Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Rubrik Konsultasi Psikologi

Kategori: | 364 Views

Rubrik Konsultasi Psikologi Frustasi karena kegagalan.

17 Mei 2017 | Penulis: Drs. Julyvan Pertamawan, Psi

: James

: Jakarta Pusat

: Pria

Isi Konsultasi:

Halo PsyLine.id Konsultasi Psikologi Online Indonesia.

Saat ini aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri akan kegagalan yang dialami sekarang.

Rencana menikah gagal karena tidak cukup biaya ditambah banyaknya hutang yang membelit 2 tahun terakhir.

Aku frustasi, I don’t know what to do.

Mohon bimbingannya..

Drs. Julyvan Pertamawan, Psi.

Jawab:

Rubrik Konsultasi Psikologi Frustasi karena kegagalan.

James yang baik,

Pasti sudah pernah dengar kalimat: Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Iya kan?

Memang kalimat itu mudah diucapkan.

Rubrik Konsultasi Psikologi Frustasi karena kegagalan.

Dalam kenyataannya, apalagi kalau sedang mengalami kegagalan, pasti tidak mudah untuk menerapkan prinsip yang tersirat dari kalimat di atas. Prinsipnya, kita tidak boleh terpuruk dengan perasaan sedih yang disebabkan kegagalan yang sedang kita alami.

Kita juga dianjurkan untuk segera bangkit dan merajut usaha membangun keberhasilan kita sendiri.

Dalam menghadapi kegagalan, yang paling mudah adalah menyalahkan diri sendiri. Hanya saja, untuk menghadapi beban yang menyertai kegagalan, kita tidak bisa sendiri.

Rasa frustrasi yang muncul perlu dihilangkan. Curhat dan berbagi beban dengan orang lain yang dapat dipercaya, adalah cara ampuh yang dapat digunakan oleh siapa saja.

Nah, siapa sekarang yang bisa diajak berbagi beban oleh James?

Silakan dipilih dari teman dan kerabat yang ada. Perlu hati-hati dalam memilih.

Harus diingat, saat James sedang beruntung, orang banyak datang dan menenal James dengan baik. Lalu, saat James sedang dalam keadaan kurang beruntun, justru James dapat lebih mengenal siapa teman yang sesungguhnya.

Jadi, saat ini, saat James sedang kesulitan, adalah saat yang tepat untuk menemukan teman yang sesungguh. Dia adalah teman dikala sulit.

Jangan ditolak ya.

Kalalu sudah menemukan seorang atau beberapa orang yang mau membantu saat dalam kesulitan. Gunakan waktu bersama mereka untuk secara bertahap meyelesaikan masalah yang dihadapi James. Termasuk restrukturisasi hutang yang melilit.

Jangan lupa untuk berdoa dan meminta bantuan dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Pengasih, Yang Maha Kaya.

Semoga bermanfaat.

Salam Bahagia..

Konsultasi sebelumnya tentang: 

Rubrik Konsultasi Psikologi Gelisah setelah melihat Ibu swalayan


Ceritakan Masalah Pribadimu Secara Rahasia dan Anonim.

Silakan mengisi kuesioner singkat untuk memberikan beberapa latar belakang umum tentang Anda dan isu-isu yang ingin Anda bahas dalam konseling.

Data ini akan membantu PsyLine.id Psikologi Online mencocokkan Anda dengan Psikolog yang paling cocok untuk Anda.
Jawaban jujur Anda juga akan memberikan Psikolog untuk mengenal latar belakang Anda sehingga dapat memberikan saran yang relefan.

Data diri dan latar belakang Anda terjamin 100% kerahasiannya, dan hanya dipergunakan untuk membantu Anda menjadi lebih baik.

Konsultasi Psikologi Gratis

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine

Tentang Penulis

Drs. Julyvan Pertamawan, Psi

Aktif di Himpsi Jaya (www.himpsijaya.org) dan Iluni Psikologi Universitas Indonesia.

Bagikan Artikel Ini:

Terkait

Tinggalkan Balasan