Konsultasi Psikologi: Suka Memuntahkan Makanan Karena Takut Gemuk

Diposting: 11 Maret 2018 | Kategori Konsultasi:

Dilihat: 638 kali.

Psikolog: Dewi Anggraeni Psikolog

: Anonim

: Depok

: Wanita

Isi Konsultasi:

Selamat pagi, mba/mas Psikolog PSYLine.id Psikologi Online Indonesia.

Disini saya ingin curhat mengenai psikologis saya yang Terganggu. Dimulai dari, saya ini suka banget memuntahkan makanan saya setelah makan. Alasannya karena saya takut sekali gemuk.

Tidak tanpa alasan. Saya dulu sewaktu SMP sering banget dibully dengan dipanggil berbagai macam-macam binatang yang tidak baik. Seperti : kingkong, gozilla, babi, beruk, dan segala macamnya.

Orangtua saya menilai saya lebay. Karena saya diet terlalu berlebih. Beliau, mengatai saya goblok melakukan hal itu. Selain dosa besar, saya juga tidak menghargai pemberian orang tua. Tapi, mereka mungkin lupa. Anaknya korban bully’an.

Untuk ngomong jujur, saya tidak berani. Itu kenapa, saya mendzalimi dengan “body shamming” saya sendiri. Coba mba, 3 tahun saya mengalami hal itu.

Saya diselengkat sama cowok-cowok. Cowok-cowok menatap saya jijik…

Tolong saya. Saya ingin hidup normal bener-bener normal. Yang bisa nongak kepala saya. Saya capek menjadi orang yang selalu menunduk.

Dewi Anggraeni, S.Psi, Psikolog

Jawab:

Hallo Anonim, yang Suka Memuntahkan Makanan Karena Takut Gemuk. Terima kasih sudah menggunakan jasa PSYLine.id.

Saya sangat prihatin bahwa saat di SMP dulu kamu selama 3 tahun diolok-olok dan diejek. Serta dipanggil dengan macam-macam sebutan yang tidak pada tempatnya. Istilah yang banyak digunakan sekarang adalah kamu mengalami “bullying”.

Baca Juga:

Apa itu Bullying? Kenali Tanda dan Cara Pecegahannya.

Saya amat menyayangkan bahwa mereka yang masih sangat muda sudah belajar menyakiti orang lain.

Kamu juga bercerita bahwa saat kamu di SMP pernah mengalami kegemukan dan walaupun sekarang sudah tidak gemuk lagi tetapi masih memiliki trauma akibat pengalaman buruk terkait hal ini (gemuk=diejek dan direndahkan) di masa lalu.

Suka Memuntahkan Makanan Karena Takut Gemuk

Hal terpenting yang sudah kamu lakukan adalah kamu mengakui adanya gangguan makan ini dan ingin sembuh. Kamu ingin hidup normal dan tidak mau menunduk lagi. Ini merupakan awal yang baik dan tindakan yang berani.

Kamu sekarang menderita apa yang disebut gangguan “boulimia nervosa”, yakni gangguan makan yang disebabkan oleh persoalan psikologis/kejiwaan. Dimana kamu sibuk terus-menerus dengan berat badan, penampilan dan badanmu.

Baca Juga:

Anoreksia Gangguan Makan Merupakan Indikasi Gangguan Psikis.

Pikiranmu menjadi hanya terpusat pada hal-hal ini saja. Kamu tidak puas dengan dirimu dan sangat pandai mengeritik negatif penampilanmu. Dan berat badanmu (istilahnya adalah body shaming) tentunya.

Naik Berat Badan = Menakutkan

Di matamu, naiknya berat badan merupakan hal yang sangat “menakutkan”. Hal itu karena adanya asosiasi negative dan dalam. Antara berat badan naik (gemuk) dengan ejekan-ejekan dan pandangan jijik laki-laki di masa SMP dulu.

Bila kamu lapar kamu makan. tetapi kemudian merasa bersalah dan takut sekali berat badanmu jadi naik lagi. Untuk mencegah hal ini, kamu mencoba menghilangkan apa yang telah kamu makan dengan memuntahkannya kembali.

Seperti kamu tahu, ini merupakan cara tidak sehat dalam menjaga berat badanmu. Hal itu sudah bersifat tidak rasionil lagi dan di luar kendali dirimu!

Hal Negatif Akibat Suka Memuntahkan Makanan

Hal negative Secara fisik:

  • Akan merusak fungsi tenggorokan,
  • mengakibatkan kamu berisiko kekurangan gizi,
  • vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh,
  • mengalami erosi gigi karena saat muntah isi perut yang bersifat asam akan merusak email gigi,
  • dan pada akhirnya akan mengganggu kesehatan fisik maupun psikologismu secara umum.

Hal negative secara psikologis:

  • Seperti kamu rasakan, kesehatan badanmu mulai memburuk,
  • kamu akan mudah merasa cemas,
  • panik dan takut dengan keadaanmu.

Permasalahan yang kamu miliki terasa semakin berat karena orang tuamu mencap dirimu dengan label “lebay”. Mereka juga memarahi dan menilaimu sebagai orang yang tidak bersyukur dan berdosa. Sementara di matamu, merekalah yang tidak mau mengerti keadaanmu.

Orangtuamu mungkin memang lupa, atau bisa jadi memang tidak pernah tahu atau belum menyadari. Mereka tidak tahu bahwa pengalaman “dibully” dulu, masih berbekas dan masih meninggalkan luka psikis yang mendalam sampai membuatmu memiliki gangguan boulimia ini.

Cobalah untuk menceritakan dengan terbuka dan jujur hal ini kepada orang tuamu. Orang tua akan bahagia bila anaknya bahagia, dan sebaliknya akan sedih bila kamu  menderita.

Cara Untuk Menghilangkan Bolimia Nervosa

Untuk menghilangkan boulimia nervosa ini diperlukan dukungan orang tua dan bantuan langsung dari para ahli. misalnya Psikolog Profesional PSYLine, Dokter dan Ahli Gizi. Jawaban melalui e-mail dari saya, tidak akan mencukupi untuk membantumu.

Diperlukan Psychotherapy untuk menghilangkan pola makan dan kebiasaanmu yang tidak sehat ini. Kamu perlu bimbingan seorang Psikolog Klinis untuk:

  • mengikis secara bertahap kebiasaan tidak sehatmu,
  • mempelajari sikap dan perilaku baru,
  • menghilangkan trauma masa lalu,
  • meningkatkan rasa percaya diri,
  • belajar bersikap asertif,
  • belajar mencintai diri,
  • dan lain-lain yang diperlukan untuk bisa hidup sehat jiwa dan raga.

Tips Untuk Problem Suka Memuntahkan Makanan Karena Takut Gemuk

Namun demikian saya berikan tip-tip untukmu dan semoga bisa membantu.

Simak tips berikut ini ya:

  • Bersikap terbuka kepada keluarga dan coba bicarakan persoalanmu ini, dengan orang tua dan saudara-saudaramu.
  • Menyadari bahwa kamu bukan satu-satunya yang memiliki gangguan makan ini. Cari dan binalah kontak dengan “teman-teman senasib”.
  • Cari informasi tentang gangguan makan “Boulimia nervosa” di Internet, dari ahlinya atau beli buku tentang ini.
  • Semakin kamu mengetahui akibat buruk dari Boulimia Nervosa, akan makin terdorong untuk melakukan sesuatu yang positif pada gangguan makanmu.
  • Buatlah “buku harian makan” dan tulis dengan lengkap, apa yang telah kamu makan. Tulis juga pikiran dan perasaan yang muncul/menyertainya. Dengan demikian kamu akan lebih mengerti perilaku makanmu.
  • Carilah bantuan profesional dan bawa “buku harian makanmu” ini bila kamu datang untuk berkonsultasi/therapy.
  • Pelihara kontak dengan teman-teman dan berkomunikasi dengan keluarga. Hindarilah menyendiri atau menjauh dari orang-orang terdekatmu.
  • Walaupun sulit, cobalah berhenti memuntahkan makanan itu. Ini merupakan langkah pertama untuk mendobrak “lingkaran setan” dari pola perilaku “makan – takut timbangan naik – memuntahkannya – turun berat badan – makan”
  • Jalan kaki setiap hari setengah jam mengelilingi komplek perumahan (atau tempat lain) atau mengerjakan sesuatu yang lain akan mengalihkan perhatianmu pada makan/diet.
  • Melakukan olahraga rutin minimal 3x seminggu. Ingat bahwa di dalam badan yang sehat akan terdapat jiwa yang sehat pula.
  • Lakukan hobby yang sehat.
  • Sadari bahwa waktumu banyak terbuang sia-sia untuk “bergelut” dengan masalah diet/makan, berat badan, penampilan. Gunakan waktu dan enerji yang ada untuk hal-hal yang bisa membantumu mempersiapkan masa depanmu sebagai wanita dewasa yang berpendidikan, bisa berkarya dan bahagia.
  • Belajar untuk tidak terlalu mengkhawatirkan pendapat orang lain tentang dirimu, selama kamu yakin bahwa kamu tidak melakukan sesuatu yang melanggar aturan.
  • Kamu yang menentukan apakah kamu akan berjalan dengan kepala tegak atau merunduk.
  • Berbangga hatilah bahwa kamu sudah atau hampir menjadi Sarjana. Ini berarti kamu memiliki motivasi, kecerdasan, disiplin dan kesempatan untuk menikmati pendidikan tinggi.
  • Makanlah dengan porsi normal, kenyang dan makan makanan yang sehat (banyak sayuran berserat dan buah-buahan) serta bervariasi.
  • Pupuk rasa percaya dirimu dengan menyadari (bila perlu tulis) segi-segi positif yang kamu miliki. Misalnya kamu cerdas, memiliki motivasi yang dan disiplin yang tinggi, ramah, penolong, dan sebagainya.
  • Belajar menerima dan mencintai dirimu. “Kamu baik seperti apa adanya kamu”.
  • Putuskan “hubunganmu” dengan kenangan buruk masa SMP-mu dulu dengan cara memaafkan mereka yang sudah menyakitimu.
  • Tengok kembali saat-saat menyenangkan dengan teman-teman SMA dan teman kuliahmu.

Selamat mencoba tip-tip dari saya ini. Jangan ragu untuk minta bantuan langsung dari para ahli seperti yang telah saya sebutkan tadi (psikolog, dokter, ahli gizi) untuk membantumu melalui masalah ini.

Saya mendoakan semoga hidupmu (khususnya kebiasaan makanmu) sedikit demi sedikit menjadi normal dan masa depanmu cerah dan ceria.

Salam bahagia,

Dewi Anggraeni

Ceritakan Masalah Pribadimu Secara Rahasia dan Anonim.

Silakan mengisi kuesioner singkat untuk memberikan beberapa latar belakang umum tentang Anda dan isu-isu yang ingin Anda bahas dalam konseling.

Bila Anda ada permasalahan yang sama dengan Tips Psikologi tersebut di atas, dan Anda ingin berbagi cerita. Anda dapat berkonsultasi dengan dengan Psikolog Profesional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.

Jangan Takut! Data diri dan latar belakang Anda terjamin 100% kerahasiannya.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Bergabunglah dengan kami di Media Sosial PSYLine.id Klik Tautan Berikut Ini:

comfort.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Konsultasi Psikologi sebelumnya membahas tentang:

Konsultasi Psikologi: Stress Menghadapi Pacar Yang Pencemburu.

Tentang Psikolog

Dewi Anggraeni Psikolog

Psikolog lulusan Universitas Padjadjaran, mempelajari antara lain: RET (Rational-emotive therapy), Logo Therapy, Autogene, ACT (Acceptance Commitment Therapy). Saat ini tinggal di Velserbroek, Belanda.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog