Tanda Anak Mulai Pacaran, Bagaimana Sikap Orangtua saat Anak kesayangan mulai “jatuh cinta”?

Diposting: 1 Mei 2017 | Kategori Artikel: Cinta & Remaja

Dilihat: 5946 kali.

Penulis: Wulan Arumbi

Apakah putra-putri anda sudah memasuki usia SMP-SMA? Suatu hari anak kesayangan ayah dan bunda bercerita anda bahwa ia sedang jatuh cinta. Wow, bagaimana perasaan anda? Kaget, grogi, bingung, deg-degan campur aduk menjadi satu, ya! Itulah tanda anak mulai pacaran.

Akhirnya saat itu tiba, anak kita mengalami fase baru dalam perkembangan hidupnya.

Reaksi apa yang tepat untuk kita lakukan?

Bagi sebagian orangtua anak mulai pacaran ini bak virus datang, kalau tidak tepat merespon bisa fatal akibatnya. Apalagi buah hati kita masih sekolah. Kekhawatiran akan terganggunya belajar jelas menjadi pertimbangan utama orangtua.

Jangan terlalu emosional, sehingga kita malah mendapatkan penolakan dari mereka, dan ini malah akan memperparah keadaan.

Tanda-tanda virus jatuh cinta menyerang dan Anak Mulai Pacaran.

Pada fase ini terkadang banyak godaan yang belum bisa diatasi oleh anak. Bagi tipe anak yang terbuka pada ayah dan bundanya, itu langkah awal yang bagus. Dia mengungkapkan perasaannya pada orang yang tepat. Jadi orangtua bisa mengarahkan dengan bijak.

Bagaimana kalau tipe anak kita tertutup? Nah, kenali tanda-tanda anak mulai pacaran.

  1. Anak mulai memperhatikan penampilan
  2. Mulai tertarik menggunakan parfum
  3. Mulai membicarakann teman laki-lakinya di kelas dengan malu-malu
  4. Lebih suka menghabiskan waktu luang bersama teman-teman sebaya
  5. Mulai suka menyimpan rahasia

Baca juga: Persiapan Menghadapi Buah Hati Kita Memasuki Masa Pubertas pada anak.

Setelah mengetahui ciri-ciri di atas kita bisa mencari waktu terbaik untuk bicara dari hati ke hati dengan anak tersayang. Tentang perasaannya, dengan siapa ia tertarik dan bagaimana seharusnya ia bersikap.

Apa yang harus ayah dan bunda lakukan?

Bila aroma jatuh cinta mulai merebak pada diri anak kita, lakukan tugas anda sebagai orangtua yang baik. Dengan tetap tenang dan sabar.

Berikut ini yang harus anda lakukan.

  1. Jalinlah Komunikasi Dua Arah antara orangtua-anak.

    Komunikasi dua arah akan sangat membantu membangun rasa kepercayaan dan kedekatan dengan sang anak. Dengan Kedekatan yang terjalin, akan membantu anak lebih terbuka dalam mencurahkan dan mengekspresikan perasaannya.

    Ketika ia mulai meyinggung pacaran, sebaiknya tanyakan mengapa dia ingin berpacaran. Ketertarikan secara fisik terhadap lawan jenis sebenarnya merupakan naluri bawaan yang tidak bisa dihindari.

    Kita sebagai Orang tua hanya perlu menanamkan konsep “best friend” pada teman lawan jenisnya. Berikan juga penjelasan yang baik mengenai pacaran. Berikan gambaran hubungan yang tidak menyalahi aturan norma agama dan sosial.

  2. Berikan Sex Education dan Bangun Karakter Diri Anak yang Kuat.

    Apabila alasan utama yang mendorong anak kita berpacaran adalah alasan:

    “Semua temanku pacaran,Bunda!.”

    Bangunlah diskusi dari hati ke hati. Motivasi ananda agar mengerti bahwa dia tidak harus mengikuti arus. Jelaskan pula tentang perbedaan perempuan-laki-laki. Jelaskan juga mengenai bagaimana menghargai dirinya, bagaimana mengatakan ‘tidak’. Dan jelaskan konsekuensi yang akan terjadi atas segala sesuatu.

    Membicarakan tentang seks dengan Orangtua mungkin hal yang tidak disukai anak. Tapi kita bisa mencobanya dengan memosisikan diri sebagai rekan yang selalu siap sedia untuk ditanyai. Daripada dia menjadikan teman sekolahnya atau sahabatnya sebagai sumber informasi.

    Ayah dan Bunda  juga bisa menggunakan sudut pandang yang penting untuknya.

    Misalnya nih, sebagai contoh.

    “ Kakak bercita-cita ingin menjadi arsitek, kan? Nah. Cita-citamu itu akan mudah tercapai apabila tidak diselingi pacaran. Karena akan banyak menyita bayak waktu, tenaga, biaya, dan pikiran. “

    Yang paling penting dari semua itu adalah membekali anak dengan pengetahuan agama. Karena hal ini terbukti ampuh untuk mengurangi perilaku negatif Remaja.

  3. Pantau Media Sosial anak.

    Sambil mencoba mengenal teman-temannya, perhatikan apa saja media sosial yang dia gunakan, dan bagaimana kecenderungan post-nya.
    Hampir semua Mama muda mengunakan media sosial,kan? Jadi, jangan asyik sendiri, Ayah Bunda. Gunakan  media sosial sebagai sarana untuk semakin akrab dengan anak, dan bantu dia untuk mengenal batasan privasi.

  4. Hindari Punishment, Utamakan Reward.

    Bagaimana jika rasa “jatuh cinta” begitu mengganggu pikirannya sehingga prestasi di sekolahnya keteteran? Jangan keburu marah, Ayah Bunda.
    Ingat, perasaannya adalah yang paling penting.

    Jika kita merasa kecewa, dia juga pasti merasa sangat sedih dan tidak tahu lagi harus bagaimana.  Motivasi positif adalah hal yang dibutuhkan olehnya saat ini. Bukan penghakiman apalagi hukuman.

    Katakan hal-hal yang baik padanya. Misalnya dengan membuat perjanjian jika nilainya bagus. Ia bisa meminta sebuah hadiah yang sudah lama diinginkan sang anak.

    Tentunya, pendekatan seperti ini membutuhkan perhatian Mama. Perhatian akan hal-hal yang bisa mengalihkan perhatiannya dari perasaan jatuh cintanya.

  5. Berikan contoh konkrit saat Anak Mulai Pacaran.

    Jauh sebelum anak kita mengutarakan niatnya untuk berpacaran, berikan pengetahuan tentang suami atau istri yang baik. Sehingga anak kita mempunyai kerangka, standar atau tolok ukur ketika melihat lawan jenis.
    Tanpa disadarinya prinsip-prinsip atau kriteria yang kita berikan itu melekat padanya. Prinsip-prinsip itu akan menjadi panduan untuknya kelak. Ketika memang sudah waktunya untuk mendapatkan pasangan hidup.

  6. Jodoh tidak tertukar.

    Nah, ini poin yang sangat penting. Tanamkan dalam diri anak kita yang sedang sedang jatuh cinta itu bahwa jodoh sudah ditentukan dan tidak pernah tertukar.
    Jadi kenapa harus sibuk mengobral cinta, meluapkan rasa jatuh cinta pada seseorang, gonta-ganti pacar, dan akhirnya patah hati?

  7. Menjelaskan untung dan ruginya berpacaran.

    Ini bisa kita lakukan setelah melakukan beberapa pendekatan di atas. Kebanyakan anak menganggap bahwa pacaran akan menambah semangat belajar dan hidup. Padahal lebih banyak efek negatif dari pacaran.
    Ceritakan tentang beberapa fakta di lapangan tentang perilaku anak sekolah yang suka pacaran. Lebih banyak mana keuntungan sesaat dibandingkan kerugian yang harus ditanggung seumur hidup.

    Coba jelaskan kembali kepada anak kita saat Anak Mulai Pacaran. Apa kerugian berpacaran seperti poin-poin di bawah ini!

    • Menghambat kerja otak.
      Karena memikirkan satu obyek saja. Dengan memikirkan terus si dia akan melemahkan daya kretaifitas dan menyulitkan konsentrasi, karena pikiran mereka hanya tertuju kepada dia.
    • Membuat berbohong.
      Karena kita sibuk menutupi keburukan kita dihadapan dia.
    • Menghabiskan uang.
      Padahal kita masih meminta orangtua. Misalnya membelikan hadiah pacarnya, membeli pulsa, mentraktir, nonton Film, dan acara bersenang-senang lainnya.
    • Dapat menimbulkan efek sakit hati.
      Apabila putus pacaran sehingga menimbulkan status ‘Mantan Pacar’. Mantan Pacar ini berbahaya lho,karena bisa main hati setelah sudah menikah kelak.
    • Mengurangi produktivitas
      Jika tidak pacaran, seorang siswa tentunya bisa melakukan aktivitas lain yang lebih produktif. Misal membuat karya seni, menulis artikel, cerpen, puisi, karya tulis, mengerjakan PR, atau yang lainnya. Namun seringkali produktivitasnya turun lantaran ia berpacaran.
    • Terlambatnya studi.
      Banyak fakta yang menyebutkan bahwa menurunnya prosentase kelulusan para pelajar adalah akibat pacaran.
    • Memicu tindakan kriminal.
      Sering muncul di pemberitaan, terjadinya pertengkaran dan pembunuhan hanya karena rebutan pacar. Sungguh mengerikan.

    Perkuat Do’a.

    Agar anak tidak mudah terjebak kepada pergaulan yang tidak diinginkan dan fenomena pacaran yang semakin meluas. Maka mendo’akan mereka adalah solusi yang bisa dilakukan.

    Mohonlah perlindungan kepada Tuhan agar anak dijaga dan terhindar dari akibat pergaulan bebas membahayakan saat Anak Mulai Pacaran.

Menurut penelitian beberapa ahli, 95% remaja sukses dikarenakan lebih fokus kepada karier dan masa depan remaja itu sendiri. Bagi mereka yang memikirkan masa depan, untuk mendapatkan pasangan hidup akan lebih mudah jika masa depan lebih baik.

Jadi Ayah dan Bunda bersiaplah menjadi pendengar yang baik untuk cerita dan keluh kesah anak kesayangan kita. Sehingga bisa memantau bagaimana kondisi anak dan mulai mengarahkan jika mereka mulai berada di jalur yang tidak seharusnya.

Penanaman nilai, norma dan akhlak sejak kecil sangat penting untuk diterapkan. Agar nantinya bisa menjadi filter saat mereka diserang berbagai informasi yang tidak baik. Sekian Artikel dari PsyLine.id Psikologi Online tentang tanda anak mulai pacaran. Semoga bermanfaat bagi kita semua, dan menjadikan kita lebih baik.

Salam bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: 15 Cara menjadi guru yang baik dan disayang siswa.

Tentang Penulis

Wulan Arumbi

Seorang Guru dan ibu bahagia yang selalu ingin belajar.
Lulusan Fakultas Sastra Universitas Sebelas Maret Solo.

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog