Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stress

Kategori: | 1334 Views

Rubrik Konsultasi: Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stress

19 Agustus 2017 | Penulis: Drs. Arman Alie Psikolog

: R

: Bandung

: Wanita

Isi Konsultasi:

Halo PSYLine.id Psikologi Online Indonesia.

Saya mempunyai keluhan yaitu kadang saat saya stres, terlalu banyak pikiran, melakukan kesalahan dan mengalami kecemasan. Saya terkadang menyakiti diri sendiri dengan memukul atau menyayat.

Saat melakukan hal tersebut terkadang saya tidak sadar akan rasa sakit sampai memerah, memar, dan berdarah. Atau terkadang saya menangis tanpa sebab. Kejadian ini sudah saya alami lama dan itu membuat saya cemas.

Apakah ada solusi untuk mengatasinya? Karna terkadang saya lelah saat saya tidak sadar, saat menyakiti diri sendiri.

Mohon Bimbingannya dan Terimakasih

Drs. Arman Alie Psikolog.

Jawab:

Suka menyakiti diri sendiri saat stress.

Dear R yang baik,

Setiap orang di dunia ini tidak ada yang tidakmemiliki masalah pribadi! Siapapun dia! Tua atau muda, kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa. Baik itu cantik/ganteng atau biasa saja pasti pernah merasakan saat-saat stres, banyak pikiran, melakukan kesalahan. Lalu munculah perasaan kecemasan. Maka akan Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stress.

Kecil atau besar, ringan atau berat, sedikit atau banyak masalah yang muncul. Tergantung dari bagaimana masalah tersebut dihayati dan dimaknai oleh masing-masing orang. Jadi, wajar dan sangat manusiawi jika R merasa tertekan dan cemas.

Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stress

Dari informasi yang kami terima, usia R saat ini adalah 18 tahun dan sudah menjadi mahasiswi.  Mengacu pada penggolongan tahap usia perkembangan, R masih berada pada masa remaja akhir.

Itu artinya R menuju dewasa muda. Masa-masa peralihan untuk menjadi seorang dewasa yang biasanya penuh dengan tantangan hingga konflik yang harus bisa teratasi. Jangan sampai Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stress.

Pada diri R sudah menunjukkan adanya rasa cemas, merasa sedih, menangis tanpa sebab dan tidur terganggu.  Reaksi atau respon berupa perilaku menyakiti diri sendiri merupakan reaksi terhadap stress. Baik itu memukul atau menyayat bagian tubuh sendiri.

Tingkat ringan atau berat depresifnya belum bisa dipastikan. Tetapi mengacu dari gejala yang muncul, kemungkinan R berada dalam situasi depresif sedang hingga berat. Sehingga R Suka Menyakiti Diri Sendiri Saat Stress.

Terlepas dari sedang atau berat nya depresi, hal penting adalah menemukan akar masalahnya

Sumber masalah depresinya meski belum kami ketahui, bisa berasal dari:

Faktor internal dalam diri R sendiri

Mungkin yang disebabkan kurang percaya diri, harapan yang terlalu tinggi, keinginan yang terlalu banyak atau sebab lain yang R rasakan.

Faktor eksternal

Jika bukan faktor internal masalahnya, mungkin muncul dari faktorekternal. Misalnya tuntutan orang tua, atau karena diputus cinta (jika ada). Lingkungan teman-teman yang bersifat memusuhi atau lingkungan yang tidak bisa menerima kehadiran diri R juga bisa sebagai pemicu.

Faktor Gabungan Internal dan eksternal

Akar masalah bisa juga berasal dari gabungan antara faktor internal dan eksternal.  Hal ini bisa saja terjadi. Mungkin karena disebabkan masalah keterbatasan kemampuan R dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial (pergaulan). Sementara harapannya adalah ingin diterima dengan baik, apa adanya.

Jadi, ada harapan dan tuntutan yang tidak dipenuhi oleh lingkungan sosial R. Atau  adanya kesenjangan antara harapan dan keinginan R yang terlalu tinggi. Sehingga tidak sesuai dengan realitas penerimaan oleh lingkungan sosial.

Bisa jadi ada juga sebab-sebab yang lain. Muncullah kekecewaan dan kecemasan yang berkepanjangan, karena R belum kunjung menemukan solusi yang tepat.

Bisa jadi permasalahan pada awalnya tidaklah terlalu besar.

Permasalahn kecil tidak terlalu menjadi masalah, akan tetapi R belum menyadari adanya gejala stres, yang semakin lama makin bertumpuk. Kalaupun sudah mulai menyadari adanya gejala stres, tetapi tidak terselesaikan dengan baik.

Mungkin R hanya menyimpan sendiri. Kurang bersikap terbuka dan kurang mau berbagi dengan orang lain sehingga masalah kemudian menjadi semakin berkepanjangan.  Reaksi terhadap stres yang semula hanya menarik diri, berkembang menjadi rasa kesal pada diri sendiri.

Mulailah merasa diri tidak mampu, tidak berguna, pesimis dengan masa depan suram, bahkan muncul gagasan untuk menyakiti diri sendiri.  Dorongan alam bawah sadar R muncul secara tidak terkendali.

Selain itu toleransi terhadap stres atau ketahanan terhadap stres R tidak terlalu besar, sehingga rentan terhadap stres. Akibatnya mucullah perasaan mudah sedih, menangis (psikologis) dan menyakiti diri sendiri (perilaku).

Suka menyakiti diri sendiri saat stress tidaklah menyelesaikan masalah

Pada awalnya mungkin dengan memukul diri sendiri (menyalahkan diri sendiri) bisa membuat tenang perasaan. Namun respon tersebut tidaklah menyelesaikan masalah. Sehingga setiap ada tekanan mulai memukul lebih keras. Hingga pada akhirnya bertindak yang membahayakan diri sendiri. Yaitu dengan menyayat bagian tubuh sendiri.

Akhirnya R mulai merasa lelah dengan ini semua. Mungkin segala usaha mengatasi masalah tidak pernah berhasil secara tuntas. Bisa juga menimbulkan situasi frustrasi dengan tekanan berat yang berkepanjangan. Hal ini menandakan bahwa R belum menemukan sumber masalahnya.

R juga masih perlu meningkatkan kemampuan mekanisme penanganan stres. Yaitu kemampuan usaha untuk mengatasi dan menyelesaikan stres.

R bisa juga membaca artikel dibawah ini:

Situasi Frustrasi Stress Depresi di Kalangan Remaja dengan Gejalanya.

Oleh karenanya tepatlah langkah R untuk mencari bantuan ahli untuk membantu persoalan yang sedang dihadapi. Semoga jawaban ini membantu R untuk menemukan solusi untuk bahagia kembali.

Semoga membantu.

Salam Bahagia.

Drs. Arman Alie Psikolog.

Konsultasi Psikologi Online Gratis sebelumnya:

Aku Ini Termasuk Munafik atau Tidak sih?


Ceritakan Masalah Pribadimu Secara Rahasia dan Anonim.

Silakan mengisi kuesioner singkat untuk memberikan beberapa latar belakang umum tentang Anda dan isu-isu yang ingin Anda bahas dalam konseling.

Data ini akan membantu PSYLine.id Psikologi Online Indonesia mencocokkan Anda dengan Psikolog Professional PSYLine.id yang paling cocok untuk Anda.
Jawaban jujur Anda juga akan memberikan Psikolog untuk mengenal latar belakang Anda sehingga dapat memberikan saran yang relefan.

Data diri dan latar belakang Anda terjamin 100% kerahasiannya, dan hanya dipergunakan untuk membantu Anda menjadi lebih baik.

Klik Link di Bawah ini:

Context Konsultasi Psikologi Via Teks.

Atau bergabunglah bersama kami untuk bersama-sama menyebarkan virus kebahagian di Fanspage FaceBook kami.

FansPage FaceBook PsyLine.

Tentang Penulis

Drs. Arman Alie Psikolog

Memiliki minat pada pengembangan SDM, konseling, marketing, reading, swimming, gardening & traveling. Bahagia dengan keluarga sederhana, sebagai ayah yang paling ganteng di keluarga dengan 2 putri, dan senantiasa belajar bersyukur.

Tinggalkan Balasan