotonin dan dopamine.
  • Bentuk struktur otak dan sistem saraf pusat yang tidak normal.
  • Genetik yang diturunkan dari orangtua (penyakit keturunan).
  • Kekurangan oksigen, kekurangan nutrisi, dan terpapar racun atau virus saat masih di dalam kandungan ibu.
  • Lahir prematur dan lahir dengan berat badan di bawah normal.
  • Peningkatan aktivasi pada sistem kekebalan tubuh akibat penyakit autoimun dan peradangan.
  • Penyalahgunaan obat-obatan terlarang, seperti amfetamin, kokain, dan ganja.

Psikosis bisa dikenali dari perubahan drastis pada perilaku penderita skizofrenia. Misalnya tiba-tiba bingung, cemas, marah, atau curiga pada orang-orang di sekitar.

Pemicu Skizofrenia

Yang dimaksud pemicu di sini adalah sesuatu yang dapat memunculkan gejala skizofrenia pada orang-orang yang berisiko terkena skizofrenia. Akibat faktor-faktor pembentuk kondisi seperti yang sudah disebutkan di atas.

Pada kasus skizofrenia, stres merupakan pemicu utama. Banyak hal yang dapat menjadikan seseorang mengalami stress. Diantaranya karena kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, kehilangan orang yang dicintai, perceraian, pelecehan seksual, dan sebagainya.

Kadang-kadang dokter kesulitan untuk mendapatkan keterangan di atas jika bertanya langsung pada penderita skizofrenia. Karena mereka cenderung tertutup, menyangkal, atau sama sekali tidak menyadari gejala yang ada.

Untuk mengatasi hal ini, dokter perlu bertanya kepada orang-orang yang mengantar penderita berobat, misalnya keluarga atau teman.

Penanganan melalui terapi psikologis

Setelah gejala skizofrenia reda, penderita membutuhkan terapi psikologis di samping harus tetap melanjutkan konsumsi obat. Di dalam terapi psikologis, penderita akan diajari cara mengatasi stres dan mengendalikan penyakit mereka melalui identifikasi tanda-tanda kambuh.

Selain itu, penderita juga akan diajari cara meningkatkan kemampuan komunikasi agar bisa tetap berinteraksi secara sosial. Terapi ini juga bermanfaat untuk kembali mengembangkan kemampuan penderita dalam bekerja.

Terapi psikologis tidak hanya diperuntukkan bagi penderita. Ahli terapi juga perlu memberikan edukasi pada keluarga penderita tentang cara menghadapi skizofrenia.

Warning..!

Artikel dari PsyLine.id Psikologi Online tentang skizofrenia ini berupa memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan.

Informasi dalam artikel ini hanya digunakan untuk penjelasan ilmiah. Bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis.Informasi dalam artikel ini bukanlah resep atau nasihat medis.

PsyLine.id Psikologi Online bukan pengganti dokter.

Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional.

 

Bila Anda ada permasalahan yang sama dengan Tips Psikologi tersebut di atas, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan PSYLine.id Psikologi Online Indonesia dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Konsultasi Psikologi sebelumnya membahas tentang:

Psikologi Anak: Menanamkan Disiplin Pada Anak.

Tentang Penulis

Riswandi Alekhine

Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Seorang Aquascaper.
Jatuh cinta pada script, poetry, filsafat dan senja saat hujan.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog