Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Stress Karena Ibu Mertua Terlalu Banyak Menuntut

Kategori: | 967 Views

Konsultasi Psikologi: Ibu Mertua Terlalu Banyak Menuntut

12 April 2018 | Penulis: Dinda Setiadewi, M.Psi, Psikolog.

: Rizki

: Makasar

: Wanita

Isi Konsultasi:

Assalamualaikum dok, aku sudah menikah 1 tahunan tapi belum ada momongan. Karena menurut dokter aku ada kista ovarium.

Jujur, selama ini setelah menikah aku stress. Ibu suamiku terlalu banyak menuntut sama suamiku. Padahal anaknya yang lain banyak, tapi suamiku yang paling sering dimintai. Bahkan hutang-hutangnya dan saudaranya ia suruh suamiku yang bayar. Padahal aku juga dari keluarga susah. Aku perlu uang buat beli obat, buat  kesembuhanku.

Aku juga pengen hamil, tapi jujur aku tidak bisa kelola stress ku dok.

Suamikupun selalu kasihan dan menuruti kemauan keluarganya, tapi aku yang sakit kurang diperhatikan.

Aku harus bagaimana dok biar gak stress mikirinnya?

Dinda Setiadewi, M.Psi, Psikolog

Jawab:

Waalaikumsalam Bu Rizki, yang sedang sedih Ibu Mertua Terlalu Banyak Menuntut. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih sudah mau berbagi keluh kesahnya dengan PSYLine.

Pertama, perlu saya sampaikan dan perlu dipahami beda Psikolog dengan Psikiater ya.

Kalau Psikolog, dari awal kuliahnya, tidak menangani medikasi atau pengobatan yang dilakukan dokter. Psikolog menangani masalah kejiwaan melalu pendekatan non medis. Sedangkan Psikiater adalah seorang Dokter yang mengambil spesialisasi di bidang kejiwaan.

Perlu kami informasikan perbedaan antara Psikolog dengan Psikiater. Anda dapat membacanya di artikel PsyLine.id Psikologi Online dengan judul:

Mau tahu apa Perbedaan Psikolog dan Psikiater?

Kami dapat memahami situasi Ibu saat ini. Namun terdapat pertanyaan yang cukup menganjal di benak kami terkait perkenalan Ibu dengan suami sebelum menikah.

Apakah Ibu dan suami menikah karena perjodohan keluarga, ataukah berawal dari pertemanan? Kami perlu mengetahui berapa lama proses Ibu dan suami saling memahami. Memahami latar belakang keluarga dan pribadi masing-masing sebelum menikah.

Apakah sebelum menikah Ibu sudah mengetahui posisi suami dan tuntutan-tuntutan keluarga terhadapnya? Apakah saat itu Ibu dapat menerimanya? Pernahkan sebelum menikah ada pembicaraan terkait hal tersebut? Apakah saat ini Ibu tinggal dengan mertua atau keluarga lainnya?

Kesulitan Mengelola Stress Karena Ibu Mertua Terlalu Banyak Menuntut

Meskipun terdapat beberapa hal yang belum diceritakan, marilah kita coba fokus pada permasalahan dengan berdasarkan informasi yang sudah ada.

Kami simpulkan bahwa saat ini permasalahan utama Ibu adalah: kesulitan dalam mengelola stress, yang salah satunya disebabkan oleh permasalahan rumah tangga.

Berbicara Dari Hati Ke Hati Dengan Suami

Apakah Ibu pernah mendiskusikan kondisi dan perasaan Ibu kepada suami sebelumnya?

Jika belum ada baiknya Ibu secara terbuka menyampaikan apa yang menjadi ganjalan. Tentu dengan cara dan kalimat yang tidak menuntut, menyalahkan ataupun menyudutkan pihak-pihak tertentu.

Perlu Ibu coba untuk menempatkan posisi Ibu dengan kondisi yang sedang dialami suami. Dengan tujuan bisa lebih mengetahui cara seperti apa yang nyaman untuk menyampaikan keluhan-keluhan.

Menjalin Keakraban Dengan Ibu Mertua

Kemudian, seberapa dekatkah Ibu dengan Ibu mertua? Apakah sudah pernah mencoba untuk berbicara dari hati ke hati untuk mengetahui posisi dan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya?

Jika belum boleh dicoba terlebih dahulu untuk Ibu lebih banyak merangkul Ibu mertua, memahaminya lebih mendalam. Cara ini diharapkan dapat mempererat hubungan batin/psikologis antara Ibu dan Ibu mertua, sehingga lebih jauh harapan maupun kesulitan Ibu pun dapat lebih dipahami oleh Ibu mertua.

Terkait stress yang Ibu rasakan, bisa jadi lebih banyak disebabkan oleh belum ditemukannya cara untuk menyampaikan keinginan, harapan, kondisi, kendala yang Ibu hadapi sebagai seorang istri kepada suaminya. Sehingga dorongan-dorongan tersebut Ibu pendam sendiri.

Namun di sisi lain melihat suami memberikan perhatian dan memfasilitasi kebutuhan orang lain seperti Ibu mertua dan saudaranya. Adanya pemikiran pribadi yang negatif turut memperparah kondisi stress yang Ibu alami.

Maka dari itu, yang pertama perlu kita coba adalah meningkatkan komunikasi dengan suami. Mulailah pembicaraan bukan dengan keluhan tapi lebih pada dukungan, perhatian dan rasa terima kasih karena ia telah bekerja keras untuk kehidupan Ibu sebagai istri dan juga keluarganya.

Ubahlah juga pendapat yang masih negatif menjadi lebih positif. Misalnya ‘Ibu Suami’ yang terlalu banyak menuntut sebagai berkah dari Allah SWT yang mempercayakan rezekiNya kepada suami Ibu untuk menjaga dan membantu Ibunya.

Jika kondisi sudah lebih baik, Ibu pun sudah memberikan dukungan kepada suami untuk bisa menjadi anak berbakti. Kemudian saat suami sedang dalam kondisi santai dan tidak banyak beban pikiran, maka sampaikanlah keinginan Ibu apa saja. Pastinya dengan komunikasi tanpa melibatkan emosi.

Selamat mencoba ya bu. Semoga pembicaraan kita melalui email ini setidaknya dapat sedikit memberikan bantuan untuk Ibu dan keluarga. Kami mendoakan ibu dan suami dapat memperoleh kebahagiaan pernikahan yang sejati, serta dapat membina keluarga yang harmonis, sakinah, penuh mawaddah, rahmat dan barokah dari Allah SWT, aamiin Allahumma aamiin. 

Salam bahagia,

Dinda Setia Dewi. 

Ceritakan Masalah Pribadimu Secara Rahasia dan Anonim.

Silakan mengisi kuesioner singkat untuk memberikan beberapa latar belakang umum tentang Anda dan isu-isu yang ingin Anda bahas dalam konseling.

Bila Anda ada permasalahan yang sama dengan konsultasi tersebut di atas, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Jangan Takut! Data diri dan latar belakang Anda terjamin 100% kerahasiannya.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Bergabunglah dengan kami di Media Sosial PSYLine.id Klik Tautan Berikut Ini:

comfort.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Konsultasi Psikologi sebelumnya membahas tentang:

Konsultasi Psikologi: Istri Yang Tidak Bisa Mengendalikan Emosi.

Tentang Penulis

Dinda Setiadewi, M.Psi, Psikolog.

Dengan pengalaman utama sebagai konselor remaja dan dewasa beserta permasalahan dalam tugas perkembangannya. Memiliki minat terhadap pengembangan terapi klinis dan alat tes psikologi. Di waktu senggang, menyempatkan diri menyalurkan kegemaran yaitu wisata sejarah Indonesia ataupun hanya sekedar membaca buku sejarah.

Tinggalkan Balasan