Konsultasi Gratis
Menu

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Logo Psy Line
Menu Menu
Logo Psy Line

Kategori Artikel

Berita Psikologi

Berita Psikologi

3 Artikel

Event Psikologi

Event Psikologi

4 Artikel

Biografi Psikolog

10 Artikel

Layanan PsyLine.id

2 Artikel

Karir & Perusahaan

42 Artikel

Gaya Hidup & Sosial

76 Artikel

Cinta & Remaja

11 Artikel

Pendidikan & Anak

49 Artikel

Psikologi Konsultasi via email Gratis

Kumpulan Konsultasi

103 Artikel

Stop to think Just Do It

Karir & Perusahaan | 553 Views

7 Alasan kita perlu melakukan Stop to think Just Do It

29 Mei 2017 | Penulis: Arbono Lasmahadi

Dalam Manajemen SDM , tidak jarang kita dihadapkan pada situasi yang menuntut kemampuan berpikir kita yang jernih. Sehingga diharapkan keputusan yang dihasilan dapat dilaksanakan dengan baik. Kita perlu melakukan “Stop to think”. Stop to think Just Do It.

Bertindak dan berpikir merupakan 2 hal yang sejatinya saling terkait satu dengan lainnya. Sebuah tindakan sebaiknya merupakan hasil dari proses berpikir yang mendahuluinya. Dengan berpikir sebelum bertindak, diharapkan tentunya tindakan yang dilakukan dapat meningkatkan kesempatan untuk mencapai sasaran yang diinginkan.

Adanya keselarasan antara pikiran dan tindakan, merupakan suatu kondisi yang diharapkan dapat.

Stop to think Just Do It

dimiliki oleh para pengambil keputusan. Khususnya para profesional yang akan menjadi pelaksana dari keputusan yang diambil oleh pimpinan mereka. Atau keputusan yang mereka sendiri ambil bagi kepentingan pekerjaannya maupun pribadinya.

Dalam kenyataan, kondisi tersebut di atas tidak selalu tersedia atau dimiliiki oleh para pengambil keputusan atau para profesional. Bisa jadi karena tuntutan pekerjaan, atau memang pengalaman dalam mengambil keputusan atau melaksanakan keputusan yang telah dibuat.

Tuntutan kerja atau tekanan kerja yang begitu tinggi terkadang membuat seseorang mengesampingkan proses berpikir. Dan cenderung langsung bertindak sesuai dengan instruksi yang diterima, atau yang sesuai dengan intuisinya.

Stop to think Just Do It

Sehingga seringkali kata-kata “Just Do It”, menjadi jargon yang sering digunakan di dunia kerja agar sebuah keputusan segera bisa dilaksanakan.

Situasi seperti ini mungkin terjadi karena pengambil keputusan merasa sudah memahami dengan baik masalah yang mereka hadapi. Sehingga secara otomatis menggunakan pengalaman sebelumnya untuk mengambil keputusan. Dan yakin bahwa dalam pelaksanaannya tidak akan mengalami kendala, seperti sebelum sebelumnya.

Bisa juga karena mereka dibawah tekanan yang berat karena masalah yang mereka hadapi atau persaingan bisnis yang ketat. Sehingga kurang rasional dalam mengambil keputusannya.

Lantas, apa kaitannya antara keselarasan berpikir dan bertindak dengan idiom “Stop to think”?

Stop to think

Stop to Think sendiri secara bebas didefinisikan sebagai meluangkan waktu sejenak untuk melakukan perenungan terhadap hal-hal yang terjadi. Atau yang kita lakukan di dalam hidup. Dengan maksud untuk memutuskan perlu tidaknya kita tetap melanjutkan atau menghentikan hal-hal yang biasanya kita lakukan.

Jadi karena pekerjaan merupakan salah bagian penting di dalam hidup kita. Maka idiom “ Stop to think just do it” menjadi relevan. Menjadi bagian penting di dalam proses pengambilan keputusan yang kita buat.

Dengan “Stop to think just do it” diharapkan ada keselarasan antara pikiran dan tindakan kita. Sehingga hasil yang kita harapkan dapat terwujud.

Pertanyaan berikutnya “Kenapa kita perlu melakukan Stop to think?”

Stop to think Just Do It

Menurut hemat penulis, sedikitnya ada 7 alasan sehingga kita perlu melakukan “Stop to think“, Seperti berikut ini:

  1. Kesuksesan terus menerus

    Bila kita selalu berhasil dalam membuat keputusan penting, sehingga pelaksanaanya tidak pernah meleset dari sasaran yang telah kita tetapkan. Kondisi ini tanpa kita sadari dapat membuat kita begitu percaya diri. Bahwa keputusan besar telah mampu kita buat dan laksanakan dengan baik.

    Kepercayaan diri yang berlebihan ini membuat kita abai terhadap hal-hal kecil. Hal kecil yang bisa jadi menggelincirkan kita dalam mengambil keputusan yang besar.

    Perlu kita ingat sebuah pepatah bahwa “Seseorang itu terpeleset bukan oleh batu besar, tetapi oleh batu kerikil.”.

    Nah, kalau kondisinya seperti ini, ada baiknya kita meluangkan waktu untuk berpikir tentang keberhasilan-keberhasilan kita, dan kemungkinan terjadinya kegagalan. Serta cara memitigasi resiko terjadinya kegagalan, sekecil apapun.

  2. Keterbatasan kemampuan

    Ketika kemampuan kita terbatas tentang sesuatu hal. Sementara pada saat bersamaan kita dituntut untuk mengambil keputusan yang melebihi kemampuan kita. Maka kita perlu meluangkan waktu sejenak untuk merenung tentang cara membuat tugas berat ini agar menjadi lebih ringan.

    Berbagai hal dapat menjadi bahan perenungan. Seperti belajar dari pengalaman orang lain yang mendapat beban yang sejenis. Atau bertanya kepada orang yang mempunyai kemampuan yang lebih tinggi dari kita.

    Dengan melakukan hal-hal tersebut, diharapkan kita mendapatkan informasi tambahan yang penting buat kita dalam mengambil keputusan. Dengan demikian manakala keputusan akhirnya kita buat dan laksanakan, berpotensi kecil menjadi kegagalan.

  3. Keputusan Kita berdampak besar buat perusahaan

    Setiap keputusan yang kita buat di dalam perusahaan, sedikit banyak akan memberikan dampak kepada kelangsungan jalannya perusahaan. Khususnya bila kita ada di kedudukan kunci di perusahaan. Keadaan ini membuat keputusan yang kita buat akan memberikan dampak besar kepada bisnis perusahaan.

    Dalam kondisi seperti ini, manakala kita dituntut untuk mengambil keputusan. Maka kita perlu sejenak meluangkan waktu untuk mengkaji dampak yang akan muncul. Seandainya keputusan yang kita buat tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Dan langkah-langkah apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasinya.

    Dengan perenungan ini, setidaknya kita siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi. “Expect the unexpected”.

  4. Keputusan kita mempengaruhi masa depan orang lain

    Dalam posisi tertentu kita tidak jarang dihadapkan pada situasi untuk mengambil keputusan yang mempengaruhi nasib orang lain.

    Sebagai pimpinan, situasi ini tidak dapat terhindarkan, karena keputusan pimpinan mempengaruhi anggota timnya . Seandainya keputusannya mempengaruhi masa depan anggota timnya; misalnya soal karirnya atau kelanjutan hubungan kerjanya dengan pihak perusahaan.

    Maka sebelum keputusan dibuat. Kita perlu meluangkan waktu untuk merenungkan dampak dari keputusan kita terhadap masa depan anggota tim yang bersangkutan. Termasuk di dalamnya hal-hal yang perlu kita lakukan untuk meminimalisir dampak negatif dari keputusan yang kita buat.

    Sehingga diharapkan hal-hal yang kita pikirkan yang menjadi dasar pengambilan keputusan kita. Hal itu akan berjalan sesuai seperti harapan kita di dalam pelaksanaannya.

  5. Kita di bawah kondisi tekanan yang terus menerus

    Tekanan pekerjaan, sedikit banyak akan dihadapi oleh kita semua, baik dalam peran kita sebagai pimpinan atau sebagai anggota tim. Tekanan itu bisa berbentuk masalah dalam pekerjaan atau target-target yang harus diselesaikan dalam pekerjaan.

    Tekanan tekanan itu bervariasi bentuknya dari waktu ke waktu, dan bervariasi intensitasnya dari waktu ke waktu juga. Namun manakala tekanan tersebut tidak diselesaikan dengan baik, atau diselesaikan tidak secara menyeluruh. Maka bisa jadi tekanan ini akan terus menerus terjadi.

    Kemampuan setiap orang akan berbeda-beda dalam menghadapi tekanan yang terus menerus. Ada yang mampu menghadapinya dengan baik. Namun tidak sedikit yang “tersengal-sengal” menghadapinya.

    Dalam keadaan sulit menghadapi tekanan yang terus menerus. Kita sebaiknya meluangkan waktu sejenak untuk merenung dan memikirkan cara terbaik untuk mengurangi tekanan tersebut. Agar tidak salah dalam mengambil keputusan dan bertindak.

    Bagaimana caranya?

    Bisa dengan berdiskusi secara terbuka dengan pimpinan yang memberikan tugas, agar mendapatkan dukungan atau solusi atas masalah yang terjadi. Atau berdiskusi dengan teman sejawat yang lebih berpengalaman dalam menghadapi situasi tekanan yang terus menerus.

    “So, don’t put the burden only on your shoulders..ask for help”

  6. Situasi emosional

    Dalam bekerja, kita tidak terlepas dari konflik . Konflik bisa bersifat fungsional, kalau berkaitan dengan pekerjaan. Namun konflik bisa bersifat non-funsional kalau tidak terkait dengan pekerjaan. Konflik baik yang sifatnya fungsional maupun non-fungisonal bisa saja ditanggapi secara rasional atau emosional oleh kita yang mengalaminya.

    Manakala konflik ditanggapi secara emosional, dan pada saat yang bersamaan kita juga diminta untuk mengambil keputusan penting. Sangatlah direkomendasikan untuk berhenti sejenak dan merenung sebelum kita mengambil keputusan.

    Merenung diharapkan dapat menurunkan intensitas emosi kita yang mungkin meningkat akibat konflik yang terjadi.

    Dengan cara ini, kita diharapkan kita menjadi lebih rasional dalam mengambil keputusan.

    Contoh sederhana :
    janganlah menuliskan email dan mengirimkannya saat kita dalam keadaan marah. Bisa jadi kita akan menyesali tindakan kita belakangan, manakala email kemarahan kita tersebar kepada orang lain. Email itupun bisa beredar kepada orang lain dan akan selalu terekam secara tertulis pada orang-orang terkait.

  7. “Being A Judge”

    Bisa jadi kita “beruntung” atau bernasib “malang” saat kita harus menjadi penentu sebuah keputusan penting. Keputusan bagi perusahaan atau bagi masa depan seseorang. Pada sebagian orang hal ini menjadi kebanggaan dan menyenangkan sekali. Manakala dampak keputusan tersebut berdampak positif bagi perusahaan atau orang lain.

    Namun mungkin kita akan merasa seperti “Being A Judge” yang harus menentukan masa depan perusahaan. Atau nasib seseorang, melalui sebuah keputusan yang tidak menyenangkan atau tidak popular.

    Kalau situasi ini terjadi, merenung membantu kita untuk lebih jernih dalam mengambil keputusan. Sehingga manakala keputusan dibuat, hasilnya sesuai dengan yang seharusnya. Atau setidaknya memberikan dampak yang minimal bagi perusahaan atau orang yang bersangkutan.

    Bahkan dalam situasi tertentu “ The Judge” harus berani melepaskan orang yang bersalah. Daripada menghukum orang yang tidak bersalah, manakala tidak cukup bukti untuk itu. Hal ini hanya bisa terjadi melalui proses perenungan yang dalam, karena bisa jadi keputusan ini akan dikecam banyak pihak.

Mungkin akan lebih banyak lagi alasan- alasan yang menjadi dasar kita untuk melakukan “Stop to think”. Namun demikian setidaknya penulis berharap ke 7 alasan tersebut di atas dapat mewakili keseluruhan hal penting. Yang perlu kita pahami tentang perlunya “Stop to think”menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan penting. Baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan kita.

Sehingga pelaksanaannya dapat sesuai seperti yang kita harapkan.

Semoga tulisan dari PsyLine.id Psikologi Online Indonesia dapat memberikan manfaat kepada para pembacanya.

Salam Bahagia..

Artikel sebelumnya membahas tentang:

Hiperaktif melanda orang dewasa juga: kenali tandanya dan solusinya.

Tentang Penulis

Arbono Lasmahadi

Psikolog Senior
Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Praktisi Senior Manajemen Sumber Daya Manusia.
Pengurus IOC.

Bagikan Artikel Ini:

Berlangganan Artikel?

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan artikel terbaru dari PsyLine.

Tinggalkan Balasan