10 Tips Menghadapi Anak yang Mulai Mengenal Cinta.

Diposting: 6 April 2017 | Kategori Artikel: Cinta & Remaja

Dilihat: 2110 kali.

Penulis: Bayu Lebond

Menghadapi anak yang sedang jatuh cinta terkadang membuat para orangtua galau dan bingung. Harus memberi bantuan atau tanggapan apa? PsyLine.id mencoba untuk memberikan Tips Menghadapi Anak yang Mulai Mengenal Cinta.

Ketika anak Kita mulai beranjak remaja, ternyata tidak hanya anak yang dilanda galau. Kita sebagai Orangtua pun ikut galau.

Bagaimana tidak?

Perasaan baru kemarin Kita mengajarkan si kecil tertatih melangkah. Suara cadelnya saja masih terngiang-ngiang di telinga kita. Tiba-tiba sekarang ia sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik atau gagah.

Mereka semakin pintar memilih mode baju yang disukai, makin pintar dandan, makin lihai memainkan gadget. Dan yang paling menaktkan adalah mulai kena virus merah jambu alias jatuh cinta.

Anak kita jatuh cinta? Simak 11 Tips Menghadapi Anak yang Mulai Mengenal Cinta.

Ketika anak kita beranjak remaja, mereka mulai memasuki fase puber atau dalam bahasa agamanya disebut akil balig. Di masa inilah anak mulai mempunyai rasa ketertarikan terhadap lawan jenis.

Sebagai orang tua, tentunya kita tidak perlu khawatir berlebihan. Sebab, rasa suka pada lawan jenis itu adalah fitrahnya anak manusia. Hal itu normal ketika mereka jatuh cinta pada lawan jenis

Hanya saja, sebagai orang tua, kita perlu mengarahkan dan memberikan pemahaman yang benar pada mereka. Agar rasa cinta yang tumbuh tidak menjerumuskan mereka pada pergaulan muda-mudi yang salah. Ketika anak mulai jatuh cinta pada lawan jenis, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua?

Simak juga Artikel tentang: Persiapan Menghadapi Buah Hati Kita Memasuki Masa Pubertas pada anak.

Namun Anda tidak perlu khawatir, berikut ini adalah Tips Menghadapi Anak yang Mulai Mengenal Cinta.

11 Tips Menghadapi Anak yang Mulai Mengenal Cinta..:

1.     Jangan Lebay.

Ketika mengetahui bahwa anak kita suka pada seseorang, sebaiknya Kita tidak memberikan reaksi yang berlebih. Karena hal tersebut hanya akan membuatnya malu atau minder. Akan lebih baik jika Kita berperan sebagai sahabatnya.

Mengajaknya mengobrol ringan dan tanyakan padanya hal apa yang dia sukai dari orang tersebut. Atau kapan dia mulai suka padanya. Dengan cara ini, maka dia akan merasa lebih nyaman dan bisa lebih terbuka kepada Kita.

2.     Beri Tahu Batasannya.

Saat pertama kali jatuh cinta, seorang anak pasti akan bingung hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukannya. Disinilah peran Anda sebagai orangtua.  Jelaskan padanya hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukannya dengan orang yang disukainya.

Contohnya cara mereka berinteraksi dan batas kontak fisik yang boleh dilakukan.

3.     Tanamkan Nilai Moral.

Mungkin ada hal-hal yang tidak bisa diceritakan anak kepada Kita. Kita tidak bisa dan tidak perlu memaksanya untuk hal ini. Karena terkadang diapun perlu menyimpan rahasianya.

Yang perlu Kita lakukan adalah memperlihatkan kepadanya bahwa Kita bisa menjadi panutan. Jika Kita sudah bisa menjadi panutan dalam mengelola perasaan cinta, maka diapun bisa membawa dirinya dalam pergaulan.

Pastikan juga Kita menunjukkan memiliki rasa cinta kepada orangtua, saudara, tetangga, hewan dan tumbuhan kepada anak Kita.

4.     Jadilah Orangtua yang Menyenangkan.

Usia remaja adalah usia yang labil. Mereka akan menemukan banyak konflik dalam interaksi sosialnya. Mulai dari konflik persahabatan hingga percintaan.

Kita harus bisa menjadi Orang Tua yang menyenangkan bagi anak-anak kita yang mulai beranjak remaja. Kita harus mulai belajar menjadi pendengar yang baik. Harus bisa bersimpati dengan kondisi mereka dan menyiapkan diri sebagai konsultan cinta bagi mereka.

Banyak manfaat yang bisa kita peroleh ketika bisa menjadi ‘teman’ curhat anak Kita. Diantaranya kita bisa memahami kondisi psikologis anak. Semakin sering diskusi, kita akan semakin mengenal buah hati lebih dalam lagi. Ikatan batin dan keakraban dengan anak juga akan semakin lengket.

5.     Mengenalkan Kriteria Jodoh.

Beri pengertian mengenai jodoh. Seringkali kita merasa tabu membicarakan tentang jodoh dengan Anak Kita. Alasannya, masih terlalu dini. Padahal ini sudah masanya. Mereka sudah mulai memiliki rasa ketertarikan yang spesial pada lawan jenis. Itu artinya sudah saatnya memberikan pemahaman yang benar tentang kriteria jodoh pada mereka.

Dalam diskusi intim dengan anak remaja kita, tidak ada salahnya sisipkan tema tentang kriteria jodoh. Selain itu, kita juga perlu memotivasi mereka untuk terus meningkatkan kualitas diri. Seperti meningkatkan kesalehan, mempercantik akhlak, dan menjaga tanggung jawab.

6.     Arahkan dan Motivasi pada Kegiatan Positif

Usia remaja adalah usia produktif yang sebaiknya digunakan untuk berprestasi. Bukan justru berlarut dalam kegalauan perasaan dan terjebak dalam virus cinta monyet.

Sebagai orang tua kita harus bisa memotivasi anak-anak untuk menyalurkan energi mereka dalam kegiatan positif. Yakinkan remaja kita bahwa jodoh itu tidak akan tertukar. Jadi, tidak perlu mereka berlarut dalam kegalauan cinta saat ini. Daripada sibuk memikirkan si dia, lebih baik optimalkan waktu untuk hal-hal yang postif.

7.     Berbagai Pengalaman Masa Remaja.

Ketika anak Kita naksir temannya, dia merasa itu adalah cinta sejatinya. Padahal, perjalanan hidupnya masih panjang. Sebagai orang tua, Kita perlu segera meluruskan situasi seperti ini.

Cara terbaik adalah berteman dengan anak Kita. Berbagi pengalaman masa remaja Kita, agar dia memahami apa yang harus dia lakukan.

8.     Berbicara Serius.

Remaja cenderung sangat mudah jatuh cinta. Mereka awalnya saling menggoda kemudian percaya bahwa persahabatan adalah ikatan seumur hidup. Tapi ketika itu tidak berjalan mulus, anak remaja mengalami stress.

Berikan pemahaman kepada anak bahwa senyuman atau sikap ramah seseorang jangan disalah artikan. Karena itu bisa saja itu tanda sopan santunnya. Anak juga perlu diingatkan bahwa mereka harus lebih dewasa untuk menggoda lawan jenis. Atau kapan waktunya memiliki ikatan serius dengan lawan jenis.

9.     Memberi Contoh Lewat Buku atau Film.

Ada baiknya jika Kita memberinya contoh lewat buku atau film. Pilihlah buku atau film yang bisa memberikan contoh kepada anak Kita tentang hal yang dia rasakan.

Luangkan waktu untuk membaca atau menonton bersamanya. Setelah selesai, ajaklah dia untuk berdikusi dan pastikan agar dia memetik pelajaran berharga dari kegiatan tersebut.

10.Jadilah Orangtua yang Kekinian.

Selain memberi pemahaman, orang tua juga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Satu sisi, orangtua jangan terlalu memaksakan kehendak kepada anak atau melarangnya. Satu sisi, beri pemahaman pada anak, awasi pergaulannya dengan teman-temannya. Jika semua berjalan baik, orang tua tidak akan galau lagi saat anaknya mulai mengenal cinta.

Memang tidak mudah menjadi orang tua untuk Menghadapi Anak yang Mulai Mengenal Cinta. Jangan lupa doakan putra-putri kita secara khusus dan khusyuk.

Salam Bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang: 7 Manfaat Menangis dan Mengapa harus Menangis?

Tentang Penulis

Bayu Lebond

Seorang yang sok Seniman
Rocker yang sayang keluarga
Pecinta Wayang Jawa
#WhySoSerious

Tinggalkan Balasan

Kategori PSYBlog



PsyLine - Psikologi Online

PSYLine Indonesia

PSYLine Indonesia

merupakan aplikasi Psikologi Online untuk berbagi cerita konseling dan konsultasi dengan Psikolog Profesional secara online, atau bertemu langsung untuk mendapatkan Layanan Psikologis. Semuanya untuk membantu Anda menjadi Lebih Baik.

Fanpage PSYLine

Ikuti PSYLine



×
PsyLine
×
PsyLine

Kategori PSYBlog